Another Person Life

Another Person Life
Melakukan Rencana Pertama dan Kedua


__ADS_3

Calis tersenyum lebar melihat Grizo yang terlihat bimbang "aku sangat ingin melihat kau membuangnya lagi" batin Calis


"Kita tidak jadi pergi, lebih baik kita dirumah saja" ucap Grizo sambil memutar tubuh lalu masuk kedalam rumahnya


Calis membelalakkan matanya, ia tidak menyangka jika Grizo mengeluarkan kata-kata seperti itu "Ap-apa, bagaimana mungkin tidak jadi, aku sudah berdandan cantik seperti ini" ucap Calis sambil menatap kepergian Grizo


Sedangkan Grizo hanya berjalan tanpa mendengarkan ucapan Calis.


Quirin belum jauh dari keduanya, ia memutar lehernya dan melihat sang ayah sedang berjalan kearahnya dan juga Calis berteriak kesal


"Haha ... senjata makan tuan" ucap Quirin tertawa


Calis bertambah kesal ketika melihat Quirin menertawainya "Awas saja kau! semua ini salahmu!" batin Calis


Setelah sang ayah hampir mendekat, Quirin dengan cepat berbalik dan segera menghentikan tawanya, ia tidak ingin berpas-pasan dnwgan sang ayah "Aku ingat jika bukan karena tuan muda es itu, maka yang celaka saat ini bukanlah Clamy melainkan Lura" gumam Quirin


"Aku tidak bisa berjanji dengan siapa kalian berhadapan nantinya, aku? atau Quiran?, Entahlah, dulu aku hanya berjanji padanya, dan


janji itu telah selesai, aku sudah membuktikan bahwa aku juga bisa seperti dia, selanjutnya aku bisa mempercayai Quiran, karena semua keputusan juga tergantung padanya, dan tubuh kami memang harus terbagi" gumam Quirin sambil berjalan santai menuju kamarnya


Quirin berjalan kedalam ruangan dan melihat sang nenek sedang duduk disofa "Apa kau tidak punya sopan santun?, ingin lewat tapi tidak menyapa terlebih dahulu" ucap sang nenek sambil melihat kearah Quirin


Quirin melirik kearah sang nenek "Kau yang memulai, jadi jangan salahkan aku" batin Quirin


"Apa aku pantas sopan pada orang yang telah menyiksa ibuku?" tanya Quirin dengan lirikan tajam


Sang nenek terkejut, pasalnya saat sang nenek menyiksa ibunya, Quirin selalu tidak pernah ada di tempat, jelas itu membuat sang nenek terkejut


Mendengar itu sang nenek membelalakkan matanya, ia tidak "Ka-kau" ucap sang nenek gugup


"Apa kau terkejut?" tanya Quirin dengan heran "Untuk apa kau terkejut?, bukan kah kau sangat terbiasa memukuli ibuku?, jadi atas dasar apa aku harus bersikap sopan padamu?" tanya Quirin dengan nada yang sudah meninggi


Sang nenek terdiam, ia sangat tidak menyangka jika Quirin bisa mengetahui semuanya "ba-bagaimana bisa kau mengetahuinya?" tanya sang nenek dengan suara bergetar


"Apa aku harus memberitahumu?, bukankah aku sudah mengatakan jangan macam-macam denganku?, aku bukan Quirin lemah yang bisa kalian tidak sesuka hati" ucap Quirin menatap tajam sang nenek sambil menekan semua perkataannya


"Aku peringatkan padamu, jangan mencampuri urusanku, jika aku mau, sekarang juga aku bisa membongkar semua kebusukanmu pada ayah, dan kita lihat siapa yang akan diusir dari sini" ucap Quirin sambil tersenyum smirk


"Ja-jangan, jangan, lakukan itu" ucap sang nenek dengan spontan berdiri dari sofa


"Kau takut?, haha .... ini sangat lucu" ucap Quirin sambil tertawa lebar


"Dasar cucu kurang ajar, jika saja dia mati, itu lebih bagus untukku, aku menyesal telah menyetujui permintaan Grizo untuk menikah dengan Arcy yang miskin itu" batin sang nenek sambil melirik Quirin dengan tajam

__ADS_1


Quirin melihat tatapan sang nenek, ia bukan takut melihat tatapan itu melainkan sedang membaca arti dari ekspresi sang nenek "Kau menyesal?, itu sudah tidak ada gunanya, sekarang aku yang akan membalaskan semua dendam ibuku" ucap Quirin


Sang nenek kembali terkejut "apa dia mengetahui isi fikiranku?" batin sang nenek


"Ini peringatan terakhir. jangan bertindak sok pintar dihadapanku, aku juga tidak akan pernah menghormati orang sepertimu dan juga Calis!, ingat itu!" ucap Quirin dengan datar sambil meninggalkan sang nenek


"Dia ancaman untukku, aku harus menyingkirkannya secepat mungkin" batin sang nenek.


