Another Person Life

Another Person Life
Permainan Terakhir


__ADS_3

"Sakit" batin Darla sambil memejamkan matanya


Darla merintih kesakitan, ia merasakan daging di tangannya seakan ikut tertarik dengan suntikan itu.


Darla ingin bergerak namun usahanya sia-sia dan juga Quirin langsung melarang Darla "jangan mencoba bergerak sedikitpun atau aku akan memberikanmu rasa sakit yang lebih dahsyat" ucap Quirin datar dan tidak menoleh


Darla tidak memperdulikan ucapan Quirin, ia tetap berusaha menggerakkan kedua tangannya agar bisa duduk, tapi satu tangannya telah memunculkan darah segar yang sangat banyak.


"Jika aku bergerak, rasa sakit ini muncul kembali bahkan disetiap lubang ini juga mengeluarkan banyak darah" batin Darla sambil berusaha bangkit, namun lagi-lagi suara dingin Quirin kembali terdengar oleh Darla.


"Kau tidak mendengar ucapanku?, baiklah!" ucap Quirin dengan datar lalu berbalik dan mendekati Darla


Darla yang mendengar itu langsung terkejut, ia berhenti dan menegang, sedangkan Quirin melihat Darla seperti patung.


"Jadilah penurut" ucap Quirin sambil tersenyum sambil berjalan mendekati Darla


Quirin kembali dengan membawa sebilah pisau bedah yang menyerupai bulan sabit serta ujungnya sangat lah runcing.


Darla membelalakkan matanya ketika melihat kearah tangan Quirin "apa kau belum puas menyiksaku?" teriak Darla yang masih dialiri air mata yang begitu deras.


"Belum!" tegas Quirin sambil mengubah ekspresinya menjadi datar


Darla menggeretakkan giginya, ia tidak menyangka bahwa Quirin langsung menjawab dengan sangat tegas.


Quirin kembali berjongkok di hadapan darla, ia tidak perduli dengan ekspresi yang di tampilkan oleh Darla, setelah cukup lama berdiam akhirnya Quirin membuka suaranya "kau ingin aku melepaskanmu?" tanya Quirin dengan ekspresi datar


Ia sudah tidak mempunyai banyak tenaga lagi untuk berdebat, Darla hanya bisa mengangguk lemah.


"Setelah apa yang kau lakukan padaku, apa kau berpikir aku akan melepaskanmu begitu saja?" tanya Quirin dengan tatapan tajam


Darla benar-benar tidak tau harus berbuat apa, ia sangat ingin lepas dari cengkraman wanita iblis didepannya, tapi untuk duduk saja dirinya sudah tidak mampu.

__ADS_1


Quirin mulai mengembangkan senyumnya "apa masih ingin berusaha lagi?" tanya Quirin


Darla menangis dalam diam "bagaimana caranya aku lepas dari wanita ini, seluruh tanganku sangat sakit, bahkan tubuhku masih terasa sakit karena perbuatan dokter gila itu" batin Darla sambil menangis


"Patuh dan jadilah wanita baik, karena pertunjukan terakhir akan segera dimulai" ucap Quirin dengan senyuman smirk


Darla yang melihat senyum itu langsung bergidik ngeri, senyum yang di tampilkan oleh Quirin bukanlah pertanda baik melainkan datangnya malapetaka.


Quirin dengan cepat berpindah di depan tangan Darla, ia melihat kuku-kuku yang masih menempel pada jarinya.


Seolah memiliki ide, Quirin langsung mengambil tangan Darla yang belum disentuh olehnya, lalu Quirin mengambil dan memegang tangan itu, ia langsung menusukkan pisau bedah di sela-sela kuku itu.


Darla yang ditarik sangat terkejut, ia bahkan merasakan tusukan yang dilakukan oleh Quirin.


Aarghhhh


Darla menjerit dengan air mata yang mengalir dengan deras "sakit!, lepaskan aku wanita gila!" teriak Darla


Ia yang masih tersungkur tidak melihat apa yang dilakukan oleh Quirin, lalu karena penasaran Darla memutar kepalanya untuk melihat apa yang dilakukan oleh Quirin.


Aarghhh


Darah kental itu mengenai wajah Quirin, tapi tidak membuat Quirin menjadi jelek melainkan terlihat seperti malaikat cantik pencabut nyawa.


