
Quirin menatap kearah Jay, ia bisa melihat pria wajah paruh baya itu terus menangis tiada henti.
"Apa dia benar adik dari ibu?, tapi rekaman ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa ibu berasal dari keluarga Vermilion" batin Quirin
Karena rasa penasaran Quirin yang tinggi, ia mencoba menghentikan Jay. "paman, sudah cukup!" ucap Quirin dengan tegas Quirin.
Quirin menghentikan Jay bukan karena kasihan pada Lura, melainkan, ia tidak ingin kedua orang itu mati dengan sangat mudah.
Jay yang mendengar kata paman dari mulut Quirin, langsung menghentikan kakinya, lalu ia menoleh kearah Quirin dengan wajah yang sudah di basahi air mata.
Quirin melihat Lura sudah terkapar di lantai dengan tak berdaya, seluruh wajah dan tubuhnya sudah berubah warna.
"Nak!" ucap Jay langsung berjalan dan mendekati Quirin.
"Paman apa ada bukti yang menyatakan bahwa ibu berasal dari keluarga Vermilion?" tanya Quirin sedikit menyelidik.
"Kakak memiliki kalung berlian Athena yang berbentuk V dan pasti kakak meninggalkannya padamu nak" ujar Jay yang sudah berada di hadapan Quirin.
Zee, Max, Al dan Xeno melototkan mata mereka, pasalnya kalung berlian Athena jatuh ke tangan keluarga tersembunyi dan itu adalah lambang keluarga . Tapi kenapa ibu Quirin memiliki kalung tak ternilai itu?. Bahkan Jay tau mengenai kalung tersebut.
Kalung berlian Athena menjadi legenda, sebab keluarga berpengaruh terus mencari keberadaan kalung itu, bahkan mereka juga mencari keluarga tersembunyi tersebut. Tapi mereka hilang tanpa jejak.
Quirin tampak terkejut lalu mengeluarkan kalung itu dan mengangkat kalung itu tepat di depan wajahnya.
Jay melihat kalung itu dengan mata berkaca-kaca "kakak!" lirih Jay.
Jay yang sudah sangat merindukan Arcy langsung menghamburkan pelukannya pada Quirin.
Rasa rindu itu ia salurkan pada Quirin, entah kenapa ia juga bisa merasakan pelukan sang kakak dari diri Quirin.
Sedangkan Quirin tipe orang yang tidak suka jika ada orang yang memeluknya, tapi pelukan Jay tampak begitu hangat, ia bahkan tidak rela untuk melepaskan pelukan orang itu.
__ADS_1
"Maafkan paman yang tidak bisa menjaga kalian" lirih Jay sambil menangis.
Mata Quirin mulai berkaca-kaca, ia yang awalnya hanya berdiam kini membalas pelukan Jay dan mulai menangisi sangat kencang.
Walau yang mendapat penyiksaan itu adalah Quirin asli, tapi ketika Xura memasuki tubuh Quirin, ia bisa merasakan rasa sakit yang masih tertinggal di hati dan tubuhnya.
Lagi-lagi semua orang tampak terkejut, mereka tau bahwa Quirin adalah pribadi yang keras. Tapi ketika dalam pelukan Jay, mereka justru melihat Quirin seperti seorang melihat anak kecil yang sedang mengadu pada orang tuanya.
Grizo yang melihat itu tak kuasa menahan perasaan iri, yang seharusnya berada disitu adalah dirinya, tapi kenapa orang yang baru saja datang justru bisa menggantikan posisinya?.
"Quirin!" ucap Grizo dengan pelan.
Tapi Quirin justru tidak mendengarnya, ia terus menangis dengan kencang untuk meluapkan segala rasa sakit hatinya itu.
Selama Xura berpindah ke tubuh Quirin, tidak ada tempat untuknya melampiaskan rasa kecewa dan sakit yang ada di hatinya. Tapi ketika Jay datang dan memberikannya pelukan hangat, ia justru bisa meluapkan segalanya pada pria paruh baya itu.
"Hiks ... hiks .... paman" Quirin memanggil Jay dia sela tangisnya.
