
"Apa yang terjadi?" teriak Quiran dengan wajah panik, lalu ia berjongkok di hadapan Al dan ikut memegang tubuh Grizel yang sudah tak berdaya.
Quiran menerobos masuk dan menyingkirkan para media, ia berpura-pura terkejut serta panik. Pada saat yang bersamaan Quiran menoleh kearah Clamy dan langsung memasang senyum lebar khas seorang Quiran.
Clamy yang melihat itu terbayang akan Quirin yang sedari awal susah berdiri didepan pintu, tapi kenapa Quirin seolah-olah tidak tau apa yang telah terjadi dan sekarang wanita itu tengah tersenyum lebar padanya.
Clamy mencoba memutar kembali ingatannya, ia mengingat semua kejadian yang menimpa dirinya, setiap dirinya di timpa masalah, ia selalu melihat Quirin di waktu yang sama.
Clamy yang sudah mencerna semuanya langsung melebarkan kedua matanya "kau!, semua ini karena ulahmu!, pasti kau yang merencanakan semua ini!" teriak Clamy histeris di atas tempat tidur.
Tubuhnya sangat susah dikendalikan karena sebelumnya ia diserang secara brutal. Tapi saat ini, Clamy ingin memberikan Quirin pelajaran berusaha berdiri dan ia pun mencoba menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya.
Al yang melihat itu tidak tinggal diam "hentikan wanita gila itu!, jangan biarkan dia melukai orang lain!" teriak Al mencoba menyelamatkan Quiran.
Jika Al tau Quiran sengaja memancing kemarahan Clamy maka ekspresi apa yang harus ditunjukkan oleh Al?.
Beberapa orang maju dan mengikat kedua tangan Clamy. Mereka menghentikan pergerakan Clamy agar tidak membuat orang lain terluka.
Clamy terdiam mendengar perkataan Al, ia tidak menyangka orang yang dulu dicintainya telah mengatakan dirinya gila dihadapan semua orang.
"Apa yang kau lakukan Al?!, aku tau kau masih mencintaiku!, kau tidak mungkin berbuat seperti ini padaku!" teriak Clamy sambil menangis, ia masih tidak terima Al mengatakan hal yang begitu kejam padanya.
"Cih!, wanita menjijikkan!, kau sama sekali tidak pantas bersanding denganku!, aku bahkan menyesal telah mencintai orang yang tidak sepantasnya mendapatkan cinta!" balas Al dengan tatapan tajam serta mengeluarkan perkataan yang sangat menyakitkan.
Clamy terpaku mendengar penuturan Al, tapi ia yakin jika Al masih tidak berubah "kau tidak mengatakan itu dari hatimu!, aku tetap yakin bahwa kau masih mencintaiku!" teriak Clamy dengan rasa percaya diri dan mencoba tersenyum.
Tangan Al terkepal dengan kuat, ia sudah tidak tahan mendengar celotehan yang tidak berdasar dari Clamy "jangan bermimpi kau wanita ja*lang!, aku bahkan tidak ingin melihat wajahmu lagi!, kenapa kau harus kembali ke negara ini?, bukankah kau hidup mewah di Asia karena memiliki pria-pria kaya disisi mu?, apa kau lupa?, kau bahkan meninggalkanku seperti sampah yang tidak berharga setelah kau memasuki dunia model!" balas Al dengan emosi yang meluap-luap.
Al mengeluarkan isi hati yang sudah beberapa tahun ini tidak bisa di utarakan ke hadapan media. Semua lupn itu bahkan tidak sebanding dengan apa yang sudah dilakukan Al di masa lalu agar Clamy bisa memasuki dunia model.
Orang-orang yang berada disana dibuat terkejut dengan amarah yang di tunjukkan oleh Alvey, biasanya pria itu tampak tersenyum elegan dan berwibawa, mereka yang selalu meliput Al bahkan mengetahui sifat pria itu, tapi, untuk pertama kalinya mereka melihat kemarahan Al yang tidak terkontrol.
__ADS_1
Clamy mengingat kejadian-kejadian yang membuatnya meninggalkan Al, bahkan ia memberikan kata-kata makian pada Al, padahal saat itu Al berharap jika Clamy sudah memasuki dunia model, dia akan menjadi model yang jujur dan bersih dari skandal apapun. Tapi, semuanya tidak sesuai dengan harapan Al, ketika Clamy mulai terkenal, Clamy langsung mencampakkan pria itu begitu saja.
Melihat Clamy terdiam, Al tersenyum pahit dan menatapnya dengan tajam "kau sudah mengingatnya?, ku harap kau sudah mengingat semua perbuatanmu padaku, sudah cukup dulu kau memanfaatkan ku, jadi sekarang jangan bermimpi untuk menjadi seorang tuan putri lagi. karena perbuatanmu itu sangat menjijikkan, oh ya ... aku memberi sebuah rahasia, selama ini aku hanya menganggap mu sebagai parasit yang hidup dibawah ke kuasaanku" ucap Al sambil berdiri dan membopong tubuh Grizel yang sudah terkulai lemas.
Quiran tersenyum lalu ikut berdiri dan berbisik pada Al "Ini barulah pelajaran yang setimpal untukmu, ah ... aku meminta tolong untuk menyelamatkannya, serahkan semua urusan disini padaku. Selamat berjuang,"
Al yang mendengar ucapan Quiran mencoba menetralkan rasa amarahnya, ia merasa tidak percaya dengan perkataan Quiran, karena menurut Xeno dan Zee, Quiran bukanlah orang yang bisa mengatakan hal manis.
