
Rosdi tetap berdiri dengan tenang, karena urusan kedua keluarga itu tidak ada sangkut paut dengan dirinya.
Sedangkan Kiryu sudah tidak bisa mendengar perkataan orang-orang itu dengan jelas, ia hanya bisa menahan sakit di kaki nya karena Kiryu sendiri tau bahwa situasi sekarang tidaklah memungkinkan.
Zee melihat Kiryu sesekali mengerutkan dahinya, lalu Zee memerintahkan beberapa bawahannya untuk membawa Kiryu kerumah sakit.
Sedangkan Rea dan Xeno berdiri berdampingan dengan normal.
"Semua ini karena ulah mu, aku bahkan sangat menderita hidup di tubuh cucumu ini, selain itu didalam tubuh sialan ini terdapat sosok yang sangat mengerikan, apa kau tau itu?, tentu kau tidak akan tau" ucap Xura sambil memutar lengan Andrea.
Krekkkk
Arrgghh
Andrea terus berteriak setiap Xura beraksi, ia juga menangis sekuat-kuatnya.
Semua orang yang ada di sana menutup mata mereka, bunyi retakan tulang itu membuat mereka semua merasakan ngilu yang luar biasa.
Jay dan Amber bahkan menutup mata sambil menangis, sedangkan Rea hanya memalingkan wajahnya, ia tidak menangis tapi juga tidak kuat melihat siksaan yang di berikan oleh Xura pada Andrea.
Alpa melototkan matanya, ia langsung menyembunyikan Quirin di balik tubuhnya agar Quirin tidam melihat hal yang mengerikan seperti yang di lakukan oleh Xura.
Untuk Feryun, ia tetap berdiri tegak di tempatnya, kebencian di diri Feryun bahkan sudah mendarah daging, ia tidak menangis ataupun kasihan melihat Andrea di perlakukan buruk oleh Xura, justru Feryun tampak senang ketika Andrea mendapatkan hukumannya.
"Tolong"
"Tolong aku"
"Jay, Amber, Feryun, Rea, tolong aku"
Dalam tangisnya Andrea terus meminta pertolongan oleh orang-orang itu, tapi mereka semua bahkan tampak tidak berkutik.
"Jangan berharap kau bisa mati dengan mudah, Aku harus melampiaskan amarah ku ini" ucap Xura mengeram marah.
Tapi sebelum itu terjadi, Xura melirik kearah orang-orang itu, sekali lagi Zee sangat mengerti Xura, ia pun langsung memberikan kata-kata penenang untuk Xura "Lakukan sesuka hatimu, aku akan menghandle mereka semua" ucap Zee dengan dingin.
Senapan yang ada pada Zee tengah bertengger di bahunya, jadi siapa saja yang bergerak maju, Zee akan siap menembaknya dengan beberapa peluru.
Saat ini Zee bahkan tidak pandang bulu, ia menganggap semua orang yang ada di situ adalah musuhnya.
"Terimakasih" ucap Xura sambil tersenyum smirk.
Tiba-tiba Xura pun menarik telinga Andrea dengan sangat kuat, Xura merogoh sakunya dan di terlihat sebilah pisau begitu berkilau.
Xura tanpa ragu memotong telinga Andrea dan melemparnya tepat di bawah Arcy.
__ADS_1
Arrgghhh
Arcy tampak menitikkan air mata, awalnya ia ingin menghentikan ibunya, tapi Arcy sendiri tidak menyangka bahwa Xura bertindak di luar akal sehat manusia.
"Hentikan, aku tidak tahan lagi" ucap Arcy sambil menutup matanya.
"Haha ... orang yang sudah mati seharusnya tidak mencampuri urusan dunia lagi, jadi kau bisa menyerahkannya padaku. Bukankah kau ingin menghentikan dia?, Baiklah" ucap Xura sambil menarik telinga Andrea yang lainnya lalu memotongnya dengan cepat.
Arrgghhh
Andrea yang sudah tua masih bisa berteriak keras, teriakan itu bahkan begitu nyaring.
"Ini baru permulaan, kau harus merasakan apa yang sudah aku rasakan, kau hanya luka fisik, tapi aku?, terluka di hati dan juga jiwa ku seakan ingin hancur karena keserakahan kalian" ucap Xura dengan air mata yang mulai mengalir.
Xura merasa tubuhnya akan jatuh, ia pun langsung menancapkan pisau itu di lengan Andrea.
Arrgghhh
"Sakit"
"Tolong hentikan"
"Kau bisa membunuhku saja" ucap Andrea dengan terisak.
Darah bahkan keluar dari kedua telinga Andrea serta tangan dan kaki.
Jika mereka bergerak sedikit saja, sudah di pastikan bahwa nyawa mereka bisa hilang kapan pun.
Xura tampak akan terjatuh, namun Zee dengan cepat berlari dan membopong tubuh Xura, ia tidak ingin tubuh Xura menjadi lecet karena jatuh ke lantai yang kotor.
