
Quirin mengangguk "Baiklah, ayo kita berangkat sekarang." ucap Quirin sambil berjalan keluar.
"Jangan lupa untuk mengabari aku, jika tidak, maka aku akan menyusul mu ke Singapura" ucap Xia dengan keras.
"Baiklah, Baiklah, dasar cerewet" ucap Quirin sambil melambaikan tangannya keatas tanpa menoleh kebelakang.
Quirin keluar, di ikuti oleh Zee dan Xeno, sedangkan Gavin masih dalam mode tercengang.
Tapi seketika saja, ia mengelus dada dan bersyukur karena tidak membereskan mayat-mayat itu.
"Berurusan dengan mayat lagi?, sungguh, kali ini aku sangat beruntung bisa berjaga di sini. Aku juga yakin bahwa bentuk mayat-mayat itu pasti sangat mengerikan" batin Gavin.
Sedangkan Rea kini menatap sedih melihat punggung Xeno yang sudah tak tampak lagi.
"Sudah lah, tidak perlu bersedih Rea, papa yakin kalian akan cepat bertemu" ucap Jay sambil menepuk punggung Rea.
Rea sendiri tersentak kaget, "apa maksud papa?, aku sungguh tidak mengerti" ucap Rea sambil membuang wajahnya ke sembarang arah.
Xia yang sedari tadi melihat interaksi mereka pun merasa terkejut. "Kamu menyukai Xeno?," tanya Xia dengan suara yang cukup keras.
Rea terkejut karena Xia bertanya dengan suara yang cukup keras "Tidak!" bantah Rea dengan cepat.
Jawaban yang di berikan oleh Rea membuat Xia mengernyitkan dahinya, saat itu juga otaknya mulai bekerja.
"Haha ... benar, kamu pasti menyukai pria es itu. bahkan tuan Zee dan Xeno terlihat memiliki sifat yang sama. Bagaimana mungkin kalian kakak adik menyukai orang seperti mereka?" celetuk Xia sambil tertawa keras.
Wajah Rea terlihat memerah, walau sudah membantah, tapi reaksi yang di berikan Rea mampu membuat Xia menebak isi hatinya.
"Haha ... sungguh menarik, apa dalam keluarga kalian, semua wanita memang menyukai pria dingin?" tanya Xia lagi dalam tawanya.
"Berhentilah tertawa kak, ternyata kau orang yang sangat menyebalkan" ucap Rea yang sudah terlihat kesal.
Seketika, tawa Xia terhenti dan ia mulai menatap kearah Rea. "Aku tidak seperti itu, tapi jika kau memang ingin bersamanya maka yasudah, aku tidak akan berkomentar apapun lagi" ucap Xia yang sedari tadi menahan tawanya.
"Kau tidak berkomentar kak, tapi kau menertawakan ku, dan itu sangat menyebalkan" ucap Rea yang sudah terlihat kesal.
"Baiklah, baiklah, maafkan aku" ucap Xia sambil menghapus air matanya yang berada di ujung mata.
Jay yang melihat interaksi keduanya pun hanya bisa menggelengkan kepala dengan pelan.
__ADS_1
"Nak, kau sebaiknya beristirahat saja, kami akan menjagamu di luar" ucap Jay sambil tersenyum.
Xia yang mendengar perkataan Jay seketika menegang, ia bahkan lupa bahwa Jay berada di antara mereka.
"Eh ... baiklah paman" ucap Xia canggung.
Rea dan Jay keluar dari ruangan Xia, Gavin yang ada di luar langsung membungkukkan tubuhnya pada Jay dan Rea.
Saat keduanya berada di luar, Gavin mempersilahkan kedua orang itu masuk. Ia juga mengenal kedua orang itu tapi tidak tau ada urusan apa mereka mengunjungi Xia.
****
Zee, Xeno dan Quirin telah sampai di bandara, mereka langsung menaiki jet pribadi milik Zee.
"Bagaimana kau bisa menyiapkan semuanya dengan sangat cepat?," tanya Quirin dengan binggung.
"Kau lupa apa pekerjaan Xeno?" tanya Zee sambil melangkah masuk kedalam pesawat.
"Kapan dia melakukannya?, bukankah dia selalu berdiri di samping kita?" tanya Quirin yang berada di belakang Zee dan sambil melihat punggungnya dari belakang.
