Another Person Life

Another Person Life
Kulit Yang Berjatuhan


__ADS_3

Calis dan Lura yang melihat semua tindakan Quirin merasa sangat ketakutan, mereka juga melihat Beymi tengah menahan sakit yang luar biasa itu. keduanya sungguh tidak sanggup melihat tindakan mengerikan Quirin.


Dengan tubuh bergetar Calis terus berpikir keras "Dia berubah menjadi sangat menyeramkan, bagaimana bisa dia berubah secara drastis seperti itu?, dia benar-benar menakutkan, aku bahkan tidak bisa berpikir secara benar karena ulah ya itu" batin Calis bertanya-tanya


Calis melirik kearah Lura, tangan yang sedang memeluknya itu kini sudah gemetar hebat.


Calis menelusuri seluruh ruangan itu, tapi hanya 1 jalan yang bisa membuat Calis keluar yaitu ia harus mengalahkan Zee dan yang lainnya.


Zee dan yang lain bahkan tidak bergerak dari pintu, melihat itu Calis benar-benar kehabisa. akal.


Beymi yang berada di tengah-tengah khalayak benar-benar sudah tidak tahan lagi, ia langsung memeluk jasad Jeslyn hingga sebagai ganti punggungnya menjadi sebuah tameng.


Quirin yang Beymi sedang .melindungi jasad putrinya dan langsung tersenyum smirk, ia dengan cepat menggores punggung Beymi secara membabi buta.


Darah terus keluar dari kulit Beymi, bahkan darah dari tubuh Beymi mulai mengenai wajah Quirin.


"Ehmmm" Beymi berteriak dalam diam, ia bisa merasakan punggungnya begitu terasa sakit.


Quirin justru tidak memperdulikan teriakan itu, ia yang sudah melihat kulit Beymi terpotong kecil-kecil mulai berderai air mata, Quirin memejamkan matanya dan menggenggam pisau itu dengan sangat erat dan ujung pisau itu bahkan mengarah pada Beymi.


Kilatan pisau itu bisa dilihat olehsemua orang, lalu Quirin dengan cepat menusuk pinggang Beymi. dengan sangat dalam.


"Arghhh"


Kali ini Beymi sungguh tidak bisa menahan suaranya lagi, sampai sejauh ini, ia benar-benar tidak menyangka bahwa Quirin terus menyiksanya.


Quirin bahkan menekan pisaunya lebih dalam lagi, Beymi bahkan bisa merasakan sakit hang luar biasa di pinggangnya.

__ADS_1


Beymi tidak mengangkat bahwa Quirin tidak hanya menyayat kulitnya saja, melainkan juga menusuk pisau itu tepat mengenai organ dalamnya.


Quirin mencabut pisaunya dan Beymi pun terjatuh dengan darah yang sudah tercecer di lantai.


Beymi bisa melihat Quirin sedang menatapnya dengan tajam dan ia juga bisa melihat mata Quirin baru saja menjatuhkan cairan bening "no-na, a-ku me-minta maaf atas ap-a yang su-dah ak-u lakukan padamu serta nyonya Arcy" ucap Beymi dengan terbata-bata.


Sebelum bertemu dengan putrinya, beymi masih sempat berpikir untuk mengelabui Quirin, tapi ketika ia melihat tubuh putrinya yang sudah tak terbentuk, ia langsung menepis pikiran itu dan berhenti untuk melawan.


Ketika ia berlari kearah Quirin, kala itu Beymi di kuasai amarah karena anaknya sudah tiada tapi Quirin justru begitu kejam menyerang anaknya pada orang mati. bukankah orang yang sudah mati tidak merasakan apapun?, lalu mengapa Quirin berbuat hal sekejam itu?.


Pertanyaan itu bahkan sudah hilang ketika Quirin mengabaikan dirinya dan melangkahi jasad anaknya.


Quirin merasa jengah mendengar permintaan maaf itu "apa kau sudah selesai?" tanya Quirin dengan datar, tapi cairan bening itu terus menetes di pipi Quirin.


Beymi menatapi Quirin dengan tatapan sedih "ma-maafkan Aku ..." belum sempat Beymi menyelesaikan kata-katanya, Quirin kembali menghunuskan pisau yang ada di tangannya di tempat yang sama.


