Another Person Life

Another Person Life
Wajah Menakutkan Vano


__ADS_3

Beberapa jam berlalu....


Mata Quirin yang terpejam kini terbuka secara perlahan-lahan, iya terdiam sesaat dengan mata yang lesu, tenggorokannya juga sudah terasa kering, lalu melihat ke arah Zee yang berada tepat di sampingnya, Zee membalas melihatnya dengan diam, setelah ia merasa nyawanya sudah sepenuhnya terkumpul


"Air" ucap Quirin


"Sebentar" ucap Zee sambil bergegas mengambilkan air, ia meletakkan gelas yang berisi air itu di meja samping tempat tidur untuk sementara, lalu mengangkat tempat tidur bagian kepala Quirin dan langsung memberikannya air


"Lagi" ucap Quirin sambil menyodorkan gelasnya pada Zee


Zee hanya menuruti tanpa membuka suara, Setelah meneguk air untuk kedua kalinya, Quirin masih merasa haus


""Lagi" ucap Quirin menyodorkan gelasnya lagi


Tanpa jawaban apapun, Zee menurutinya, namun Quirin terus-terusan meminta air


"Lagi" ucap Quirin dingin


"Apa?" tanya Zee terkejut karena dia sudah meminta air untuk yang ke 6 kalinya


"Kau tidak dengar?, aku bilang lagi" ucap Quirin ketus


"Tidak bisa, aku rasa kau bukan hanya merasa haus, tapi lapar, apa kau suka bubur?" Zee bertanya dengan santai namun masih terkesan datar sambil melirik kearah Quirin


"Tidak" ucap Quirin datar sambil melipat tangannya dan melihat kesembarang arah


Sebelum Quirin siuman, sebenarnya perawat sudah menyediakan bubur untuk berjaga-jaga kalau Quirin terbangun, ia langsung bisa menyantapnya, bubur itu diletakkan diatas meja samping tempat tidur, namun saat Zee melihat bubur itu sudah berada disana selama 1 jam dan itu sudah dingin


Zee memerintahkan perawat untuk tidak mengantarkan makanan lagi, agar makanan tersebut tidak sia-sia, karena ia sendiri belum tahu kapan Quirin akan siuman


"Haaa... untuk apa aku bertanya?, bukankah pasien hanya perlu menurut?" ucap Zee dengan melirik Quirin tajam


"Aku tidak akan memakannya, silahkan saja kau bawa" ucap Quirin melihat kearah Zee tanpa rasa takut


"Walaupun ini perintah?, Hem?" tanya Zee dingin


"Tunggu dulu, jangan bilang... kau ingin mengancamku menggunakan kontrak itu?" tanya Quirin dengan mengerutkan dahinya dan menatap Zee dengan tajam


"Yups, pintar" jawab Zee santai sambil mengangguk


"Haaaa.... sudahlah, terserah apa maumu" ucap Quirin dengan pasrah


Setelah rasa laparnya hilang "Kapan aku bisa pulang?, aku sangat bosan disini" ucap Quirin dengan sedikit manja, itu adalah trik andalannya


"Kapan pun kau mau" jawab Zee datar dengan tetap menatap Quirin


"Malam ini saja bagaimana?" tanya Quirin lagi yang sangat antusiasnya dengan mata yang berbinar


"Dia sangat lucu" batin Zee yang senang dengan antusiasnya Quirin


Xia yang saat itu juga tertidur di sofa, dan duduk tepat di depan Vano yang sedang tertidur, terbangun mendengar pintu terbuka saat Zee membawakan bubur untuk Quirin

__ADS_1


"Hem?, siapa yang berani berisik di ruang pasien?" tanya Xia dengan suara serak khas orang baru bangun tidur sambil mengucek lembut matanya dan memandang ke arah orang yang sedang mendekati tempat tidur Quirin


"Aku" jawab Zee dingin


"Ah... maaf, aku pikir orang lain atau perawat disini" ucap Xia yang belum menyadari kalau Quirin sudah siuman


Setelah sepenuhnya terbangun, Xia melihat ke depan, ia melihat Vano yang belum juga terbangun, ia pun memandangi wajah Vano dengan seksama, tiba-tiba jantungnya mulai berdetak tidak karuan


"Hmm... dia tampan ketika tertidur" gumam Xia pelan sambil menyatukan kedua ibu jari dan telunjuk seperti membuat pose memotret dengan 1 mata di tutup


Xia kemudian menopang kepalanya dengan 1 tangan yang dilipat di atas sandaran sofa, tanpa sadar ia terus menatap wajah pulas Vano


Xia yang sedang asyik termenung, sayup-sayup mendengar suara Quirin yang sangat antusias, ia kemudian langsung berdiri dan berjalan mendekat kearah tempat tidur Quirin


"Ehem, ehem, ternyata kau sudah siuman, untuk sahabatku yang tersayang, apa kau melupakan sesuatu?," tanya Xia yang tersenyum sangat manis


Quirin yang mendengar suara cempreng itu langsung mengingat apa yang telah ia lupakan


"Maafkan aku, ini terlalu mendadak" dengan wajah sedih


"Apa kau bisa tidak membuatnya menggunakan ekspresi itu?" tanya Zee datar, tanpa menoleh ke arah Xia yang sudah berada di sebelahnya


