
Kai mendengar suara cukup familiar memanggil namanya. Kai menoleh kebelakang dan betapa terkejutnya ia ketika melihat Cassi sedang menghampirinya "Cassi?, kenapa dia ada disini?" batin Kai gelagapan
Cassi berjalan dengan cukup cepat, setibanya ia langsung mengintrogasi Kai "aku sudah mencarimu keseluruh kantor, tapi aku tidak menemukanmu dimana pun, dan aku tidak menyangka telah melihatmu disini, apa yang sedang kau lakukan di butik?" kesal Cassi dengan meninggikan suaranya.
Semua mata para pengunjung yang ada di butik kini tengah mengarah pada Kai dan Cassi.
Seketika Kai menunduk, ia merasa kesal karena Cassi selalu membuatnya malu "hei, pelankan suaramu, kita lagi didepan umum" ucap Kai sambil menatap Cassi dengan tajam.
Cassi mengerutkan dahinya, ia berpikir bagaiman bisa Kai menatapnya dengan tajam, sepengetahuannya Kai selalu menuruti perkataan Cassi tanpa berani membantahnya, tapi sekarang jelas jauh berbeda, tatapan Kai membuat Cassi sedikit takut, tapi hal itu tidak membuat nyali Cassi menciut.
"Aku tidak perduli, sekarang kita harus segera kembali perusahaan, karena ada masalah yang harus kita selesaikan disana" ucap Cassi sambil menarik lengan Kai.
Saat Kai ingin berbalik tiba-tiba seseorang tengah menyapa Cassi "hai Cassi" sapa seorang wanita dengan wajah datar
Sebenarnya sejak awal Xura sudah mengetahui keberadaan Cassi, hanya saja dirinya berpura-pura tidak mendengar apa yang mereka katakan sekaligus menunggu waktu yang tepat untuk menunjukkan dirinya.
Cassi merasa penasaran dengan suara yang sedikit mirip dengan kakaknya, saat berbalik betapa terkejutnya Cassi melihat seseorang yang tidak ingin ditemui tengah berada dihadapannya.
"Ka-kau!" teriak Cassi terkejut
__ADS_1
Xura memicingkan matanya melihat ekspresi Cassi "ada apa?, kenapa kau terkejut?, kau seperti melihat hantu saja, benar-benar reaksi yang berlebihan" ucap Xura sambil melihat kearah Cassi
Mendengar hal itu, Cassi yang sudah pusing dengan perusahan kini semakin pusing menghadapi teman kakaknya itu.
"Bagaimana bisa kau berada disini?" tanya Cassi heran, karena pada dasarnya Cassi mengetahui jika keduanya tidak saling mengenal satu lain.
Wajah Kai mulai terlihat pucat pasi, ia melihat kearah Xura, dan Xura juga melihat kearahnya, keduanya saling memandang satu sama lain. Kai yang tidak ingin dimarahi Cassi di kini berpikir untuk menggunakan kesempatan ini untuk mencoba memberi kode pada Xura, ia melambaikan tangannya berulang kali, yang artinya jangan mengatakan apapun pada Cassi.
Otak kecil Xura kini merespon dengan cepat "aku?, tentu saja ingin membeli gaun, kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Xura cuek sambil beralih menatap Cassi.
"Kenapa kalian bisa bersama?" tanya Cassi berterus terang
"Hanya kebetulan bertemu, apa jawabanku bisa memuaskanmu?" tanya Xura lagi
Kai merasa lega mendengar apa yang telah di ucapkan oleh Xura, tapi berbanding terbalik dengan Cassi, ia justru tidak mempercayai ucapan Xura begitu saja.
"Bagaimana mungkin aku bisa mempercayaimu?, jangan-jangan kau bermain di belakangku?, apa kau tidak punya malu, Kai itu mantan dari kakakku atau bisa dikatakan juga teman terdekatmu, mengapa sekarang kau menginginkan prianya?" cerca Cassi dengan berbagai pertanyaan, bahkan semua pertanyaan itu mengarah pada Xura.
Kai yang mendengar itu mengepalkan kedua tangannya, ia tidak habis pikir dengan sifat kekanak-kanakan Cassi, semakin lama menjalin hubungan dengan Cassi kini ia semakin merasakan perbedaan yang cukup jauh ketika dirinya masih bersama Xura, dan penyesalannya pun terus kian bertambah.
__ADS_1
Xura mengerutkan dahinya, ia tidak menyangka bisa mendengar kata-kata tidak tahu malu itu keluar dari mulut Cassi "sebelum kau mengeluarkan kata-kata menjijikkan itu, lebih baik kau berkaca lah terlebih dahulu, aku akan mengingatkan akan kenangan lama ... kau itu adiknya dari temanku, ah ya satu lagi ... aku mendengar saat temanku menghilang kau langsung mengambil alih semua properti miliknya, bahkan hal yang tidak pantas kau miliki kini sudah berada di sampingmu .... apa kau sudah lupa?" ucap Xura sambil menunjuk kepalanya sendiri dengan satu jari dan ia juga melirik Kai yang ada tepat dihadapannya.
Melihat kebisuan Cassi membuat Xura semakin bersemangat untuk membuat Cassi terlihat semakin buruk didepan semua orang "ah iya, wajar saja kau iri, bukankah kau hanya adik tiri?,
jadi wajar saja kalau kau menginginkan semua miliknya ... emm maafkan karena sudah mengatakan seluruh isi hatiku" ucap Xura sambil menutup mulutnya.
Cassi terpaku mendengar semua apa yang dikatakan Xura, ia tidak menyangka teman kakaknya begitu banyak mengetahui tentang keluarganya.
Cassi tersadar begitu orang-orang mulai mengomentari dirinya "ka-kau!" teriak Cassi dengan amarah yang sudah memuncak.
Selama hidupnya, Cassi membenci julukan adik tiri, setiap orang selalu membandingkan dirinya dengan sang kakak, ia merupakan adik yang harus mendengar ejekan semua orang.
Kai sangat terkejut mendengar Cassi berteriak keras, ia tidak tau harus berbuat apa untuk menenangkan Cassi.
Xura sedikit terkejut melihat kemarahan Cassi, sebenarnya ia takut melihat mata orang yng sedang menatapnya dengan tajam, tapi ia semakin pintar untuk menutupi rasa takutnya.
"Sebelum itu aku akan memberitahumu, aku dan dia benar-benar hanya kebetulan bertemu, mungkin dia melihatku sedang kebingungan memilih gaun lalu dia menawarkan diri untuk membantuku, jika kau tidak percaya padaku maka tanya saja padanya" ucap Xura datar sambil melipat kedua tangannya.
Amarah Cassi kian memudar, Kai dan Xura juga bisa merasakannya, Cassi menatap kearah Kai untuk meminta penjelasan, Kai yang merasa di tatap langsung mengangguk tanpa melihat kearah Cassi "benar, aku menawarkan diri untuk membantunya karena aku berpikir dia kesulitan dalam memilih gaun" ucap Kai sambil membenarkan perkataan Xura.
__ADS_1
Kai tidak berpikir jika perkataan Xura bisa meredakan amarah Cassi yang sedang memuncak, ia bahkan tidak menduga hal itu "aku berpikir terlalu banyak" batin Kai merasa lega
Bersambung ...