
Andrea yang mendengar perkataan Arcy mengerutkan dahi nya "Tidak!, lebih baik kau pergi dari mansion ini dan mati dari pada ibu harus mengizinkanmu menikah dengan pria yang bukan pilihan ibu" ucap Andrea sambil menatap Arcy dengan tajam.
Arcy sangat mengenal ibu nya, dia satu-satunya wanita yang tidak bisa di bantah di mansion ini
Arcy melihat Savian berdiri di samping Andrea dengan menatap sedih kearahnya "Papa, aku mohon, tolong katakan pada ibu untuk tidak memaksaku menikah dengan keluarga itu" ucap Arcy sambil bersimpuh di bawah kaki Savian.
"Papa tidak bisa berbuat apapun nak" ucap Savian sambil menatap sedih kearah putrinya dan memegang pucuk kepala nya.
Arcy terduduk sambil menunduk "bahkan papa juga tidak bisa membantuku" gumam Arcy.
Andrea yang melihat Arcy putus asa mulai tersenyum smirk "Kurung dia!" ucap Andrea dengan keras.
Jay, Amber dan Feryun yang masih berusia 3 tahun melihat kejadian itu, mereka bahkan tidak menyangka bahwa Andrea begitu kejam pada Arcy.
"Ibu!, apa yang ibu lakukan pada kakak?, kenapa ibu tidak membiarkan kakak memilih pilihannya sendiri?" ucap Jay dengan marah.
"Kau tidak perlu ikut campur Jay, ibu terus menawarkan pria yang berbeda, bahkan dari saat Feryun tidak ada sampai dia berusia 3 tahun. Kakak mu terus menolaknya!," ucap Andrea dengan marah.
"Nenek, jangan lakukan itu pada ibu" 7ucap Feryun yang masih kecil.
Andrea bahkan tidak segan-segan menatap Feryun dengan tajam "anak kecil tidak perlu ikut campur. Jay, kau harus mendidiknya seperti ibu mendidik mu dulu" ucap Andrea menoleh kearah Jay.
Jay merasa takut dengan tatapan ibu nya, tapi mau bagaimana pun, ia harus tetap mencoba untuk mencegah Andrea mengurung Arcy.
"Tapi ibu ... " ucap Jay. Perkataannya bahkan terpotong ketika Andre mengucap ancaman yang sangat menakutkan.
Andrea menggeretakkan giginya, ia paling tidak suka ada yang membantah perkataan nya "Kau ingin diam atau ibu akan membunuh kakak mu sekarang juga?" tanya Andrea dengan tatapan tajam.
__ADS_1
Amber, Jay bahkan Feryun terkejut mendengar perkataan itu, mereka semua bungkam karena tidak bisa melawan Andrea.
Arcy di kurung di dalam kamar, bahkan 1 tahun telah terlewati, Jay yang sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan ibu nya, berusaha mencoba mengeluarkan Arcy.
Dan akhirnya Arcy pun lolos dan hal itu di ketahui oleh Andrea, mereka mencari kesana ke mari namun mereka tidak menemukan Arcy.
Sampai saat ini, bahkan andrea tidak tau mengapa Arcy bisa lepas dari genggamannya.
"Ahh ... tiba-tiba saja aku mengingat anak sialan itu" gumam Andrea dengan kesal.
Andrea juga tiba-tiba mengingat perkataan cucu nya Feryun "Tapi apa maksud dari perkataan Feryun?, aku sungguh tidak mengerti" ucap Andrea sambil memejamkan matanya sebentar.
Kiryu yang sedari tadi mendengar perkataan mereka juga ikut melangkahkan kaki nya naik ke atas.
"Bos," ucap Kiryu.
"Kiryu, jika aku tidak terlahir dari keluarga ini, maka apa yang terjadi pada bibi juga akan terjadi pada Rea, aku bersyukur bisa menggantikan Rea dalam hal ini" gumam Feryun sambil menumpu dahinya dengan satu tangan dengan siku yang sudah menempel di meja.
"Aku juga lelah, tapi aku tidak bisa menghindar, kau juga tau, jika aku menolak perkataan nenek, maka Rea lah yang kn menggantikan aku" ucap Feryun yng sudah sangat pusing memikirkan sanga nenek.
