
Mereka berdua pun langsung mencari ruangan yang baru saja receptionis itu katakan, setelah lelah mencari, akhirnya keduanya melihat satu pintu yang belum mereka buka.
Max langsung menendang pintu itu dan melihat Zee yang sudah tidak bergerak di atas sofa.
Putri dari keluarga Oswald terkejut mendengar hentakan pintu, ia menoleh kearah pintu, disana terlihat Alica dan Max tengah menatapnya dengan tajam.
Sedangkan putri dari keluar Oswald tampak mulai berkeringat dingin.
Awalnya Alica menutup mulutnya dengan kedua tangan, lalu ia menatap wanita itu dengan tajam.
Keduanya melihat wanita itu tengah berada di atas Zee dengan hanya memakai pakaian dalam saja.
"Sialan!, apa yang sudah kau berikan padanya!" teriak Max sambil melempar tubuh wanita itu dari atas tubuh Zee.
Wanita itu terjatuh dah ia pun tampak ketakutan, "Ti-tidak" ucap wanita itu dan bangkit dari atas tubuh Zee.
Sedangkan Max tidak tinggal diam, ia langsung menendang perut wanita itu dengan kuat.
Max tidak pernah memandang jenis kelamin, jika mereka berbuat salah maka Max akan memeperlakukan mereka dengan kejam.
Zee tampak terlihat sangat lemah, berdiri saja dirinya tidak sanggup, ia seolah tak memiliki tenaga lagi, Alica yang melihat itu langsung menghampiri Zee dan membawanya keluar dari ruangan itu.
"Tuan!, sekarang ini tuan muda jauh lebih penting, kita harus menyelamatkan tuan muda terlebih dahulu," ucap Alica yang merasa khawatir pada Zee.
Max berdecak kesal, ia mengeluarkan ponselnya dan memanggil orang-orang untuk datang ke perusahaan itu.
"Aku tidak akan membuat kejadian ini berlalu begitu saja" ucap Max dengan melotot tajam.
Wanita itu terduduk sambil merenungkan nasibnya, ia mendengar berita bahwa Max orang yang sangat pendendam dan dia akan membasmi orang-orang yang mengusik orang-orang terdekatnya.
"Habislah aku" gumam Wanita itu dengan memegang kepalanya.
Sedangkan di tempat lain, Xura tampak sangat marah, ia bahkan sudah meremas botol minuman yang ada di tangannya.
"Beraninya kau menyentuhnya!" gumam Xura sambil menggeretakkan giginya.
__ADS_1
Hari-hari yang di lalui Xura hanya bermalas-malasan dan memantau keadaan Zee, ketika Max dan Alica membuka pintu kamar Zee, ia tampak sangat penasaran, tapi dirinya tidak bisa melihat isi dari kamar Zee.
Xura melihat reaksi Alica dan Max, wajah keduanya tampak terlihat sangat tidak bagus, yang artinya keadaan Zee tidaklah baik-baik saja.
Ia terus mengikuti pergerakan Alica dan Max, sampai dirinya sendiri membuka Cctv perusahaan Oswald itu, betapa terkejutnya Xura.
Ia melihat Zee tampak sempoyongan, hal itu pun di manfaatkan oleh putri dari keluarga Oswald dan ia langsung membuka pakaian Zee serta pakaian nya sendiri secara perlahan-lahan.
"Kau ingin mengambil milikku?, maka kau harus menghadapi ku," geram Xura sambil berdiri dari tempat tidurnya dan ia pun memakai pakaian santai dan membawa beberapa senjata.
Xura yang awalnya pergi dan bertekad untuk mengunci hatinya, tapi ternyata semua itu tidak bisa ia lakukan.
Ia bahkan semakin merindukan Zee, karena hal itulah ia terus memantau mereka semua.
"Sepertinya kau sudah terlambat" ucap Quiran yang tiba-tiba saja mengeluarkan suaranya.
Xura mulai mengeryitkan dahinya, ia seperti sudah biasa mendengar suara Quiran yang muncul secara tiba-tiba "apa maksudmu?" tanya Xura.
"Dia benar-benar sudah sekarat, apa kau tidak melihat wajah kesakitannya itu?" tanya Quiran lagi.
Tapi, Quiran justru dapat melihatnya dengan jelas, Xura mulai berpikir kembali, ia pun langsung membulatkan matanya dengan sempurna "Jangan-jangan cctv itu—" gumam Xura sambil memukul stir mobil itu berulang kali.
"Sial!, sial!, sial!," lanjutnya.
Xura membawa mobil itu dengan kecepatan tinggi, setelah sampai di perusahaan itu, ia pun mulai memakai sebuah topeng dan menerobos masuk.
Xura bahkan tidak memperdulikan para penjaga itu, Xura yang sudah melakukan persiapan kini mengeluarkan senjatanya dan langsung menembak para penjaga yang telah di lawan oleh Alica dan Max.
dor
dor
dor
Dalam sekejap, ia dapat mengingat wajah pria - pria itu, dan para karyawan wanita mulai menjerit ketakutan.
__ADS_1
Xura melihat receptionis yang saat itu tengah memanggil para keamanan, dan ...
dor
dor
"Tidak ada tempat untuk kalian yang tidak jujur." ucap Xura sambil memporak-porandakan seisi perusahaan Oswald.
Setelah Xura bertarung dengan mereka semua, kini ia pun mulai menaiki tangga sama seperti yang dilakukan oleh Alica dan Max.
Dan Hal yang sama terulang kembali, Xura menendang pintu itu dengan sangat kuat.
Brakkk
Orang yang didalamnya justru terkejut melihat seseorang membuka pintu ruangannya dengan sangat kasar.
"Siapa kau?!" teriak wanita itu dengan kuat.
"Deanin Oswald, kau sudah menyentuh apa yang seharusnya tidak kau sentuh" ucap Xura dengan menatap Deanin dengan tajam.
Xura pun menutup pintu itu kembali dan menguncinya, kini Dengan semakin ketakutan melihat tatapan tajam yang di berikan Xura padanya.
"A-apa maksudmu?" tanya Deanin dengan tubuh yang mulai bergetar ketakutan.
"Kau seharusnya hanya membahas kerja sama dengannya, bukan malah menelanjangi dada nya dan membuka pakaian mu itu" ucap Xura lagi dengan aura membunuh yang begitu kental.
"A-apa!, bagaimana kau tau?!" teriak Deanin dengan tidak percaya.
"Jangan-jangan dia benar-benae sudah mengetahuinya dari kedua orang itu?" batin Deanin sambil menatap Xura.
Namun, Deanin yang mendengar itu langsung mengerti arah pembicaraannya, ia pun tidak ingin di salah kan begitu saja oleh Xura.
"Dia masih belum memiliki kekasih, jadi wajar saja jika aku menggoda dirinya" teriak Deanin yang terus memundurkan langkahnya.
Xura yang mendengar fakta itu bahkan semakin menunjukkan taringnya di depan Deanin.
__ADS_1
Bersambung ...