
Mereka keluar dari rumah sakit dan kembali ke mansion, sepanjang perjalanan, Xia hanya berdiam diri sambil memikirkan bagaimana cara ia memberitahukannya pada Quirin
"Apa dia akan luluh lagi?, atau dia akan tetap dengan sikapnya yang sekarang?" batin Xia, kepalanya di penuhi dengan Quirin
"Bagaimana nantinya Quirin akan mengambil sikap?" batin Xia lagi
Sesampainya di mansion, Xia bergegas keluar dari mobil, Vano melihat Xia keluar dari mobil dengan berlari tergesa-gesa kearah mansion, membuatnya sangat ingin mengikuti Xia, namun ponsel Vano tiba-tiba berdering dan harus mengangkatnya terlebih dahulu
Xia berlari kearah kamar Quirin, ia mendobrak pintu kamar Quirin hingga sukses membuat Quirin terkejut, bahkan Quirin yang saat itu sedang berusaha berjalan pun jatuh terduduk di tempat tidurnya
"Apa-apaan kau Xia!" ucap Quirin dingin sambil melihat kearah pintu
"Kau sengaja ya?, tolong jangan menjahiliku, aku sedang latihan" ucap Quirin lagi dengan kesal
"Hah hah... Sstt, aku tidak berniat menjahilimu" ucap Xia dengan rasa bersalah, ia berhenti di depan pintu sambil menghirup udara dengan rakusnya
"Maaf, tapi itu tidak penting sekarang, aku ingin memberitahukan sesuatu yang lebih penting Quirin" ucap Xia yang mulai berjalan mendekat kearah Quirin, ia tidak menyadari bahwa Quirin sudah bisa berdiri
Xia duduk di atas tempat tidur Quirin dengan memegang kedua bahu Quirin, kemudian membuat Quirin saling berhadapan dengannya
"Huft... tarik nafas, buang nafas, oke... aku akan memberitahukannya padamu, tapi kau harus berjanji, tidak boleh membuat ekspresi apapun, oke?" ucap Xia dengan menatap Quirin, karena itu sangat mengerikan untuk Xia
"Ya, ya, untuk apa kau seperti itu?, dan juga, kau tidak perlu memegangi ku seperti ini" ucap Quirin sambil melepaskan tangan Xia dari kedua bahunya dan bersandar di tempat tidurnya dengan memejamkan mata
"Aku sempat melihat papamu di rumah sakit, dia kelihatan sedih dan secara kebetulan tadi dia juga berkonsultasi dengan dokter Al, saat aku bertanya, dokter Al hanya mengatakan papamu kelelahan" ucap Xia panjang tetap menatap Quirin
Quirin yang mendengar tetap menutup matanya seakan tidak perduli dengan perkataan Xia, dia sangat membenci orang yang berkedok dengan sebutan papa
__ADS_1
"Aku tidak perduli Xia" ucap Quirin cuek
"Tapi, setelah aku perhatikan, sepertinya ada yang di sembunyikan oleh dokter Al saat aku menanyakannya" ucap Xia binggung
"Setelah berfikir, kau masih tidak mengerti?, data pasien tidak boleh di bocorkan kepada orang luar, itu adalah sumpah dokter" ucap Quirin dingin
"Ah aku melupakannya" ucap Xia sambil memegangi kepala kecilnya itu
"Sudahlah, sebaiknya kau keluar saja, aku sedang latihan berjalan" ucap Quirin dengan mengusir Xia,
Saat Quirin membuka mata, matanya tertuju pada tangan Xia yang suah dibalut perban, Quirin yang sedang asyik bersandar langsung duduk tegak
"Ada apa dengan tanganmu?" tanya Quirin dengan memeriksa dan memegang tangan Xia
"Ah, ini... hanya luka kecil, senjata makan tuan, kau tau kan?, hehe... aku mendapatkannya saat membalas maid itu" ucap Xia terkekeh kecil
"Oh astaga, tolong aku, dia sangat mengerikan, aku sangat membenci ekpresi itu" batin Xia yang sedikit gemetar ketakutan
***
Sedangkan di tempat Xura, ia dilanda kecemasan dan kebingungan tentang bagaimana ia akan menyikapi para bawahan saat di perusahaan
Karena ini adalah kali pertamanya menginjakkan kaki di perusahaan, dulu saat ia berada di tubuhnya sediri, ia memang belajar di universitas ternama, namun ia hanya mendapat tempat magang di sebuah perusahaan kecil
Tapi sebenarnya, setelah lulus pun ia sempat berusaha mencari pekerjaan di sejumlah perusahaan, alhasil ia malah di tolak mentah-mentah, ia tidak mengetahui bagaimana hal itu bisa terjadi, namun ia tidak pernah menyerah dan terus berusaha
Ketika ia sudah merasa sangat lelah saat mencari pekerjaan, ia duduk di bangku taman yang sangat luas sambil termenung dengan jalan kehidupannya yang selalu gagal, faktanya ia tidak bodoh, bahkan sebaliknya, ia sangat pintar namun mengapa selalu kegagalan yang ia dapatkan
__ADS_1
jiwa Quirin yang berada dalam tubuh Xura menjadi teman Xia karena 1 kejadian, Xia yang saat itu baru saja pulang kerja, juga duduk di sampingnya dan tanpa pertanyaan apapun, Xia malah bercerita panjang lebar
Pada akhirnya, mereka jadi berkenalan dan menjadi dekat, Xia yang sedang mencoba memahami satu sama lain juga dengan tenang mendengar penjelasan Xura mengenai kesulitannya saat mencari pekerjaan
Mau tidak mau, akhirnya ia bekerja sebagai pelayan di cafe dengan rekomendasi dari Xia, ia mengingat semuanya dengan jelas, bagaimana Xia membantunya saat yang tidak bisa membuatnya bangkit kembali, berkat pertolongan Xia ia bisa sampai ketitik dimana bisa melupakan segalanya dan memulai semuanya dari awal hingga menghilang dari keluarga yang kejam itu
"Aku akan pergi kesana untuk melihat si cerewet itu, kenapa aku jadi sangat rindu dengannya?, apa karena aku butuh tempat keluh kesah?" ucap Xura tersenyum mengingat saat pertama kali berjumpa dengan Xia
"Aku juga harus segera menyelidiki tubuhku, benarkah dia masuk ke dalam tubuhku atau dia sudah mati?" gumam Xura sambil berfikir, ia masih bertanya-tanya tentang tubuhnya, hanya pertanyaan itu yang terus berputar-butar didalam kepalanya sekarang
Bersambung....
Para pembaca jangan lupa tinggalkan jejak 👇
✓ Favorite
✓ Like
✓ Vote
✓ Gift
✓ Comment
✓ Rate
Author sangat berterimakasih 🙏
__ADS_1