
Mereka semua melihat kepergian Xura, setelah Xura pergi, mata semua orang kini menatap Gilma.
"Apa mulutmu itu tidak bisa kau gunakan dengan semestinya?, kami semua berada di sini karena masih memiliki rasa khawatir padamu, dan dia tipe orang yang sangat tidak suka di ganggu ketika tidur, karena telah mendengar suara teriakan mu, dia masih memiliki hati untuk datang kesini. Tapi apa yang sudah kau lakukan?, kau menuduhnya begitu saja?, ... sepertinya kau sudah tidak ketakutan lagi, jadi aku pamit undur diri" ucap Al sambil membalikkan tubuhnya dan keluar dari kamar Gilma.
Ketika berbalik, Al tersenyum tipis, ia yakin bahwa semua itu pasti perbuatan Xura, karena yang bisa melakukan itu dengan rapi hanya Xura seorang"kau melakukannya dengan sangat baik, nona" batin Al
"Aku juga akan pergi, aku tidak tidur semalaman karena mengerjakan banyak laporan, bibi aku paman undur diri" ucap Xeno sambil menguap dan berjalan dengan mata yang sesekali terbuka dan tertutup.
Gilma terkejut ketika semua orang pergi, ia tidak menyangka bahwa mereka semua begitu tega meninggalkan dirinya.
Padahal Ia di teror dengan orang yang tidak di kenal, tapi kenapa mereka semua semua begitu tidak perduli?, itulah yang ada di dalam pikiran Gilma.
"Bibi, kakak Zee, apaa kalian akan pergi seperti mereka?" tanya Gilma dengan cairan bening yang mulai menetes.
"Nak, ini bukan apa-apa, selama dia tidak menyakitimu, kau akan aman berada disini, jadi kau tetaplah berada di kamar ini Gilma, bibi dan Zee akan pergi memanggil anak-anak untuk membersihkan kamarmu" ucap Leva sambil mendekati Gilma dan Mengelus pucuk kepalanya.
Gilma membenarkan perkataan Leva, ia pun turut mendengarkan nasihat Leva "Baiklah bibi" ucap Gilma sambil mengangguk dan memeluk lututnya.
Gilma menatap kearah Zee, ia melihat Zee seperti tidak perduli dengannya "ada apa dengan kakak Zee?, biasanya dia akan duduk di sampingku, tapi sekarang kenapa dia seolah tidak memperdulikan ku lagi?" batin Gilma.
"Kak ... " ucapan Gilma terhenti ketika Leva langsung memotong pembicaraannya.
Leva tidak akan membiarkan anaknya menemani parasit itu, ia pun dengan cepat langsung memotong perkataan Gilma "Zee, ayo cepat keluar, biarkan Gilma beristirahat" ucap Leva sambil menarik tangan Zee untuk segera keluar dari kamar Gilma.
__ADS_1
Setelah keluar, Leva langsung memanggil Vano dan yang lainnya, mereka pun di perintahkan untuk membersihkan kamar Gilma yang sudah berantakan.
Keempatnya pun masuk, mereka terkejut melihat burung yang menempel didinding dengan sebuah anak panah yang tertancap di perutnya.
Mereka juga melihat semua tulisan itu, seketika saja Vano mengingat perkataan Xura, "nona, jadi ini maksud dari perkataanmu?, kau memang cerdas nona" batin Vano sambil tersenyum tipis dan mencabut anak panah itu.
Lalu Vano mencoba mengatur ekspresi wajahnya, ia pun langsung membuah bangkai burung itu dan membersihkan darah yang ada di didinding itu.
Gilma hanya terdiam sambil memeluk kedua lututnya, ia melihat keempat orang itu bekerja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Apa kalian tidak terkejut lihat hal ini?" tanya Gilma dengan nada rendah.
"Tidak!" jawab Vano dengan tegas.
Vano menghentikan tangannya, sama dengan Gavin, Arnius dan Staren, tangan mereka juga ikut berhenti ketika Gilma mengucapkan kata-kata yang tidak semestinya.
"Jangan besar kepala Gilma, dia itu pacarku, aku sangat tau karakternya, dia bukan orang yang bisa membuat hal mengerikan seperti ini" ucap Vano sambil melirik kearah Gilma.
Staren, Gavin dan Arnius sudah mengetahui hal itu dari Vano, ia menceritakan itu agar mereka semua dapat membantu Xura berakting.
"Gilma, kami menghormatimu karena tuan muda Zee, jadi berhentilah untuk membuat kekacauan, lagipula dia adalah pacar Vano, jika kau tidak senang maka kau bisa keluar dari mansion ini" ucap Gavin sambil melirik kearah Gilma.
Staren dan Gavin hanya melirik Gilma saja, terus mereka pun langsung melanjutkan pekerjaan mereka.
__ADS_1
Gilma tercengang karena mereka semua tampak sangat melindungi Xura, padahal sudah bertahun-tahun Gilma ingin mengambil hati mereka semua, tapi gilma terus mengalami kegagalan, bahkan dirinya hanya mendapat hinaan dari Vano, Gavin Arnius dan Staren.
Ketika selesai membersihkan tempat itu, mereka juga keluar tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Kenapa wanita itu sangat mudah mendapatkan hati mereka dan sedangkan aku tidak?, apa wanita itu telah mencuci otak mereka semua?" gumam Gilma dengan menatap kepergian keempat pria itu.
Xura melihat cctv di kamar Gilma, ia melihat Gilma berusaha membuat nama baiknya tersemat, tapi Vano dan lainnya tidak menanggapi itu, justru mereka semua membela Xura dengan kata-kata manis.
"Kau harus mengetahui tempatmu sendiri, parasit sepertimu tidak ada tempat di keluarga kaya manapun" gumam Xura dengan santai sambil menonton Gilma yang sedang bergumam sendirian.
Faktanya, semua itu memanglah pekerjaan Xura, malam itu, ia tidak tidur dan memilih untuk berjalan-jalan di taman, namun ia menemukan seekor burung yang telah mati di bawah pohon, lalu Xura memiliki ide yang sangat bagus.
Ia membelah perut burung itu lalu memasukkan darahnya kesebuah botol, setelah itu Xura langsung pergi menyelinap masuk kedalam kamar Gilma melalui jendela.
Xura menyemprotkan darah itu dan menulis kata-kata mutiara, setelah selesai Xura masuk kedalam mansion dan mencari anak panah, ia pun keluar lalu memanjat pohon untuk membuat perangkap serta sebuah tali yang berhubungan dengan pergerakan Gilma.
Tali itu di pasang di bawah bantal Gilma,
Jadi, ketika Gilma bergerak bangun maka burung yang sudah mati itu otomatis akan terpanah dan seolah seseorang telah memangsanya secara langsung.
Sebenarnya Xura hanya mengandalkan keberuntungan saja, tapi tidak di sangka, keberuntungan telah berada di pihaknya dan semua itu berjalan dengan sangat lancar.
"Ini bukanlah apa-apa, karena orang seperti mu memang harus mendapatkan teror yang bisa memacu kerja jantung" gumam Xura sambil tersenyum smirk
__ADS_1
Bersambung ...