Another Person Life

Another Person Life
Berkumpul


__ADS_3

Karena dia memang sepertimu, dasar pria berwajah datar" ucap Xia mengarahkan kekesalannya pada Vano


"Heh, aku tau, itu pasti karena ia tidak bisa mengarahkannya pada tuan muda, makanya dia mengarahkannya padamu Van" ucap Xeno tersenyum tipis


"Sejak pertama kali dia datang, mulutnya selalu menyambar bagaikan petir, dan dia tidak segan mengarahkan seluruh kekesalannya padaku" ucap Vano kesal


"Kau.... dasar pria tua berwajah datar" ucap Xia yang merasa bersalah


"Boleh aku bertanya?, Kenapa kau selalu mencari celah untuk bertengkar denganku? Kau sudah membuat julukan panjang untukku, apa sebenarnya kau menyukaiku?" tanya Vano dengan percaya diri


"Apa?, aku?, menyukaimu?, terus saja bermimpi!" ucap Xia kembali tersulut emosi


"Udang kecil, jangan sampai suatu hari nanti kau termakan kata-katamu sendiri" ujar Vano santai


"Saat hal itu benar-benar terjadi, maka menjauhlah dariku!" ucap Xia tegas namun sedikit ragu


Vano terkejut mendengar perkataan Xia, tatapannya seketika menjadi datar


"Aku tidak bisa mempercayai perkataan mu itu, jangan sampai kau menyesal suatu hari nanti" ujar Vano dingin


"Ck" Xia mendecak kesal


"Boss, saya permisi sekarang, saya akan berjaga diluar" ujar Vano bergegas keluar


Xia yang melihat Vano keluar mendadak menjadi diam, ia memikirkan kata-kata Vano lagi dan lagi, hal itupun membuat perasaannya campur aduk, antara kesal, senang dan takut


Zee dan Xeno yang melihat interaksi itu terdiam saling pandang dan terheran, mereka terus menatap ke arah Vano yang sedang berjalan keluar


Bukan tanpa sebab, faktanya Vano dikenal sebagai orang yang profesional dalam pekerjaan, ia tidak pernah berdekatan dengan wanita dan sangat kaku, ia juga tidak akan mencampuri urusan orang lain, namun sekarang....


"Hmmmm, Zee, aku rasa dia sekarang sama sepertimu" ucap Xeno santai sambil mengelus-elus dagunya


"Diamlah, cerewet!" ketus Zee sambil menatap tajam


Xeno pun seketika terdiam, ia memberikan gerakan tangan, tanda mengunci mulut


Arnius, Gavin, Staren melihat Vano keluar ruangan dengan wajah masam mencoba bertanya


"Apa yang terjadi didalam?" tanya Arnius


"Tidak ada" jawab Vano cuek


"Benarkah?" tanya Gavin


"Di dalam terlalu panas" jawab Vano singkat


"Pasti kau bercanda kan?, di dalam ada AC, bagaimana mungkin kau bisa kepanasan?, ayolah ceritakan, kami akan jadi pendengar yang baik, oke?" tanya Gavin dipenuhi rasa penasaran


"Apa wajahku kelihatan bercanda?" tanya Vano dingin


"Aku bertanya dan kau juga bertanya, yang menjawab siapa?" tanya Gavin


"Rumput bergoyang" jawab Staren

__ADS_1


"Wajahmu terlihat masam, apa kau bertengkar dengan udang kecilmu?" tanya Arnius sambil tertawa


"Kau, berhentilah memanggilnya seperti itu" ucap Vano sambil menatap tajam


"Kenapa mereka bertiga menjadi suka ikut campur semenjak ada disini?, ah sudahlah, saat ini aku malas untuk berdebat" batin Vano


Arnius yang di tatap oleh Vano menjauh sedikit demi sedikit, ia membentuk formasi lingkaran bersama Gavin dan Staren


"Sepertinya pertanyaan yang keluar dari mulutku benar, lihat saja wajahnya sangat menyeramkan" sambil berbisik


Gavin dan Staren mengangguk setuju


"Sudahlah, jangan memprovokasinya, aku tidak ingin mendapat hukuman, karena hukumannya sama seperti bos Xeno" ucap Gavin


"Setuju" ucap Arnius dan Staren


Xia yang di dalam ruangan menepis fikirannya, ia mengalihkan pandangannya ke arah Zee dan Xeno yang terdiam, Xia langsung mendekatkan wajahnya ke telinga Quirin


"Quirin, ini salahmu, kau tidak menjawab pertanyaanku tadi, mau ditaruh dimana wajahku sekarang?" tanya Xia berbisik sambil memasang wajah memelas


Quirin yang melihat kearah Xia langsung menjawab dan menyentil dahi Xia "Kenapa itu menjadi kesalahanku?, mulutmu dari tadi yang tidak bisa diam, apa kau tidak melihat situasi?"


