
Xia yang berada di tempat tidur melihat pintu terbuka, ia cukup senang karena Quirin kini mengunjunginya.
"Aku merindukanmu" ucap Xia sambil merentangkan tangannya.
Quirin yang masih melangkah kedalam ikut merentangkan tangannya dan memeluk Xia "Aku juga sangat merindukanmu" ucap Quirin sambil memeluk tubuh Xia dengan erat.
Tiba-tiba saja Xia membisikkan sesuatu pada Quirin, sedangkan Quirin membulatkan matanya dan tidak menanggapi bisikan Xia.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Quirin sambil melepas pelukan itu sambil tersenyum.
"Kau bisa melihatnya sendiri, aku sudah baik-baik saja, bisakah kau mengajakku keluar?, aku sudah bosan berada di sini" ucap Xia dengan memelas.
Quirin tampak terdiam, ia pun menghela nafas pelan. "Sebelumnya maafkan aku. Aku tidak bisa menemanimu keluar karena hari ini juga aku akan berangkat ke Singapura" ucap Quirin dengan menurunkan nada bicaranya.
Xia tampak terkejut, di raut wajahnya terlihat jelas bahwa ia sedih mendengar keberangkatan Quirin.
"Kapan kau kembali?" tanya Xia dengan mengerutkan kedua dahinya.
"Tidak tau, mungkin satu bulan atau dua bulan, entah lah, aku juga tidak tau, yang jelas jika pekerjaan ku selesai, maka aku akan kembali ke sini" ucap Quirin sambil tersenyum.
"Baiklah, kau harus berjanji padaku" ucap Xia dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Quirin tidak sanggup melihat Xia menangis, ia pun dengan segera memeluk tubuh temannya itu, dan Xia pun membalas pelukan Quirin.
"Maaf karena tidak bisa berada di sampingmu, tapi kau tenang saja karena aku akan terus memantau mu" ucap Quirin sambil melepaskan pelukan Xia.
"Hei, perkataannya membuat bulu kuduk ku merinding, berhenti mengatakan hal yang mengerikan sepeti itu" ucap Xia sambil memegang tengkuknya.
"Haha .... "
Tawa di ruangan itu tampak pecah, Zee dan Xeno yang melihat Quirin tertawa merasa sangat lega.
Bagaimana tidak?, sepanjang perjalanan Zee melihat Quirin tampak kesal, ia tidak sendiri tidak berani untuk menegur Quirin, karena jika itu terjadi ia takut Quirin akan mengamuk dan hal itu bisa membuat Rea bertindak lebih jauh.
Ketika keluar dari mobil, Jay, Rea dan Xeno bisa melihat di wajah itu tampak tidak terlihat senang.
__ADS_1
Rea yang melihat itu langsung melirik tajam ke arah Zee, ketika Zee menoleh, ia melihat Rea tengah menatapnya.
Merasa tidak bisa memberikan penjelasan, akhirnya Zee mencoba menggeleng pelan bertanda bahwa bukan dirinya yang membuat Quirin menjadi seperti itu. Dan Rea yang melihat gelengan itu sedikit mempercayai Zee.
Rea dan Jay menyusul masuk, sedangkan Xia terkejut karena baru pertama kali melihat wajah kedua orang itu.
Quirin menoleh dan tersenyum "perkenalkan, dia paman ku Jay dan ini anaknya Rea, mereka dari keluarga ibuku" ucap Quirin memperkenalkan keduanya pada Xia.
Xia tampak terkejut, pasalnya ia hanya tau bahwa Quirin hanya mempunyai Grizo sebagai satu-satu keluarganya.
"Bagaimana mungkin?, bukankah kau hanya memiliki paman Grizo saja?" tanya Xia terlihat kebingungan.
"Tidak, selama kau berada di rumah sakit, banyak hal yang telah terjadi, tapi yang jelas aku tidak bisa menceritakannya karena aku haru pergi ke Singapura" jelas Quirin.
Sekarang giliran Jay dan Rea yang terkejut, "apa?!, kenapa terburu-buru, kak?" tanya Rea yang sedikit tidak mempercayai perkataan Quirin.
"Maafkan aku Rea, paman. Aku memiliki urusan di sana dan harus menyelesaikan secepat mungkin, aku membawa kalian ke sini karena ingin meminta bantuan pada kalian" ucap Quirin yang sedang menatap Rea.
