Another Person Life

Another Person Life
Renscens Psychiatric Hospital


__ADS_3

Quirin berjalan perlahan mendekati para bodyguard "bagaimana keadaannya?" tanya Quirin dengan nafas sedikit tersengal-sengal


"Masih belum ada perkembangan nona" jawab Vano yang sedang duduk sambil memegang kepala dan menunduk


Quirin mendengar itu langsung menoleh, ia melihat Vano seperti tak bersemangat "sepertinya dia yang paling sedih disini " batin Quirin sedikit tidak tega melihat kondisi Vano


Quirin memejamkan matanya lalu mengambil nafas dalam-dalam "tolong jaga dia sebentar, aku ingin mengunjungi Clamy" ucap Quirin sambil berbalik dan melangkah pergi


Vano tersentak kaget "aku ikut nona" ucap Vano , ia mengajukan diri untuk menjenguk Clamy, Vano beranjak dan berjalan di belakang Quirin


Mendengar pengajuan itu, Quirin mendadak berhenti "apa kau yakin?" tanya Quirin tanpa menoleh


Quirin tidak mendapat jawaban lagi dari Vano, ia dengan segera menghembuskan nafas kasar lalu melanjutkan langkahnya dan meninggalkan ketiga bodyguard itu.


Arnius, Staren dan juga Gavin menatap sedih kearah Vano, karena beberapa hari ini Vano tampak tidak seperti biasanya, ia juga selalu membiarkan dirinya menjaga Xia dari pagi hingga malam.


Bahkan ia juga tidak menyentuh makanan apapun sehingga mereka berusaha bekerja sama membujuk Vano untuk tetap makan, barulah Vano menuruti mereka.


"Kasihan sekali bos Vano, baru kali ini aku melihatnya tidak berdaya seperti itu, sebelum mengenal Xia dia tidak pernah menunjukkan sisi lemahnya kepada orang lain" ucap Arnius sambil berbalik dan melihat keadaan Xia yang seluruh tubuhnya dipasang alat-alat medis


"Aku berharap Xia cepat segera sadar, karena ini juga pasti akan menurunkan perfoma bos Vano" ucap Gavin memegang pelipisnya


"Benar, karena jika sampai kita memiliki tugas, entah apa yang terjadi pada kita" ucap Staren sambil membayangkan hal yang tidak mungkin terjadi


"Kita akan terbunuh" jawab Arnius dengan sangat santai


"Benar, pasti seperti itu" ucap Gavin lalu diangguki oleh Staren


Quirin dan Vano turun menggunakan lift, saat pintu lift terbuka, keduanya berpas-pasan dengan Al dan juga Zee.


Al melihat kearah belakang Quirin, disana terdapat Vano yang memasang wajah dingin "aku benar-benar menyesal telah melibatkan Xia kedalam masalahku" batin Al


Al sangat mengerti dengan apa yang akan ketiganya lakukan "kalian pergilah, aku akan merawat Xia disini" ucap Al lalu menaiki lift


"Tolong bantu aku menjaganya, aku tidak mau mendengar kejadian kemarin terulang lagi" ucap Quirin lalu melangkah keluar, sedangkan Vano mengikuti langkah kaki Quirin tanpa berniat membuka mulutnya.

__ADS_1


Zee melihat punggung Quirin, ia ikut melangkah lalu berjalan berdampingan "bersabarlah, dia akan segera bangun, saat itu tiba kau bisa berbicara kembali padanya" ucap Zee sambil berjalan dan menatap lurus kedepan


Quirin menatap kearah Zee "setiap aku merasa sedih, dia selalu memberiku kata-kata penenang, apa ini hanya perasaanku saja?" batin Quirin


"Jangan menatapku seperti aku, ingat hutangmu sangatlah banyak" ucap Zee dengan wajah datarnya


Quirin terperanjat kaget, ia langsung merubah ekspresinya menjadi cemberut "otakku sudah rusak, tidak mungkin dia mengerti perasaanku" batin Quirin kesal


"Lupakan tentang perasaan, sekarang fokuslah membalaskan dendam Quirin" batin Quirin


Wajah yang tadinya cemberut kini menampilkan ekspresi dingin dan tak tersentuh "luar biasa, dia bisa mengubah ekspresinya dalam sekejap, sebenarnya apa yang ada di dalam otak kecil wanita ini" batin Zee


Zee melihat semua ekspresi yang di tampilkan oleh Quirin, dan semua itu tidak luput dari pandangan Zee.


Ketiganya dengan cepat masuk kedalam mobil dan menuju rumah sakit yang akan mereka kunjungi.


