
"Bagaimana aktingku nona?" tanya Vano sambil membusungkan sedikit dadanya.
"Haha ... kau luar biasa" ucap Xura sambil tertawa.
Vano melirik kesamping, ia melihat Xura tertawa tanpa beban, hal itu membuat Vano tersenyum tipis. "Terimakasih atas pujiannya nona" balas Vano sambil memegang tangan yang lain ke dadanya.
Setelah mengantar Xura ke kamarnya, Vano turun dan ia melihat Leva di ujung tangga seperti sedang menunggu dirinya.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Leva sambil mendongakkan wajahnya keatas.
Vano dengan cepat menuruni anak tangga dan memberikan hormat pada Leva "baiklah bibi" ucap Vano sambil membawa Leva keruang tengah.
"Vano, katakan dengan jujur, apa kau berpacaran dengan Xura?" tanya Leva yang berterus terang.
Vano langsung menggelengkan kepalanya, "tidak bibi, dia seperti itu karena tuan muda duluan lah yang memperkenalkannya sebagai pacarku, jadi dia sangat marah dan langsung membuat perkataan itu menjadi kenyataan" jelas Vano.
Vano dan yang lainnya tau bahwa Leva sangat membenci Gilma, selama ini Gilma merayu Leva untuk membiarkannya masuk kedalam keluarga Ophelia, tapi usaha Gilma terus di halangi oleh Leva, karena itulah Vano membeberkan rahasia itu pada Leva.
"Baiklah, hanya itu yang ingin aku dengar, sisanya aku bisa menebaknya, lagipula aku akan mendukung kalian, agar Zee tau mana yang harus dia prioritaskan" ucap Leva sambil tersenyum.
"Baik bibi, terimakasih sudah mendukungku" ucap Vano sambil membungkukkan sedikit tubuhnya.
"Seharusnya aku yang mengatakan terimakasih Vano, dari dulu sampai sekarang, kau terus berada di samping Zee, bahkan kau sampai mengambil resiko sebesar ini demi anakku yang bodoh itu, aku dengan tulus mengucapkan terimakasih" ucap Leva sambil memegang pundak Vano.
__ADS_1
"Bibi tidak perlu seperti itu, sejak tuan muda menolongku, aku langsung berjanji untuk melindungi tuan muda, bahkan aku akan terus berada di sampingnya, walau aku harus mengambil resiko besar, aku tetap akan berdiri di samping tuan muda" ucap Vano dengan mata yang di penuhi kejujuran.
Leva yang mendengar itu merasa terharu, ia berpikir bahwa anaknya sangat lah beruntung karena memiliki bawahan yang sangat setia padanya.
Gilma yang sedang di dalam kamar tengah memikirkan sesuatu, ia duduk lalu menggigit kukunya dengan kaki yang terus bergoyang.
"Siapa wanita itu?, kenapa dia mengetahui semuanya?, apa dia benar-benar hacker yang tengah di cari semua orang?, jika begitu maka posisiku akan terancam" gumam Gilma dengan kesal.
Gilma terus memikirkan untung menyingkirkan Xura, kini sebuah ide tangah muncul di dalam kepalanya, lalu Gilma juga mulai tersenyum smirk.
"Aku akan membuat mu tersingkirkan dan aku akan menjadi satu-satunya wanita di rumah ini" ucap Gilma sambil tertawa keras.
Sedangkan di kamar lain, Xura tengah menatap layar laptop, ia tengah melihat Gilma tertawa dengan keras "kau ingin bermain?, maka aku melayaninya dengan senang hati" ucap Xura sambil tersenyum puas.
Malam pun tiba, semua orang tengah tertidur pulas, tapi tidak dengan Xura, ia tengah mengerjakan pekerjaan dengan memasuki sebuah kamar dengan cara mengendap-endap.
Keesokan paginya, terdengar suara teriakan yang begitu nyaring sehingga para penghuni lain terbangun dan langsung berlari menghampiri asal suara tersebut.
"Ada apa?" tanya Leva yang sangat penasaran.
Zee, Xeno, Al dan Xura juga ikut berlari ke kamar tersebut, dimana sang penghuni kamar itu adalah Gilma.
Zee dan kedua pria lainnya mendobrak pintu itu dengan paksa, lalu terlihat di dinding berwarna putih terdapat kata-kata yang bisa membuat orang ketakutan.
__ADS_1
"Aku mengetahui semua rahasia mu, orang miskin sepertimu tidak pantas memasuki keluarga itu"
"Jika kau tetap mencoba bergerak masuk kedalam keluarga mereka, maka ... "
Dor
Saat tulisan itu menggantung, tiba-tiba saja sebuah anak panah muncul hingga memecahkan kaca jendela lalu melewati wajah Gilma.
Ternyata tembakan itu membuat seekor burung tertembak mati, dan di sana terdapat sebuah kertas yang bertuliskan "ini lah yang akan terjadi"
Semua orang yang ada di dalam kamar Gilma menoleh kearah nya, mereka juga melihat Gilma tengah sangat ketakutan.
Terlihat jelas bahwa tubuh Gilma tengah bergetar sangat hebat, "apa maksud dari tulisan itu?, rahasia?, kau memiliki rahasia?" tanya Leva yang tersenyum tipis lalu merubah wajah itu seperti orang ketakutan serta kebingungan.
"A-aku, aku tidak ... " ucap Gilma sama dengan terbata-bata, lalu Gilma menoleh dan melihat Xura tengah berada di antara mereka.
"Pasti kau yang melakukan ini padaku!" teriak Gilma dengan cairan bening yang sudah terkumpul di kelopak mata.
Xura melototkan matanya, ia pun mulai mengernyitkan dahinya dengan mengangkat tangan serta jari yang tengah menunjuk dirinya sendiri "aku?, apa kau gila?, sejak tadi aku sudah berdiri disini dan kau justru menuduhku tanpa dasar?. Aku kesini karena aku sangat terganggu dengan teriakan mu itu. Awalnya aku merasa simpati padamu tapi sekarang tidak lagi, benar-benar menyebalkan, sebaiknya aku pergi saja dari sini!" ucap Xura dengan kesal sambil melangkahkan kakinya keluar dan meninggalkan mereka semua di sana.
Xura membalikkan tubuhnya dan langsung pergi dari kamar Gilma, tanpa mereka sadari Xura tengah terkikis geli melihat semua drama itu.
"Kau bermain dengan orang yang salah, kau bukanlah tandinganku" gumam Xura sambil tersenyum smirk
__ADS_1
Bersambung ...