Rea tidak sanggup membayangkan kehidupan yang dijalani oleh kakaknya itu, ia merasa bersalah karena dirinya hidup bergelimang harta tapi kakaknya hidup dengan menderita walau semua harta itu adalah miliknya.
"Maafkan aku kak" gumam Rea sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.
Suasana haru menyelimuti kediaman Alister. Semua orang hanya bisa diam, tidak ada yang menggangu mereka menangis.
Lura yang sudah terkapar mencoba duduk, ia merasa iri karena kehidupan Quirin jauh lebih baik daripada dirinya. Padahal dulu, dirinya yang dulu mendapat perhatian semua orang. Tapi kini tidak lagi karena Quirin berasal dari keluarga kaya.
Lur menggeretakkan giginya, ia tidak akan membiarkan Quirin mendapatkan apa yang dia inginkan "bagaimana bisa orang lemah seperti dia berasal dari kalangan atas?, kalian telah berbohong!"
"Ibunya bahkan hanya seorang yatim piatu, bagaiman mungkin dia berasal dari keluarga Vermilion?!" teriak Lura dengan air mata mengalir.
Semua orang menatap Lura dengan tatapan jijik, mereka tidak menyangka, wanita miskin itu tidak pernah mau menerima kenyataan yang ada.
__ADS_1
"Dasar menjijikkan, ibu dan anak sama saja!" cibir Staren
"Dia bahkan tidak bisa di bandingkan dengan pelayan rumah tuan Zee!" sahut Arnius
Lura yang mendengar itu melototkan matanya, ia tidak menyangka semua orang telah berpihak pada Quirin.
Quirin menghapus air matanya dan melepaskan pelukan Jay, ia mulai melangkah mendekati Lura dan berjongkok sambil berbisik "kau saja yang terlalu sial terlahir dari rahim seorang ja*lang" bisik Quirin sambil tersenyum smirk.
Ia juga menoleh kearah Beymi yang sudah berwajah pucat pasi "aku sudah katakan akan memberimu sebuah hadiah, maka kau akan segera menerimanya" ucap Quirin yang masih tersenyum smirk.
Quirin pun berdiri dan memberi pesan pada Rea. "Rea, aku titip orang tua itu padamu ... dan paman, aku mohon tolong tunggu aku membereskan para pengkhianat ini ..." perkataan Quirin terjeda lalu ia menoleh kebelakang dan menatap Vano, Arnius dan Staren. "kalian ikuti aku dan jangan lupa membawa hadiah besar itu" lanjut Quirin dengan tersenyum smirk.
Setelah mengatakan itu, Quirin menyeret tubuh Beymi dan Lura dengan sangat kasar.
Jay dan Rea yang melihat itu saling menatap satu sama lain. keduanya tampak bingung, kenapa Quirin yang di rumorkan lemah bisa sekuat itu?.
Sebelum ke kediaman Alister, Jay sudah mencari tau mengenai keluarga kakaknya, ia sudah membaca dengan sangat detail. Karena itulah Jay sangat terkejut bahwa rumor dan kenyataan sangat jauh berbeda.
Grizo hanya bisa melihat Tampa bisa berbuat apapun, tubuhnya benar-benar lemah, untuk berbicara saja ia tidak sanggup.
Vano, Staren dan Arnius mengangguk, mereka ikut keluar dari mansion dan dengan segera membawa hadiah besar itu.
Max, Al dan Zee juga mengikuti langkah kaki ketiga pengawalnya. Sedangkan Xeno, mencoba berdiri dan berusaha mengikuti langkah kaki mereka.
Quirin menyeret keduanya ke ruang bawah tanah, ia membuka kunci dan menendang pintu itu dengan sangat kuat hingga membuat wajah Calis menghantam dinding.
Calis yang berada di belakang itu pintu tidak sempat berpindah karena Quirin sudah menendang pintu itu terlebih dahulu.
Rintihan terdengar di balik pintu, Quirin tau bahwa Calis berada di balik pintu, ia bahkan dengan sengaja menendang pintu itu dengan sangat kuat.
Setelah itu, Quirin melempar tubuh kedua orang itu kedalam ruangan dimana Calis berada, ia memang ingin mengumpulkan ketiga orang itu dan segera memberi mereka penyiksaan yang sangat menyakitkan.
__ADS_1
Bersambung ...