Another Person Life

Another Person Life
Hei Pria Tampan


__ADS_3

"Pantas saja aku tidak melihat wajah menyebalkan ya itu, ternyata dia sudah membereskannya" ucap Al sambil menganggukkan kepalanya berkali-kali.


"Tuan, dia benar-benar menakutkan, hawanya mampu membuat semua orang merinding. Sungguh, aku tidak ingin mendekatinya" ucap Vano sambil memundurkan langkahnya agar tidak merasakan hawa menyeramkan yang berada di dlm ruangan itu.


Staren dan Arnius bahkan tidak mengerti perkataan keempat orang itu, Quiran?, siapa Quiran?, itulah yang ada di kepala keduanya.


Tapi mereka tidak akan bertanya di saat seperti ini, karena menurut keduanya, diam adalah hal yang paling bagus.


Mereka semua kini melihat kearah Quiran, dan benar saja, jika alter ego itu keluar, maka tidak ada hal baik yang akan terjadi.


Mereka melihat Quiran tengah tersenyum lalu mengunakan tangannya ke kaki Calis "kau menyebalkan ... sangat menyebalkan dan benar-benar menyebalkan" ucap Quiran sambil menusuknya dengan kuat.


"Ja ... " perkataan Calis di ganti dengan teriakan memilukan.


"Arghhhh, sakit!" teriak Calis dengan meneteskan air matanya.


Calis terus menangis sampai pada saatnya di lebah dan tidak pernah muncul lagi.


"Hei pria tampan yang ada disana, berikan aku asam traneksamat" ucap Quiran pada salah satu pria itu.


Zee yang mendengar itu menoleh kebelakang, ia tengah menatap Al dengan tajam, sedangkan Al langsung merinding dan ia langsung sibuk merogoh tas bawaannya.


"Dia pasti sengaja melakukannya" ucap Al dengan sedikit kesal.

__ADS_1


Quiran yang melihat itu langsung beranjak dan mendekati para pria itu. "Lihatlah wajahmu, sangat kusut" ucap Quiran sambil tersenyum.


Al langsung memberikan obatnya pada Quiran, dan Quiran langsung menerimanya, tapi jumlah obat yang di berikan Al hanyalah sebutir.


"Kau ingin aku memberikannya sebutir?" tanya Quiran dengan tersenyum, tapi bagi Al, senyum itu adalah senyuman maut.


"Kau ingin berapa?" tanya Al heran


"Berikan aku lima butir" ucap Quiran dengan santai.


Al begitu terkejut, ia melirik kearah Zee, tapi ternyata orang itu bahkan tidak bereaksi sekali pun.


Al langsung memberikan pada Quiran, sekarang, membantah perkataan seperti itu sangatlah tidak sopan.


Zee yang sedari tadi diam, kini mengeluarkan kata-kata mematikan untuk Quiran. "jika kau masih berani mencemari tubuh Quirin maka aku akan selalu menghentikan mu untuk keluar ke dunia kami" ancam Zee dengan melotot tajam.


Sedangkan Quiran tampak terdiam dan keduanya saling bertatap-tatapan, ia langsung berbalik dan membawa obat itu di tangannya.


Saat berbalik, Quiran langsung menggeretakkan giginya "aku tidak akan membiarkan dia menghentikan ku untuk keluar!" gumam Quiran dengan mata yang seakan ingin keluar dari tempatnya.


Setelah berada di depan Calis, Quirin langsung memasukkan semua obat itu kedalam mulut Calis.


Ia bahkan menutup mulut itu dengan kedua tangannya, Karen pipi Calis sudah terkoyak dengan sangat lebar.

__ADS_1


Emmmm


Calis berusaha memberontak, tapi kekuatannya kalah dengan Quiran yang tengah memaksanya meminum obat.


lagi-lagi para pria itu merasa kasihan dengan Calis, Quirin dan Quiran sangat lah berbeda, Quirin masih memiliki sikap lembut jika menyiksa orang, tapi jika itu Quiran, maka kau akan di perlakukan seperti hewan.


Quiran tidak memiliki sisi lembut, ia bisa tersenyum manis tapi tindakannya tidak sesuai dengan tampilan senyumannya. Sedangkan Quirin atau jiwa Xura tidak bisa berekspresi tapi sedikit memiliki kelembutan.


"Uhuk"


"Uhuk"


Calis terbatuk-batuk karena Quiran terus membekap mulutnya sampai Calis menelan obat yang di berikan olehnya itu.


"Sialan!, apa yng sudah di masukkan ya kedalam mulutku?" batin Calis sambil terus terbatuk-batuk.


Quiran yang melihat itu pun tersenyum manis, ia menoleh ke kanan dan kekiri. Matanya tertuju pada satu benda.


Calis yang melihat arah pandangan Quirin justru langsung membulatkan matanya.


"He-i, he-i, kau tidak boleh melakukannya pada ibu" ucap Calis dengan mulut bergetar takut. Calis hanya membuka mulutnya dengan kecil karena jika dirinya berbicara lebar, maka luka di pipi itu akan semakin membesar.


Quirin tetap tidak langkahkan kakinya, ia langsung mengambil palu dan martil.

__ADS_1


Lura yang melihat penyiksaan ibunya, terus saja menangis di pojokan. Ia benar-benar tidak tau harus berbuat apa.


Bersambung ...


__ADS_2