
Rekaman itu kini berputar dengan semestinya, Jean yang penasaran menatap kearah dinding.
***
Arcy dan Grizo masuk bersama kedalam rumah itu. setelah berkeliling cukup lama, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk membeli rumah itu.
Arcy terlihat sangat bersemangat dengan rumah yang mereka lihat "kita ambil rumah ini saja, dari luar susah terlihat mewah dan elegan, serta rumah ini memiliki taman yang sangat luas, aku sangat menyukainya" ucap Arcy tersenyum sambil menggandeng tangan Grizo
Grizo terlihat sangat bahagia melihat Arcy tersenyum "baiklah, kita mengambil rumah ini" ucap Grizo tersenyum tulus
Grizo memberikan semua kartu miliknya pada Arcy, ia sangat percaya pada penilaian istrinya itu.
Setelah memutuskan untuk membelinya , keduanya mengurus pemindahan mereka, akhirnya kedua pun pindah kedalam rumah itu "apa kau sudah membayar cicilan rumah ini sayang?" tanya Grizo sambil duduk di sofa
"Tenang saja, aku sudah mengurus semuanya, bahkan aku sudah menghemat keuangan kita untuk kedepannya, jadi jangan mengkhawatirkan hal yang tidak perlu" ucap Arcy sambil duduk di samping dan mengelus lengan Grizo
"Kau memang bisa di andalkan" ucap Grizo sambil mengusap kepala Arcy
Keesokan harinya, Grizo berpamitan untuk berangkat kekantor, lalu Arcy kembali ke kamarnya dan mengangkat tempat tidurnya, disana terlihat beberapa lembar surat, Arcy mengambil semua surat dan membukanya lembar demi lembar, diatas kertas itu terlihat jelas nama lengkap Arcy.
"Aku tidak boleh menunjukkan surat kepemilikan rumah ini pada siapapun, termasuk Grizo" ucap Arcy sambil menutup surat itu lalu menyimpannya di sebuah tempat rahasia.
***
Quirin yang melihat adegan itu meneteskan air mata, seolah ia sangat merindukan sosok Arcy, padahal Arcy bukanlah ibu kandungnya.
Karena sudah tidak kuat menahan air matanya, Quirin mematikan cahaya yang menerangi dinding itu. sedangkan Jean malah termenung setelah melihat rekaman itu.
"Dia tidak mungkin bisa membeli rumah sebesar itu, tunggu ... siapa tadi namanya?" batin Jean yang merasa tidak percaya
"Farcy Ver?, aku pernah mendengar nama itu, tapi dimana aku mendengarnya?" gumam Jean sambil mengingat-ngingat kembali nama yang sedikit familiar itu.
Mendengar sangat kesal mendengar suara jean, ia pun menghapus air matanya, lalu berbalik melihat kearah Jean yang masih meringkuk di tanah.
"Tentu saja kau pernah mendengarnya, nama itu adalah nama dari pemilik galeri yang cukup terkenal dikota ini, tapi dengan pemikiranmu yang tidak berpendidikan mengatakan ibuku miskin, padahal situasinya sangat terbalik, justru kau dan anakmu lah yang miskin" ejek Quirin dengan menekan semua perkataannya
Deg
__ADS_1
Jantung Jean seakan berdetak kencang, tapi ia dengan cepat menepis rasa bersalahnya dan tetap menolak menerima kenyataan yang sudah ada didepan mata.
"Ti-tidak mungkin, aku sudah menyelidikinya dan aku yakin dia adalah wanita miskin serta surat-surat itu memang benar atas namaku" bantah Jean sambil menundukkan kepalanya.
"Kau benar-benar bodoh, dengan kekayaan melimpah seperti itu tidak mungkin ibuku membiarkanmu menyelidikinya, lagipula tidak mungkin ibuku membiarkan rumah yang dia beli dengan jerih payah malah jatuh ketangan orang sepertimu, dasar orang miskin!" ejek Quirin.
Quirin ingin sekali menunjukkan betapa murka dirinya, tapi ia harus segera menekan amarah yang menguasai seluruh pikirannya, karena jika tidak maka Quiran lah yang akan mengambil alih tubuh itu dan membantunya membalaskan dendam pemilik tubuh.
Quirin tidak mau hal itu sampai terjadi, baginya ini adalah kesempatan langka untuk menunjukkan bahwa dirinya tidak lemah di hadapan jean, Quirin bukannya tidak senang dengan bantuan Quiran, tapi ini adalah dendam pemilik tubuh pada orang yang menyebut dirinya nenek, jadi Quirin harus bisa membalaskan dendamnya sendiri dan juga harus menekan amarahnya dengan sekuat tenaga.
Dirinya yang dulu adalah orang yang tenang dan juga berwibawa, tapi semenjak masuk kedalam tubuh Quirin, Xura yang selalu bersikap tegas itu seolah sudah tiada dari dunia, karena setiap ia melihat adegan ibu sang pemilik tubuh di siksa, hatinya seolah bergejolak untuk memuntahkan semua amarah yang ada pada dirinya, dan sekarang Quirin harus mati-matian menekan amarah yang sudah berada diujung kepalanya.
Jean menegakkan kepalanya, lalu menatap Quirin dengan tajam "miskin?, kau menyebutku miskin?" teriak Jean dengan amarah yang mengebu-ngebu
"Jika ibuku yang kaya itu kau sebut miskin, lalu kau ini apa?" tanya Quirin dengan santai
Jean terdiam seketika, ia mulai termenung dan bergumam sendiri "Grizo mengaku wanita itu hanya bekerja sebagai manager cafe, tapi kenapa Grizo tidak memberitahuku rahasia sebesar ini" gumam Jean mulai menunduk perlahan.