"Nona tidak perlu memikirkannya karena ini memang tugas ku, dan nona tinggal menikmati nya saja" ucap Xeno yang berada di belakang Quirin.
Ia bahkan mengingat bagaimana Yvon membagi dirinya menjadi dua, dan sepertinya sampai sekarang, orang-orang tidak mengetahui identitas Yvon yang sebenarnya.
"Mereka berdua memang mirip. Aku tidak sabar ingin bertemu dengan nya" batin Quirin tersenyum tipis.
Setelah melangkah sampai di ujung tangga, Zee menepikan dirinya dan mempersilahkan Quirin berjalan di depannya.
Quirin yang melihat itu mengernyitkan dahinya, ia tidak menyangka bahwa Zee bisa berlaku manis seperti itu.
"Dari mana dia mempelajari semua sikap seperti itu?" batin Quirin terheran.
Di badan jet itu terdapat nama tengah Zee, yaitu Faresta.
Di dalam terlihat fasilitas grand entry menyapa penumpang, posisi sempurna untuk disambut oleh para kru.
Namun Quirin tidak melihat salah satu kru, ia benar-benar tampak heran, tapi, Quirin tidak bisa berkomentar apapun.
Berbatasan dengan area resepsionis terdapat meja dan kursi custom menjadi ruang makan.
__ADS_1
Quirin melangkah lebih dalam melihat, di bagian paling belakang adalah kamar utama. Ini benar-benar membutuhkan kemewahan ke tingkat berikutnya. Suite ini memiliki tempat tidur king dan ruang ganti yang sangat besar, lengkap dengan lantai kayu keras ber pemanas.
Di luar lounge utama adalah ruang media. Di sini, di area cekung, para tamu akan menemukan monitor besar dan melengkung dan tempat duduk unik dengan sandaran tinggi-rendah untuk kenyamanan, baik mereka melihat blockbuster terbaru atau presentasi perusahaan. Di bagian belakang ruang media, terdapat bar untuk hiburan dan bersosialisasi.
Di sampingnya terdapat kamar tidur adalah kamar mandi utama. Kamar ini memiliki lantai marmer ber pemanas, meja rias marmer hitam dengan wastafel untuk pria dan wanita, dan penghangat handuk.
Namun puncak kemuliaan yang sesungguhnya di sini adalah pancuran hujan yang sangat besar, bagian tengah yang layak untuk anggaran miliarder mana pun.
"Wow!, ini benar-benar luar biasa" ucap Quirin dengan takjub.
Zee yang melangkah perlahan terlihat tersenyum puas melihat Quirin sangat bersemangat.
Tapi dalam sekejap, Zee teringat bahwa wanita di depannya memiliki identitas lain "aku lupa bahwa identitas keluarganya tidak bisa di anggap enteng" batin Zee menghela nafas pelan.
Namun saat Quirin berbalik, Zee mengubah ekspresinya menjadi datar.
"Kau pemilik dari jet ini?" tanya Quirin dengan tersenyum sumringah.
"Apa sebelum naik ke sini, kau tidak membaca nama jet ini?" tanya Zee dengan mengernyitkan dahinya.
"Tidak" jawab Quirin dengan menghilangkan senyuman di wajahnya.
"Pantas saja kau tidak mengetahuinya" ucap Zee dengan berbalik lalu berjalan keluar dan duduk di sofa di ruang media.
Quirin yang melihat Zee berbalik, juga mengikutinya dari belakang.
"Kau ingin menonton sesuatu?," tanya Zee pada Quirin.
"Tidak, aku ingin menangkan pikiran saja" ucap Quirin yang duduk si sofa single yang ada di samping Zee.
"Jika kita sudah sampai disana, apa yang akan kau lakukan pertama kali?" tanya Zee sambil menatap Quirin.
Quirin yang mendengar perkataan Zee hanya bisa menghela nafas pelan. "Entah lah, aku juga tidak tau" jawab Quirin sambil menaikkan kedua bahunya.
"Setelah kita sampai, sebaiknya kau beristirahat terlebih dahulu untuk memulihkan tenaga" usul Zee.
Bersambung ...
Fasilitas Supermewah Jet Miliarder Boeing 777X,
__ADS_1