
"Haha ... aku ingin sekali melihat wajah kesal Al, ini lah balasan yang dia terima karena sudah membuat Xia terbaring koma dirumah sakit" Quirin tertawa karena sudah berhasil mengerjai Al.
Vano merinding melihat Quirin tertawa lebar "kenapa bisa ada wanita seperti nona didunia ini?, aku bahkan tidak berpikir untuk memberikan hukuman pada tuan Al, tapi bagaimanapun juga, aku harus berterimakasih padanya karena amarahku sudah dilampiaskan walau bukan dengan tanganku sendiri" batin Vano
Vano mulai memberanikan diri untuk berterimakasih pada Quirin "nona, terimakasih sudah membantuku membalaskan perbuatannya pada Xia" ucap Vano sambil menoleh kearah Quirin.
"Oh, kau tau cara berterimakasih?, tapi ini belum ada apa-apanya, permainan kita masih terus berlanjut, jadi simpan saja ucapan terimakasih itu" ucap Quirin. "Ah ... bokongku sakit karena terlalu lama duduk di dalam mobil, kau turun lah, bawa wanita menyebalkan itu kesini"
Vano terkejut mendengar perintah Quirin "tapi, bagaimana aku harus memberinya penjelasan nona?" tanya Vano heran
"Cobalah berpikir dan semoga berhasil" ucap Quirin sambil menguap lalu menjatuhkan kepalanya pada stir mobil dan menutup matanya.
Vano merasa kesal karena diabaikan oleh Quirin "sepertinya nona juga mengerjai ku" batin Vano kesal
Setelah kepergian Vano, Quirin membuka sebelah matanya "kalian berdua harus mendapatkan hukuman yang setimpal. Aku tidak bisa menyentuh kalian secara langsung karena Zee pasti akan marah besar kepadaku, jadi aku berpikir menggunakan orang lain untuk memberi kalian pelajaran, dengan begitu beban di hatiku akan berkurang seiring berjalannya waktu" gumam Quirin lalu menutup matanya kembali.
Quirin bukan orang yang mudah memaafkan orang lain, ia juga orang yang tidak mudah bisa melupakan wajah orang-orang yang tidak menyukainya.
Jika orang yang tidak menyukainya melewati garis kesabarannya, maka Quirin akan membalas dengan berbagai cara, walau tidak dalam waktu dekat, ia pasti akan membalas perbuatan orang itu di lain waktu.
#Flashback On
Quirin memerintahkan Vano untuk menjaga Clamy, mereka mulai keluar dari gedung setelah memantapkan hati untuk menerobos kerumunan.
Saat orang-orang itu mulai mengelilingi Clamy, Quirin dengan sengaja memisahkan diri dari keduanya "ini balasan yang akan kau terima karena sudah menyia-nyiakan temanku" gumam Quirin tersenyum tipis.
Beberapa menit berlalu, Quirin dengan santai berdiri di samping mobilnya, ia melihat Vano di keroyok secara membabi-buta, namun mata Quirin tidak menunjukkan belas kasihan.
Setelah itu, Quirin melihat Vano keluar dari kerumunan, saat itu juga Quirin merubah wajahnya menjadi panik lalu menanyai keberadaan Clamy.
Quirin tidak menduga apa yang dialami Clamy jauh dari bayangannya, awalnya ia membayangkan Clamy hanya mengalami memar, tapi ternyata dugaannya salah, Clamy justru mendapatkan hukuman jauh melebihi dari ekspektasinya sehingga membuat Quirin tersenyum tipis.
__ADS_1
"Lumayan" batin Quirin
Saat mengantar Clamy kerumah sakit, Quirin melihat Clamy tengah tidak sadarkan diri akibat dari pengeroyokan itu.
"Vano, tolong kau saja yang menyetir,"
Vano mengangguk dan mulai bertukar kursi dengan Quirin. Sedangkan Quirin mengambil ponsel Clamy lalu memeriksa isi ponselnya.
Ia melihat pesan dengan nomor yang sama terus meneror ponsel Clamy.
Quirin mengambil ponselnya dan menyalin nomor tersebut, ia langsung menelepon nomor itu melalui ponsel miliknya.
