
Quirin kembali dengan membawa suntikan didalam genggamannya, Darla yang melihat itu langsung terbelalak dengan lebar "ap-apa yang akan kau lakukan dengan itu?" tanya Darla sambil berteriak sambil menangis
"Pikirkan saja tanganmu, jangan membuatku banyak berbicara" ucap Quirin dengan datar sambil menancapkan suntikan berikutnya.
Arghhhh
Quirin sangat merasa jengah mendengar teriakan Darla "apa kau bisa tidak berteriak?, ini masih yang kedua, apa sakit?, ... sepertinya tidak begitu" ucap Quirin dengan santai sambil mengambil suntikan dan menusukkannya dengan menekan hingga mengenai tulang
Arghhhh
Darla ingin mencabut suntikan itu, namun Quirin langsung menangkap tangannya "berhentilah berteriak, ini masih suntikan ketiga dan kau sudah ingin mencabutnya?, apa kau merasa tidak keterlaluan" ucap Quirin dengan kesal
Sang dokter benar-benar tidak bisa lagi menahan tawanya "Hahaha ...." keduanya tertawa dengan menggelegar
Quirin sedikit terkejut mendengar seseorang tertawa, ia begitu menoleh dan melihat ternyata yang tertawa adalah sang dokter.
"Hai kau, dokter yang tidak waras!, tutup mulut itu sekarang atau aku juga akan membuat dirimu menjadi daging cincang!" ancam Quirin sambil menatap sang dokter dengan tajam
Darla mengabaikan tawa serta percakapan keduanya "berhenti!, aku sudah tidak tahan" teriak Darla sambil menangis tersedu-sedu
Quirin langsung merubah ekspresinya, lalu menoleh kearah Darla "sebelumnya kau sangat percaya diri menggangguku, tapi sekarang kau malah memintaku berhenti?, bukankah itu sedikit terlambat?," tanya Quirin dengan wajah polosnya
Darla tidak menjawab pertanyaan Quirin, entah ia mendengar atau tidak tapi faktanya darla hanya terfokus dengan rasa sakit yang di berikan oleh Quirin.
Bagaimana tidak?, suntikan itu bahkan menancap dengan sangat dalam, dan disetiap cela suntikan terdapat darah yang mengalir.
Quirin yang melihat itu merasa tidak perduli "karena kau hanya merasakan sakit, maka aku tidak hanya berencana menancapkan jarumnya saja, melainkan ... " Quirin sengaja menggantung ucapannya agar Darla kembali ketakutan
Tapi apa yang diharapkannya tidaklah sesuai, kini Darla mengucapkan beberapa kata yang membuat Quirin benar-benar berhenti berbicara "aku mohon jangan lakukan lagi, ini sangat menyakitkan" ucap Darla sambil merintih kesakitan disertai air mata yang mengalir dengan deras
"Tidak, tidak, jangan seperti itu, kau tidak perlu memohon ...." ucap Quirin menampilkan ekspresi rasa bersalah dan menggantung ucapannya
Darla sedikit terkejut mendengar ucapan Quirin, ia merasa tidak percaya dan juga lega karena Quirin mendengar permohonannya.
"Lihat saja, jika aku keluar dari sini, maka aku akan segera mengirimnya keneraka" batin Darla
Quirin melihat Darla hanya berdiam, ia kembali menusukkan jarumnya ketangan Darla.
Arghhhh
Darla menatap Quirin dengan tidak percaya "bu-bukankah kau akan melepaskanku?, tapi kenapa kau menusukku lagi?" tanya Darla yang kembali terkejut sambil memperkuat suara tangisnya
__ADS_1
Quirin hanya menggeleng dan mengangkat bahunya, lalu menancapkan satu suntikan lagi
Arghhhh
"Selesai, kau terlihat lebih cantik" ucap Quirin sambil tersenyum manis, lima suntikan bertengger di tangan Darla dengan jarak yang berjauhan.
Darla ingin menarik satu suntikan, namun ketika tangannya ingin menyentuh, tiba-tiba Quirin menghempas tangan itu dan membuat Darla kembali tersungkur.
"Apa yang kau lakukan?, aku tidak menyuruhmu untuk mencabut itu" ucap Quirin sambil menginjak tangan lainnya.
Quirin melihat kebawah sambil berdiri tegak "jika dilihat dari atas kau sangat sempurna, apa kau ingin pendapatku mengenai tanganmu?, baiklah aku akan memberitahumu, dan jawabanku adalah tanganmu terlihat sangat cantik" ucap Quirin sambil menyipitkan matanya lalu memberikan simbol bagus dengan menggerakkan tangannya dan hanya menampilkan ibu jarinya saja.
Darla menangis sesegukan, ia tidak bisa berkata-kata lagi karena merasakan kesadisan Quirin "ayo kita bersenang-senang" ucap Quirin dengan senyuman Smirk
Quirin menarik suntikan itu hingga membuat Darla berteriak sangat kencang, karena biasanya suntikan menarik darah dan memberikan sebuah cairan, kali ini versi Quirin sangatlah berbeda, setelah menancapkan hingga menusuk tulang, Quirin kini sengaja menarik daging dengan suntikan.