Al menoleh dan ia masih merasa ngeri melihat senyum yang di tampilkan Quiran dan dirinya belum terbiasa dengan keberadaan alter ego itu
"Alvey, jangan pergi!" teriak Clamy histeris
Al tidak memperdulikan teriakan itu, orang-orang yang di dalam juga sama, mereka menggangu Clamy orang gila karena berteriak terus menerus.
Setelah melihat kepergian Al, Quiran melangkahkan kakinya kearah reporter "kalian bisa menyebarkannya berita ini sesuka hati kalian, jadi silahkan sekarang tinggalkan rumahku" usir Quiran dengan tersenyum.
Semua para reporter bergidik ngeri, mereka dengan segera keluar dari kamar itu serta meninggalkan Quiran dan Clamy di dalam kamar.
"Kau!, wanita jahat!, kenapa kau lakukan ini padaku!"
"Sampai kapan kau akan berdiri disitu?, apa kau hanya menonton saja?, kau tidak ingin membalaskan dendam pacarmu padanya?" tanya Quiran tanpa menoleh kebelakang
Ternyata Vano tengah menunggu diluar kamar, ia bersandar dan sudah mendengarkan semua perkataan yang dilontarkan oleh semua orang.
"Kau mengizinkannya nona?" tanya Vano dengan datar dan terus membunyikan seluruh jari-jari tangannya.
Vano sedikit merasa asing dengan aura yang dikeluarkan oleh Quiran, biasanya, setiap Quiran muncul, Vano tidak pernah ada disaat yang bersamaan. Ia selalu muncul ketika Quiran telah pergi sehingga membuatnya sedikit asing dengan aura yang di keluarkan oleh Quiran.
"Dari auranya, dia seperti bukan nona yang aku kenal, tapi, apa itu penting?, yang terpenting bagiku saat ini adalah membalaskan perbuatannya pada Xia" batin Vano
"Mau apa kau!" teriak Clamy ketakutan.
__ADS_1
Vano melangkah cepat dan langsung memukul pipi Clamy dengan sangat kuat, Clamy yang mendapatkan pukulan itu merasa terkejut dan perlahan-lahan menoleh kearah Vano.
"Kau memukulku?!, kau itu seorang pria!, kau tidak tau malunya memukul seorang wanita?, pria macam apa yang tidak menghormati wanita?" teriak Clamy
Vano tersenyum tipis "aku menghormati wanita yang pantas dihormati!, bukan menghormati wanita yang menyebabkan wanita lain menderita, wanita seperti itu tidak pantas mendapatkan rasa hormat" ucap Vano dengan wajah datar.
"A-apa maksudmu?!"
Quiran tertawa lebar mendengar perkataan Clamy, ia seperti orang yang polos tapi nyatanya wanita seperti Clamy dapat menghancurkan siapa saja dengan perkataan polosnya.
"Hahaha ... oh, nona Clamy yang terhormat, kau tidak lupa kan sudah menabrak temanku itu?, apa otakmu sudah rusak karena aku menyuguhkan kemewahan tanpa batas?" tanya Quiran dengan nada suara yang menakutkan.
Quiran melihat Clamy terpaku sambil menatapnya "apa jangan-jangan perkataanku benar?, kau bahkan masih bisa berpikiran kotor setelah aku memberimu rumah ini, aku tidak tau harus memberikan julukan untuk wanita seperti mu, tapi bukankah kau sudah mendapatkannya?, wanita tukang selingkuh, wanita menjijikkan, ja*Lang dan sebagainya" ucap Quiran sambil menghitung dengan jari tangan.
"Cukup!, aku sudah curiga dari awal semua ini memang perbuatanmu!" teriak Clamy dengan kesal.
Clamy tidak pernah lagi berbicara dengan nada rendah, ia terus berteriak karena segala emosi seakan-akan ingin keluar dan meledak.
"Kau tidak bermaksud membiarkan dia terus berteriak bukan?" tanya Quiran dengan senyuman khas yang bisa membuat siapa saja merinding.
Vano yang mendengar itu langsung memukul pipi lainnya, kedua pipi Clamy terlihat sudah memerah dan perlahan terlihat mulai membengkak.
"Sudahkah kau puas menyiksaku?!, sekarang biarkan aku pergi!"
Clamy dengan susah payah menahan rasa sakit di kedua pipinya, ia berpikir pukulan itu adalah yang terakhir, tapi siapa sangka, justru pukulan itu adalah awal dari penderitaannya.
"Jangan berpikir ini adalah akhir dari permainan. Apa kau tidak tau aku sudah sangat lama menunggu kesempatan ini?, pasti kau tidak berpikir sampai sana, karena selama ini kau berpikir aku adalah nona muda yang sangat polos dan selalu menuruti semua yang kau inginkan, haha .... dasar bodoh, ingin sekali ku hancurkan kepalamu itu agar terus tidak berpikir kotor. Dan ya ... tentu saja aku akan mengambil kembali apa yang telah aku berikan padamu"
Clamy yang mendengar itu merasa sangat panas, ia tidak bisa tinggal diam, karena semua yang di berikan Quirin susah menjadi miliknya "dasar keparat!, wanita licik!, jangan menyentuh barang-barangku!"
Bersambung ...
__ADS_1