
Semuanya telah melupakan keberadaan Esme, ia tengah meringkuk dengan darah yang menetes dengan deras.
"Sakit" lirih Esme dengan berderai air mata.
Alica yang hendak melangkah, mendengar rintihan tersebut. Ia menoleh kebelakang dan melihat Esme yang masih di lantai.
Alica berlari kearah Esme, ia pun merasa kasihan dengan kondisi Esme yang bisa dikatakan cukup memprihatinkan.
Alica pun berjongkok, ia menatap Al yang sedang berdiri di dekat sofa "tuan, tolong bantu dia" pinta Esme dengan memohon.
Al menghela nafas pelan, ia pun dengan cepat mengeluarkan ponsel dan menghubungi penjaga Felix untuk datang dan bertugas mengantar Esme kerumah sakit.
Padahal, tiga Felix adalah menjaga mansion, tapi Al memanggilnya karena ia percaya pada pria itu. keempat pengawal kepercayaan mereka telah mendapat tugas masing-masing, dan ia tidak bisa memanggil Gavin yang sedang menjaga kamar Xia.
Tidak butuh waktu yang lama, penjaga Felix datang "apa ad yang bisa saya bantu tuan?" tanya Felix.
"Kau bantu ku membawanya kerumah sakit, lalu jangan lupa untuk membayar rumah sakit itu, setelah itu kau bisa meninggalkannya, karena mulai sekarang dia tidak akan berkerja di mansion Zee lagi" jelas Al tanpa menoleh kearah Esme, ia hanya menunjuk dengan jari saja.
Mata Felix kini tertuju pada Alica dan Esme. Ia bahkan baru menyadari kondisi di bawah lantai itu.
Pecahan kaca dengan campuran darah membuat Felix bergidik ngeri. Ia tidak berniat untuk bertanya dan hanya membungkam mulut nya saja.
Felix mengangguk dan mulai mengangkat tubuh Esme, ketika Felix mengangkat tangan Esme, wanita itu langsung berteriak keras.
"Arghhhh"
Sontak saja hal itu membuat Felix terkejut dan membuat pria itu melepas tangan Esme.
"A-ada apa?, aku tidak melakukan apapun padamu" ujar Felix dengan gugup.
Felix gugup karena mendengar teriakan Esme, padahal dirinya merasa tidak melukai apapun pada Esme.
"Ja-jangan memegang tanganku, kau bisa membantuku memegang tangan yang lainnya" ucap Esme dengan pelan sambil melihat kearah Felix.
__ADS_1
Felix bahkan lebih terkejut melihat kondisi wajah Esme. "ba-baiklah" ucap Felix gugup.
Pasalnya wajah Esme terlihat sangat menyeramkan melebihi pesta Helloween. "ada apa dengannya?, kenapa wajahnya seperti itu?," batin Felix
tanda tanya besar muncul di benak Felix tapi ia bahkan tidak berani membuka mulutnya itu, ketika Felix melirik kearah Al, pria itu tengah menatap mereka dengan datar.
"Felix, tolong bantu dia," ucap Alica yang merasa kasihan pada Esme.
Felix pun menatap wanita yang tengah menatap Esme dengan kasihan. "Baik, Alica" jawab Felix dan memapah tubuh Esme keluar dari mansion.
Melihat di sekelilingnya cukup berantakan, Al pun melirik kearah Alica yang sedang menatap kepergian Esme.
"Sepertinya tugasmu semakin bertambah, Alica" ejek Al.
Alica tersentak kaget "Tuan, berhentilah mengejek ku, aku bisa saja melaporkan perbuatan mu pada nona Quirin" balas Alica dengan melirik kearah Al.
Seketika saja, Al terdiam dan tidak berniat untuk membalas perkataan yang sangat di takuti nya itu.
Setelah Alica berkutat di dapur, ia menyajikan bubur itu di dalam mangkuk dan meletakkan segelas air di atas nakas.
Alica membawanya keatas dan ia langsung memasuki kamar Grizo, sedangkan Max berdiri di sisi tempat tidur Grizo.
