
Dor
Dor
Dor
"Kalian ingin masuk sendiri atau aku yang harus menyeret kalian?" ucap Xura Asli setelah menembak pintu yang tertutup itu.
Krakkk
Pintu terbuka dan terlihat sepasang pria dan wanita, semua orang terkejut melihat mereka berdua.
Wajah pria iru tampak kesal karena Xura menembaknya dengan sengaja "nona, kenapa kau lakukan ini pada Quirin?" tanya Alpha yang berada tepat di samping Quirin Asli.
Sedangkan Quirin justru gemetar ketakutan, karena tiga tembakan itu mengarah padanya, tapi semua peluru itu meleset.
"Jangan berpura-pura bodoh tuan Volker, kalian sudah mendengar pembicaraan ini sejak awal, apa kau pikir aku tidak bisa merasakan keberadaan kalian?" ucap Xura sambil melirik kearah Alpha.
Seketika Alpha terdiam, ia tidak menyangka bahwa Xura sangat peka dengan keadaan sekitarnya, awalnya, setelah mendengar Xura akan membunuh Quirin asli, Alpha ingin mengajak Quirin pergi dari tempat itu, tapi ternyata tembakan tak terduga itu langsung mengarah pada mereka.
Arcy terkejut melihat anaknya berada di depan mata, ia sendiri bahkan tidak merasakan keberadaan mereka "Quirin" ucap Arcy dengan mata berkaca-kaca.
Quirin yang menunduk sambil masih gemetar ketakutan mendongakkan wajahnya "i-ibu?" ucap Quirin dengan mata berkaca-kaca.
"Hei, sekarang bukan waktunya untuk melepaskan rindu karena urusan kita belum selesai" ucap Xura dengan santai sambil memutar pistol yang ada di tangannya.
Quirin yang mendengar ucapan itu memberanikan diri menatap Xura "Apa kau tidak punya hati?" tanya Quirin dengan air mata yang tengah menumpuk di pelupuk matanya.
Dor
Xura menembak tepat di samping pipi Quirin, Walau meleset, tapi pipi Quirin yang mulus tergores kecil dan mengeluarkan darah "Jangan pernah membicarakan hati dengan ku, aku sudah berbaik hati membasmi para monster yang ada di rumah mu dan bersusah payah memecah teka teki ini, jika saja aku tidak ada maka kau juga tidak akan pernah bertemu dengan ibu mu yang egois ini. Apakah kau masih mengatakan aku tidak memiliki hati?" ucap Xura
"Tapi, aku harus mengucapkan selamat padamu, kau memang peniru yang handal, lihatlah, seluruh pakaian dan sikap mu, semua sama persis seperti diriku yang dulu. Kau sungguh luar biasa" ucap Xura sambil menepuk kedua tangannya.
__ADS_1
Prok
Prok
Prok
Quirin terdiam dan melihat dirinya dari bawah, benar saja, gaya pakaian yang di kenakan nya sama persis seperti diri Xura yang dulu.
"Aku melakukan ini karena aku mengahadapi Cassi, aku ingin dia di hantui oleh bayang-bayangmu" ucap Quirin membela diri.
"Lalu?, bukankah kau tidak memiliki akhir yang baik, lalu kenapa kau masih berpakaian seperti ku?, apa kau suka dengan kehidupanku?" tanya Xura dengan tersenyum smirk.
"Ti-tidak, aku tidak pernah menyukai nya" bantah Quirin.
"Haha ... lihatlah dia, karena terlalu nyaman dengan kemewahan itu, dia bahkan terus meniru seluruh gaya ku" ucap Xura sambil tertawa keras.
Quirin tampak terdiam, bahkan Alpha yang mendengar itu langsung menoleh kearah Quirin "Apa benar yang dia katakan?" tanya Alpha sedikit mengerutkan dahinya.
"Berhenti bertanya dengan pertanyaan yang dia sendiri tidak bisa menjawabnya, aku yakin dia tidak sepolos itu. lupakan itu, sekarang aku bertanya kembali, Aku bisa memaafkan mu dengan syarat aku harus membunuh Quirin apa kau setuju?" ucap Xura dengan senyuman smirk di wajah nya.
Arcy tampak bimbang mengenai persyaratan yang di berikan oleh Xura.
Sedangkan yang lainnya tampak terdiam karena mereka sendiri takut dengan senjata yang telah mengelilingi mereka.
"Aku mohon jangan lakukan itu, aku sungguh meminta maaf padamu" ucap Arcy dengan air mata yang terus mengalir.
Andrea justru terlihat sangat bersemangat "Apa yang kau tunggu?, bukankah kau ingin membunuhnya?, maka lakukan saja, jadi aku tidak perlu melihat wajah Arcy pada dirinya lagi" ucap Andrea dengan lantang.
Seketika, Quirin melirik kearah Andrea, tatapan itu sangat menusuk, ia pun berjalan perlahan dan berjongkok di depan Andrea.
Quirin menarik kaki Andrea dengan kuat lalu berdiri di atas kakinya.
Aarrrgghhh
__ADS_1
"Ibu!" teriak Jay dan ingin melangkah, namun sebuah tembakan mengarah pada kaki Jay.
Dor
Zee melirik kearah Jay "Sudah aku katakan untuk tetap berdiri di tempat kalian, jika tidak, maka seluruh peluru ini akan bersarang di tubuh kalian" ucap Zee sambil mengganti pistolnya dengan senapan.
Amunisi senapan itu bahkan sudah terlihat jelas sudah menyeret tanah.
Sedangkan Jay dan yang lainnya tercengang melihat Zee sangat siaga untuk tidak mengganggu Xura.
"Kau terlalu berisik, apakah aku tadi menyuruhmu untuk berbicara?" ucap Quirin sambil menarik tangan Andrea dan mematahkan satu jari tangannya.
Krekkk
Aaargghh
"Lepaskan!" teriak Andrea lagi.
Jay merasa sangat kasihan melihat ibunya di perlakukan dengan kasar bahkan sampai berteriak keras.
"Bukankah aku sudah memerintahkan mu untuk tetap tutup mulut?" ucap Xura sambil mematahkan jari lainnya.
Krekk
Arghhh
Krekkk
Arrrgghh
Kreekk kreek
Arrgghh
__ADS_1
Untuk dua jari terakhir, Xura mematahkan kedua jari itu sekaligus, lalu Xura juga terus menginjak kaki Andrea dengan mulut yang berkomat Kamit.
Bersambung ...