Another Person Life

Another Person Life
Memancing Musuh


__ADS_3

"Aku sangat merindukanmu, maafkan perbuatanku yang dulu karena telah menyakitimu terlalu dalam" ucap seseorang itu dengan penuh penyesalan, air mata yang sudah berada di pelupuk mata kini tumpah dengan derasnya


Ia masih tidak menyangka bisa melihat orang yang dirindukan selama ini ternyata masih hidup, antara sedih dan senang, ekspresi apa yang harus ia pasang sekarang, ia sendiri tidak tau


Quirin hanya diam tanpa kata, tanpa berniat menjawab ucapan seseorang itu, setelah ia melihat masa lalu pemilik tubuh, ia sangat sakit hati dengan perlakuan dulu yang ia terima dari orang yang ada dihadapannya


Sekarang dengan gampangnya mengatakan rindu?, apa orang di hadapannya tidak mempunyai rasa malu?, rasa sakit itu tidak akan bisa terganti hanya dengan sebuah kata maaf.


"Sungguh sebuah lelucon" batin Quirin geram, ia sangat ingin melontarkan kata-kata yang sudah dikumpulkannya, tapi tenggorokannya seakan melarangnya untuk berbicara


"Nak, aku menyesal, sangat menyesal, aku mengira kau telah tiada, aku sudah mencarimu diberbagai tempat, namun tidak menemukanmu" ucap sesegukan orang itu menunduk sambil berdiri di hadapan Quirin


Ia malu menunjukkan wajahnya di hadapan Quirin, rasa malu dan sedih bercampur menjadi satu


Quirin masih terdiam, dia meremas tangan Zee dan menarik Zee, agar cepat bisa masuk kedalam ruangan dokter Al, ia sangat jengah mendengar ucapan penyesalan yang keluar dari mulut seseorang itu


Beberapa menit tidak mendapat jawaban dari Quirin, ia mendongakkan kepalanya dan betapa terkejutnya melihat seseorang yang sangat di segani para pembisnis, kini berada tepat disamping Quirin dengan menggenggam erat tangannya


"Tuan muda juga bersamanya?" tanya orang itu yang baru menyadari kehadiran Zee, ia sungguh terkejut anak sulungnya bersama tuan muda yang sangat terkenal dingin


Zee mengabaikan perkataannya "Kita masuk kedalam" ucap Zee dengan membalas nggenggaman tangan Quirin


"Tunggu nak..." ucap seseorang yang tak lain ialah Grizo, mencoba menghentikan Quirin


Quirin yang sedaritadi diam, kini sudah sangat kesal melihat drama di hadapannya, ia berusaha membuka mulutnya "Aku tidak mengenalmu, pergilah" ucap Quirin dingin walau hatinya terasa sangat sakit, ia tidak memperdulikan itu, lalu memasuki ruangan dokter Al


Namun beberapa kalimat yang diucapkan Quirin sangat menghantam hati Grizo, selama ini putrinya hanya menurutinya dan menjawab dengan lembut, tapi sekarang terasa sangat berbeda, kini putrinya menjawab dengan tegas dan lantang


"Nak..Maafkan Ayah" ucap Grizo lagi dengan air mata yang turun sangat deras, setelah penolakan yang diterimanya, kini Grizo kembali mengingat betapa kejamnya ia pada putri sulungnya dimasa lalu


***


Xura yang tengah berada diruang makan mendadak mengeluarkan air mata, sendok yang ia pegang terjatuh kelantai


Mendengar detingan sendok jatuh, kepala pelayan yang berdiri disamping pintu dengan tegap langsung menoleh kearah Xura


"Aku tidak memikirkan apapun, Kenapa aku bisa menangis?," gumam Xura sambil menghapus cairan bening yang jatuh di pipinya

__ADS_1


Xura menunduk sambil memegangi dadanya yang berdetak dengan cepat, ia seperti merasakan sakit serta kekecewaan, tapi ia masih tidak mengerti mengapa tiba-tiba muncul gejala itu


