
"Hentikan!"
"Hentikan!" teriak Gilma dengan nafas yang tersengal-sengal.
Melihat Gilma seperti sesak nafas, Xura langsung menghentikan tangan Vano "jangan di lanjutkan" ucap Xura sambil melihat kearah Vano.
Vano melirik kearah Xura sambil menggeretakkan giginya, ia pun berdecih kesal sambil membuang pandangannya kearah lain.
"Cih, jika saja nona tidak menghentikan ku, maka aku pasti memenggal kepalamu sekarang juga" gumam Vano yang benar-benar terlihat kesal.
Xura mulai melirik kearah Al, sedangkan Al terkejut, lalu ia pun mengerti arti kode yang di berikan Xura. Al langsung berlari kearah Gilma dan bergegas memeriksa Gilma dan memperbaiki alat-alat yang tengah terpasang di sana.
Darah mulai mengalir di setiap lubang yang baru saja di buat Vano, sedangkan Gilma sudah seperti orang yang tidak bisa bernafas.
Bahkan, keringat juga mulai keluar di dahinya, tapi Gilma justru melihat tatapan ketiga orang itu tampak biasa saja.
Setelah merasa stabil, Gilma mencoba mengeluarkan suaranya "Kenapa kalian tidak membunuhku saja?" tanya Gilma dengan suara lemah.
Xura melirik kearah Gilma dengan senyuman smirk "Jika kau mati, maka aku tidak memiliki mainan lagi ... " ucap Xura sambil memutar-mutar pisau panas itu di tangannya.
"Lagi pula, kau sudah membuat Zee menderita, jadi sekarang ini, kau harus merasakan penderitaannya juga" lanjut Xura sambil memantik api dan langsung menempelkan besi panas itu ke tangannya.
Argghhh
Lalu Xura membakar tangan itu untuk yang ke empat kalinya.
Arrgghh
Gilma hanya bisa berteriak, ia ingin meminta pertolongan, tapi sekarang tidak ada yang bisa menolongnya.
"Sakit, sudah hentikan" teriak Gilma dengan keras, ketika gilma mencoba menggerakkan tangannya, tiba-tiba saja terdengar bunyi retakan tulang.
Kreekkk
Argghhh
Xura yang mendengar suara itu terkejut dan ia pun mulai tertawa dengan keras "Haha ... ini sangat menyenangkan, sekarang dia bahkan mematahkan tangannya sendiri" ucap Xura sambil memegang perutnya.
Vano dan Al juga ikut tertawa, mana ada orang bodoh yang ingin sakit, tapi Gilma berbeda, dia ingin melakukannya untuk menyingkirkan tangan Xura, tapi ia justru menambah luka baru.
Keringat dingin sudah munculan di wajah Gilma, nafasnya mulai memburu, bahkan di wajah itu tampak terlihat jelas bahwa Gilma seperti sudah tidak kuat menahan sakit di seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Xura menghentikan tawanya "Al, setelah aku selesai maka kau harus menghentikan rasa sakitnya dalam beberapa menit" ucap Xura yang terus a dengan serius.
Al sudah bersiap dengan berdiri di samping tempat tidur Gilma, sedangkan Xura sekali lagi membakar tangan Gilma.
Arrgghh
Lalu Xura kembali mencungkil tangan Gilma seperti yang telah di lakukan sebelumnya "Sudah ku katakan bahwa kau berhutang Tiga Daging padaku.
Saat Xura mencungkil tangannya, Gilma sudah tidak kuat untuk berteriak, ia merasa tenaganya telah hilang begitu saja.
Karena cukup lelah, Gilma hanya bisa menahan sakit dengan menggigit lidahnya dengan sangat kuat.
Enngghh
Enngghh
Enngghh
Xura pun melakukan sesuai perkataannya, kini lima lubang telah tertata rapi di tangan Gilma, sedangkan Gilma hanya menatap ke sembarang arah sambil menangis.
Dulu ia sangat membanggakan tubuhnya yang ideal, tapi sekarang, Gilma tidak ingin melihat tangannya lagi, ia sungguh tidak sanggup melihat tubuhnya yang sekarang.
"Hiks, Hiks, kalian sungguh manusia berhati keji" ucap Gilma dengan menangis sejadi-jadinya.