Sebelum orang yang ada di seberang telepon berbicara, Quirin langsung mengatakan apa yang ingin dia katakan "aku berbaik hati memberimu sebuah informasi penting, wanita yang sedang kau cari akan di antar ke rumah sakit terdekat dari lokasi pemotretan"
Setelah mengatakan itu Quirin langsung menutup panggilannya tanpa menunggu jawaban dari orang diseberang sana.
Vano yang mendengar itu merasa tidak percaya, ia bahkan terkejut, karena dalam hal darurat Quirin masih bisa memikirkan langkah-langkah selanjutnya "kenapa nona menelponnya?, apa rencana nona?" tanya Vano penasaran.
#Flashback Off
Vano memasuki rumah sakit dengan tergesa-gesa "aku tidak ingin menjadi tumbal nona Quirin. Jadi, aku harus mengerjakan perintahnya dengan cepat" gumam Vano seraya melangkahkan kakinya dengan lebar.
Vano membuka pintu kamar Clamy dengan sekuat tenaga, orang yang ada di dalam begitu terkejut mendengar dobrakan pintu yang sangat kuat.
Clamy bahkan sangat terkejut orang yang tak terduga muncul di depan kamarnya "untuk apa kau kembali?" tanya Clamy dengan sinis.
"Kenapa bukan nona yang menjemputku?, jika itu nona pasti orang-orang rumah sakit akan menghormatiku" batin Clamy
"Nona menyuruhku untuk mengantarmu kerumah pribadi miliknya" ucap Vano dengan nafas tersengal-tengal.
Vano bahkan tidak memperdulikan wajah Clamy yang sudah di balut dengan perban. Ia justru tau itu adalah perbuatan dari wanita yang sudah di panggil oleh Quirin.
__ADS_1
"Aku tidak mau!" tolak Clamy dengan tegas.
"Sial!, aku tau nona sengaja mengerjai ku, sebelumnya dia pasti sudah memperkirakan ini akan terjadi, jika tidak, bagaimana mungkin nona menutup mata?" batin Vano
"Jangan memaksaku untuk menggunakan kekerasan, jika itu sampai terjadi maka kau tidak bisa menginjak tanah lagi." geram Vano seraya mengepalkan kedua tangannya.
Clamy tersenyum sinis, ia berpikir bahwa Vano tidak akan berani melakukan apapun padanya "lakukan saja jika kau berani!, aku taku kau pasti tidak ingin mengundang keramaian" gertak Clamy dengan menyunggingkan senyumnya.
Dor
Clamy terpaku ketika cairan infus mengenai tubuhnya. ia terkejut mendengar suara tembakan yang di lepas oleh Vano, Clamy yang awalnya terlihat sombong kini memucat seperti patung. Matanya yang jernih sudah mulai memerah seolah ingin menumpahkan cairan bening itu.
Vano tidak perduli dengan ekspresi yang di buat oleh Clamy, ia bahkan ingin sekali menembak wajah menyebalkan itu, tapi dirinya mengingat bahwa Quirin berpesan agar dirinya sendirilah yang akan menghancurkan Clamy.
"Kau sendiri tau, jika tanganku lurus maka kepalamu akan sama seperti infus itu" Vano berkata dengan wajah datar lalu mensejajarkan tangannya mengarah ke wajah Clamy.
Orang-orang mulai berkumpul ketika mendengar suara tembakan. Tidak ada yang bersimpati pada Clamy, bahkan sebaliknya, mereka mencemooh Clamy yang sedang ketakutan.
"Dia lagi, apa wanita sepertinya tidak bisa membuat kita damai?, aku yakin dia adalah wanita pembawa sial"
"Sepertinya tidak, aku setu dengan perkataan mu, dia juga sangat cocok diperlakukan dengan kasar"
"Lihatlah sekarang, dengan wajah seperti itu, dia pasti tidak bisa menggoda lelaki manapun, itu adalah ganjaran yang pantas dia dapatkan"
Hahahaha....
Lagi-lagi Clamy kembali di cemooh, air mata yang sempat tertahan kini mengalir dengan deras.
Vano tidak memperdulikan perkataan orang-orang itu "apa pilihanmu?" tanya Vano dengan datar.
"Baiklah" Clamy menjawab dengan air mata yang terus mengalir, ia bahkan tidak memiliki pilihan lain selain menerima tawaran Vano.
__ADS_1
Bersambung ...