Another Person Life

Another Person Life
Mencari Apartemen


__ADS_3

Clamy melihat kepergian Quirin melalui pantulan kaca "jika bukan karena kau yang membawaku keluar dari tempat menjijikkan itu, sudah pasti saat ini juga kau tidak bisa berbicara lagi" gumam Clamy dengan mata yang memerah dan sudah melebar dengan sempurna.


"Mereka mengatakan Miskin?, seorang model ternama adalah orang miskin?, apa itu sebuah lelucon?, lihat saja, aku akan membungkam mulut orang-orang yang telah menghinaku!" geram Clamy sambil menggeretakkan giginya.


"Wanita itu membuatku menjadi bahan tertawaan, sebenarnya apa yang dia inginkan dariku?, mengapa dia mempermainkanku sampai sejauh ini?" gumam Clamy sambil menunduk dan mengepalkan kedua tangannya yang berada diatas wastafel.


Didalam kepala Clamy terdapat banyak pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa ia keluarkan.


Tiba-tiba Clamy teringat akan sesuatu "atau jangan-jangan dia ingin membalas perbuatanku yang sudah melukai temannya?" gumam Clamy sambil mendongakkan wajahnya dan kembali memandangi kaca yang ada di hadapannya.


Setelah terdiam cukup lama "tidak!, tidak!, jika dia ingin membalasku, maka sudah pasti aku tidak akan berdiri disini sekarang" gumam Clamy sambil menggelengkan kepala pelan dan menatap cermin dengan mata sayu.


"Jika di ingat lagi ... wanita itu sudah beberapa kali menghinaku, itu artinya dia membencikukan?" gumam Clamy sambil menutup mata dengan kedua tangannya


"Arghh .... aku benar-benar sangat binggung dengan sifatnya itu, terkadang dia terlihat polos dan naif, disaat bersamaan dia juga terlihat sangat menyeramkan bahkan disetiap perkataannya dapat membuatku merinding, karena hal itu, aku harus berpikir berulang kali untuk membuat rencana padanya" gumam Clamy


Clamy melirik paperbag yang ada di sampingnya "sekarang dia memberikanku pakaian?, benar-benar menyebalkan!, sebenarnya yang mana sifat aslimu?" gumam Clamy sambil meraih paperbag itu.


Setelah mendengar penghinaan di toko, Clamy selalu berbicara sendiri, ia selalu berfikir untuk melanjutkan rencananya atau tidak, karena dirinya sendiri baru mengenal Quirin dan selama mengenalnya sifat Quirin selalu berubah-ubah, dan hal itu membuat Clamy tidak tau harus mengambil langkah apa.


Clamy mengambil papperbag itu lalu membukanya, mata yang awalnya memerah kini berbinar "pakaiannya sangat indah, aku tidak melihat saat wanita itu membayar pakaiannya" gumam Clamy sambil mengangkat pakaian itu setinggi-tingginya


Clamy sangat senang melihat pakaian yang ada di dalam paperbag, ia tidak tau jika Quirin memilih pakaian yang sangat indah karena dirinya sangat terfokus pada setumpuk pakaian yang ada di tangannya.


"Aku terlalu memikirkan hal yang tidak berguna, yang dia ucapkan memang benar, aku telah mengambil barang yang ada di tangan tuan tampan, jadi yang harus membayar semua itu juga tuan tampan, tidak mungkin wanita itu, setelah dipikir-pikir lagi, yang mengatakan aku miskin juga bukan wanita itu, tapi pelanggan toko yang lain" gumam Clamy sambil tersenyum manis

__ADS_1


"Benar seperti itu, wanita itu terlalu naif, jadi aku bisa melancarkan semua rencanaku" gumam Clamy sambil mengganti pakaiannya dengan yang baru


"Terlihat sangat cantik" gumam Clamy sambil bercermin, setelah cukup lama memandangi cermin, ia melihat garis-garis di wajah yang sangat mengganggu.


"Aku harus memulai merawat diri, tidak mungkin aku kembali kekamera dengan wajah seperti ini" gumam Clamy sambil memegang wajahnya.


Suasana diluar toilet cukup menegangkan, saat Quirin keluar, Zee melihat semua papperbag yang ada di tangan Quirin sudah tidak ada "kau memberi semua pakaian itu?" tanya Zee dengan datar


Quirin tersenyum tipis "benar, aku sengaja memberikannya agar dia terlihat bahagia dan tersenyum manis" ucap Quirin santai sambil berjalan mendekati Zee.


