Another Person Life

Another Person Life
Kau Sudah Bisa Mengejarnya


__ADS_3

Zee masih terlihat sangat kesal dan marah, ia pun menatap Gilma dengan tajam, lalu Zee menusuk dada dan kaki Gilma secara berulang kali.


Orang-orang hanya bisa diam melihat kemarahan Zee, mereka juga tau bahwa ketika Gilan tiada, Zee tampak begitu menyesal dan frustasi.


Jadi mereka juga mengetahui bahwa saat ini Zee tengah melampiaskan amarahnya pada tubuh yang sudah tak bernyawa itu.


Zee bahkan tidak berhenti sampai di situ, ia juga menusuk kedua mata, merobek mulut dan menusuk kerongkongan Gilma melalui mulutnya.


Leva, dan yang lainnya bergidik ngeri melihat kelakuan Zee yang sangat brutal, biasanya, mereka hanya melihat Zee menembak dan menusuk, tapi sekarang Zee sedikit mirip dengan seseorang yang mereka takuti.


"Sekarang ini Zee bahkan sudah seperti Quiran, kejam dan menakutkan" batin Xeno sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Tidak sampai di situ, Zee bahkan menendang tubuh Gilma sampai terjatuh ke lantai, lalau ia menendangnya terus menerus.


Setelah amarahnya mulai mereda, Zee terjatuh di samping tempat tidur itu, tampak tersengal-sengal dan Zee mulai menutup matanya secara perlahan.


"Zee!"


"Tuan muda!"

__ADS_1


Semua orang terkejut melihat Zee menutup mata, merekapun berlari menghampiri Zee dan menginjak-injak jasad Gilma.


Mereka pun langsung mengangkat tubuh Zee dan membawanya ke ruangan VIP.


Semua orang tengah panik melihat Zee terbaring di kasur rumah sakit, sedangkan Leva langsung menghubungi suaminya agar segera datang ke Singapura.


Seminggu telah berlalu ~


Mereka mulai kembali hidup seperti biasa, sedangkan Zee dan Quirin sampai sekarang belum kembali sadar.


Alpha yang sudah pulih kini memilih untuk tetap setia menunggu Quirin di dalam ruangannya, sedangkan Theo memilih untuk berjaga di depan pintu.


Sedangkan dari pihak Zee, Al memilih untuk merawat Zee secara pribadi, Xeno sementara mengambil alih pekerjaan Zee, serta Arnius, Gavin berjaga di depan pintu kamar Zee, dan Vano, Staren berusaha mencari keberadaan Xura.


Leva duduk di samping tempat tidur Zee, ia terus menatap putranya itu "Pa, bagaimana dengan Zee?, sudah seminggu berlalu, tapi dia bahkan masih menutup matanya." ucap Leva sambil menitikkan air mata.


Gio menepuk pundak Leva dan menenangkannya "papa yakin sebentar lagi dia akan sadar" ucap Gio sambil menghela nafas kasar.


Saat Gio mendapat kabar dari istrinya, ia buru-buru terbang dari inggris ke Singapura menggunakan pesawat pribadi.

__ADS_1


Sesampainya di rumah sakit, mereka semua mulai menceritakan awal mula pertemuan Zee dengan Xura, lalu mereka juga tidak lupa menceritakan tentang Gilma.


Awalnya Gio tidak percaya tapi karena perkataan mereka semua sama maka mau tidak mau Gio harus mempercayainya.


"Dasar anak bodoh, saat itu papa bahkan sudah memperingati mu untuk tidak terlalu merasa bersalah, tapi kau orang yang terlalu keras kepala, sekarang apa yang kau dapatkan?, Vano dan yang lain bahkan tidak dapat menemukan jejak wanita itu" batin Gio sambil melihat putranya yang tengah terbaring lemah.


Lalu tiba-tiba saja, mata yang tertutup itu kini mulai terbuka perlahan "mama" ucap Zee yang masih belum sepenuhnya sadar.


Leva terkejut dan ia pun langsung berdiri "Zee, kau sudah sadar?," ucap Leva sambil memegang tangan Zee.


Ketika mata Zee terbuka dengan sempurna, ia pun melirik ke kanan dan ke kiri, tapi ia tidak melihat siapapun selain kedua orang tuanya "kau mencari Xura?," ucap Leva yang sangat mengerti perasaannya.


Lalu Zee mulai menatap Leva "selama seminggu ini, kami sudah mencarinya, tapi kami tidak menemukan jejaknya" jelas Leva yang sedikit sedih melihat anaknya mulai terlihat murung.


"Satu minggu?" tanya Zee terkejut.


"Ya ... sudah satu Minggu kau tidak sadarkan diri, dan sudah satu Minggu juga kami mencari keberadaan Xura, tapi semua itu sia-sia" jelas Leva yang semakin tidak tega melihat anaknya murung.


"Dia telah meninggalkanku" ucap Zee sambil menutup matanya dan menimpa kedua matanya dengan satu tangan.

__ADS_1


"Sepertinya ini bukan lah dirimu nak, kemana perginya Zee kami yang pintar dan mendominasi?, bukankah semua ini sudah selesai?, jadi kau sudah bisa mengejarnya tanpa ada yang mengekang mu, nak" ucap Gio sambil menepuk pundak Zee.


Bersambung ...


__ADS_2