
Xeno langsung menutup mulutnya dengan rapat agar tidak mengeluarkan kata-kata yang bisa membuatnya dimutasi ke daerah yang tidak diinginkannya.
"Selalu saja seperti itu" batin Xeno kesal
Keduanya menyaksikan dengan penuh ketegangan, Xeno yang awalnya masih membuat candaan kini menatap layar komputer Zee dengan tatapan dingin.
Kilatan mata Xeno menunjukkan ketidaksukaannya pada apa yang telah dilakukan oleh Quirin.
#Flashback off
"Bagaimana perkembangan Xia?" Zee mengalihkan pembicaraan agar Xeno tidak memikirkan tentang Quirin lagi.
"Belum ada perkembangan apapun, aku tidak menanyakan secara detail pada Al, tapi yang jelas, benturan dari tabrakan itu sangat kuat sehingga membuatnya koma"
"Wanita itu?" Zee bertanya dengan nada dingin, ia berfikir jika Xia tidak ada perkembangan sudah pasti Quirin menjadi sedih, dan dirinya tidak menyukai hal itu.
"Dia model yang sedang naik daun, setelah aku menanyakan pada anak buah ku, dia baru saja keluar dari rumah keluarga Alister dan sekarang sedang menginap di hotel dengan managernya"
"Cari tau semuanya dengan detail, lalu berikan bukti-bukti itu pada Quirin, aku khawatir jika fokusnya terpecah maka hal itu bisa berakibat fatal untuk dirinya sendiri"
Xeno yang masih duduk dihadapan Zee menatap dengan datar "aku tidak ingin melakukannya!, apa kau lupa apa yang baru saja aku katakan?" tegas Xeno, jika berada kantor dan di depan anak buahnya, Xeno akan memanggil Zee secara formal, tapi jika sudah berada di luar kantor dirinya bebas memanggil Zee dengan sebutan apapun.
"Apa kau juga lupa dengan yang aku katakan?" Zee bertanya sebagai jawaban dari pertanyaan Xeno.
Keduanya terdiam sebentar, Xeno mengacak rambutnya dan menghela nafas kasar "baiklah, terserah kau saja, tapi aku tidak menjamin akan memperlakukannya dengan baik seperti dulu" ucap Xeno sambil berdiri dan meninggalkan ruangan Zee.
Setelah Xeno pergi, Zee memutar kursi kebesarannya menghadap jendela "aku yakin Quirin akan mengatasi rasa kebencian Xeno dengan caranya sendiri, dan mau bagaimanapun dia juga harus pergi ke Asia secepat mungkin, karena jika dia berada di Eropa terlalu lama, aku khawatir dia akan melupakan dendamnya itu" gumam Zee sambil melihat keluar jendela
***
__ADS_1
Vano dan ketiga pengawal lainnya masih tetap berada di rumah sakit, mereka selalu bergantian untuk menjaga Xia.
Awalnya Vano tidak ingin bergantian namun ketiga temannya itu bersikukuh untuk menyuruhnya bergantian agar Vano bisa beristirahat, dan pada akhirnya Vano lebih memilih mengalah.
Sedangkan ketika saat Vano bertemu dengan Al, ia menunjukkan wajah datar dan melewati Al begitu saja.
"Dia masih saja bersikap begitu pada dokter Al" ucap Arnius
"Sudahlah, kau mengerti apa yang dia rasakan, jadi tutup saja mulutmu itu" ucap Gavin sambil menutup mulut Arnius dengan satu tangannya
Sejak Xia masuk kedalam rumah sakit, Vano tidak sekalipun menatap Al seperti dulu, ia bahkan berani mencegah Al memasuki ruangan Xia.
Ketiga temannya yang melihat sikap Vano tidak tau harus berbuat apa, seketika Staren memiliki ide gila, ia mengatakan akan menghubungi Zee untuk melaporkan kejadian yang ada di depan matanya sekarang. namun Vano dengan cepat melangkah kearah Staren dan mencegahnya menghubungi Zee.
Setelah kejadian itu Vano membiarkan Al masuk tapi ia bahkan tetap tidak ingin melihat wajah Al.