Kepala pelayan melihat Xura sedikit menunduk membuatnya terkejut, ia memutuskan untuk mendekati Xura "Apa kau baik-baik saja?, Aku akan memanggil dokter" tanya kepala pelayan sedikit panik


"Aku tidak tau" ucap Xura menahan tangis dengan memegangi dadanya yang terasa sakit


Mendengar jawaban singkat Xura, kepala pelayan tidak bertanya lagi "Sebaiknya Xura beristirahat saja, mari, aku akan membantumu" ucap kepala pelayan merasa kasihan


***


Quirin dan Zee memasuki ruangan dokter Al bersamaan, Al sangat terkejut mendapat kunjungan dadakan dari temannya


"Kau datang sesuka hati, dan pergi sesuka hati" ucap dokter Al kesal


"Kau tidak melihat Quirin sudah seperti ini, malah membahas yang tidak penting, sepertinya kau tidak ingin bekerja lagi" ucap Zee datar


"Ahhh, bagaimana bisa dia menjadi seperti ini?" ucap dokter Al melihat Quirin yang sedikit pucat, saat mencoba membantu memapah Quirin, ia mendapat tatapan tajam dari Zee, Al langsung mengangkat tangannya


"Aku tidak akan menyentuhnya, tapi kalau memeriksa tanpa menyentuh...." ucap dokter Al menggantung sambil melirik Zee


"Tidak, aku sangat ingin mencekiknya sekarang" ucap Quirin dingin sambil memegang dadanya


"kau berbaring dulu, biarkan dokter Al memeriksamu" ucap Zee sambil melepaskan genggaman tangan Quirin


Dokter Al sangat binggung saat mendengarkan ucapan dua manusia es di depannya "Apa yang kalian bicarakan?" tanya dokter Al binggung


"Tidak ada, ikuti aku" ucap Zee sambil berjalan ketempat duduk Al


"Kau ini sangat aneh, tadi kau menyuruhku memeriksanya, sekarang kau menyuruhku mengikutimu" ucap dokter Al kesal


Quirin menuruti perkataan Zee, ia hanya berbaring lalu terdiam sambil termenung sambil menampilkan ekspresi datar


Setelah dokter Al dan Zee duduk, Zee hanya menceritakan secara singkat tentang keanehan yang terjadi pada Quirin saat berada di mansion


"Sepertinya dia memiliki alter ego" ucap dokter Al langsung menebak


"Apa kau bercanda?, itu tidak nyata" ucap Zee dingin

__ADS_1


"Apa kau meragukanku?" tanya dokter Al serius sambil menggerakkan jari telunjuk untuk menunjuk dirinya sendiri


Zee hanya diam manatap dokter Al dengan intens, dokter Al tidak mungkin berbohong dengannya, mereka sudah berteman sejak kecil hingga saat ini


Karena tidak mendapat jawaban dari Zee "Kau ingin aku menunjukkan dengan cara apa?, hipnotis atau dengan memancing musuhnya?" ucap dokter Al diselingi senyuman smirk


Zee sangat tau arah pembicaraan itu "Dia sudah membunuh pelayan dirumahku, aku sangat penasaran bagaimana cara dia melakukannya, sepertinya aku memilih pilihan kedua" ucap Zee dengan sangat penasaran


"Apa kau serius?, jangan-jangan pelayan yang sudah memecahkan Vas bunga itu?" tanya dokter Al terkejut


"Hmm, seperti dugaanku, dia membawa Xia kesini" ucap Zee datar


"Bagaimana cara dia melakukannya?" ucap dokter Al penasaran, ia mengabaikan ucapan Zee


"Kau terlalu banyak bicara, urus dia dulu" ucap Zee sambil melirik brankar Quirin


"Baik, baik, kau masih berhutang penjelasan padaku" ucap dokter Al menatap Zee, ia berjalan dengan membawa suntikan mendekati brankar Quirin


Mereka melihat Quirin diam tanpa kata sambil termenung, dengan cepat dokter Al menyuntikkan obat bius


Bersambung...


Para pembaca jangan lupa tinggalkan jejak 👇


✓ Favorite


✓ Like


✓ Vote


✓ Gift


✓ Comment


✓ Rate


Author sangat berterimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2