Saat Quirin berjalan dan ingin memasuki pintu mobil, tiba-tiba Vano menghalanginya "ini tugas saya nona" ucap Vano


"Kau tidak terlihat baik-baik saja, dan aku juga belum mau mati untuk yang kedua kalinya" tegas Quirin


"Kau yakin ingin mengendarainya?" tanya Quirin memastikan dengan mengerutkan kedua alisnya


Vano hanya mengangguk, Quirin merasa percuma berdebat dengan Vano, akhirnya ia mengalah dan membuka pintu kedua.


Sedangkan Zee sudah berada didalam mobil, Quirin berfikir tidak mungkin Zee yang mengendarai mobil dan ia ingin menggantikan Zee untuk menyetir, tapi ternyata Vano menghalanginya dan ia pun harus mengalah.


Didalam mobil tidak ada yang memulai pembicaraan, suasana terasa hening. Tidak terasa waktu terus berjalan dan mereka berhenti disebuah rumah sakit ternama, namun rumah sakit itu bukan lah tempat pada umumnya "Renscens psychiatric hospital" gumam Quirin dengan heran


"Aku mengatakan untuk pergi melihat Clamy, bukan kerumah sakit jiwa" ucap Quirin dengan kesal


"Nona, aku mengantar wanita itu kesini, karena aku tidak sudi memberikan dia perawatan yang bagus" ucap Vano menganggapku kekesalan Quirin ekspresi dingin


Quirin membelalakkan matanya, ia saja tidak terpikirkan untuk memasukkan Clamy kerumah sakit jiwa, tapi Vano bertindak lebih cepat darinya.


"Lihatlah Xia, priamu sangat keren, tidak seperti pria yang ada disampingku ini, sangat menyebalkan" batin Quirin sambil melirik kearah Zee

__ADS_1


Lalu Quirin menatap kedepan "tidak buruk" ucap Quirin tersenyum


Ketiganya turun dan memasuki rumah sakit, Vano berjalan didepan, ia berjalan dengan wajah datar dan dingin, pikirannya selalu tertuju pada Clamy.


Quirin dan Zee berjalan di belakang Vano "bagaimana pembalasanmu pada wanita itu?, haruskah aku yang memberinya pelajaran?, atau aku memberikannya padamu?" batin Quirin sambil termenung dan menatap punggung Vano.


Zee yang tidak sengaja melirik kearah Quirin merasa sedikit kesal, karena ia melihat mata itu menatap Vano dengan sedih "kali ini aku memaafkanmu Vano" batin Zee


"Aku memberitahumu sesuatu" bisik Zee,


Quirin terperanjat kaget, lamunannya buyar seketika dan langsung menoleh kearah Zee dengan satu alis terangkat.


Zee merasa berhasil membuat Quirin melihat kearahnya "selain Clamy, salah satu wanita yang ingin membunuhmu juga berada disini" bisik Zee tersenyum tipis


Quirin benar-benar tidak mengerti arti ucapan Zee, ia merasa tidak pernah membuat seseorang masuk kedalam rumah sakit jiwa, namun ia tetap harus bertanya pada Zee "siapa orang itu?" tanya Quirin heran


"Darla" ucap Zee santai


Quirin berfikir dengan sangat lama, namun ia tetap tidak menemukan nama yang disebutkan oleh Zee dalam ingatannya "Darla?, aku tidak pernah mendengar namanya" tegas Quirin


"Aku tidak pernah mendengar nama itu, tapi aku ingat jika Quiran mengatakan tangan ini pernah memasukkan seseorang kedalam rumah sakit jiwa, ternyata itu benar?" batin Quirin


Zee ingin Quirin mengingat tentang orang itu "perawat yang memfitnah mu saat dirumah sakit" lanjut Zee


"Bagaimana bisa dia masuk kerumah ketempat ini?" tanya Quirin penasaran


"Dia ingin melakukan sesuatu padamu, tapi yang keluar pada saat itu adalah kembaranmu, dan kau sangat mengerti sifatnya bukan?" ucap Zee


"Kapan itu terjadi?, kenapa aku tidak ingat sama sekali" gumam Quirin memegang kepalanya sambil menunduk


Zee melirik sebentar, ia merasa kasihan melihat Quirin tidak mengetahui apapun yang telah dilakukan oleh Quiran, tapi dirinya sendiri tidak bisa berbuat apa-apa, takdir sudah membuatnya seperti itu "lebih baik urus terlebih dahulu masalah yang ada didepan mata" tegas Zee sambil berjalan


Quirin sangatlah penasaran, tapi apa yang diucapkan oleh Zee memang benar.


Sedangkan Vano tidak mendengar apa yang mereka berdua ucapkan, karena ia hanya fokus menatap kedepan sambil memikirkan cara kematian yang sangat menyakitkan untuk Clamy.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2