
Sambil melihat laporan keuangan itu, Cassi memanggil sekretarisnya yang bernama Fayre Yvon, saat Fay datang mendekat Cassi berteriak
"Siapa yang membuat laporan ini"?
"Bukan saya bu, itu bagian divisi keuangan bu" ucap Fay gemetar
"Panggil semua karyawan divisi keuangan?" ucap Cassi geram.
Fay memanggil karyawan divisi keuangan untuk menghadap CEO baru mereka
"Siapa orang yang membuat laporan ini?!" tanya Cassi dengan melempar laporan itu
“Apa saja yang sudah kalian lakukan selama bekerja disini!!” Bentak Cassi kepada seluruh karyawan yang baru masuk keruangannya.
Semua karyawan kaget setengah mati menerima bentakan keras dari Cassi.
“Kalian ambil laporan itu dan perhatikan baik-baik, banyak sekali kesalahan di dalam laporan itu! Apa aku menggaji kalian untuk membuat kesalahan?!” masih dengan amarah yang memuncak.
Karyawan mengambil laporan dan membacanya, mereka membelalakkan mata melihat kerugian sebanyak itu, seketika suasana kantor hening
Keheningan membuat Cassi buka suara lagi, “Cepat jawab, siapa yang membuat laporan itu, Kenapa kerugian perusahaan sebanyak itu?!” tanya Cassi dengan berteriak
Semua karyawan mulai gemetar dan mereka melirik kanan dan kiri, di sela-sela itu ada satu karyawan yang angkat bicara.
"Saya yang membuat laporan itu bu" Jawab salah satu karyawan bernama
"Apa kamu buta hah?" tanya Cassi berteriak
"Maaf bu, saya menulis sesuai apa yang ibu perintahkan" ucap karyawan itu
"Hah? Kapan aku melakukan itu?" tanya Cassi sambil berteriak
"Saat ibu bersama pak Kai, bahkan ibu sudah menandatangani laporannya" ucap karyawan gemetar
"Apa aku melakukan itu? Sial!" batin Cassi
"Terus kenapa disini tercatat bahwa perusahaan mengeluarkan pengeluaran sebanyak 50 juta pound sterling?" tanya Cassi
"Ketika saya menemui ibu, saya sudah menjelaskan mengenai kerja sama perusahaan kita dengan Alpheus group, kami berencana mengadakan seminar untuk menarik perhatian investor agar mau berinvestasi di perusahaan kita" ucap karyawan
"Acara seminar itu memerlukan banyak biaya bu, mulai dari transport, akomodasi, biaya gedung, dan kita perlu mengundang artis sebagai brand ambasador" sambung karyawan panjang lebar
"Ya sudah, kalian pergilah, jangan memberitahukan kepada siapapun" usir Cassi menatap tajam karyawan
"Baik bu" Ucap mereka serempak lalu keluar dari ruangan
"Sial, apa aku telah menghabiskan uang sebanyak itu? kemana aku harus mencari pinjaman untuk perusahaan" gumam Cassi lesu
Di rumah sakit
Pengacara Yuki datang ke rumah sakit, lalu dipersilahkan oleh Arnius, Staren, Gavin
Vano yg melihat Yuki membuka suara "nona ada yang ingin bertemu"
"Siapa?" tanya Quirin belum mengalihkan pandangan masih berbincang dengan Xia
Pengacara Yuni masuk dan berdiri disamping Vano "Pengacara Yuki, nona" ucap Vano
__ADS_1
Quirin dan Xia yang mendengar langsung menoleh, Xia yang sedang duduk, dengan cepat berdiri, ia pun terpaku melihat ketampanan Yuki"tampan sekali dia" batin Xia
"Oh namanya Yuki" batin Quirin
"Aku pengacara yang di utus Zee, nona" ucap Yuki santai
"Oh" jawab Quirin
"Mirip seperti tuan muda yang dingin" batin Yuki
Vano yang sedari tadi berdiri di dekat pintu dan mendengarkan pembicaraan Quirin dengan Yuki seketika beralih melihat ke arah Xia yang sedang tertegun
"Nona Xia, air liur mu hampir saja menetes" ucap Vano datar sambil mendekat dan berdiri di samping Xia
Xia tersentak, ia dengan cepat mengelap mulutnya menggunakan lengan baju, Quirin dan Yuki yang mendengar itu langsung saja menoleh ke arah Xia
Vano yang melihat apa yang dilakukan Xia tertawa kecil, Yuki yang juga melihat kelakuan Xia hanya tersenyum, sedangkan Quirin hanya memasang wajah datar
Xia menatap tajam kearah Vano "Hei pak tua kaku, kau barusan mengerjai ku ya?