"Jangan lakukan itu!" teriak Darla, ia berusaha menggerakkan tangan yang diinjak oleh Quirin, namun tenaganya tidaklah cukup, ia juga ingin menggunakan tangan yang satunya, tapi tidak bisa karena beberapa jarum sudah menancap mengenai tulangnya, jika di gerakkan makan jarum-jarum itu akan bergerak dan mengenai daging lainnya.
Hanya ditusuk saja sudah menyakitkan apalagi jika di gerakkan maka akan muncul rasa sakit yang luar biasa.
"Jangan bergerak!" ucap Quirin sambil membulatkan matanya dengan sempurna
"Aku sempat ingin melihat nona menyiksa orang, tapi jika cara menyiksa seperti ini, lebih baik aku memilih untuk tidak melihatnya" batin Vano
"Sungguh menarik, dia masih seorang Quirin tapi bisa melakukan hal kejam seperti itu, tapi jika sudah berubah menjadi Quiran entah lebih sekejam apa dirinya" batin Zee sambil tersenyum tipis
Quirin kembali memegang suntikan kedua, ia mulai menarik gagang suntikan itu dengan kasar.
Arghhhhh
"Aku mohon, lepaskan aku!" teriak Darla sambil menangis sesegukan, Darla kembali berteriak kesakitan, ia merasakan dagingnya ikut tertarik.
"Mengapa nasibku seperti ini, jika saja tidak ada dia, maka aku mungkin akan bisa hidup bersama dengan tuan muda" batin Darla
Darla melirik kearah tuan muda yang berada di luar jeruji, mata itu mengisyaratkan agar membantunya, tapi disana ia melihat sang tuan muda malah menatapnya dengan dingin.
"Apa dia tidak menyukaiku?, aku lebih cantik darinya, bahkan aku adalah wanita lembut, sangat berbeda dengannya, wanita yang kasar dan hanya tau menyiksa orang" batin Darla sambil menangis sesegukan
"Hei, fokuslah padaku!" ucap Quirin datar sambil menarik suntikan yang ketiga
"Beraninya dia menatap Zee seperti itu" batin Quirin merasa kesal melihat Darla menatap Zee
__ADS_1
Argghhh
Darla kembali berteriak, ia menoleh kearah Quirin "mengapa tidak membunuhku saja?" teriak Darla pada Quirin
"Tidak!, itu sangat mudah bagiku, tapi aku tidak akan melakukannya, karena aku sangat senang menyiksamu, apa penjelasan ku ini dapat kau terima?" tanya Quirin dengan datar
"Kau wanita iblis!, aku tidak setuju jika kau bersama tuan muda" teriak Darla yang masih suka dengan Zee, ia seakan tidak menyerah untuk mendapatkan Zee.
"Apa aku membutuhkan persetujuanmu? sepertinya tidak, ah ... satu lagi, aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya, tapi kau selalu membuatku kerepotan, jadi aku sedikit ingin bermain denganmu" ucap Quirin datar
"Kau benar-benar kehilangan akal" teriak Darla sambil menangis
"Haha ... kau baru menyadarinya sekarang?, apa itu terlau tidak terlambat?" ucap Quirin dengan tawa yang menggelegar
"Baiklah, cukup bicaranya, aku ingin bersenang-senang, jangan menggangguku" ucap Quirin sambil menarik suntikan ke empat.
Arghhh
"Tidak perlu menyiksaku seperti ini, bunuh saja aku!" teriak Darla, ia sungguh tidak tahan dengan siksaan yang dilakukan oleh Quirin.
"Hingga saat ini kau bahkan tidak memohon maaf padaku, jadi aku berfikir agar menyiksamu lebih lama lagi" ucap Quirin
"Padahal wanita itu sudah beberapa kali memohon padanya, tapi nona ini menghiraukan ucapannya" batin sang dokter sambil menahan tawa
"Aku tidak sudi meminta maaf padamu, semua ini gara-gara kau!" teriak Darla sambil menangis
"Benar saja, wanita sepertimu tidak akan pernah meminta maaf" ucap Quirin dengan datar
Arghhh
Quirin langsung menarik suntikan kelima, setelah itu ia mencabut paksa kelima suntikan itu, darah mulai bercucuran keluar, hingga membuat Darla berteriak dengan kuat, namun teriakan itu tidak di perduli kan oleh Quirin bahkan ketiga orang lainnya.
"Kejadian ini sangat langka, untung saja aku tidak melewatkannya" batin sang dokter
Setelah itu, Quirin beranjak dari atas tangan darla, Darla yang merasakan tangannya tidak berat lagi ingin berusaha duduk, namun dirinya tidak bisa karena rasa sakit itu menjalar keseluruh tangannya.
Bersambung ...
________________________________________________
Karena author jurusan farmasi jadi mau coba penyiksaan yang aneh menggunakan alat-alat kesehatan dan Ini hanya sekedar imajinasi author aja, jika pembaca kurang suka maafkan author 🙏
__ADS_1