Rea tampak menghela nafas pelan, ia tidak menyangka bahwa kakaknya akan pergi jauh dan akan meminta bantuan padanya.
"Apa yang bisa aku bantu, kak?, apapun itu, aku tetap akan membantu, kakak" ucap Rea dengan serius.
Walau mereka tau seganas apa Quirin dan Quirin, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa Jay sangat menghawatirkan keponakannya itu.
Mata Quirin kini beralih pada Jay, ia tampak merasa sangat senang mendengar pria paruh baya itu tengah mengkhawatirkan nya.
"Paman tenang saja. Aku tidak pergi kesana sendirian, aku berencana pergi bersama Zee dan Xeno" ucap Quirin sambil memegang tangan Jay.
Seketika, mata tajam Rea menatap Zee kembali. "bisakah dia tidak menatapku seperti itu?, aku bahkan tidak melakukan apapun pada kakaknya" batin Zee sedikit kesal
walau Zee tau bahwa Rea tengah menatapnya, tapi ia berpura-pura tidak perduli dan tetap berfokus menatap Quirin.
Mata Jay kini menatap ke arah Xeno dan Zee, walau mereka tidak terlalu saling mengenal, tapi Jay justru sangat mengenal ke dua orang itu, dan karena hal itu lah yang membuat hati Jay merasa sedikit tenang.
"Baiklah nak, jaga dirimu baik-baik, jika sudah sampai di sana jangan lupa untuk mengabari paman" ucap Jay sambil memasukkan Quirin dalam pelukannya.
__ADS_1
Quirin tersenyum dan ia pun langsung membalas pelukan itu dengan sangat kuat. semenjak papanya meninggal untuk kedua kalinya Xura yang berada dalam tubuh Quirin mendapat pelukan dari Jay.
Jay mengelus pucuk kepala Quirin, lalu ia melepaskan pelukan mereka.
Quirin kini beralih pada Rea "aku ingin meminta padamu untuk menjaga Xia, dia sahabat satu-satunya yang aku punya, jadi tolong jaga dia dengan baik sampai aku kembali" ucap Quirin sambil memegang kedua pundak Rea.
Rea mengangguk "baiklah kak, aku akan menjaganya sampai kakak kembali" ucap Rea dengan tegas.
"Oh ya ... aku lupa memperkenalkannya, dia adalah Xia, sahabatku. Aku mohon tolong bantu aku menjaganya" ucap Quirin ambil membungkukkan tubuhnya di hadapan Rea dan Jay.
"Hai nak, kamu itu keponakan paman, tidak perlu meminta sambil membungkukkan tubuh seperti itu. Lain kali, jangan pernah melakukan itu, karena keluarga kita jauh lebih terhormat dari yang kamu bayangkan, nak" ucap Grizo sambil menepuk sebelh pundak Quirin.
Zee yang sudah mengerti dengan pembicaraan Jay mencoba tetap tidak mengetahui apapun, tapi ia tau bahwa Rea tengah menatapnya dengan tatapan yang membuat Zee tidak nyaman.
"Maksud, paman?" tanya Quirin yang tidak mengerti.
"Tidak apa-apa, oh ya ... kapan kamu akan berangkat?" tanya Jay mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kami akan berangkat sekarang paman" ucap Quirin.
"Apa!?," teriak Xia.
"Hei!, bisakah kau mengecilkan suara mu itu?" ucap Quirin sudah kesal sambil menggosok telinganya yng sedikit sakit.
"Hehe ... Maafkan aku" ucap Xie menyesal.
Xeno sedari tadi sibuk dengan ponselnya dan tidak memperdulikan di sekitar. Sedangkan Rea menatap kearah Xeno.
"Sepertinya aku tidak akan bertemu dia dengan waktu yang lama" batin Rea.
Jay mengikuti arah mata Rea, ia pun langsung tersenyum puas, karena anaknya memilih pria yang sangat baik.
"Aku berharap mereka bisa bersama, dia pria yang baik dan sangat cocok dengan Rea" batin Jay.
Setelah merasa pekerjaannya telah selesai, Xeno pun tersenyum, dan ia menengadahkan kepalanya lalu menatap Zee dan Quirin.
__ADS_1
"Kita bisa berangkat sekarang" ujar Xeno.
Bersambung ...