Another Person Life

Another Person Life
Penyiksaan Terhadap Jean


__ADS_3

Tubuh Quirin jatuh kelantai, ruangan itu tampak gelap karena hanya diisi oleh beberapa cahaya lilin yang menerangi ruangan itu.


Jean duduk di salah satu kursi "bisa-bisanya gadis tidak berguna sepertimu hidup mewah di bawah kekuasan keluarga Alister, sebelumnya jika bukan karena Grizo sudah dipastikan kau akan tiada, aku sangat iri dengan keberuntungan yang kau miliki"


"padahal saat itu aku sudah bersusah payah membuatmu berada diujung tanduk, tapi mengapa kau bisa kembali lagi?, apa manusia sepertimu benar-benar tidak bisa mati?, haruskah aku mencoba keberuntunganmu lagi itu sekarang?" ucap Jean dengan senyum licik.


"Ah ... apa pelayan itu mengira tubuhku ini sebongkah tanah yang bisa dilempar kapan saja?, keterlaluan sekali" gumam Quirin sambil bangkit dari tempatnya lalu melihat di kedua tangannya sudah ada coretan noda hitam yang sangat panjang.


Jean begitu terkejut mendengar suara Quirin "ka-kau!, ba-gaimana kau tidak pingsan setelah menghirup gas itu?" ucap Jean dengan nada meninggi karena ketakutan.


Quirin tersenyum smirk setelah melihat kedua tangannya, lalu ia langsung menoleh kearah Jean "apa kau sudah selesai berbicara?, kau tidak berpikir gas itu bisa membuatku tertidur dengan mudah bukan?, kalau kau berfikir demikian maka kubur saja otak tidak berguna itu kedalam tanah hingga mencapai inti bumi" ucap Quirin sambil membersihkan pakaiannya yang kotor.


Jean sangat marah mendengar hinaan yang keluar dari mulut Quirin "dasar cucu kurang ajar!, kenapa saat itu kau tidak mati saja!" teriak Jean yang sudah meradang.


Quirin menatap Jean dengan tajam "diam lah!, karena kau ... leher dan tanganku menjadi sakit!" bentak Quirin lalu membunyikan lehernya serta merenggangkan tubuhnya hingga menimbulkan bunyi yang sangat menyeramkan.


Jean yang mendengar suara bunyi tulang itu bergidik ngeri namun ia menepis rasa takutnya "lagian jika aku mati siapa yang membalaskan dendam ibuku?" tanya Quirin sambil membunyikan semua jari-jarinya.


Jean terkejut mendengar Quirin menyebut membalaskan dendam ibunya, padahal dulu dirinya masih sangatlah kecil untuk bisa mengingat semua kejadian-kejadian yang menimpa ibunya "kenapa kau membahas wanita miskin itu?, apa ada orang yang memberitahumu?" teriak Jean yang mulai ketakutan.


Jean takut bukan tanpa alasan, karena menurutnya tidak mungkin Quirin bisa mengetahui semuanya kalau bukan ada yang menghianatinya, itulah pikiran isi pikiran Jean saat ini.


Quirin tersenyum tipis mendengar pertanyaan Jean "tentu saja tidak ada yang memberitahuku, karena pekerjaanku adalah membongkar rahasia, jadi apa boleh buat .... " ucap Quirin sambil menaik turunkan kedua bahunya secara bersamaan , lalu Quirin menggantung ucapannya


Jean sangat penasaran dengan kelanjutan dari kalimat yang akan Quirin lontarkan "tapi bukan kah kau yang memulai semua ini?" ucap Quirin mulai menatap Jean dengan datar


Jean dibuat terkejut dengan ucapan Quirin "ka-kau mempermainkanku?" geram Jean dengan mengepalkan kedua tangannya.


"Benar!, aku telah mempermainkanmu, apa kau takut?" tanya Quirin sambil melipat kedua tangannya


Jean semakin tidak bisa mengendalikan marahnya "aku tidak takut pada bocah ingusan sepertimu!" teriak Jean sambil tersenyum licik


"Benar juga, mana mungkin kau takut padaku" ucap Quirin sambil melihat kesekelilingnya.

__ADS_1


Didalam ruang bawah tanah itu terdapat perlengkapan dari yang terbesar sampai terkecil, seperti kayu panjang dengan ukuran cukup besar, besi panjang tebal, martil, gergaji, serta pistol dan segala jenis obeng.


"Apa yang kau lihat?!, sekarang kau takut?!" ucap Jean sambil menampilkan senyum angkuh.


Semua peralatan itu tepat berada di belakang Jean sehingga Quirin harus memikirkan sebuah cara untuk mengambil alat-alat itu "takut?, padamu?, kata-kata itu tidak ada dalam kamusku. jujur saja kau sangat tidak cocok memakai alat itu. takutnya baru sekali menembak justru membuat jantungmu langsung melompat keluar" ejek Quirin santai, ia tidak takut dengan ancaman Jean justru Quirin semakin bersemangat agar membuat Jean menjadi bertambah kesal.