"Ayolah, itu karena aku sama sekali tidak tau" ucap Xia merasa bersalah sambil memengang dahi


"Xia, kita semua punya mulut, tapi mulutmu itu! jangan menggunakannya untuk mengatakan hal-hal yang tidak jelas, kau bisa mananyakannya terlebih dahulu" ujar Quirin


"Ya maaf, tapi itu sudah menjadi kebiasaanku" ucap Xia sambil menunduk


"Ya, aku tau itu adalah kebiasaanmu, berbicara tidak tau tempat, tapi bisakah kau merubah kebiasaanmu itu sedikit?, kau mudah sekali menyinggung perasaan orang lain, aku khawatir suatu hari nanti kau bisa mati karena kebiasaanmu itu!" ucap Quirin tegas


"Baiklah, akan aku coba, terimakasih telah mengingatkanku" ucap Xia sambi memeluk Quirin


Zee yang mengalihkan pandangannya ke arah Quirin dan Xia mulai berbicara


"Apa tubuhmu tidak ada yang sakit?" tanya Zee


"Tidak ada, kakiku juga sudah tidak nyeri lagi" jawab Quirin santai


"Baguslah" jawab Zee


Al yang mengetahui Zee dan Xeno datang kerumah sakit, berjalan kearah ruangan Quirin


Al yang melihat Arnius, Staren, dan Gavin berpelukan melingkar di koridor depan pintu Quirin, membuka suara


"Ngapain kalian bertiga disitu, berpelukan seperti teletubis, ughhh, aku geli melihatnya, menyingkirlah, untung aku normal" sambil menatap jijik


Mereka bertiga saling pandang dan melepas pelukan sambil menyeka baju pada bahu masing-masing


Al yang melihat itu Tertawa terbahak-bahak


"Dokter Al, kau sangat menjengkelkan, kau pikir kami ini apa?" tanya Arnius


"Dia benar-benar menjengkelkan" ucap Gavin

__ADS_1


Staren hanya mengangguk setuju


Vano yang melihat mereka tertawa kecil kemudian mempersilahkan Al masuk


"Wow, kalian bertiga berkumpul lagi, aku sangat rindu kalian" ucap Al sambil membuka lebar tangannya berniat memeluk Xeno


"Jangan coba-coba mendekatiku Al" ucap Xeno menjauh


"Hah, baiklah, aku ingin memeluk Zee saja" sambil merentangkan tangannya lagi dan bersiap memeluk Zee


"Jangan menyentuhku" ucap Zee acuh


"Kalian ini, apa tidak rindu kepada teman kalian yang super ganteng ini?" tanya Al sambil memainkan rambutnya yang ala-ala korea dan berpose seperti model


Quirin, Xia, Zee, dan Xeno terperangah melihat kepercayaan diri Al yang sangat tinggi


"Hey, kau salah makan?, atau terlalu lama bergadang?, tidur sana!, halusinasimu sudah terlalu tinggi" Xia membuka suara karena merasa mual melihat tingkah dokter itu


"Kau tidak bisa melihat?, ketampananmu itu kalah dengan orang yang ada di sebelah sana" lanjut Xia sambil menunjuk Zee


"Ehhh sebentar, kau ini siapa?" tanya Al


"Aku sahabatnya Quirin panggil saja Xia, aku capek memperkenalkan diri sedari tadi, dalam 1 hari ini aku sudah memperkenalkan diri sebanyak 6 kali, apa masih ada yang akan datang lagi?" jawab Xia kesal


"Ku pikir keluarganya, ternyata hanya sahabat" ujar Al merasa kesal


"Kau ini, kenapa semua orang disini menyebalkan?, huh" ucap Xia memalingkan wajah ke arah jendela


"Apa dia selalu seperti ini?" tanya Al pada Quirin


"Hheemm" jawab Quirin singkat sambil mengangguk sekali


"Aku rasa dia mempunyai hipertensi" ucap Al


"Tuhan, apa yang harus aku lakukan dengan orang-orang menyebalkan ini?" tanya Xia sesaat, sambil memandang langit dari jendela, ia lalu menoleh ke arah Quirin karena merasa ditatap


Al diam tidak ingin memperkeruh suasana, sedangkan Quirin yang menatap Xia menggeleng kecil, Xia mulai paham maksud Quirin dan mencoba menutup mulut


"Dasar mulut gak bisa direm" gumam Xia sambil menepuk pelan mulutnya


Bersambung...


Para pembaca jangan lupa tinggalkan jejak 👇


✓ Favorite


✓ Like


✓ Vote


✓ Gift


✓ Comment

__ADS_1


✓ Rate


Author sangat berterimakasih 🙏


__ADS_2