
"Jika dilihat, sepertinya dia masih berfikir aku masihlah gadis yang lugu dan polos" batin Quirin tersenyum tipis
"Jangan menyesalinya" ucap Calis tersenyum sinis dan pergi meninggalkan Quirin
"Seharusnya aku yang berbicara seperti itu, dulu aku hanya bertindak seperti mengancam dan membuat pengusaha bangkrut, sekarang itu tidak berlaku untukmu!, karena aku harus membunuh siapapun yang menghalangiku!, kau tidak mengenalku!, setelah apa yang terjadi nanti jangan pernah menyesalinya Calis" gumam Quirin berjalan meninggalkan ruangan
Quirin menaiki tangga menuju kamarnya "Dalam ingatan tubuh ini, pintu kamarnya berwarna biru, mengapa sekarang menjadi warna pink, sungguh menjijikkan" gumam Quirin kesal karena sangat tidak menyukai warna itu, ia lebih menyukai warna hitam, coklat ataupun putih.
Quirin membuka pintu kamar itu dan terkejut melihat isi kamar yang sudah banyak berubah, sedangkan Lura terkejut ketika pintu kamar sudah terbuka dan terlihat Quirin yang sudah berdiri diambang pintu.
Lura tersenyum mengejek kearah Quirin, Quirin melirik kesamping, ia melihat dari kejauhan sang ayah sedang memasuki ruang kerjanya "Ayah" teriak Quirin
"Kau tunggu saja, aku akan membalas mu" batin Quirin tersenyum smirk
Grizo terkejut mendengar teriakan Quirin, ia menoleh dan melihat dari kejauhan Quirin sedang berdiri mematung diambang pintu.
Grizo berlari kecil setelah mendengar teriakan Quirin "Ada apa?" ucap Grizo panik
Quirin merubah ekspresinya "Bagaimana kamarku bisa berubah drastis seperti ini ayah?, kemana semua barang-barang ku?" teriak Quirin dengan keras sambil membulatkan kedua matanya dengan lebar
Grizo terkejut mendengar teriakan Quirin "Baru pertama kali aku melihatnya berteriak seperti ini" batin Grizo
"Mereka memindahkan semuanya kegudang Quirin, kau bisa...." ucap Grizo
"Ayah menyuruhku pulang hanya ingin melihat seperti apa ayah menyayangi anak kesayangan ayah ini?, sepertinya ayah tidak menyayangiku" ucap Quirin memotong ucapan Grizo sambil menatap tajam
"Apa maksudmu?, Aku sangat menyayangimu, apa begini caramu berbicara pada orang tua?" ucap Grizo sedikit menaikkan volumenya
"Orang tua?!, aku sejak kecil ditinggal oleh ibu dan saat dewasa aku di campakkan oleh ayah kandungku, aku tidak mempunyai orang tua sehingga tidak ada yang mengajariku!, Apa ini cara ayah menyayangiku?!" ucap Quirin sambil berteriak dengan amarah yang mengebu-ngebu
Grizo hanya diam mendengar curahan hati Quirin, siapapun yang mendengar itu akan membuat semua orang ikut merasakan sakit.
"Kenapa ayah diam?, aku kembali karena melihat wajah ayah yang terlihat lelah saat terakhir kita bertemu, ternyata cuma aku yang menyayangi ayah!, tapi ayah sendiri masih saja tidak memikirkan ku!, baiklah aku akan pergi selamanya dari rumah ini!" teriak Quirin sambil membalikkan badannya dan berjalan dengan cepat
Sebelum Quirin berbalik, ia melihat Lura tersenyum puas melihatnya bertengkar dengan sang ayah, Quirin membalas senyum itu dengan senyuman menakutkan.
"Mengapa senyumnya seperti itu" gumam Lura sedikit merinding
Grizo sengat merasa bersalah, tanpa pikir panjang ia meninggalkan Lura dan pergi menyusul Quirin.
