
Sambil mengikuti langkah kaki Quirin, Rea memberanikan diri untuk bertanya "boleh aku bertanya?"
Quirin hanya mengangguk sebagai jawabannya, Rea yang melihat itu tidak berbasa-basi "dimana ibu kandungmu?" tanya Rea sambil menatap punggung Quirin.
"Sudah meninggal sejak aku berumur 4 tahun" ucap Quirin dengan santai.
Rea menghentikan langkahnya, jantungnya mulai berdetak dengan sangat cepat, dadanya terasa begitu sangat menyesakkan sehingga ia seakan susah bernapas dan mata cantik itu mulai mengeluarkan cairan bening di bawah kelopak matanya.
Rea benar-benar syok mendengar perkataan Quirin, tenaganya seolah sirna sehingga ia tidak memiliki kekuatan untuk menopang tubuhnya. Rea jatuh terduduk bersamaan dengan menetesnya cairan bening yang sudah tidak terbendung lagi.
Mata indah itu menatap punggung Quirin dengan tatapan kosong, cairan bening itu bahkan menetes begitu saja hingga sang pemilik mata tidak menyadarinya.
Air mata itu mengalir dengan sangat deras, Quirin yang tidak mendengar suara langkah kaki mencoba menoleh kebelakang dan betapa terkejutnya ketika melihat Rea terduduk dengan mengeluarkan air mata.
Quirin bergegas menghampiri Rea dan berjongkok di hadapannya "kau kenapa?" tanya Quirin dengan panik.
Rea yang menatap lurus kedepan, kini menoleh kearah Quirin "kenapa dia meninggal?" tanya Rea dengan tatapan kosong.
"Ka-karena ... " jawab Quirin gugup, ia tidak ingin membongkar kematian ibunya pada orang lain, tapi hati kecilnya berkata untuk memberitahukan semua masalahnya pada Rea.
"Kenapa?!" teriak Rea membuaktkan matanya dengan sempurna sambil memegang kedua pundak Quirin dengan sangat kuat.
"Di-dia dibunuh oleh keluarga ini" jawab Quirin dengan spontan. Quirin terkejut melihat reaksi Rea, menurutnya itu bukanlah reaksi yang wajar, karena Rea orang lain untuknya, tapi berbeda dengan hati kecilnya yang menyuruhnya mengatakan untuk mempercayai Rea.
Kenyataan yang baru saja diberitahukan oleh Quirin membuat Rea begitu sangat terkejut, ia melonggarkan kedua tangan yang baru saja menggenggam kedua pundak Quirin "aku ... aku ... aku harus kembali"
Rea mencoba berdiri, tapi ia selalu terjatuh karena kedua kakinya tidak bisa merasakan apapun, Quirin berinisiatif membantu Rea berdiri.
Walau Rea tidak berdiri dengan sempurna, tapi dirinya masih bisa menahan tubuhnya yang seakan-akan bisa terjatuh kapan saja. Rea pun melepaskan tangan Quirin dan berjalan dengan sempoyongan, ia terlihat bukan seperti Rea yang biasanya.
"Ada apa dengannya?, kenapa aku semakin tidak mengerti dengan semua ini" ucap Quirin sambil meremas rambutnya dengan kasar.
Rea meninggalkan Quirin tanpa mengucapkan sepatah kata. Ia memasuki mobilnya dan membawa mobil itu dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
...****************...
Setelah tiba di rumah, Rea memarkirkan mobilnya dan melangkah dengan sempoyongan dan kaki gemetar, para penjaga yang melihat itu merasa terkejut dengan nona mereka yang tidak bersikap seperti biasanya.
"Nona!," teriak salah satu penjaga dan mendekati Rea.
"Aku tidak apa-apa" ucap Rea sambil mengangkat tangannya untuk menghentikan para penjaga.
Rea memasuki rumahnya dengan air mata yang masih mengalir "papa!, papa!" teriak Rea dengan sangat kuat.
Jay yang mendengar teriakan yang begitu nyaring segera turun dari lantai atas, ia melihat Rea dengan wajah yang sangat berantakan, karena merasa khawatir Jay berlari menuruni anak tangga "ada apa denganmu?" tanya Jay dengan khawatir.
Rea langsung memeluk Jay "hiks,hiks" Rea menangis dalam dekapan Jay.
