Another Person Life

Another Person Life
Berkumpulnya Keluarga


__ADS_3

Di tempat Zee, ia terus mendengarkan cerita arwah wanita itu, ia benar-benar tampak pusing, berbagai ekspresi tampak di wajahnya.


Setelah wanita itu selesai bercerita, di akhir kalimat ia tidak pernah lupa untuk mengucapkan permintaan maaf nya.


"Aku sungguh minta maaf" ucap arwah wanita itu sambil menangis dan menutupi wajah nya.


Zee yang sudah sangat kesal memalingkan wajahnya ke arah sang paranormal "Kita pergi sekarang" ucap Zee dengan nada dingin.


"Baiklah" balas sang paranormal.


Mereka keluar lalu paranormal itupun melepaskan tangannya dan ia pun kini menatap Zee.


"Maaf, aku tidak bisa berbuat apa-apa karena hanya ini yng bisa aku lakukan untuk mu" ucap paranormal itu.


Zee mengangguk "Terimakasih, kau sudah cukup membantuku, aku akan pergi" Zee berdiri dan akan melangkah keluar namun kakinya terhenti ketika mendengar paranormal itu berbicara.


"Kau bisa meminta bantuanku kembali, aku akan menunggumu di sini" ucap paranormal itu sambil tersenyum.


"Baiklah" ucap Zee tanpa berbalik lalu keluar dari rumah sang paranormal.


Zee pulang dengan raut wajah yang tampak binggung, ia sungguh tidak menyangka bahwa arwah wanita itu adalah orang terdekat mereka.


"Apa yang harus aku katakan pada Quirin?, masalah ini sungguh sangat rumit" gumam Zee sambil memukul stir mobil.


Saat ini, Zee terlihat sangat marah, ia bahkan berpikir untuk ikut membasmi nenek Feryun, kali ini Zee akan melindungi Quirin dan tidak akan melepaskan Quirin dari genggamannya.


Arwah itu tidak lah jahat, ia ingin mengubah nasib Quirin dan Xura agar keduanya tidak merasakan kesengsaraan yang semakin dalam.

__ADS_1


"Tapi dengan caranya itu, ia benar-benar membuat Quirin seperti pembunuh berantai" gumam Zee dengan sangat kesal.


"Aku benar-benar tidak tau harus mengatakan apa pada Quirin, atau haruskah aku tidak mengatakannya?" lanjut Zee sambil meremas rambutnya.


Zee terlihat sangat pusing, ia tidak ingin menyakiti Quirin dengan fakta bahwa dirinya di gunakan sebagai boneka pembunuh, tapi di balik itu semua adalah untuk kebahagiaannya sendiri.


"Sepertinya aku harus menenangkan pikiran terlebih dahulu" gumam Zee sambil menghela nafas panjang.


Zee mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, ia memasuki mansion dan langsung berjalan ke arah kamar Quirin.


Ketika membuka pintu, Zee melihat pandangan yang jarang sekali terjadi, namun Zee tidak memiliki kuasa untuk cemburu, karena yang memeluk Xura saat ini adalah kakak sang pemilik tubuh.


Keduanya melepaskan pelukan itu dan mereka menoleh kearah pintu, Feryun dan Quirin terkejut melihat penampilan Zee yang berantakan, karena Zee biasanya berpakaian rapi dan ia selalu memikirkan penampilannya.


"Ada apa denganmu?" tanya Quirin sambil bangkit dari tempat tidur dan berjalan kearah Zee dan berdiri di hadapannya.


Quirin berbalik dan menghampiri Feryun "Kakak, bicaralah padanya, aku sedikit khawatir karena ini pertama kalinya aku melihat dia berantakan seperti itu" ucap Quirin dengan nada memohon.


"Tenanglah, kakak akan bicara padanya, kau pergi lah mandi" ucap Feryun sambil menenangkan Quirin lalu berjalan keluar dari kamar Quirin.


Feryun yang sudah berada di luar mulai mencari keberadaan Zee, ia menemukan Zee sedang berada di dapur dengan memegang gelas yang sudah kosong.


"Zee, ada apa denganmu?, kenapa kau menjadi seperti ini?" tanya Feryun dengan penasaran.


Zee yang mendapat cercaan itu merasa sangat pusing, selama ini Zee selalu bersikap tenang, tapi sekarang ia terlihat seperti singa yang akan menerkam siapa saja.


"Aku bertemu paranormal, dan benar saja, takdir kita berada di tangan nya" ucap Zee dengan menggenggam gelas itu dengan sangat kuat hingga pecah.

__ADS_1


Feryun tampak terkejut, tapi ia sedikit tidak mengerti dengan perkataan Zee "paranormal?, takdir?, di tangannya?, apa maksudmu?" ucap Feryun.


"Apa kau tidak pernah berfikir perpindahan jiwa Xura dan adikmu adalah hal yang janggal?, bahkan kita bisa bertemu secara kebetulan seperti ini, bukankah ini aneh?" tanya Zee sambil melirik kearah Feryun.


Zee bahkan tidak perduli dengan tangannya yang sudah berdarah, ia bahkan terlihat sangat kesal jika memikirkan perkataan arwah wanita itu.


"Aku juga merasa aneh, tapi aku masih tidak mengerti apa maksudmu" ucap Feryun sambil memijit pelipisnya.


"Zee!, Kakak!" teriak Quirin sambil menuruni anak tangga.


Keduanya menoleh, lalu tiba-tiba saja mata Zee dan Feryun tertuju kearah pintu utama.


"Tuan!" ucap Xeno yang baru saja tiba.


Mendengar suara itu, Quirin ikut menoleh kearah pintu mereka terkejut ternyata di depan pintu bukan hanya Xeno saja, melainkan Jay, Amber, Rea, Xia, Vano, Staren, Gavin, dan Arnius.


Feryun terpaku melihat keluarga yang selama ini tidak pernah di temui kini muncul di hadapan nya.


"Papa, mama, Rea" gumam Feryun yang masih merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja di lihatnya.


Jay, Amber, bahkan Rea terkejut mendengar gumaman itu, mata ketiganya mulai tertuju pada Feryun.


"Feryun" ucap Amber dan Jay. Mata amber mulai berkaca-kaca, ia langsung memegang lengan Jay sambil menitikkan air matanya.


"Kakak!" ucap teriak Rea sambil melototkan matanya.


Setelah sekian lama berpisah, ketiganya bahkan masih tidak menyangka bisa bertemu dengan Feryun di tempat ini, mereka mulai berpisah sejak Feryun memutuskan untuk meneruskan keluarga inti.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2