
Polisi itu juga tidak bisa memberikan tuduhan tanpa adanya bukti.
Melihat polisi itu terdiam, Quirin langsung membuka suara "aku serahkan masalah ini pada kalian, jika sudah mendapatkan sebuah petunjuk, maka segera hubungi aku"
Polisi itu mengangguk dan memanggil temannya yang sedang berjaga di depan pintu.
"Nenek tua, bahkan jika sekalipun kau telah mati, aku tidak akan membiarkan tubuhmu utuh begitu saja, aku sengaja membuat tubuhmu hancur agar para polisi itu melakukan otopsi, dan kau jelas tau bagaimana kelanjutannya. Bukankah kau sangat senang bermain dengan kematian?, maka lihatlah caraku bermain dengan tubuhmu, tentunya kau bermain dengan orang yang tepat" batin Quirin sambil tersenyum smirk
Seketika senyum itu kian memudar, Quirin mendongakkan wajahnya dan menatap ke atas "ibu langkah pertamaku telah selesai, dia hanya sebentar merasakan sakit tidak sepertimu yang sudah merasakan penderitaan itu bertahun-tahun, justru aku tetap tidak rela membiarkan mereka menetap di penjara, karena hal yang paling menakutkan bagi manusia adalah kematian, jadi akan lebih baik bagiku untuk mengirim mereka semua ke neraka. Cepat atau lambat mereka akan membayar kematian mu ibu, khusus untuk sepasang ibu dan anak itu aku akan membalasnya dengan rasa sakit yang lebih menyakitkan sehingga mereka lebih memilih mati daripada hidup" batin Quirin sambil menatap keatas.
Para polisi itu tidak tau jika mereka sedang bekerja sama dengan pembunuh yang sedang mereka cari, permainan Quirin begitu sangat rapi hingga para polisi itu tidak bisa menemukan jejak sang pembunuh di tubuh Wiliam, walau alat-alat yang digunakan Quirin masih tertinggal di tempat itu, namun para polisi tidak bisa menemukan sidik jari apapun di alat-alat tersebut.
Quirin tersenyum smirk, ia melihat polisi-polisi itu belum bisa memecahkan kasus Wiliam dan sekarang mereka dihadapkan dengan kasus yang serupa.
Setelah para polisi itu mengangkut tubuh Jean, mereka juga tidak lupa mengangkut jari kaki yang sudah berantakan itu "tuan, kami meminta izin untuk membawa mayat nyonya" ucap salah satu polisi
Grizo mengangguk pelan, ia masih belum bisa menerima kematian ibunya "ayah, sudah waktunya kita kembali, hari sudah semakin gelap dan ayah bisa sakit jika terus berada disini" ucap Quirin sambil membantu sang ayah berdiri dan membawanya keatas.
Quirin membantu memapah sang ayah, mereka telah sampai di depan pintu kamar Grizo "bibi, buka pintunya" teriak Quirin sambil mengetuk Pintu.
Pintu itu terbuka dan muncullah Calis dengan wajah berantakan.
Calis menatap kearah Quirin, ia melihat Quirin tengah tersenyum padanya, tapi ketika dirinya mengedipkan mata ia justru melihat Quirin menatapnya dengan datar.
"Tidak mungkin dia tersenyum mengerikan seperti itu, aku pasti salah lihat" batin Calis
__ADS_1
"Kenapa bibi melihatku seperti itu?, cepat bantu aku membawa ayah" ucap Quirin kesal
Calis terkejut dan ikut membantu memapah Grizo "aku serahkan ayah pada bibi, aku akan mengurus semua masalah disini" ucap Quirin langsung pergi dari kamar itu.
Calis merasa ada yang janggal "dari awal aku tidak melihat dia bersedih, bagaimana mungkin?" gumam Calis
"Yah ... wajar saja dia tidak bersedih karena dari awal dia tidak pernah di perlakukan baik oleh ibu ... ya pasti seperti itu, dia anak yang lemah jadi tidak mungkin dia membunuh orang" gumam Calis sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan
Saat Quirin keluar dari kamar Grizo, ia tidak sengaja bertemu dengan Lura "kak, darimana kau mendapatkan teman yang tidak tau malu seperti itu?" tanya Lura kesal
Karena dirinya telah melihat Clamy yang sudah dijemput oleh managernya, dia adalah orang pertama yang diperiksa oleh polisi.
Quirin mengernyitkan dahinya "kau mengatakan dia tidak tau malu?" tanya Quirin
"Lalu?, apa kau memiliki malu?, bukankah kau jauh lebih parah darinya?, kau sudah merebut semua milikku?" tanya Quirin dengan wajah datar sambil melipat kedua tangannya.
Lura mengepalkan kedua tangannya "kau itu kakakku, tentu semua yang menjadi milikmu kedepannya akan menjadi milikku" ucap Lura tanpa rasa malu
Quirin mengerutkan alisnya hingga kedua alis itu hampir saling menyatu "cih, jangan menyebutku dengan sebutan kakak, aku tidak sudi mempunyai adik sepertimu. satu lagi, aku tidak pernah mengizinkanmu mengambil barang ku, tapi berbeda dengan temanku itu, aku sudah mengizinkannya, jadi siapa yang tidak tau malu disini?" tanya Quirin dengan mata yang sudah membulat dengan sempurna.
Lura begitu terkejut melihat ekspresi Quirin yang seakan ingin menerkamnya "ki-kita adalah saudara, kakak tidak bisa memperlakukanku seperti ini" ucap Lura memberanikan diri
"Jangan sampai membuatku mengulang kata-kata yang sama ... " Quirin menjeda perkataannya lalu melangkah pelan mendekati Lura, sedangkan Lura yang merasa takut melangkah mundur kebelakang
"Wanita ja-lang" lanjut Quirin lalu tersenyum smirk dan pergi meninggalkan Lura yang sedang berdiri mematung.
__ADS_1
Lura mulai mengeluarkan keringat dingin, tangannya mulai gemetar dengan hebat, ia juga melihat Quirin sampai punggung itu menghilang.
Lura mengalihkan wajahnya menatap lantai "apa kakak mengetahuinya?" gumam Lura ketakutan, ia benar-benar takut perbuatannya akan ketahui oleh orang lain.
"Kenapa kakak bisa tau?" gumam Lura mulai menggigit kukunya, tubuh Lura seakan tidak bertenaga sehingga membuatnya terduduk di lantai.
"Bagaimana kakak bisa mengetahuinya?" gumam Lura lagi. pikirannya benar-benar kalut karena perkataan Quirin.
"Nona muda" teriak pelayan Beymi. ia terkejut melihat Lura terduduk dilantai.
"Kenapa nona bisa duduk di sini?, ayo kita kembali ke kamar nona" ucap pelayan Beymi
"Apa yang harus kulakukan,? bagaimana kalau kakak mengatakannya pada semua orang?" gumam Lura pelan, cairan bening mulai keluar dan terus mengalir di pipi Lura.
"Kenapa nona menangis?" batin Beymi
Ketika pelayan Beymi memegang tubuh Lura, ia benar-benar terkejut "bagaimana bisa tubuh nona gemetar hebat seperti ini?, dan apa yang sudah nona katakan tadi?, aku sungguh tidak mengerti" gumam pelayan Beymi
Namun Beymi berusaha tidak memperdulikannya, ia tetap membantu Lura berdiri dan membawanya kekamar.
Sepanjang jalan Lura selalu mengatakan hal yang sama, tapi pelayan Beymi tetap tidak mengerti.
"Apa aku harus melaporkan ini pada nyonya muda?" batin Beymi
Bersambung ...
__ADS_1