Another Person Life

Another Person Life
Perbedaan Dirimu Dengan Dirinya


__ADS_3

Saat Xia tengah terduduk di kursi sambil menangis, tiba-tiba saja seseorang berdiri di depannya dan menepuk pundak Xia.


"Berhentilah menangis, apa kau tidak malu di lihat orang banyak?" tanya orang itu dengan nada datar.


Xia seperti mengenal suara itu, saat Xia mendongakkan wajahnya, ia pun mulai mengeram marah.


"Apa kau tidak puas hanya dengan merampas kehidupan Quirin?, kenapa sekarang kau juga ikut merampas kebahagiaanku?!" teriak Xura dengan marah.


Xura yang berniat untuk memberi penjelasan kini mengernyitkan dahinya, dan mata Xura tampak mulai tampak memerah "Ya, aku merampasnya darimu. Vano adalah orang kaya, kau yang hanya orang miskin tidak pantas bersama Vano!" ucap Xura dengan sangat lantang.


"Kau menyetujui permainan Al, agar kau ingin membuatnya cemburu, bahkan jika kecelakaan itu tidak terjadi kau ingin membuat dua pria itu bersama mu. Tapi setelah mendengar perkataan Gavin dan yang lain bahwa Vano terus menunggumu sadar, kau mulai menyukainya. bukankah kau manusia licik?" lanjut Xura dengan mengeram marah, karena dirinya berbaik hati untuk menjelaskan apa yang terjadi, tapi Xia justru mengeluarkan kata-kata yang begitu pedas padanya.


Awalnya, Xura memang berpikir bahwa Xia adalah wanita baik, tapi saat Xura masih berada di rumah sakit, mereka semua tengah berkumpul dan Xura melihat bahwa mata Xia terus tertuju pada Vano dan Al.


Lalu Xura mendengar bahwa Al mengajukan tawaran untuk menjadi pacar pura-pura, dan hal itu di setujui oleh Xia. dan setelah Xia sadar, Xura mendengar dari Gavin bahwa Xia bertanya tentang orang-orang yang terus mengunjunginya dan merawatnya. Dan Gavin pun menceritakan sedikit kejadian itu.


Pada saat Xura memeluk Xia dengan sangat erat untuk berpamitan, tiba-tiba saja Xia membisikkan "awalnya aku ingin mengejar mereka berdua tapi setelah aku mengetahui dari Gavin bahwa yang menjaga dirinya adalah Vano, maka aku memutuskan untuk mengejarnya saja" bisik Xia sambil tersenyum.


Xura pun berusaha tidak menanggapi itu dan mulai menanyakan kabar Xia, tapi setelah melihat Xia hari ini, Xura sadar bahwa Xia bukanlah orang baik seperti yang di pikirkan nya.

__ADS_1


Xia yang mendengar penuturan itu melototkan matanya dengan sempurna, lalu kedua wanita itu mendengar suara langkah kaki, ketika mereka menoleh ke samping, ternyata dari kejauhan ternyata Vano tengah mengamati dan mendengar semua perkataan mereka.


Xia tampak kebingungan, ia pun berdiri dan akan segera berlari "Van-Vano, tunggu, itu tidak seperti yang kau dengar" ucap Xia dengan melangkahkan kakinya, tapi tiba-tiba saja Xura mengentikan tangan Xia dan menghempaskannya dengan sangat kuat.


Xia tampak mengeram marah, ia pun menatap Xura dengan tajam, saat Xia ingin berbicara ternyata Xura sudah lebih dulu mendahuluinya "Kau!, dan Sahabatmu itu, Lebih baik tidak pernah memunculkan wajah kalian lagi di hadapan kami!," ucap Xura sambil menatap Xia dengan sangat dalam.


Xia tidak bisa menerima perkataan Xura "Kau tidak bisa memerintahkan kami seperti ini!" teriak Xia dengan marah


Xura mulai mengerutkan alisnya hingga hampir menyatu "Tidak bisa?, aku?, kau mengatakan orang sepertiku tidak bisa memerintah kalian?, kau mau menantang ku?" tanya Xura dengan dingin sambil menunjuk dirinya sendiri.


Tiba-tiba saja tubuh Xia gemetar ketakutan, ia yang sempat berhenti menangis, kini kembali mengeluarkan air matanya.


Xia semakin gemetar ketakutan, lalu Vano yang masih berdiri di sana mulai melangkahkan kakinya mendekati kedua wanita itu.


"Nona, jangan sia-sia kan energimu hanya untuk wanita sepertinya" ucap Vano sambil memegang lengan Xura dan menariknya untuk meninggalkan Xia.


Xia tidak terima dengan perlakuan Vano kepada nya, ia yng sempat di hempaskan dan terduduk oleh Xia, kini bangkit dari tempat duduknya dan berdiri di tengah lorong.


"Aku sungguh tidak bermaksud apa-apa, aku benar-benar menyukaimu" ucap Xia sambil menangis.

__ADS_1


Vano yang mendengar itu hanya berdecih "Cih, tapi aku tidak menyukaimu, bahkan aku berharap kita tidak pernah saling mengenal satu sama lain" ucap Vano sambil melangkahkan kaki beriringan dengan Xura.


Xia semakin marah mendengar Vano mengatakan isi hatinya, Xia berusaha memutar otak agar Vano merasa jijik pada Xura dan akan segera meninggalkannya. Lalu ketika mendapatkan ide, Xia tidak membuang waktu lagi, Iapun langsung mengeluarkan apa yang ada di kepalanya.


"Apa kau tergoda dengan wanita seperti dia?, dia bahkan wanita yang sangat jahat!, dia dengan bangga menghancurkan kehidupan orang lain!, apa kau masih ingin membela wanita seperti itu?" teriak Xia dengan keras hingga membuat seluruh pasien dan staf rumah sakit melihat kearah mereka.


Xura ingin membalikkan tubuhnya, tapi Vano menghentikan lengan Xura dan ia pun berbalik dan mendekat kearah Xia.


Vano menarik rambut Xia dengan sangat keras, kini ia pun membisikkan sesuatu di samping telinga Xia.


Arrgghhh


Sedangkan Xia sungguh sangat terkejut melihat perlakuan Vano yang begitu kasar padanya.


"Kau sendiri sudah melihat keganasannya, dia bukan orang yang bisa kau hina seperti itu, jika dia memerintahkan ku untuk membunuhmu maka aku dengan senang hati akan melakukan tugas itu. Apa kau mengerti sekarang, seperti apa perbedaan dirimu dengan dirinya?" bisik Vano dengan marah sambil menggeretakkan giginya hingga Xia sendiri mendengar gesekan itu dengan sangat kuat.


Tubuh Xia semakin gemetar hebat, lalu Vano pun langsung menghempaskan Xia dengan sangat kasar bahkan sakit yang di rasakan Xia sama seperti yang dilakukan oleh Xura.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2