apa barusan kau tertawa?" tanya Xia kesal
"Eehhem" Vano mencoba membenarkan suaranya dan melihat kesembarang arah
Xia semakin kesal melihat Vano yang tidak menggubris ucapannya"Hey jawab aku, apa mulutmu juga kaku seperti wajahmu?" tanya Xia lagi
Vano kali ini menatap Xia "Tidak, itu karena saya malas berurusan dengan nona" ucap Vano
Xia sudah benar-benar kesal, ia mengalihkan pandangannya "Kau itu menjengkelkan, apa kau tau itu?" ucap Xia
"Jangan berbicara lagi padaku!" ucap Xia kesal
"Hey nona, kau dilarang menatap pengacara Yuki seperti itu" ucap Vano
"Terserah aku mau lihat siapa saja, memangnya kau siapa berani melarang?, bahkan dia lebih tampan daripada kau pak tua" ucap Xia tersenyum lebar
"Daripada saya?, Hhmmm, artinya nona pernah berfikir bahwa saya tampan" ucap Vano santai
Mendengar itu Xia kembali menatap Vano "Ka..kau ini, perbaiki dulu wajah kaku mu itu" ucap Xia gugup
"Heh, hey udang kecil, kau harus mengakui bahwa aku lebih tampan daripada pengacara itu" bisik Vano santai
"Be..beraninya kau memanggilku udang kecil! kau juga mulai menggunakan kata "aku-kau", dasar tidak sopan!" ucap Xia sambil berteriak
"Itu karena kau terlalu berisik, seperti udang pistol apa kau tau itu? perlu ku jelaskan?" tanya Vano smirk
"Jelaskan!" ucap Xia ketus
"Jadi kau benar-benar ingin tau?" tanya Vano lagi
"Hmmm" ucap Xia sambil memutar bola matanya
"Kau cari tau saja di perpustakaan" ucap Vano sambil senyum smirk
"Ughhh, dasar kau!!" teriak Xia kesal
Mendengar pertengkaran itu membuat Quirin pusing "Sudahlah kalau kalian ingin bertengkar segeralah keluar dari ruangan ku" Ucap Quirin
__ADS_1
Xia mengalihkan pandangannya pada Quirin, ia membuat raut wajah sedih agar tidak diusir keluar "Tidak, aku kesini untuk menemanimu" ucap Xia
"Nona, saya akan tetap berjaga di sini, agar udang kecil ini tidak berbuat sesuka hati" ucap Vano sambil melihat Xia
Xia lagi-lagi melihat kearah Vano dengan menatap tajam "Apa kau pikir aku ini anak kecil yang mau berbuat sesuka hati? kau terus mengatai ku udang kecil" teriak Xia jengkel
"Kalian berdua tolong keluar sebentar. Saya ada perlu dengan nona" ucap Yuki yang tidak tahan mendengar pertengkaran kedua manusia itu
"Baiklah" ucap Vano
"Tidak, tidak, aku ingin menemani Quirin" ucap Xia sambil menggelengkan kepalanya
Vano berjalan mendekati Xia lalu menarik bajunya "Ayolah udang kecil, pengacara dan nona ingin membicarakan sesuatu yang penting" ucap Vano sambil menyeret Xia keluar ruangan
Xia meronta-ronta tapi Vano tidak memperdulikan itu. Setelah di luar ruangan Vano menghimpit Xia ke dinding dengan lengan besarnya
Arnius, Gavin, Staren yang melihat itu langsung terkejut, mereka terus menatap Vano.
"Hemm? ada apa dengan bos? baru kali ini aku melihat ketua sedekat itu dengan wanita" ucap Staren
"Heh, aku yakin 100% ketua menyukai gadis kecil itu, kita semua tau bagaimana sikapnya terhadap wanita lain" ucap Arnius sambil tersenyum
Gavin dan Staren pun mengangguk tanda mengiyakan
"Kauu....." geram Xia dengan membulatkan mata yang sempurna
"Apa? kau ingin aku membungkam mu udang kecil?" tanya Vano tersenyum smirk sambil mendekatkan wajahnya ke depan wajah Xia
Xia yang melihat dengan jelas wajah Vano langsung merona dan menutup matanya "kalau dari dekat seperti ini, dia terlihat gagah dan tampan, tapi kenapa dia mendekatkan wajahnya? apa dia ingin menciumku?" batin Xia
"Apa yang kau pikirkan? hmmm? aku tidak mungkin mencium udang kecil sepertimu" ucap Vano sambil melepaskan lengannya
Gavin, Staren, Arnius tertawa terbahak bahak
Xia yang mendengar itu langsung melotot "Kau pikir aku rela di cium olehmu?" ucap Xia pergi sambil menahan malu
Didalam ruangan, Yuki dan Quirin masih bisa mendengar percakapan Vano dan Xia, mereka pun hanya menghela nafas
"Mana kontraknya?" tanya Quirin datar
Bersambung...
Para pembaca jangan lupa tinggalkan jejak 👇
✓ Favorite
✓ Like
✓ Vote
✓ Gift
✓ Comment
✓ Rate
Author sangat berterimakasih 🙏
__ADS_1