
"Huh, abaikan kegelisahan ini, aku yakin Zee tidak mendengar ucapan tadi, sekarang harus fokus mencari tumbuhan itu" batin Quirin menghela nafas
Mereka berdua berdiri dengan binggung, tiba-tiba seseorang menghampiri mereka "Kalian ada perlu apa?" tanya orang itu heran
Quirin dan Zee menoleh kebelakang secara bersamaan, mereka melihat orang itu dengan intens dan langsung berfikir jika orang itu adalah penjaga taman.
"Ehmm, pak apakah kami bisa masuk kedalam?" tanya Quirin hati-hati
"Maaf nona, taman ditutup khusus hari ini" ucap orang itu yang tak lain adalah penjaga taman
"Huh, malah tidak boleh, aku harus bagaimana, aku membutuhkan tanaman itu" batin Quirin sambil berfikir, ia seperti memiliki ide yang bagus
Ia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan singkat pada seseorang, setelah menunggu beberapa menit, ia mendapat balasan pesan dari seseorang
"Pak, saya membutuhkannya, adik saya terkena racun lalu saya membawanya ke pengobatan Cina, mereka mengatakan harus mengambil tumbuhan beracun agar adikku bisa sembuh total, karena racun itu hanya bisa dilawan dengan racun" ucap Quirin dengan raut wajah sedih
"Hebat sekali dia berakting, aku harus memberikannya piala oscar" batin Zee tersenyum tipis
"Sial, senyum itu seperti mengejek aktingku" batin Quirin yang tidak sengaja melirik kearah Zee
Penjaga taman itu terkejut "Apakah benar seperti itu nona?, maaf saya tidak mengetahuinya, silahkan nona cari tumbuhan yang nona perlukan" ucap pria itu merasa bersalah karena sudah tidak mengizinkan mereka berdua masuk
Penjaga taman mempersilahkan mereka masuk, Quirin dengan cepat masuk kedalam dan menyusuri jalanan itu.
Quirin melihat kekanan dan kekiri "Tumbuhan disini sangat lengkap, tidak sia-sia aku pergi kesini" batin Quirin tersenyum puas
Quirin ingin mencabut tumbuhan itu dengan tangan kosong, Zee sangat terkejut melihat itu "Hei, hati-hati, jangan mencabutnya sembarangan, gunakan sarung tangan dan juga penutup mulut ini" ucap Zee datar sambil memberikan keperluan itu pada Quirin
"Kau membawa semuanya?, Aku saja lupa membawa perlengkapan" ucap Quirin sambil memegang tengkuk lehernya lalu tertawa malu
Quirin mengambil Brugmansia, Laurel Hedge, Aconitum, dan Hogweed.
Zee hanya melirik tanaman yang diambil oleh Quirin, ia menggeleng heran karena Quirin mengambil tanaman yang sangat mematikan.
__ADS_1
"Aku sudah mendapatnya, ayo sekarang kita kembali" ucap Quirin dengan senang
Zee mengikuti Quirin mereka pergi keluar, disana terlihat penjaga masih berdiri didepan pintu taman.
Mendengar langkah kaki mendekatinya, paman itu berbalik dan melihat dengan heran "Nona?, kau mengambil itu semua?, apa kau yakin?" tanya orang itu curiga
"Benar pak!, lihat, ini buktinya!," ucap Quirin sambil mengeluarkan ponselnya yang berisikan pesan-pesan yang bisa menyentuh penjaga itu
"Baiklah nona, aku doakan adik nona cepat sembuh" ucap orang itu tersenyum tulus
"Terimakasih pak" ucap Quirin tersenyum ramah
Setelah orang itu pergi, Quirin bernafas lega "Aku sangat takut jika kita ketahuan oleh orang itu" ucap Quirin merasa lega
"Kau memperlihatkan apa padanya?" tanya Zee dengan heran
"Sesuatu yang membuatnya tersentuh" ucap Quirin sambil tersenyum
Zee hanya melirik Quirin, ia tidak menyahut apa yang sudah Quirin katakan, karena menurutnya ucapan Quirin tidaklah penting.
Quirin ikut masuk kedalam mobil Zee "Hei, kenapa kau hanya diam saja daritadi?" tanya Quirin heran sambil menatap kedepan
"Untuk apa kau mengambil hogweed?" tanya Zee dengan dingin sambil menyetir mobil
"Hanya ingin saja" ucap Quirin santai, ia tidak melihat jika raut wajah Zee sudah berubah menjadi dingin.
"Jangan main-main denganku Quirin" ucap Zee sambil menghentikan mobilnya secara mendadak.
"Hei, aku tidak ingin mati, jangan berhenti mendadak seperti itu" ucap Quirin sambil melihat kearah Zee, ia sangat terkejut melihat raut wajah Zee tidak seperti biasanya dan mengeluarkan aura dingin disekitarnya
Zee hanya melihat kedepan dan diam tanpa menoleh "Sepertinya dia marah, wajahnya sangat menakutkan, bahkan aku juga bisa merasakan auranya" batin Quirin sedikit takut
Quirin menghela napas dengan dalam "aku hanya berjaga-jaga untuk melindungi diriku, jadi jangan memasang wajah menakutkan seperti itu" ucap Quirin pelan
__ADS_1
Zee tersenyum tipis setelah mendengar ucapan Quirin, ia melajukan kembali mobil itu dan itu membuat Quirin bisa bernafas lega.
Setelah sampai dimansion, Zee meninggalkan Quirin didalam mobil dan langsung masuk kedalam mansionnya.
"Huh!, tuan muda es!, dia meninggalkanku sendiri tanpa meninggalkan sepatah dua patah kata, selalu seenaknya sendiri" gerutu Quirin sambil keluar dari mobil Zee dan mengambil tanaman-tanaman itu.
Quirin menaiki mobilnya dan ia tidak lupa membeli alat-alat untuk meracik tumbuh-tumbuhan itu.
Setelah mendapatkan semuanya, Quirin pulang dengan suasana hati yang sangat senang.
Setelah sampai rumah, Quirin memasuki rumah dengan cara mengendap-ngendap, ia tidak melihat Lura yang sedang menatapnya "Kenapa jalan kakak seperti itu?" tanya Lura dengan sengaja membesarkan suaranya
"Anak ini, selalu saja mencari masalah" gumam Quirin menggeretakkan giginya
Quirin menetralkan ekspresinya lalu berbalik dan melihat kearah Lura, namun disana terlihat Grizo dan Calis menatapnya dengan heran "Ada apa?, apa aku tidak boleh jalan dengan berbagai gaya?" tanya Quirin dengan polos
Bersambung...
Para pembaca jangan lupa tinggalkan jejak 👇
✓ Favorite
✓ Like
✓ Vote
✓ Gift
✓ Comment
✓ Rate
Author sangat berterimakasih 🙏
__ADS_1
Note : Cerita ini hanya fiktif belaka 🙏