
Sambungan ponsel pun terputus, terlihat di layar Beymi tengah menepi dan memungut ponsel yang sempat di lemparnya.
Ponsel itu tampak hancur dan membuat Beymi semakin gusar "jika seperti ini, bagaimana aku tau keadaan Jeslyn?" gumam Beymi sambil meremas rambutnya.
Quirin bisa melihat raut wajah Beymi yang sedang kebingungan "nah, sekarang semuanya sudah aman, jadi aku harus memulai dari mana?" tanya Quirin sambil melihat Jeslyn dan mulai memutar pisau di tangannya.
Arnius, Staren dan Vano bergidik ngeri melihat Quirin memutar pisau itu, mereka bahkan seolah tidak percaya bahwa seorang wanita bisa memutar pisau dengan sangat lincah.
Mereka bertiga bahkan hanya bisa memutar pistol, jadi wajar saja kalau ketiganya bergidik ngeri karena mereka belum bisa seperti Quirin.
Zee melirik kearah Quirin dan memberi peringatan "jangan terlalu banyak melakukan atraksi, jika meleset sedikit saja, maka tangan itu menjadi taruhannya, aku tidak mau kau menjadi cacat dan mengunakan alasan itu untuk tidak bisa melunasi semua hutangmu padaku"
Quirin benar-benar terkejut, di saat dalam keadaan mencekam, Zee bahkan masih bisa memikirkan hutangnya.
Lalu Quirin memutar bola matanya dengan malas, akhir-akhir ini Quirin merasa Zee sedikit lebih cerewet daripada biasanya.
"Baiklah-baiklah" jawab Quirin dengan datar.
Quirin melangkahkan kakinya mendekati Jeslyn, "mau apa kau?!, jangan mendekatiku!" teriak Jeslyn dengan mata yang sudah melotot dengan sempurna.
Quirin membenarkan posisi kursi Jeslyn, ia pun terus mengelus pipi Jeslyn memakai pisau itu "dalam keadaan ini kau masih saja berteriak begitu keras" gumam Quirin sambil melepaskan tangannya dari pipi Jeslyn lalu berpindah ke kaki Jeslyn.
Tanpa ragu, Quirin menyayat nya kulit Jeslyn secara secara perlahan.
"Argghhhh"
Jeslyn berteriak keras dengan mata yang sudah berkaca-kaca, ia bisa merasakan sakit di kakinya, bahkan Jeslyn tidak menyangka bahwa wanita yang diceritakan oleh ibunya sebagai orang lugu dan polos, ternyata memiliki sifat yang berkebalikan.
__ADS_1
"Sakit!" teriak Jeslyn dengan keras dan menangis keras.
Staren dan Arnius menutup mata mereka, keduanya tampak begitu syok, mereka pun bahkan belum pernah melihat secara langsung bagaimana Quirin menyiksa tawanannya.
Biasanya, mereka berdua hanya bertugas membersihkan pekerjaan Quirin, tapi kini mereka bisa melihat prosesnya secara langsung dan mampu membuat keduanya bergidik ngeri.
Sedangkan Vano dan Zee masih berdiri tegak sambil menonton dengan mata yang terbuka lebar. Mereka seolah sudah terbiasa dengan kelakuan Quirin yang sangat brutal.
Quirin tidak memperdulikan keempat pria itu, ia mulai mengikis tipis kulit betis Jeslyn, kulit itu tidak di potong sampai ke ujung melainkan dibiarkan bergantung dan memperlihatkan daging Jeslyn.
Arnius dan Staren pun membuka mata mereka, lagi-lagi mereka berdua hanya bisa menganga dengan lebar. Mereka bahkan masih belum percaya bahwa Quirin menyiksa korbannya dengan cara yang sangat kejam seperti itu.
Darah mulai mengalir dengan sangat deras, Quirin yang melihat itu justru tersenyum senang "haha ... ini benar-benar menyenangkan" gumam Quirin di sela tawanya.
Jeslyn yang mendengar tawa mengejek itu pun mengeram marah "lepaskan aku, wanita gila" teriak Jeslyn di sela tangisnya.
Jeslyn bahkan tidak tidak memperdulikan kakinya, tapi itu karena tidak sanggup untuk melihat keadaan betisnya itu.
Lagi-lagi, Quirin menempelkan pisaunya di tempat berbeda, yaitu tepat di payudara Jeslyn.
Melihat pergerakan Quirin. Sontak saja, keempat pria itu langsung membalikkan badan mereka agar mata keempatnya tidak ternodai.
Tapi sepertinya mata mereka pasti tidak akan suci lagi, karena perbuatan Quirin sangatlah brutal dan keempatnya bahkan sudah merapatkan kedua kaki mereka masing-masing.
Pikiran keempat pria itu langsung tertuju pada aset masa depan mereka, padahal Quirin belum melakukan apapun, ia hanya menempelkan pisau itu saja, tapi keempat pria itu sudah sangat ketakutan.
Zee bertindak sesuai dengan karakternya, ia tidak menunjukkan ketakutan itu, tapi jika dikatakan ia bahkan lebih takut daripada bawahannya.
__ADS_1
Hanya saja ketiga bawahannya itu tidak bisa membedakan ekspresi Zee, karena ekspresinya terlihat sama di mata para bawahannya.
Zee selalu mengeluarkan eskpresi datar dan dingin, sehingga orang-orang tidak menemukan celah apapun di dirinya.
Jeslyn yang melihat pisau itu mendadak menjadi takut "lepaskan!" teriak Jeslyn sambil menggoyangkan kursinya.
Tidak di sangka, saat Jeslyn memberontak, pisau yang ada di tangan Quirin menggores pakaiannya hingga memperlihatkan pakaian dalam Jeslyn.
Quirin yang melihat itu pun tertawa "haha ... kau yang melakukannya, jadi jangan salahkan aku dan juga aku tentu tidak bersedia memberikan pakaian ku pada mu." ucap Quirin di sela tawanya.
Keempat orang yang sedang memunggungi Quirin pun merasa sangat penasaran, mereka seakan ragu untuk berbalik.
Dengan wajah pucat itu, Jeslyn bahkan masih bisa merasakan malu karena bagian tubuhnya terpampang dengan nyata, tapi Quirin justru tidak memperdulikan Jeslyn yang tengah malu.
"Ah bagaimana kalau aku menambahkan ini ... " Quirin pun menggoreskan pisau itu tepat di dada Jeslyn.
"Arghhhhh"
Lagi-lagi Jeslyn berteriak keras hingga membuat keempat orang itu tersentak kaget.
"Kau monster!, kenapa kau menyakitiku?" teriak Jeslyn dengan air mata yang sudah mengalir deras.
"Aku tidak perduli" ucap Quirin dengan tatapan datar lalu menggoreskan pisau itu lagi tapi di tempat yang berbeda.
"Arrgghhhh"
"Sakit!" teriak Jeslyn sambil menangis sesenggukan.
__ADS_1
Quirin menggoreskan pisaunya tepat di paha Jeslyn, pakaian yang di kenakan Jeslyn sudah terkoyak dengan goresan pisau Quirin.
Bersambung ...