
Kini Jean tengah menyesali perbuatannya, ia menangis sambil terus memukul dada dengan kuat "apa yang sudah ku lakukan?" gumam Jean
"Kau bodoh telah percaya pada wanita ular itu, selama bertahun-tahun aku hidup dengannya, aku baru mengetahuinya sekarang?" gumam Jean lagi, ia menangis terus menerus.
Penyesalan Jean terdengar sangat tulus, tangisannya terdengar sangat memilukan.
Tapi tidak untuk Quirin, ia merasa jengah melihat Jean terus menyalahi diri sendiri "tidak perlu sesesal itu, apa sekarang jantungmu sedang sudah stabil?" ucap Quirin melihat kearah Jean.
Jean tidak menanggapi perkataan Quirin, sesak di dadanya belum hilang, ia masih sibuk memukul dadanya dan mencoba mengatur nafasnya.
Quirin seakan tidak perduli melihat Jean masih susah bernafas "dendamku dan ibu masih belum terbalaskan, jadi kau tidak ku perbolehkan untuk mati begitu cepat" ucap Quirin sambil menyeringai
"Maaf, maaf, maafkan aku" ujar Jean yang masih menangis sambil menundukkan kepalanya.
"Terlambat!" tegas Quirin menatap Jean datar
Mendengar kalimat yang cukup tegas itu, akhirnya Jean memberanikan diri untuk menatap Quirin.
"Kenapa kau tidak bisa memaafkan nenek?, aku ini nenekmu" ujar Jean sambil memperlihatkan wajahnya yang cukup memprihatinkan.
Namun Quirin tidak merasa kasihan, ia tetap menatap Jean dengan datar "ternyata kau masih saja tetap memikirkan diri sendiri" lanjut Quirin
Jean terkejut mendengar perkataan Quirin, cucu yang dulu dia hina dan siksa kini berusaha mencelakai dirinya "tolong maafkan nenek, kita akan memulai dari awal lagi" bujuk Jean sambil memohon.
"Cih, dasar tidak tau malu!, jangan bermimpi untuk berdamai denganku, aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk membalaskan dendam pada orang-orang yang telah menyiksaku, kau telah masuk kedalam daftar itu" ucap Quirin menatap Jean datar sambil memutar-mutar balok kayu di tangannya.
Jean terpaku mendengar ucapan Quirin, karena ketika Quirin mengatakan itu seolah dia mengutarakan dari lubuk hati yang paling dalam.
Quirin mengucapkan itu dengan suara tajam dan penuh penekan, karena itulah, jika semua orang mendengarnya maka mereka pasti akan berpikir hal yang sama.
Jean menepis semua pikiran jeleknya "aku hanya meminta sebuah kesempatan padamu, tidak bisakah kau memberikannya pada nenek?" tanya Jean dengan raut wajah bersalah
"Kau menyiksa kami dengan amarah yang tidak berdasar, selama itu juga aku dan ibu selalu menerima siksaan darimu, tapi karena keadaan sekarang telah berbalik, kau langsung memohon agar aku melepaskanmu begitu saja? bahkan dengan dalih kesempatan kedua?, sungguh manusia licik" ucap Quirin sambil tersenyum menyeringai
Quirin kembali menghidupkan sebuah rekaman dimana disana terlihat pukulan serta suara memilukan
***
"Kau hanya wanita miskin, berani sekali kau menikah dengan putraku yang seorang pengusaha kaya raya" teriak Jean sambil memukul Arcy dengan sebuah sapu.
Arcy hanya bisa menangis sambil menerima setiap pukulan yang di berikan oleh Jean.
Jean kala itu tengah di kuasai oleh amarah sehingga dirinya terus memukuli Arcy tampa kenal ampun. ia bahkan tidak perduli jika Arcy merintih kesakitan.
__ADS_1
"Wanita bodoh dan miskin sepertimu tidak cocok untuk anakku, karena hal itu bisa membuat karir anakku hancur, aku akan membuat Grizo mau menikah untuk yang kedua kalinya, tapi kali ini aku akan mencari kandidat yang sesuai dengan seleraku, dan kau harus menyetujuinya!" ucap Jean dengan tegas sambil membuang sapu ke sembarang arah
Arcy benar-benar tidak berdaya, ia hanya bisa menangis dan terus menangis sambil meringkuk di lantai.
Menjelang sore, Grizo yang baru saja pulang, begitu terkejut melihat wajah Arcy tampak pucat.
"Apa yang terjadi?, kau sakit?" tanya Grizo panik sambil menempelkan kedua tangannya di dahi Arcy.
"Tidak, aku baik-baik saja, sekarang aku akan menyiapkan makananmu" ucap Arcy sambil tersenyum tulus
***
Quirin mematikan rekaman itu dengan air mata mengalir, ia hanya mampu memberikan sebagian rekaman, karena setiap melihat isi rekaman itu membuat Quirin selalu tidak bisa menahan rasa sakit di hatinya.
Quirin menatap Jean yang sudah berkeringat dingin "kau lihat bagaimana caramu menyiksa ibu?, sekarang aku akan melakukan hal yang sama, jadi bersiaplah" ucap Quirin menghapus air matanya sambil menyeringai
Jean benar-benar panik, ia tidak tau harus melakukan apa selain memohon "ma-af, maafkan aku , aku akan memperbaiki semuanya" ucap Jean meminta maaf sambil menempelkan kedua tangannya.