"Lalu pada akhirnya dia akan menangis, bukankah seperti itu?" lanjut Zee dengan datar


Quirin tersentak kaget "apa kau bisa membaca isi pikiranku?" tanya Quirin heran sambil menatap Zee dengan menaikkan satu alis.


Zee bukan menjawab pertanyaan Quirin, ia justru malah bertanya kembali "dengan karaktermu yang keras, kau tidak akan semudah itu membiarkan dia bahagia bukan?" tanya Zee sambil menatap Quirin


Quirin menghela nafas panjang, ia tidak bisa membantah dan membenarkan ucapan Zee dengan semudah itu, tapi tanpa dibertahu sudah pasti Zee bisa menebak semua yang dilakukan olah Quirin, oleh karena itu Quirin hanya pasrah dan menjawab semampunya saja.


"Kau pasti akan bahagia setelah melihat pakaian-pakaian itu Clamy" batin Quirin sambil tersenyum smirk


"Ini peringatan dariku, segera selesaikan dendam Xia, karena aku takut Cepat atau lambat wanita itu akan mengetahui semua rencanamu" ucap Zee yang sedari tadi masih memandangi Quirin.


Quirin berjalan meraih pembatas kaca dan memandang kebawah sambil melihat orang-orang berlalu lalang "kau juga tidak perlu menatapku terus-menerus dan mengkhawatirkan hal yang tidak mungkin terjadi, karena dia tidak akan bisa menebaknya, aku baru saja melihat dia sedang bertarung dengan pikirannya sendiri dan itu membuatku yakin jika dia masih mempercayaiku serta mendengarkan semua perkataanku" ucap Quirin dengan percaya diri.


Zee tidak habis pikir, bagaimana bisa Quirin bermain dengan sangat lambat, padahal balas dendam yang lain masih menunggunya "kau sangat keras kepala, aku sangat khawatir kau akan selalu terjebak di negara ini dan tidak bisa membalaskan dendam yang sangat jauh dari Inggris" ucap Zee tegas

__ADS_1


Quirin tersentak kaget, ia berbalik dan menatap kearah Zee yang berada di belakangnya "apa maksudmu?" tanya Quirin dengan serius


"Kau mempunyai dendam di keluarga Xavier, aku hanya mengatakan itu" ucap Zee sambil berbalik dan berjalan pelan meninggalkan Quirin yang menatap kepergiannya


"Aku yakin dia berkata membalaskan dendam yang sangat jauh dari Inggris, aku yakin dia berkata seperti itu, aku mendengarnya dengan jelas, apa mungkin dia mengetahui sesuatu tentang diriku?" pikir Quirin sambil menatap punggung Zee


Tiba-tiba pintu toilet terbuka lebar "nona, aku tidak menyangka kau memberikan dress seindah ini padaku" ucap Clamy dengan senyum indahnya sambil berjalan mendekati Quirin.


"Baguslah jika kau menyukainya, sekarang ayo kita pergi, kita akan melihat-lihat sebuah apartemen" ucap Quirin sambil berjalan meninggalkan Clamy


"Apartemen?, bukankah dia mengatakan akan memberi rumah mewah padaku?, tapi dia belum mengatakan apartemen itu akan diberikan pada siapa, jadi aku tidak perlu bertanya padanya" batin Clamy sambil menatap punggung Quirin


Dalam langkahnya, Quirin sangat memikirkan perkataan Zee "dari gerak gerik Zee, dia seperti tidak menunjukkan telah mengetahui sesuatu tentang diriku, lalu untuk apa dia mengatakan dendam yang sangat jauh dari Inggris?, apa maksudnya itu?" pikir Quirin sambil melangkah pelan


"Nona, aku ingin berterimakasih padamu" ucap Clamy sambil berlari kecil menghampiri Quirin


"Mengganggu saja!, tapi kalau aku mengakhiri permainan ini dengan cepat, maka rasa sakit yang dirasakan oleh Xia tidak terbalas dengan setimpal" batin Quirin kesal


"Kau belum sepenuhnya menerima yang aku berikan, jadi simpan dulu ucapan terimakasih tu" ucap Quirin sambil mensejajarkan langkahnya disamping Zee


Clamy menatap dengan heran "apalagi yang ingin dia berikan padaku?" batin Clamy


"Zee, apa kau mau menemaniku untuk mencari sebuah apartemen?" tanya Quirin sambil mendongakkan wajahnya dan menggandeng lengan Zee.


Zee hanya mengangguk san menatap lurus kedepan "seperti biasa, dia selalu menjawab dengan sebuah anggukan" batin Quirin kesal

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2