Mereka semua tampak terkejut melihat reaksi Zee yang begitu cepat, tiba-tiba saja Xura terbangun dan Zee langsung berdiri dan kembali ke tempat awal.
Aura yang di keluarkan Xura tampak berbeda, semua orang yang ada di dalam bisa merasakan hawa membunuh yang begitu kental.
Tatapan Xura juga tampak sangat menakutkan, tapi bibir itu tampak berbeda, Xura seakan tersenyum lebar seperti tidak terjadi apapun di sekeliling nya.
Mata Xura tampak melihat kebawah, ia melihat wajah Andrea yang tampak kesakitan "kebetulan sekali, aku sedang merindukan darah segar" ucap Xura dengan tersenyum manis.
"Berhenti bermain-main Quiran, segera lakukan tugasmu, aku tidak ingin Xura berlama-lama di tempat ini" ucap Zee dengan wajah datar.
Xura yang mendengar itu langsung menoleh kearah Zee dan mengangguk.
"Quiran?"
Ucap secara bersamaan dengan Jay, amber, Rea, Alpha dan Quirin.
__ADS_1
Mereka bahkan terkejut mendengar Zee memanggil Xura dengan sebutan Quiran.
"Berhenti terkejut, aku muak melihat mimik wajah kalian" ucap Quiran sambil melirik kearah Quirin.
Sontak saja hal itu membuat Quirin terkejut, ia pun kembali mengumpat di belakang tubuh Alpha.
"Dasar manusia tidak berguna, hidupmu hanya beban untuk orang lain, beruntung jiwa mu berpindah, jika saja kau masih di tubuh ini, mungkin sampai sekarang kau sudah mendekam di penjara dengan waktu yang lama" cibir Quiran dengan tersenyum manis.
Melihat Quirin semakin takut, Alpha mengernyitkan dahinya, ia tampak sangat marah mendengar perkataan Quiran.
Walau tidak tau kenapa Zee menyebut nama Xura menjadi Quiran, yang jelas Alpha sangat tidak menyukai perkataannya itu "Bagaimana kau bisa mengatakan itu pada Quirin, kalian hanya bertukar jiwa, tapi kau terus menghakiminya seperti itu" ucap Alpha dengan marah.
Quiran mencabut pisau yang ada di tangan Andrea.
Engghhh
Dengan keringat mengalir, Andrea berusaha untuk bertahan, ia tidak berani mengeluarkan suara apapun karena Xura masih berapa tepat di hadapannya.
Lalu tiba-tiba saja Quiran melempar pisau itu tepat di pundak Alpha.
Karena lemparan itu, Quirin terkena percikan darah Alpha.
Aargghh
Alpha berteriak keras, ia pun mulai memegang pundaknya lalu langsung mencabut pisau itu dan membuangnya ke sembarang arah.
Quirin bahkan berdiri mematung, tubuhnya terus bergetar ketakutan, ia tidak menyangka bahwa Xura adalah orang yang sangat nekat.
Mereka bahkan tidak tau bahwa Xura yang ada didepan mereka bukanlah jiwa Xura, melainkan Quiran yang tengah mengamuk.
"Berani sekali kau berteriak didepan sang Alter ego, apa kau pikir aku adalah Xura?" ucap Quiran sambil tersenyum senang.
"Asal kalian tau, Aku sang alter ego tidak lah sebaik Xura" lanjut Quiran sambil berlari mengambil sebuah mesin pemotong lalu menghidupkannya dan melemparnya ke tubuh Andrea.
Arrgghhh
Mata semua orang melotot, gergaji itu awalnya memotong tubuh Andrea, lalu gergaji itu pun bertengger di tubuh Andrea dan membuat perut Andrea terbuka dengan lebar sehingga semua orang terkena cipratan darah Andrea.
Quirin yang melihat itu seakan sudah tak bertenaga lagi, kaki nya bahkan tak seperti memiliki tulang, ia pun terjatuh dengan tangan yang tak bertenaga.
Rea, Arcy, Jay dan Amber melotot dengan sempurna, mereka tidak menyangka bahwa Andrea mati dengan tragis.
Rosdi hanya bisa menutup mata dan menghela nafas dengan pelan, ia memang sudah menduga kejadian ini akan terjadi, sebagai paranormal, ia tidak bisa memberitahukan masa depan pada orang lain, karena itu adalah takdir yang memang harus di lalui oleh mereka sendiri.
Feryun bahkan lebih tidak menyangka bahwa Quiran bisa membunuh dengan cara brutal seperti itu, dari tatapan Feryun, ia sedikit tidak rela jika Andrea mati dengan isi perut yang terpotong, tapi ia sendiri tidak bisa berbuat apapun karena mereka semua terjebak dengan para pengawal Zee.
__ADS_1
"Nenek" gumam Feryun dengan pelan.
Bersambung ...