Quirin mendengar apa yang dikatakan oleh Jean, ia berdecak kesal "ck, dasar bodoh, tentu saja dia tidak memberitahumu, karena dia sendiri tidak tau jika ibu adalah pemilik galeri yang cukup terkenal itu, dan juga anakmu yang bodoh itu justru tidak mengetahui bahwa ibunya sendiri telah menganiaya istri yang selama ini sudah membantunya dalam berbagai hal" ucap Quirin sambil mengepal tangannya dengan kuat.
Tiba-tiba terlintas dipikiran Jean "ba-bagaimana kau mengetahui semua ini?" tanya Jean sambil mendongakkan kepalanya.
Setelah mengingat suatu yang janggal, mata Jean melebar sempurna "apa benar ada Cctv di rumah ini?" gumam Jean masih tidak percaya.
"Kau mengklaim bahwa rumah ini adalah milikmu, tapi kau tidak tau ada begitu banyak Cctv dirumah ini, bukankah cukup menggelikan?, bahkan aku yang tidak punya kuasa apapun tau tentang seluruh rumah ini, tentu saja aku juga mengetahui rahasia besar yang telah kau sembunyikan selama bertahun-tahun" ucap Quirin sambil tersenyum smirk
Deg
Mata Jean membulat sempurna "apakah termasuk dengan ... " batin Jean
Jean menatap kearah Quirin "jangan-jangan ... kau!" ucap Jean ketakutan
Quirin menatap Jean dengan tajam "tentu saja aku juga mengetahui semua yang kau lakukan pada ibuku!" ucap Quirin yang sudah tidak bisa menahan tangannya lagi.
Quirin berdiri sambil menatap jean "kau bekerja sama dengan Calis untuk menyiksa ibuku, bahkan kau dengan sengaja memasukkan racun kedalam setiap makanan ibuku" lanjut Quirin lalu menendang tubuh Jean dengan kuat
Ughhhhh
__ADS_1
Jean kembali merintih kesakitan tapi Quirin tidak memperdulikannya.
Quirin mulai mengayunkan balok kayu itu di tangannya, tapi ketika ia bersiap memukul kembali, Jean justru mencoba menghentikan Quirin.
Jean yang melihat tindakan Quirin tidak tinggal diam, ia harus berusaha agar Quirin tidak menyiksanya lagi "tolong jangan lakukan itu" ucap Jean ketakutan sambil menggelengkan kepalanya. kini Jean semakin ketakutan dengan serangan bertubi-tubi yang di berikan oleh Quirin.
"Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak bertindak sok pintar di hadapanku, tapi kau tidak mendengarkannya, justru kau semakin berani menantang ku, padahal bukti nyata telah berada di depan mata dan kau juga mengabaikannya, lalu sekarang kau memohon padaku?, jangan mengira karena kau dalam usia tua, lalu aku mendengarkanmu begitu saja" ucap Quirin lalu mengayunkan kayu itu ketubuh Jean
Bukkkkk
Aarrrgghh
Cairan bening kembali mengalir di pipi Jean, tapi justru membuat Quirin semakin bersemangat untuk membuat jean semakin menderita "aku sudah katakan kalau kau akan segera terkena serangan jantung" ucap Quirin sambil menyeringai
Quirin tiada henti menyiksa fisik serta mental Jean, ia kembali menyalakan ponselnya dan menampilkannya kembali ke arah dinding.
Jean masih tertunduk menahan sakit, tapi begitu dirinya mendengar suara tawa Calis, kepala yang awalnya menunduk kini mendongak sempurna untuk melihat rekaman kedua yang diputar oleh Quirin.
***
Grizo membawa pulang Calis serta seorang bayi perempuan, lalu keesokan harinya ketika Grizo pergi keluar rumah, Wiliam yang masih seorang tukang kebun menghampiri Calis yang sedang duduk di sofa sambil menggendong Lura.
Wiliam memeluk pinggang Calis dengan mesra "kau sudah berhasil masuk kedalam rumah ini sayang, saat anak kita besar nanti, kita akan merebut semua harta keluarga ini dan memberikannya pada Lura" ucap Wiliam sambil mencium pipi Lura.
"Aku tidak mau hidup bergelantungan lagi, aku sangat senang semua rencana kita telah berhasil" ucap Calis sambil tersenyum lalu membalas pelukan Wiliam.
Keduanya tampak begitu mesra, bahkan mereka memamerkan kemesraan itu dihadapan Quirin yang masih berusia 4 tahun.
***
Jean tidak kuasa menahan amarahnya, dia berpikir Lura adalah keturunan dari Grizo dan menganggap Calis berasal dari keluarga kaya.
Tapi setelah melihat semua kenyataan, ia seakan tidak bisa bernafas dengan normal dan mengeluarkan air mata dengan deras.
Quirin sama sekali tidak perduli dengan Jean yang susah bernafas, ia hanya menonton Jean mengambil napas dan menghembuskannya berkali-kali.
Inilah yang selalu dinantikan oleh Quirin, menyerang dengan fakta yang tidak pernah mereka tau adalah hal yang paling efektif untuk membuat orang itu mati dalam penyesalan.
__ADS_1
Quirin tersenyum menyeringai "haha ... lucu sekali bukan?, ini lah fakta yang terkubur selama 20 tahun, kau lihat tadi?, bahkan mereka menodai mataku saat usiaku masih belia" tawa Quirin sambil memukul-mukul balok kayu itu di telapak tangannya.
Bersambung ...