"Huh, tuan muda, apa selama ini kau tidak menyadarinya?, dia menggunakan ekspresi itu untuk menipumu" ucap Xia kesal karena ia tau jika Zee melihat ekspresi sedih Quirin, ia akan dimarahi dan itu sukses membuat Zee menegurnya


"Aku tidak perduli, jangan di ulangi lagi" jawab Zee datar


"Iya iya, dasar... kau mulai menjengkelkan Quirin" ucap Xia dan kembali berjalan kearah sofa dan duduk disana kembali


Quirin memutar penglihatannya di sekeliling sofa, saat melihat rambut yang berada di sandaran sofa, ia semakin penasaran, karena memang sofa di ruangan itu sedikit lebih jauh dari tempat tidurnya


"Siapa yang tidur di sofa?" tanya Quirin pada Zee yang sedikit mempunyai rasa penasaran


"Vano" jawab Zee singkat


"Hey Xia, jangan menatapnya lagi, kau bisa jatuh cinta dengannya" ucap Quirin dengan suara keras dan membuat Vano tersentak lalu mengerjab-ngerjabkan matanya


Xia yang sedang melihat Vano langsung gelagapan dan duduk dengan manis sambil mengotak-atik ponselnya


"Kau sangat berisik Quirin, kau lihat dia terbangun karena suaramu" ucap Xia lagi sambil tetap mengotak-atik ponselnya


"Hem?, Kau dari tadi disini?" tanya Vano dengan suara khas orang yang baru bangun tidur, Membuat Xia melihat kearah Vano dan terpesona selama beberapa menit


"Hei aku bertanya padamu, udang kecil" ucap Vano lagi dengan posisi duduk di sofa sambil menguap


Xia yang termenung, langsung tersadar saat mendengar panggilan yang keluar dari mulut Vano


"Kauuuu!!!!! Harusnya kau tidur saja, agar terlihat imut, kalau bangun,kau sangat menjengkelkan" ucap Xia keras dan bangkit dari tempat duduknya lalu keluar ruangan


"Wow, dia mulai lagi, ternyata sangat menyenangkan melihatnya seperti itu, setidaknya sesekali ada hiburan disini" ucap Quirin terkekeh pelan, hal itu pun tidak luput dari penglihatan Zee


"Apa aku salah?, Haa... entahlah " tanya Vano heran, sambil memijit pelipisnya

__ADS_1


"Sebentar lagi Quirin akan pulang, cepat kau kejar udangmu itu untuk membantu Quirin bersiap-siap" perintah Zee tanpa menatap Vano


Vano yang mendengar perintah Zee langsung berdiri, tanpa berpamitan ia pun keluar dari ruangan untuk mencari Xia


Arnius, Gavin dan Staren yang terus berjaga diluar, melihat Vano keluar ruangan dengan menoleh ke kanan dan ke kiri langsung mengerti dengan apa yang dicari Vano


"Boss, sepertinya dia berjalan ke arah taman, dia keluar dengan wajah berkedut" ucap Arnius sambil menunjuk arah kemana Xia pergi


Vano hanya mengangguk dan pergi ke arah taman, namun sesampainya di taman, ia melihat dari kejauhan, Xia berbincang dengan seorang pasien laki-laki dengan canda-tawa


Vano yang melihat pemandangan itu terlihat sangat geram, ia mengepalkan tangannya dan berjalan ketempat Xia


"Udang kecil" ucap Vano dengan suara sedikit keras dari kejauhan, mampu membuat Xia mendengarnya


Xia yang mendengar panggilan tidak asing itu, menoleh kebelakang dan melihat Vano yang sudah membuat wajah yang sangat seram


"Ada apa kau kesini?" tanya Xia heran dan berdiri dari kursinya


Setelah mendekati kursi taman, Vano langsung menarik tangan Xia dan membawanya pergi


Xia yang ditarik sangat terkejut, namun tidak berani memberontak, melihat wajah Vano yang sangat seram, ia lalu melihat kebelakang "Aku pergi duluan, Semoga cepat sembuh" ucap Xia dengan suara keras sambil membuat tangan kirinya seperti berbisik lalu melambaikan tangannya secara berulang kali


Vano yang mendengar ucapan Xia, merasa hatinya sangat panas dan mencengkram tangan Xia dengan sangat kuat


"Hei kau, lepaskan tanganku!, kau ingin membuatnya patah?" tanya Xia dengan marah sambil meronta-ronta memegangi tangan Vano agar melepas cengkramannya


Vano yang tersadar langaungmelepaskan tangan Xia "Tuan muda menyuruhku untuk mencarimu, nona akan pulang malam ini, tuan muda meminta bantuan mu untuk membantu membereskan barang nona" ucap Vano panjang lebar sambil tetap berjalan di depan dan masih membuat ekspresi seram


"Tapi, kau tidak perlu menarikku seperti itu pria berwajah kaku" ucap Xia kesal dan memegang tangan kanannya yang sudah memerah


"Itu salahmu" ucap Vano singkat tanpa memperdulikan sebutan dari Xia untuknya


"Bagaimana mungkin itu salahku, dia yang mendatangiku dan langsung mencengkram tanganku dengan kuat, dasar pria berwajah kaku yang aneh" batin Xia yang kesal


Bersambung...


Para pembaca jangan lupa tinggalkan jejak 👇


✓ Favorite


✓ Like


✓ Vote


✓ Gift


✓ Comment


✓ Rate


Author sangat berterimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2