Hubungan keduanya semakin merenggang, setiap mereka bertemu tidak ada lagi tegur sapa ataupun candaan.
Sedangkan Al sedang berada didalam ruangan pribadinya. Ia hanya bisa menghela nafas kasar dan memijit pelipisnya. Dirinya benar-benar merasa bersalah karena melihat kondisi Xia yang tidak ada perkembangan serta hubungannya dengan Vano juga terasa sangat jauh.
Walaupun keduanya hanya mempunyai hubungan atasan dan bawahan, tapi, orang-orang yang melihat itu tidak akan percaya, karena semua bawahan itu terlihat sangat akrab dengan tuan mereka, sehingga orang-orang mengganggap kalau mereka semua adalah saudara.
Al tipe orang yang selalu menggunakan perasaannya terhadap orang terdekat, jika orang terdekatnya mendapat masalah karena dirinya, ia pasti menyalahkan dirinya sediri "aku sungguh menyesal telah melibatkan Xia dalam urusan ini" Al memijit pelipisnya dengan kepala tertunduk bahkan ia mulai menitikkan air mata hanya karena hubungannya dan Vano terasa begitu renggang.
***
Xeno berada di perusahaan yang ia pimpin, Walau Xeno tidak menyukai perbuatan Quirin, ia tetap berusaha bekerja secara profesional, Xeno bahkan tidak melewatkan hal-hal sekecil apapun mengenai Clamy.
"Dapat!, sekarang aku harus memberikannya pada wanita itu" Xeno tidak menggunakan nama Quirin lagi, karena jika dirinya tidak menyukai orang maka nama orang itu tidak akan pernah disebutkannya lagi.
__ADS_1
Xeno keluar dari perusahaan, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Brukkkk
Xeno yang sedang melamun tidak sengaja menabrak mobil yang ada didepannya "sial!, kenapa disaat genting justru aku mengalami musibah!" kesal Xeno sambil memukul stir mobil.
Xeno keluar dari mobilnya untuk melihat sebesar apa kecelakaan yang ia timbulkan, ternyata mobil yang di tabrak Xeno mengalami kerusakan yang cukup serius.
Xeno yang melihat itu langsung mengacak-ngacak rambutnya "tuan?, bisakah kau menjelaskan apa yang terjadi?" ucap sang pemilik mobil yang ditabrak oleh Xeno.
Xeno tidak melihat sang pemilik mobil karena dirinya memunggungi orang itu "maaf, karena melamun aku tidak sengaja menabrak mobilmu" balas Xeno sambil menoleh kebelakang.
"Nona!"
"Tuan!"
Ketika keduanya saling melihat, mereka saling terkejut, Xeno berusaha menetralkan ekspresi keterkejutannya "nona, aku sedang terburu-buru, bisakah kita membicarakan ini dilain waktu?" tanya Xeno dengan sopan.
"Tidak bisa tuan, apa tuan tau?, ini adalah mobil pemberian ayahku, jika aku pulang dengan mobil rusak seperti ini, maka aku akan di marahi oleh ayah"
"Tapi nona, aku sedang terburu-buru ... "
Wanita itu langsung memotong perkataan Xeno "aku tidak bisa tuan, aku juga takut pada ayahku, bisakah tuan menyelesaikan masalah ini terlebih dahulu?"
Xeno berusaha berpikir dengan jernih, ia juga tidak bisa meninggalkan tanggung jawabnya begitu saja "aku akan memanggil beberapa bawahanku, nona ikut saja dengan mereka" ucap Xeno sambil mengeluarkan ponselnya.
"Tuan, aku tidak mengenal mereka, bisakah aku ikut denganmu?" tanya orang itu dengan wajah sedih
Xeno menatap wanita dihadapannya dengan datar, tapi tanpa pikir panjang, Xeno menganggukkan kepalanya "baiklah, nona masuk lah kedalam mobil, aku akan menghubungi bawahanku" ucap Xeno sambil menekan nomor diponselnya.
__ADS_1
Wanita itu tengah tersenyum bahagia karena rencananya telah berhasil.
Bersambung ...