Darla menahan tangisnya, ia tidak menyangka, ini lah permainan terakhir yang di berikan oleh Quirin.


Darla yang sudah lemas kini semakin lemas melihat darah yang mengalir keluar dari kukunya sangatlah banyak.


Ia benar-benar membenci Quirin, ia juga ingin sekali membalas rasa sakitnya itu, tapi, dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.


Darla menatap Quirin dengan tatapan benci, Quirin yang sekarang sangatlah peka dengan tatapan orang, ia langsung menoleh kearah Darla "membenciku?, lakukanlah untuk yang terakhir kalinya, ini adalah jalan kematian yang harus kau terima karena telah menyinggungku" ucap Quirin dengan datar

__ADS_1


Setelah mencabut kuku Darla, ia tidak memperdulikan darah yang keluar dari tangan Darla bahkan mengenai wajahnya.


"Kau adalah tipe wanita yang tidak pernah puas dengan apa yang telah kau miliki" ucap Quirin sambil mengambil jari kedua dan melanjutkan mencungkilnya.


Arghhhhh hiks hiks


Jeritan dan tangisan Darla bahkan mdihiraukan oleh Quirin, ia bagaikan iblis yang sangat suka menyiksa orang, ekspresi yang di tampilkan Quirin membuat kedua orang yang berada diluar jeruji sangat terkejut.


Tatapan datar dengan pembawaan yang cukup santai, siapapun yang melihatnya pasti akan mengira jika Quirin adalah pembunuh berdarah dingin.


"Dia selalu bisa membuatku terkejut, entah kejutan apa lagi yang akan dia tampilkan" batin sang dokter sangat bersemangat


Berbeda dengan Vano, ia yang awalnya menatap datar kini malah membuat ekspresi terkejut dan juga bergidik ngeri melihat Quirin menyiksa Darla "nona, aku berjanji tidak akan membuatmu marah" batin Vano


Sedangkan Zee, berdiri sambil bersandar di dinding dan tersenyum tipis "aku menantikan semua penyiksaan yang akan kau lakukan selanjutnya" batin Zee


"Jika kau tidak menyinggungku, aku pastikan kau tidak akan berada di tempat menjijikkan seperti ini, bahkan kau bisa mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari tuan muda, tapi kau tetap mencari masalah denganku dan nikmati saja hasil yang sudah kau capai ini" ucap Quirin beralih dengan jari ke tiga


"Aku sudah mengatakan padamu berkali-kali, aku tidak mempunyai hubungan apapun dengan tuan muda, tapi kau tidak mempercayai ucapanku" lanjut Quirin sambil mencungkil kuku ke tiga


Kali ini Darla tidak menjerit, ia menutup mata dan bahkan menggigit lidahnya dengan sangat kuat agar tidak mengeluarkan suara.


Setelah merasa kukunya terlepas, Darla membuka matanya, ia tadi mendengarkan dengan seksama apa yang telah di ucapan oleh Quirin, seketika wajah yang tadinya menatap benci, kini menatap Quirin dengan tatapan sendu.


Quirin mulai menjatuhkan tangan Darla begitu saja, ia merasakan perubahan yang dilakukan oleh Darla "jangan menatapku seperti itu, dan maaf, aku tetap tidak akan berbelas kasih padamu, jika ada kehidupan selanjutnya aku berharap kau tidak menjadi wanita bodoh yang seperti ini lagi" ucap Quirin dengan datar tanpa menatap kearah Darla


Darla sempat terkejut mendengar ucapan Quirin, ia mulai menunduk dan sangat merasa bersalah pada Quirin, ia juga malu untuk menunjukkan wajahnya, bahkan Darla telah melupakan semua rasa sakit yang menjalar keseluruh tubuhnya.


"To..long sa...mpaikan permin...taan maaf ku pa..da tua..n muda" ucap Darla terbata-bata sambil menunduk


"Bahkan sampai diakhir hayatmu, kau tidak meminta maaf padaku" gumam Quirin sambil menoleh kearah Darla yang sudah dipenuhi oleh genangan darah.

__ADS_1


Quirin tau jika Darla sudah sampai di ambang batas, sebab darah yang keluar itu bisa di katakan bagai lautan darah, sebelum terlambat Quirin tetap ingin membuat Darla mengerti dan menyadari kesalahan yang telah dilakukan olehnya.


Bersambung ...


__ADS_2