Jean menggeretakkan giginya, dalam pikirannya harus segera melenyapkan Quirin "kurang ajar!, aku akan membunuhmu sekarang!" teriak Jean sambil melepaskan satu peluru mengarah pada Quirin.


Saat tembakan di lepaskan, Quirin yang masih berdiri di tempat kini langsung berlari cepat kearah Jean lalu menendang pistol yang ada di tangannya. sehingga pistol beserta Jean jatuh secara bersamaan, karena tendangan Quirin tidak bisa di katakan lemah.


Arghhhhhh


Jean berteriak kesakitan karena Quirin telah menendang tangannya dengan sangat kuat sehingga menimbulkan bunyi yang tidak enak didengar.


"Sudah aku katakan nenek, kau tidak cocok memakainya" ucap Quirin sambil membungkuk mengambil pistol yang terlempar sedikit jauh dari Jean.


Quirin kembali berjalan mendekati Jean "hanya memiliki tenaga seperti ini saja kau sudah berani menantang ku, bukankah kau cukup mengesankan?" ucap Quirin sambil mengambil ancang-ancang


Bukkkk


Arghhhh


"Bukankah kau sangat suka menyiksa orang?, sekarang coba rasakan rasa sakitnya" ucap Quirin sambil menendang perut Jean untuk yang kedua kalinya.


Bukkkk


Arghhhh


Suara rintihan Jean terdengar sangat memilukan, karena kekuatan dari tendangan Quirin tidak bisa dianggap remeh.


Jean memegangi perutnya "apa yang kau lakukan pada nenekmu!" teriak Jean di sela rintihannya.


Saat Quirin ingin menendangnya kembali, ia malah mendengar ucapan yang tidak masuk akal "nenek?, aku tidak punya nenek tapi aku mempunyai monster berkedok nenek" ucap Quirin sambil tersenyum smirk

__ADS_1


Sedangkan Jean cukup terkejut karena Quirin menyebutnya dengan sebutan yang tidak pantas "monster?, disini kaulah monsternya!" teriak Jean sambil mangan sakit di perutnya


Quirin mengernyitkan dahinya "hei hei, kau pintar sekali memutar balikkan fakta, dulu kau menyiksa ibu dan aku seperti ini, tapi kau tidak terima menerima julukan monster, lalu setelah aku melakukan hal yang sama kau menyebutku monster?, konyol sekali" ucap Quirin sambil memutar bola matanya dengan malas.


"A-apa?, ba-gaimana kau bisa tau semua itu?, bu-kankah kau mengatakan tidak ada yang memberitahumu?" ucap Jean dengan tebata-bata


Quirin tidak mendengar pertanyaan Jean, ia justru mengabaikannya sambil memilih barang yang tepat untuk memberi Jean pelajaran berharga.


Quirin memilih kayu besar, Jean yang masih meringkuk diatas tanah melihat kearah Quirin, mata yang awalnya biasa saja sekarang sudah membulat dengan sempurna


"Di-dia!" batin Jean


Quirin tersenyum smirk lalu mengayunkan kayu besar itu tepat di kaki Jean.


Arghhhhh


Jean kembali berteriak sambil memegang kakinya yang sakit, air mata mengalir dengan deras dipipinya, sedangkan Quirin tampak tidak memperdulikan kesakitan Jean "aku melihat kau melakukan ini pada ibuku, jadi aku mengembalikan rasa sakit ibu padamu, bukankah ini menyenangkan?" ucap Quirin sambil tersenyum.


Sambil menangis, Jean mendengar jelas semua apa yang dikatakan oleh Quirin, Jean memberanikan diri mendongakkan wajahnya "me-melihat?, ka-kau melihat dimana?" tanya Jean penasaran


"Apa kau tidak tau kalau disini banyak Cctv?" tanya Quirin dengan santai


Jean sungguh terkejut "kau mempermainkanku lagi?, Cctv?, apa kau tidak waras?, kami tidak memasang cctv dirumah ini" teriak Jean kesal, karena dirinya berkali-kali telah di permainkan oleh Quirin dan sekarang Quirin menyiksanya dengan sangat kejam.


"kau tidak tau?, sayang sekali, padahal kau adalah nyonya besar sekaligus pemilik rumah ini ... "


"Tapi, karena kau tidak mengetahui ada Cctv artinya kau bukanlah pemilik rumah ini, bukankah begitu?" ujar Quirin melanjutkan perkataannya yang sengaja di jeda.


"Omong kosong!, akulah pemilik rumah ini!" teriak Jean marah, ia melupakan rasa sakit di tubuhnya


Quirin mengeluarkan sesuatu dari sakunya, lalu mengarahkan cahaya ponselnya ke arah dinding.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2