Another Person Life

Another Person Life
Pesta


__ADS_3

Quirin kembali ke kamarnya, ia teringat belum membuka flashdisk pemberian Xeno, lalu Quirin bergegas duduk di atas tempat tidur dan langsung membuka laptop yang ada di tangannya.


Setelah membuka dan melihat isi dari flashdisk itu Quirin langsung mengerti apa yang diinginkan oleh Zee "sebenarnya kau tidak perlu memberiku rekaman ini. Aku juga pasti akan mencari kelemahannya dengan kemampuanku sendiri, tapi akhir-akhir ini tubuhku ingin beristirahat, seolah tubuh ini lelah dengan pembalasan dendam yang tiada habisnya" gumam Quirin sambil menghembus napas pelan.


Tubuh yang ditempati Xura sangatlah lemah, di tambah luka yang diakibatkan dari percobaan bunuh diri membuatnya sangat mudah kelelahan, lalu setiap melakukan penyiksaan Quirin selalu menghabiskan banyak energi sehingga membuat tubuh itu membutuhkan istirahat yang cukup.


Tapi bagi Quirin, membalas dendam adalah satu satunya cara agar orang lain tidak menganggapnya lemah, karena itulah ia tidak memperdulikan kondisi tubuhnya dan tetap terus memegang prinsipnya "aku akan membiarkan keluarga ini bernafas sejenak" gumam Quirin sambil mengganti bajunya dan bersiap untuk pergi.


Sedangkan didalam kamar, Grizo tidak bisa tidur dengan tenang, pikirannya tampak bercabang, ia memikirkan kasus kematian yang ada dirumahnya dan disisi lain ia harus memikirkan kasus Lura.


Seakan ingin mengetahui tentang perkembangan penyelidikan Grizo mengambil ponsel dan langsung menghubungi polisi "hallo, apa ada perkembangan dari investigasi kalian?" tanya Grizo dengan satu tangan yang memegang dahinya.


"Tuan Grizo, sebelumnya kami minta maaf, kami belum bisa menemukan petunjuk apapun mengenai kematian tuan Wiliam ataupun nyonya besar Alister, tapi kami berjanji, jika ada perkembangan kami akan akan langsung menghubungi anda" ucap seorang polisi yang mengangkat panggilan Grizo


Grizo yang mendengar itu terlihat sangat kesal, ia langsung mematikan sambungan dan melempar ponselnya ke dinding hingga ponsel itu hancur berkeping-keping.


"Sial!, aku tidak pernah menganggu siapapun, tapi kenapa orang itu membunuh anggota keluargaku!" geram Grizo


Grizo adalah pebisnis yang sangat jujur, sejak membangun perusahaan, ia tidak pernah bermain kotor karena Arcy selalu mengingatkannya untuk membangun citra yang bagus agar orang lain lebih menghargainya dan hanya sedikit pengusaha yang bisa menjalankan hal seperti itu.


Tiba-tiba Grizo teringat akan sesuatu "sudah beberapa hari aku tidak pergi ke perusahaan, tapi, aku juga tidak bisa meninggalkan rumah yang sedang kacau" gumam Grizo sambil memegang dahinya.


Tiba-tiba pintu kamar Grizo terbuka, Calis muncul di depan pintu dan melihat Grizo sedang bersandar.


"Sayang, kau sudah bangun" ucap Calis takut sambil berjalan perlahan untuk mendekati Grizo.


Grizo menghela nafas kasar "aku peringatkan untuk tidak berbicara padaku!" tegas Grizo sambil menoleh dan menatap Calis dengan tajam.


Calis menghentikan langkahnya dan terpaku mendengar perkataan Grizo, ia tidak pernah melihat Grizo semarah itu padanya. Biasanya Grizo hanya memarahinya dan langsung meninggalkan Calis begitu saja, tapi kali ini Grizo menatapnya dengan tajam.


"Sa-sayang, jangan seperti itu, Lura juga putri mu, kau sudah sangat mengenalnya jadi tidak mungkin dia melakukan hal itu, aku yakin dia di jebak oleh seseorang" ucap Calis sambil melangkah dan terduduk disamping tempat tidur Grizo.


Grizo tidak habis pikir dengan jalan pikiran Calis "dijebak?!, apa matamu sudah buta?!, kau tidak melihat cara dia melayani para pria itu?!, jika dia dijebak, dia tidak akan mengeluarkan suara menjijikkan itu!" Grizo berteriak dengan keras, hatinya seakan tercabik-cabik setelah melihat video itu, rasa sakit itu seperti terus menggerogoti hatinya.


Anak perempuan yang paling di sayangi dan dijaga sepenuh hati, kini dengan suka rela menyerahkan mahkotanya kepada beberapa pria, hati orang tua mana yang tidak hancur melihat kenyataan itu.

__ADS_1


"Apa ini balasan yang dia berikan padaku, jika saja dia bukan putri kandungku, sudah pasti aku langsung menendangnya keluar dari rumah ini" gumam Grizo sambil menutup wajahnya dengan satu tangan.


Deg


Calis yang mendengar itu langsung terpaku, ia tidak menyangka Grizo mengucapkan kata-kata yang selama ini dirahasiakannya "apa dia mengetahuinya?" batin Calis takut


"Apa maksudmu?, dia itu putri kandungmu, apa kau tega membiarkannya seperti ini?" ucap Calis dengan rasa takut yang menyelimuti hatinya.