Didalam kamar, Quirin memasuki kamar mandi dan membersihkan tubuhnya, setelah cukup lama Quirin keluar dengan menggunakan handuk dan rambut tergerai


"Aku malas memikirkan masalah yang ada dirumah ini, semuanya terlalu rumit, tapi aku bersyukur selalu menemukan titik terang disetiap masalah yang aku jumpai serta mendapat bantuan dari tuan muda es" ucap Quirin sambil bernafas panjang


"Sekarang, aku harus fokus pada rumah ini, setelah selesai baru aku bisa memikirkan tubuh asliku" gumam Quirin sambil memakai piyama tidurnya


Quirin berbaring diatas tempat tidur, hanya beberapa menit ia sudah tertidur pulas.


"Aku sudah melihat semua yang kau lakukan" ucap Quiran tiba-tiba muncul dibelakang jiwa Xura


"Aku sudah membuktikannya padamu, sekarang apa kita bisa bekerja sama?" tanya jiwa Xura sambil melihat kearah belakang


Quiran tampak terdiam sesaat "Baiklah" jawab Quiran tersenyum lebar


Xura yang melihat senyum itu bukan tenang melainkan merinding, karena senyumnya terlihat snagat mengerikan dari senyum Xura sendiri


Quiran yang mendengar itu langsung merubah ekspresinya menjadi datar


"Jika aku sedang diluar kendali, kau bisa keluar sesuka hati, tapi ingat jangan menyakiti orang disekitarku" ucap jiwa Xura


"Haha ... Kita tidak sedang bernegosiasi, kau tidak bisa memerintahku, karena aku penguasa tubuh ini, kau hanya jiwa yang menumpang" ucap Quiran dengan tawa yang menggelegar


Jiwa Xura membelalakkan matanya "Hei, apa kau tau jika jiwa pemilik tubuh ini di dalam tubuhku?, jika dia saja menguasai tubuhku, bagaimana mungkin aku tidak bisa menguasai tubuhnya?" ucap jiwa Xura yang tidak terima


"Aku mengetahui semua yang terjadi di dunia luar, tapi apa kau lupa jika pemilik tubuh ini mempunyai alter ego?, sedangkan tubuhmu tidak memiliki itu. jadi jika kau mengeluarkan emosi maka aku bisa menguasai tubuh ini dengan sesuka hati" ucap Quiran dengan tersenyum lebar


"Artinya, kau tidak bisa sepenuhnya menguasai tubuh ini, karena kemarin kita terikat dengan perjanjian, aku berusaha menahan diri untuk tetap menepati janji itu. sekarang karena kau telah membuktikannya maka aku bisa mentolerir usahamu" ucap Quiran panjang lebar


"Dia sudah membuktikan bahwa dia bisa menjaga tubuh ini, aku juga harus membantunya, jika tidak maka aku juga tidak akan berada di dunia ini" batin Quiran


Setelah mendengar ucapan Quiran, jiwa Xura sangat binggung tetapi ia mengerti arti setiap kata Quiran


"Aku tidak memerintahmu, aku juga sadar jika aku hanya jiwa yang menumpang dan kita harus berbagi. aku hanya mengingatkanmu saja, jika kita bertukar tolong jangan sakiti orang terdekatku, apa permintaan itu terlalu berat untukmu?" tanya jiwa Xura sambil menaikan alisnya


Quiran menatap jiwa Xura dengan intens "Aku setuju" ucap Quiran sambil mengangguk

__ADS_1


Setelah mimpi panjang itu, Quirin terbangun dari tidurnya, ia merasa tidak terkejut atau berkeringat dingin, karena ia merasa telah terbiasa menemui Quiran dalam mimpinya hingga membuatnya kebal dan membuat raut wajah seperti tidak terjadi apa-apa.


"Mari semangat melanjutkan rencana kedua" ucap Quirin dengan bersemangat


Quirin bergegas bersiap-siap memakai baju, ia segera keluar dari kamar lalu melihat semua orang sedang berada di meja makan, namun seperti ada yang kurang tapi Quirin tidak memperdulikan itu


Quirin melihat mereka sedang memakan makanannya tanpa menimbulkan suara apapun


Quirin duduk lalu makan dengan damai, ia yang awalnya tidak memperdulikan kejanggalan itu tiba-tiba rasa penasarannya muncul dan membuatnya melihat kearah semua orang yang ada dimeja makan "Ada yang kurang, tapi apa?" batin Quirin


Ia menghitung orang yang ada di meja makan "Lura?" batin Quirin


"Apa dia masih berada diluar seharian?" batin Quirin dengan heran


"Kesempatan, aku bisa melakukan rencana pertama pada Lura dan melakukan rencana kedua pada Clamy" ucap Quirin sambil tersenyum smirk


Quirin menghentikan makannya lalu pergi dari ruangan itu, semua orang melihat kearah Quirin, mereka bertiga tampak terdiam sambil melihat punggung itu semakin jauh.


"Aku sungguh menyesal" batin Grizo menatap nanar punggung Quirin


"kau akan menyesal karena telah mengancamku" batin sang nenek


"Kau sungguh membuatku kesusahan, jika saja kau tiada, maka Lura pasti sudah menguasai semua harta Grizo" batin Calis menatap benci Quirin


"Rencana yang sudah aku susun dengan sangat rapi tidak akan hancur begitu saja" batin Calis sambil mengepalkan tangannya


Bersambung ...


Para pembaca jangan lupa tinggalkan jejak 👇


✓ Favorite


✓ Like


✓ Vote


✓ Gift


✓ Comment


✓ Rate


Author sangat berterimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2