Arrgghh
Gilma terkejut ketika mendapat rasa sakit yang luar biasa di bagian yang di lubangi oleh Xura. Ia pun spontan menoleh dan melihat Xura tengah membasahi kapas dengan Alkohol dan memasukkan kapas itu kedalam tangannya.
"Sakit, sakit!" teriak Gilma lagi.
Vano dan Al bahkan menggelengkan kepala mereka, keduanya bahkan tidak menyangka bahwa Xura bisa memikirkan hal-hal mengerikan seperti itu.
Xura bahkan tidak perduli dengan teriakan itu, ia terus membasahi alkohol dan memasukkan kapas itu ke lima lubang tersebut.
Di dalam ruangan itu Gilma terus berteriak kuat, karena sudah sangat kesal mendengar teriakan Gilma, akhirnya Xura langsung membuka alat pernafasan Gilma dan menggumpal mulut Gilma dengan daging tangannya sendiri.
Engghhh
"Kau harus menelannya!" ucap Xura sambil melotot Gilma dengan tajam.
Gilma terkejut dan ia pun seperti tidak bernafas karena Xura menutup mulut dan menutup saluran pernafasannya.
__ADS_1
Vano dan Al seakan melototkan mata mereka, kini keduanya pun menutup mulut dengan satu tangan memegang perut masing-masing dengan tangan lainnya.
Mereka tidak menyangka bisa melihat sendiri adegan dimana sang psikopat asli tengah memaksa seseorang memakan daging orang itu sendiri.
"Menjijikkan" ucap Al yang seperti mengeluarkan isi perutnya.
Sedangkan Vano kembali berdiri tegak dan mencoba tetap berdiri, walau perutnya tampak bergerak, tapi Vano tetap menhan rasa mual itu.
Gilma yang sudah tidak memiliki pilihan hanya bisa menuruti perkataan Xura, ia pun dengan terpaksa menelan kelima daging itu.
"Uhuk, uhuk, Kau sangat kejam" ucap Gilma dengan terus menangis.
"Aku tidak perduli, sejak awal aku sudah memperingatkan mu, tapi kau lah yang tidak mendengarkan ku, jadi nikmati saja daging panggang itu, bukankah rasanya enak" ucap Xura sambil tersenyum smirk.
Gilma benar-benar tidak menyangka bahwa dirinya akan di perlakukan begitu kejam, pikirannya kini mulai tertuju pada sang kakak.
Ia teringat saat dimana sang kakak terus melindunginya, bahkan ketika dirinya di ganggu oleh orang, kakaknya langsung memasang badan dengan penuh keyakinan. Dan juga Gilan berkelahi sampai dimana Gilma harus merawat sang kakak karena Gilan mendapat luka yang cukup serius di seluruh tubuhnya.
Gilma seakan merindukan sosok sang kakak yang terus melindungi, jika kakaknya masih hidup, Gilan pasti tidak akan membiarkan mereka menyakiti dirinya "Kakak" gumam Gilma dengan pelan dengan air mata yang terus mengalir dengan deras.
****
Sedangkan di mansion, Zee tengah mencari keberadaan Vano dan Xura, tapi ia tidak menemukan keberadaan kedua orang itu.
Lalu Zee bertanya pada penjaga, dan penjaga memberitahu bahwa keduanya tengah keluar bersama.
"Mereka!" geram Zee sambil mengepalkan kedua tangannya.
Lalu saat Zee ingin pergi ke bagasi, tiba-tiba saja Leva keluar dari rumah "Zee, ada apa?" tanya Leva sedikit khawatir melihat wajah menyeramkan Zee.
"Aku akan keluar sebentar" ucap Zee sambil melangkahkan kakinya.
"Mama akan keluar dengan mu, papa mu memilih untuk tidak ikut jadi mama merasa bosan di rumah" ucap Leva sambil melangkahkan kakinya masuk kedalam mobil.
Zee yang melihat itu hanya bisa menghela nafasnya dengan pelan, lalu Zee melacak mobil yang di kenakan oleh Vano.
"Rumah sakit?, bukankah ini rumah sakit tempat dimana Gilma di rawat?" gimana Zee sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Leva mengernyitkan dahinya, tapi ia tau bahwa sekarang Zee seperti sedang menghawatirkan sesuatu.
"Sudahlah, aku pusing mengurus masalah percintaannya" batin Leva yang cukup lelah dengan sikap anak sematawayangnya itu.
__ADS_1
Bersambung ...