Jay tidak mengerti dengan keadaan Rea, ia pun berusaha menenangkan Rea "kenapa kau seperti ini, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Jay dengan pelan.
"Pa, sebenarnya siapa wanita yang ada didalam foto keluarga kita itu?" tanya Rea disela tangisnya.
"Di-dia ..."
Melihat Rea menangis tidak karuan, Jay pun menghela nafas dengan kasar "dia kakak kandung papa" ucap Jay dengan memejamkan matanya.
Saat itu juga, Jantung Rea seakan berhenti berdetak, ia tidak sanggup memberitahu kenyataan itu pada sang papa "Hwaaaaa" tangis Rea semakin pecah.
Sedangkan Jay semakin tidak mengerti kenapa Rea menangis dengan sangat kuat "ada apa dengan mu?" tanya Jay dengan panik.
"Bibi, papa .... bibi" ucap Rea sambil menangis dengan terisak.
"Bibi?" gumam Jay dengan mengernyitkan dahinya.
Mama Rea yang baru saja masuk kedalam rumah, terkejut melihat kedua orang itu saling berpelukan dengan Rea yang menangis sangat keras.
"Rea!" teriak Amber sambil berlari dan memegang tangan Rea.
__ADS_1
"Mama, bibi ma" ucap Rea sambil mengalihkan pelukannya pada Amber.
"Siapa bibi yang kau maksud Rea?" tanya Amber sambil menoleh kearah Jay, sedangkan Jay yang tidak tau apapun hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Orang yang ada di dalam foto keluarga kita meninggal dibunuh oleh keluarga itu" ucap Rea dengan menangis sangat keras.
Jay yang mendengar itu berdiri seperti patung, tanpa disadari air mata mulai mengalir membasahi pipinya, Jay sekarang mengerti arti perkataan Rea, Kakak yang sangat di sayangi nya telah tiada.
"Quirin yang memberitahuku, lalu dia mengatakan bibi meninggal saat dirinya berumur 4 tahun" ucap Rea sambil menangis dalam pelukan Amber.
Amber menutup mulutnya dengan satu tangan, dan tangan lainnya menepuk punggung Rea, ia tidak menyangka kakak ipar yang sangat baik dan lembut itu kini telah pergi secepat itu.
"Papa, Quirin mengatakan itu padaku, dan hal yang paling mengejutkan adalah suami bibi menikah lagi dan memelihara anak haram, tapi dia justru mengabaikan keberadaan Quirin, bahkan pembantunya saja meremehkannya, apa yang bisa aku lakukan pa" ucap Rea dengan terisak.
Jay meratapi kesedihannya, hatinya seakan hancur mendengar kabar yang di berikan oleh Rea.
Pantas saja ia begitu merasa familiar dengan wajah Quirin pada saat mereka datang ke perusahaan Aquatic Corp.
Ternyata wajah itu adalah wajah yang sangat dirindukannya. Bagi Jay kakaknya adalah orang yang sangat di hormatinya melebihi kedua orang tua mereka.
"Kakak, kenapa kau meninggalkanku" ucap Jay dengan mata yang sudah berlinang cairan bening.
"Papa, kita harus membalas perbuatan mereka, aku sungguh tidak tahan melihat mereka terus tertawa diatas penderitaan Quirin"
Rea yang pertama kali melihat Quirin langsung merasa akrab dengan wajah Quirin, bahkan pada saat Beymi merendahkannya, Rea justru begitu sangat marah, ternyata inilah alasannya Quirin memiliki hubungan darah.
Orang bilang darah lebih kental daripada air, maka itulah yang terjadi pada Rea, walau Jay adalah adik Arcy, tapi pada saat itu Jay duluan lah yang lebih dulu menikah daripada Arcy.
"Ibu, semua ini salahmu, kenapa dulu kau melakukan hal seperti itu pada kakak!" teriak Jay dengan air mata yang terus mengalir.
Tangisan itu begitu memilukan, ia yang sudah sangat lama terpisah dengan sang kakak justru mendapat berita yang sangat menyakitkan.
Amber yang mendengar teriakan Jay hanya bisa menangis, ia sangat tau masalah yang menimpa Arcy dengan keluarga besarnya.
__ADS_1
Bersambung ...