"Paman, makan lah bubur ini, tapi sebelum itu, bisakah paman memberitahuku diaman letak kamar tamu?, tuan muda Al ingin beristirahat tapi dia justru lupa bertanya pada paman." ucap Alica sambil meletakkan nakas itu di atas meja yang ada di samping tempat tidur Grizo.
"Ah itu ... di ujung jalan terdapat beberapa kamar, tuan muda bisa menggunakan salah satunya" ucap Grizo dengan lembut.
Ia sedikit terharu karena Alica berbicara sopan pada nya, Grizo teringat, dulu Quirin pernah bertingkah lembur padanya, namun Grizo dengan santainya justru marah pada anaknya itu.
Grizo ingin menangis tapi ia mencoba menahan cairan bening itu agar tidak tumpah di depan Alica.
Max yang berdiri di seberang bisa melihat bahwa Grizo menatap Alica dengan rasa penyesalan.
"Dia pasti teringat pada nona Quirin" batin Max yang sedikit merasa kasihan.
__ADS_1
Melihat itu, max berpikir untuk tidak membuat Grizo kepikiran "Alica, pergilah dan tunjukan kamar pada tuan muda" ucap Max.
Max mengusir Alica dengan cara halus, ia tidak ingin pasien Al jatuh kembali, yang ada di pikiran Max adalah menjaga Grizo.
"Tidak boleh membiarkan dia sedih, karena penyakitnya bisa kambuh kapan saja, dan jika dia kambuh, maka nona Quirin atau Quiran yang sangat menyeramkan itu bisa membunuh ku kapan pun mereka mau" batin Max menggigil.
Alica yang mendengar perintah itu pun mengangguk dan keluar dari kamar itu. Walau majikan Alica yang sebenarnya adalah Zee, tapi kedua tuan muda yang berada di sisi Alica adalah teman dari Zee, jadi Alica harus menuruti perintah mereka semua.
Alica bahkan tidak takut jika dirinya tinggal bersama kedua tuan muda itu, ia yang sudah lama berkerja di mansion Zee memang sudah mengenal sifat mereka, dan semuanya selalu memperlakukan Alica dengan baik, karena hal itu juga yang membuat Alica tidak takut pada mereka.
Sedangkan di dalam perjalanan, mereka semua tengah mengendarai mobil degan saling mengejar satu sama lain.
"Bawa aku kerumah sakit, Xia masih berada di sana" ucap Quirin dengan nada yang tampak tak bersemangat.
"Kenapa?, dan sepertinya kau tidak terlihat enang" ucap Zee yang masih menyetir.
"Bukankah aku harus berpamitan sebelum berangkat ke Singapura?, dan aku sedikit sedih meninggalkan ayah sendirian di mansion" ucap Quirin dengan menghela nafas pelan.
"Tenang saja, Alica, Max dan Al sangat bisa di andalkan, mereka akan merawat paman dengan sangat baik, kau tidak perlu merasa khawatir" jelas Zee yang sesekali melirik kearah Quirin.
Mau bagaimanapun reaksi tubuh itu tampak terlihat gelisah, walau jiwa Xura yang ada di dalam tubuh Quirin, tapi reaksi tubuh Quirin tidak bisa berbohong.
Reaksi itu seolah tidak ingin meninggalkan Eropa, namun Xura yang ada di dalam tubuh Quirin mencoba menguatkan hatinya agar bisa terlepas dari rasa gelisah itu.
Di belakang mobil Zee terdapat mobil Jay dan Rea, sedangkan di belakang mobil mereka terdapat mobil Xeno yang tengah mengikuti kedua mobil yang ada di depannya.
Setelah sampai di rumah sakit, Gavin terkejut tidak melihat ketiga temannya itu "bos?, di mana yang lainnya?" tanya Gavin yang sedikit penasaran.
"Bertugas membersihkan Mayat" jawab Xeno dengan cepat.
Zee, Quirin dan Xeno langsung masuk kedalam ruangan tanpa melihat ekspresi Gavin yang sedang tercengang.
Bersambung ...
__ADS_1