"Uhuk"


"Uhuk"


Beymi bisa merasakan saat yang luar biasa di daerah pinggangnya, dengan penuh penyesalan ia menahan rasa sakit itu, bahkan mulutnya terus mengulang kata yang sama yaitu maaf.


Beymi bahkan menatap Quirin dengan tetesan air mata yang mengalir di ujung matanya. Dengan sisa kesadarannya ia mengangkat tangannya untuk meraih Quirin tapi semua sia-sia.


Beymi menghembuskan nafasnya karena kehilangan banyak darah yang diakibatkan luka menganga yang ada di pinggangnya.


Quirin yang melihat itu pun langsung menghentikan aksinya, "menyebalkan sekali" ucap Quirin sambil berdiri dan menghapus darah yang ada di wajahnya dengan satu tangan.

__ADS_1


Kini, seluruh pakaian Quirin sudah terkena noda darah, bahkan seluruh tubuhnya sudah tertutupi oleh darah. Tapi Quirin justru seperti tidak mengalami kejadian apapun, ia bahkan tidak merasa risih dan langsung melempar pisau yang ada di tangannya ke sembarang arah, Quirin langsung mengangkat tubuh Beymi dan terlihat lah sesuatu yang kecil mulai berjatuhan di lantai.


"Menjijikan" batin Arnius menutup mulutnya dan memegang perutnya.


"Ingin sekali aku keluar dari sini, perbuatan nona bisa membuat ku mengeluarkan seluruh makanan yang sudah aku makan" batin Staren dengan gaya yang sama seperti Arnius.


Kulit tubuh Beymi tengah berjatuhan dilantai, beberapa orang tengah menahan mulut dan perut mereka dan slah satu dari mereka tengah melotot sempurna karena mengingat masalalu.


Sayatan yang di lakukan Quirin kali ini begitu sangat parah hingga mereka semua bisa melihat kulit kecil-kecil mulai berjatuhan ke lantai.


Calis dan Lura yang Lura hanya bisa melototkan mata mereka, bagaimana tidak, keduanya Bru pertama kali melihat kejadian yang mengerikan itu.


Apalagi kulit manusia yang tengah tercecer di lantai, biasanya mereka melihatnya di sebuah film, tapi kali ini, semua begitu nyata dan dilakukan oleh manusia itu sendiri.


Xeno yang berada paling belakang sudah jatuh terduduk, tiba-tiba ia teringat kenangan masa kecilnya, yaitu saat dirinya kecil, ia membunuh keluarganya dengan cara yang sama. Hanya saja bedanya Xeno tidak menyayat tubuh mereka melainkan menghunuskan pisau tajam kearah pinggang dan dilakukan secara berulang.


"Hah hah hah" Xeno yang mengingat itu merasakan sesak di dadanya. Ia seolah tidak bisa bernafas dengan benar. Keringat tampak mulai terlihat di dahinya.


Max tidak sanggup melihat adegan yang ada depan, ia pun langsung menoleh kesamping dan tidak mendapati Xeno. Saat Max tidak sengaja menunduk, ia melihat Xeno seperti orang yang sekarat, Xeno bahkan tampak seolah lupa cara bernafas.


Xeno terus memegang dadanya yang seperti sangat sakit. Max yang melihat itu terkejut dan langsung berjongkok "Xeno?, ada apa denganmu?" tanya Max dengan panik dengan suara yang sedikit besar.


Yang lainnya ikut menoleh dan mereka terkejut melihat keadaan Xeno yang sedang bersandar di dinding dengan wajah memerah.


Al bergegas menghampiri Xeno, dan diikuti oleh Vano, Arnius dan Staren.


Quirin yang mendengar itu langsung menoleh, dan melihat semua orang tengah mengelilingi Xeno.

__ADS_1


Ketika kaki Quirin ingin melangkah, tiba-tiba saja sebuah suara menghentikan langkah kakinya, "kami bisa mengurusnya, jadi kau bisa melanjutkan tugas yang sempat tertunda itu" ucap Zee dengan santai


Bersambung ...


__ADS_2