Quirin tidak memperdulikan ucapan Jean, ia kembali mengayunkan balok kayu ke tubuh Jean tapi dengan tenaga super kuat sehingga membuat kulit Jean terkoyak dan membuat darah kental mengalir dengan cepat
Bukkkk
Arghhh
Saat Quirin ingin mengayunkan balok kayu pada Jean, ia kembali mendengar rintihan Jean "tolong jangan lakukan lagi, ini sungguh menyakitkan, nenek benar-benar akan memperbaiki semuanya, tolong maafkan nenek" ucap Jean di sela-sela tangisnya.
"Dulu aku memanggilmu nenek, tapi kau selalu menghukum ku, sekarang kau menyebut dirimu nenek?, apa kau tidak punya akal?" ucap Quirin kesal
"Maaf, nenek sangat merasa bersalah padamu" ucap Jean sambil menangis
"Aku juga mengemis kasih sayangmu, tapi yang ku dapat hanyalah hukuman dan hukuman. banyang-bayangmu selalu menghantuiku hingga aku beranjak dewasa, dan saat aku membongkar semua kedok Calis, kau dengan mudahnya meminta maaf padaku?, sungguh luar biasa?"
Jean hanya bisa meratapi kesalahannya, selama ini dirinya membantu cucu dari orang miskin bahkan dia bukanlah darah daging keluarga Alister, sedangkan darah dagingnya sendiri ia hina dan siksa hingga sang cucu ingin mengakhiri hidupnya.
Jean berpikir keras, ia berpikir jika dirinya masih pantas dimaafkan dan bisa memulai semuanya dari awal.
"Aku tidak boleh berakhir di tangannya, aku tidak membuat kesalahan yang fatal, jadi aku bisa mengulang menata masa depan dengannya" batin Jean
Jean mendongakkan wajahnya "aku melakukan semua itu karena aku tidak mengetahui fakta sebenarnya, sekarang aku sudah tau dan aku akan memberikan kasih sayangku padamu, kita bisa memulainya lagi" ucap Jean melihat kearah Quirin
Quirin tersenyum smirk, bahkan saat di ambang kematian Jean masih sempat berpikir untuk menguntungkan dirinya sendiri.
"Jean, kau tidak berpikir aku akan melepaskanmu semudah itu bukan?" tanya Quirin dengan senyum menyeringai
__ADS_1
"Tentu saja aku berpikir kau akan melepaskanku karena aku adalah nenekmu" ucap Jean dengan percaya diri sambil tersenyum
Ia berpikir memang dirinya pantas mendapat balasan dari Quirin, tapi bukankah itu cukup, jadi Jean mengabaikan semua rasa sakit di tubuhnya, serta mencoba melupakan kulit yang terkoyak itu.
Quirin berjalan mendekati meja di belakangnya, ia mengambil beberapa paku lalu langsung melemparkan satu paku kearah Jean, tapi lemparan itu sedikit meleset.
"Satu"
Jean terkejut karena merasa sakit di sebelah sisi mata kirinya disertai darah mengalir "a-apa yang kau lakukan?" teriak Jean ketakutan, Jean kala itu memunggungi Quirin hingga ia tidak melihat sebuah paku melayang kearahnya namun menempel di sebuah tembok.
Quirin kembali melempar sebuah paku, lagi-lagi lemparan itu meleset dan kembali mengenai sisi mata kanan Jean.
"Dua"
Jean berbalik dengan memutarkan tubuhnya secara perlahan,seluruh tubuhnya sakit, ia juga tidak bisa berdiri karena Quirin telah memukul kakinya dengan sangat kuat sehingga Jean hanya bisa menyeret tubuhnya di lantai "Quirin!, kau sangat keterlaluan, aku ini nenekmu!" teriak Jean dengan air mata mengalir
"Haha ... sungguh menggelikan" ucap Quirin dengan tertawa menggelegar
"Jangan mengira aku akan mengasihanimu dan memberimu kesempatan, tentu hal itu tidak akan terjadi, karena aku telah banyak memberimu kesempatan, tapi kau selalu menyia-nyiakannya" ucap Quirin sambil tersenyum menyeringai
Quirin menaruh kembali paku-paku itu, ia kembali mengambil barang yang tidak terduga lainnya.
"Beri aku kesempatan" ucap Jean memohon menyeret tubuhnya kebelakang, pandangan Jean mengarah pada tangan Quirin yang sedang memegang martil.
Jean benar-benar takut, ia tidak menyangka cucu yang begitu lemah lembut kini berubah menjadi psikopat mengerikan.
Quirin berjalan pelan kearah jean, lalu berjongkok di depan kaki Jean "kakimu sangat jelek" ucap Quirin lalu memukul jari-jari kaki Jean dengan marti yang ada di tangannya.
Bukkkk
Arghhh
Jean berteriak keras, ia tidak kuasa melihat jari kakinya hancur hanya dengan satu pukulan, kali ini dugaannya sangat salah, ia mengira Quirin masih lah mempunyai hati yang lembut karena memberikan dirinya hukuman pukulan yang sama dengan apa yang dia lakukan dulu pada Arcy.
"Ini baru bagus" ucap Quirin sambil menyeringai
Darah terus mengalir dengan deras, tangisan pilu terdengar diruangan itu, Jean merasakan sakit di sekujur tubuhnya, tapi yang paling menyakitkan adalah di bagian kaki, sekarang ia benar-benar tidak tau harus berbuat apa, karena semua perkataannya di abaikan oleh Quirin.
Terlintas di pikiran Jean "bunuh saja aku, itukan yang kau mau" ucap Jean pasrah di sela tangisnya
Quirin yang menatap kebawah mulai mendongakkan wajahnya dan menatap Jean "tidak secepat itu, aku baru membalaskan sebagian dari dendamku" ucap Quirin menyeringai
Bersambung ...
__ADS_1