__ADS_1
Grizo menahan lengan Quirin "Nak!, tunggu!, maafkan ayah sudah membiarkan Lura menempatkan kamarmu, sungguh, ayah tidak bermaksud seperti itu, Lura meminta dengan menangis, ayah sangat tidak tega melihatnya" ucap Grizo pelan
"Ayah yang sangat lunak, bagaimana bisa ibu Quirin mendapatkan seorang suami seperti ini, sungguh menyusahkan jika aku selalu berpura-pura seperti ini" batin Quirin kesal
"Apa ayah tau?, semua itu adalah peninggalan ibu, jika ayah sudah melupakan ibu, lebih baik ayah melupakanku juga" teriak Quirin tanpa menoleh kebelakang
"Tidak, Tidak, maafkan ayah, ayah tidak ingin melakukan itu, kau kembalilah ke kamarmu, ayah akan menyuruh orang untuk mengembalikan semua perabotan milikmu" ucap Grizo memohon
"Tidak, aku akan kembali ke mansion tuan muda, disana lebih nyaman dan besar, lepaskan ayah, lebih baik ayah lupakan aku saja" ucap Quirin dengan menaikkan volumenya
Grizo udah tidak mempermasalahkan nada bicara Quirin yang terdengar tinggi dan kasar, ia menyadari jika semua yang terjadi pada Quirin itu semua salahnya.
"Tidak, ayah mohon, beri ayah kesempatan, ayah akan memberikan semua apa yang kau inginkan" ucap Grizo dengan memohon, air mata yang ada dipelupuk matanya kini tumpah dengan sangat deras
"Tepat sasaran, tamat riwayatmu Calis" batin Quirin tersenyum senang
"Baiklah, ayah harus berjanji padaku, ini kesempatan terakhir ayah!" ucap Quirin sambil berbalik memutar tubuhnya lalu memeluk sang ayah yang sudah berderai air mata
Grizo memeluk Quirin dengan keadaan berderai air mata "maafkan aku sudah membuat ayah seperti ini" ucap Quirin sambil memeluk erat sang ayah
Quirin tersenyum smirk, ia melihat kesudut ruangan, disana terlihat Calis yang sedang menahan amarah.
Calis melihat gumaman itu terkejut "Dia bergumam apa?" batin Calis
"Aku tidak akan membiarkanmu berbuat sesuka hati dirumah ini, disini aku penguasanya" gumam Calis menahan amarah
Mereka berdua berjalan menuju kearah kamar Quirin, Grizo membuka pintu kamar itu "Lura, ambil barang-barang mu dan kembali ke kamar mu yang dulu" perintah Grizo
"Tapi ayah, aku sangat menyukai kamar ini" ucap Lura yang sedikit meninggikan volumenya
"ini kamar kakakmu!, pindah sekarang!" ucap Grizo yang sudah mulai emosi
Quirin tersenyum setelah melihat Grizo memarahi Lura, sedangkan Lura sangat terkejut melihat amarah Grizo, ini pertama kalinya ia melihat Grizo memarahinya "Baiklah ayah" ucap Lura menundukkan kepalanya
"Kau tempati ini saja dulu, besok ayah akan menyuruh orang untuk merubahnya" ucap Grizo lembut
Saat Lura berpas-pasan dengan Quirin "Ini baru permulaan" bisik Quirin sambil memiringkan kepalanya yang hanya bisa didengar oleh Lura
"Baik ayah, ayah jaga kesehatan ya, aku akan beristirahat dengan nyaman di kamarku ini" ucap Quirin dengan keras agar bisa didengar oleh Lura
__ADS_1
Lura melewatkan kedua orang itu dengan amarah yang mengebu-ngebu "Aku tidak terima dia mengambil semua yang ada dieumah ini, Aku harus membicarakan ini dengan ibu" gumam Lura sambil melangkahkan kakinya dengan cepat
Disisi lain
"Aku harus pulang melihat ayah, tapi bagaimana dengan Alpha?, apa aku harus memberitahukan rahasia ini pada Alpha?, tapi aku takut dikatakan gila oleh Alpha" gumam Xura sambil berfikir
"Bagaimana ini, aku sangat ingin melihat Ayah" gumam Xura sedikit sedih
"Lebih baik aku jujur saja padanya, aku percaya dia bisa menjaga rahasia ini" gumam Xura meyakinkan diri sendiri
Xura bangkit dari duduknya dan keluar dari kamar, ia mengetuk pintu kamar Alpha.
"Alpha, ini Xura" ucap Xura dari luar
"Untuk apa dia kekamarku?, apa ada yang ingin dia bicarakan denganku" gumam Alpha sambil bangkit dari duduknya
Alpha membuka pintu dan mendapati Xura berdiri didepan pintunya "Ada apa?" tanya Alpha heran
"Ada yang ingin aku bicarakan" ucap Xura sedikit menundukkan kepalanya
"Masuklah, ku akan mendengarkanmu" ucap Alpha tersenyum
Bersambung...
Para pembaca jangan lupa tinggalkan jejak 👇
✓ Favorite
✓ Like
✓ Vote
✓ Gift
✓ Comment
✓ Rate
Author sangat berterimakasih 🙏
__ADS_1