Kiryu menghela nafas kasar, ia benar-benar kasihan melihat Feryun tak berdaya di hadapan Andrea, tapi jika di luar, sikap lemah Feryun bahkan tak pernah tampak di muka umum.
"Dia telah banyak melewati tekanan yang di berikan nenek Andrea" batin Kiryu.
"Aku sangat penasaran pria mana yang menjadi suami bibi Arcy, apa dia baik pada bibi?, atau dia sangat menyayangi bibi?" gumam Feryun sambil membayangkan sang bibi yang sangat bahagia.
Bagaimana jika Feryun tau bahwa bibi yang sangat di sayangi nya itu hancur di tangan pria yang di cintai nya?.
__ADS_1
"Aku harus menemukan Quirin dan bertanya pada nya, aku ingin mendengar cerita masa kecilnya dengan bibi, pasti sangat menyenangkan" gumam Feryun sambil tersenyum.
Mendengar celotehan itu membuat Kiryu tersenyum tipis, ia sudah lama tidak melihat senyum itu ketika Feryun memikirkan orang lain.
Kiryu pun mengeluarkan laptopnya dan mulai menarikan jari-jarinya lagi, tapi ia tidak dapat menemukan informasi apapun. "Bos, aku sudah mencari nya kesemua tempat, tapi aku tidak bisa menemukan adik mu" ucap Kiryu sambil menatap kearah Feryun.
Feryun menatap Kiryu, seketika senyum itu hilang "Kiryu, apa kau lupa tugasmu?, kita masih berada di mansion utama, jangan sampai orang kepercayaan nenek melacak alamat IP mu dan dia justru melihat seluruh pencarian kita, dengan level mu yang masih di bawah mereka, maka jangan bertindak sembarangan" ucap Feryun ambil mengingatkan Kiryu.
Kiryu terkejut dan ia pun langsung menutup laptopnya.
"Kita pulang sekarang, aku merasa sesak berada di mansion ini" ucap Feryun sambil berdiri dan membuka pintu kamarnya.
Kiryu dan Feryun terkejut ketika Savian tengah berdiri di depan pintu kamar nya "ada apa kakek berdiri di depan pintu kamar ku?, kakek membutuhkan sesuatu?, bukan kah kalian memiliki perawat masing-masing?" ucap Feryun dengan wajah datar.
"Bukan itu Feryun, kakek hanya ingin tau, kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang bibi mu?" ucap Savian karena ia sendiri terkejut, sudah sejak lama mereka tidak menyebutkan nama Arcy, namun tiba-tiba saja cucu nya justru menanyakan pertanyaan itu.
Feryun mengerutkan dahinya "Untuk apa kakek bertanya padaku?, lagi pula aku sudah mengatakan apa yang harusnya aku katakan. Saat itu aku bahkan berusaha mencegah kejadian itu tidak seperti kakek yang tidak bisa berbuat apapun ketika bibi tak berdaya" ucap Feryun sambil meninggalkan Savian berdiri di depan pintu kamarnya sendirian.
Kiryu membungkuk kan tubuhnya dan mulai mengikuti langkah Feryun dari belakang.
Sedangkan Savian, ia masih berdiri depan kamar Feryun dengan termenung.
"Paa maksud perkataan Feryun, kenapa hatiku mengatakan bahwa perkataan itu sangatlah serius, bahkan aku merasakan sesak saat mendengar perkataan nya" ucap Savian sambil memegang dadanya yang mulai berdetak dengan kencang.
"Nak, kau ada di mana?, papa sangat merindukan mu, papa sungguh menyesal karena tidak bisa melarang ibu mu dulu" gumam Savian yang mulai bersimpuh di depan pintu kamar Savian.
Feryun mendengar sesuatu yng jatuh, ia pun menghentikan. langkahnya, begitu juga dengan Kiryu.
__ADS_1
Keduanya menoleh kebelakang dan melihat Savian tengah bersimpuh "percuma kakek menyesal, karena bibi sudah tiada" lirih Feryun sambil memutar wajahnya dan melangkah lebar keluar dari mansion.
Bersambung ....