"Justru karena dia putri kandungku maka aku tidak mengusirnya dan masih membiarkannya tinggal disini!" balas Grizo dengan air mata yang sudah menetes.


Calis bernafas lega, ia tidak bisa membayangkan seperti apa nasib mereka jika Grizo mengetahui rahasia besar ini.


"Lalu mengapa kau mengatakan hal kejam seperti itu?, Lura mengatakan padaku bahwa dia telah di jebak oleh seseorang, dan keluarga orang itu sangat berpengaruh sehingga Lura tidak mempunyai keberanian untuk memberitahuku" ucap Calis sambil meraih tangan Grizo lalu menitikkan air matanya.


"Sebelum semua ini terjadi apa dia mengetahui konsekuensi apa yang akan dia dapatkan jika video itu tersebar?, sepertinya tidak!, dia pasti tidak berpikir dan aku yakin dia juga tidak ingin mengetahuinya" ucap Grizo disela tangisnya


Calis merasa di acuhkan berusaha untuk membujuk Grizo agar mau mendengarkan perkataannya "kali ini tolong percaya pada Lura, aku tidak sanggup melihatnya menangis terus menerus, aku sangat yakin jika semua ini perbuatan seseorang yang tidak menyukai Lura, aku akan berusaha mencari keadilan untuknya"


Grizo diam sambil menangis, ia mendengarkan tapi tidak untuk menjawab pertanyaan Calis.


"Jangan berkata seperti itu" hati Calis terasa sakit setelah mendengar perkataan Grizo.


"Keluarlah!, aku ingin sendiri!" usir Grizo sambil menghempas tangan Calis.


Calis menatap Grizo dengan sendu, ia berdiri dan keluar dari kamar itu.


"Habislah, sekarang aku harus bagaimana?, Wiliam sudah tidak ada, Beymi juga sedang terluka, aku tidak tau harus bergantung pada siapa lagi" batin Calis sambil menangis


***


Sebuah pesta digelar di sebuah hotel ternama, pesta ini sangat mewah dan juga begitu meriah, tamu-tamu yang hadir juga dari berbagai kalangan.


Pesta ini adalah pesta pertama yang begitu membuat semua orang antusias, orang-orang yang menjadi tamu undangan begitu merasa sangat bahagia.


Biasanya para karyawan kelas bawah tidak boleh mengikuti pesta yang diselenggarakan oleh pihak calon partner perusahaan mereka, tapi kali ini sungguh berbeda. Semua orang yang bekerja di kantor turut di undang untuk memeriahkan pesta itu.

__ADS_1


Penyelenggara tidak membeda-bedakan antara kalangan atas serta kalangan bawah, semua tamu undangan berada di kursi yang sama tanpa adanya perbedaan status.


"Aku begitu kagum dengan penyelenggara pesta, mereka mengundang kita yang tidak mempunyai latar belakang"


"Benar, aku yakin dia adalah orang yang sangat dermawan"


"Bukankah hanya pesta ulang tahun?, melihat dekorasinya, rasanya aku tidak percaya karena ini benar-benar luar biasa"


"Aku mendengar yang menggelar pesta ini adalah orang kaya yang baru saja kembali dari luar negeri"


"Apa kau yakin dengan itu?"


"Aku sangat yakin, rumor itu tidak mungkin salah"


Para tamu yang datang begitu kagum dengan dekorasi hotel, mereka yang berasal dari kalangan bawah sangat bersyukur bisa memasuki hotel yang sangat terkenal sebagai tamu undangan resmi.


"Para hadirin sekalian dimohon untuk duduk di kursi yang sudah kami sediakan" mc mulai berbicara untuk menggiring para tamu undangan.


Para tamu yang sedang asik bercerita kini mendengarkan sang MC, mereka yang baru datang langsung duduk di kursi masing-masing.


"Kami ingin memperkenalkan seseorang, dia adalah orang yang membuat pesta serta orang yang mempunyai bisnis yang cukup besar di negara ini. Seorang wanita karier yang juga baru saja kembali dari luar negeri dan juga bertepatan hari ini adalah hari ulang tahunnya, jadi ia menggelar pesta penyambutan dari berbagai kalangan secara terbuka, kami persilahkan nona Xura untuk naik keatas panggung"


Semua orang bertepuk tangan, tapi ada dua orang yang tidak melakukan itu, ia adalah Cassi dan Kai. Keduanya yang mendengar nama itu langsung terpaku di tempat duduknya masing-masing.


Deg


Deg


"Ti-tidak mungkin" gumam Cassi sambil melihat kearah Xura yang sedang menaiki panggung.


Kai yang awalnya terkejut kini membulatkan mata dengan lebar "ba-bagaimana mungkin mereka mempunyai nama dan barang yang sama?" gumam Kai dengan mata yang sudah hampir keluar dari tempatnya.


"Kenapa kau tidak mengatakannya padaku bahwa namanya adalah Xura?" tanya Cassi sambil mengalihkan wajahnya yang sekarang sudah menatap Kai dengan tajam.


"Aku benar-benar tidak tau, aku tidak benar-benar melihat nama penyelenggara pesta. aku hanya menerima dan melihat alamat pesta saja" balas Kai yang tidak ingin disalahkan.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2