
Sebelum para penjaga membuka pagar, Xura mengamati dengan seksama. Ia melihat dinding berwana monochrome itu sampai ke ujung jalan, Xura tampak takjub dengan panjang serta tinggi dinding itu.
"Aku yakin orang lain akan berpikir jika dibalik dinding ini hanya sebuah pabrik, sebelum aku mengetahuinya juga pasti akan berfikir hal yang sama, tapi, karena aku memiliki ingatannya jadi aku tidak akan terlalu terkejut " batin Xura dengan mata berbinar serta rasa penasaran yang sangat kuat.
Ketika pagar itu dibuka ternyata dibalik dinding itu terdapat sebuah mansion yang bisa membuat mata siapapun berbinar.
Xura seakan menganga lebar karena mansion itu terlihat terawat dan sangat memanjakan mata. Didepan bangunan itu terdapat sebuah taman yang di lengkapi pohon serta dedaunan hijau.
Padahal sebelumnya Xura mengatakan tidak akan terkejut, ternyata setelah melihatnya langsung Xura bahkan lebih tercengang, bahkan begitu ia kagum melihat kemewahan yang di tampilkan pada mansion itu "luar biasa, patut mendapat julukan orang terkaya se-Asia" gumam Xura sambil melajukan mobilnya dengan perlahan.
Saat membelah jalan, Xura melihat sisi kiri disana terdapat air mancur yang menjulang tinggi.
Rasa kagum terlihat begitu jelas dimatanya, Xura memarkirkan mobilnya dan langsung berjalan memasuki mansion, ia menekan sebuah code yang terletak di samping pintu.
Setelah terbuka Xura melangkahkan kakinya dan ia kembali tercengang dengan melihat interior yang ada di dalam mansion itu "setelah melihat dengan mata sendiri, aku masih tidak menyangka orang seperti dia bisa memilih barang-barang dengan warna yang kontras, aku mengira dia hanya bisa memakai warna monochrome saja" gumam Xura sambil melangkah pelan.
"ah ... lupakan itu, aku harus melihat pernak pernik yang akan aku pakai di pesta nanti" gumam Xura sambil berjalan kearah kamar pribadi miliknya.
Lagi-lagi Xura harus menekan sebuah code agar bisa membuka pintu kamarnya "mansion ini terlalu modern, beruntung aku mengetahui semua codenya" gumam Xura menghela nafas
Setelah masuk ia sudah sangat familiar dengan warna mewah yang ditampilkan oleh kamar itu.
Xura menoleh kekanan dan kekiri "jika itu orang lain, mereka pasti akan menjadi gila, bisa-bisanya didalam kamar pribadi memiliki banyak pintu" gumam Xura yang tidak habis pikir.
Xura berjalan mendekati satu pintu, lagi-lagi ia harus memasukkan kode pada pintu itu, setelah terbuka, Xura langsung mengambil barang yang ingin dipakai.
Setelah mendapatkan semua barang itu, ia langsung keluar dan pergi dari mansion itu.
__ADS_1
Xura segera kembali mansion Alpha, saat memasuki pekarangan mansion, ia melihat mobil alpha sudah terparkir di halaman.
Xura masuk kedalam dan melihat Alpha yang sedang duduk di ruang tamu.
"Aku sudah menunggumu" ucap Alpha sambil tersenyum
Xura berjalan mendekat dan duduk di depan Alpha dengan meletakkan barang bawaan itu di sampingnya.
"Apa yang kamu bawa itu?"
"Hanya mengambil beberapa barang lama yang akan aku pakai di pesta nanti" ucap Xura dengan santai
Alpha begitu terkejut karena semua barang yang di bawa Xura adalah merk terkenal "jangan-jangan ... apa dia tau kalau itu dirimu?" tanya Alpha panik
Xura terkejut melihat reaksi Alpha "tenanglah, aku tidak pulang kemansion keluarga Xavier, melainkan pulang ke mansion pribadi" ucap Xura tertawa geli melihat wajah panik Alpha
Alpha bernafas lega, tapi ia mengerutkan dahinya "mansion pribadi?, kau memilikinya?" tanya Alpha heran, seingatnya Xura tidak pernah memiliki mansion pribadi.
Xura tidak punya pilihan lain selain memberitahu Alpha "dia memilikinya, tapi maafkan aku, kamu tau sendiri karakterny seperti apa" Xura hati-hati memilih kata-kata agar tidak menyakiti Alpha.
Benar saja, Alpha langsung terdiam dan tidak menanyakan hal yang sangat pribadi mengenai Xura asli "apakah semuanya berjalan dengan lancar?" tanya Alpha mengalihkan pembicaraan
"Sudah, hanya tinggal menunggu pertunjukkan yang akan kita buat saja"
***
Quirin dan para polisi itu berlari keruang bawah tanah, setelah berada didepan pintu, mata para polisi itu terbuka sangat lebar.
__ADS_1
Mata mereka sama seperti mata Grizo dan yang lainnya, reaksi yang di tampilkan juga terlihat sama.
Mereka melangkah mendekati Grizo yang sedang menunduk sambil menangis di samping mayat Jean.
Salah satu polisi itu mencoba memeriksa tubuh Jean, ia melihat sebuah tulisan yang terukir di belakang tangan Jean "aku akan menghantui kalian ... " gumam polisi itu menggantung.
Grizo terkejut mendengar apa yang diucapkan oleh polisi itu, ia mulai mengangkat wajahnya dan melihat wajah polisi itu.
Polisi itu juga menyadari jika tulisan itu masih belum lengkap, ia dengan cepat berpindah ke samping Grizo, dan seperti dugaannya, tangan Jean yang lain juga mendapat ukiran "aku membalas dendam pada orang yang telah menyakiti orang yang aku sayangi" lanjut polisi itu
"Apa maksudnya ini tuan Alister?, apa sebelumnya kalian pernah terlibat dengan kasus pembunuhan?" tanya polisi itu menatap Grizo dengan intens.
"Hei kau!, aku memanggilmu kesini untuk menyelidiki kasus kematian nenekku, bukan untuk mendengar kau menghakimi kami,l tanoa adanya bukti. Apa kau pikir kami bisa membunuh?, kami bahkan hampir tidak mempunyai musuh maka dari itu reputasi keluarga kami selalu baik, apa kau pernah mendengar rumor yang jelek tentang kami?, tidak!" ucap Quirin dengan datar
"Nona, aku sudah melihat pesan ini dua kali, jadi bagaimana mungkin kami tidak mencurigai kalian?" ucap polisi itu dengan sopan
"Dua kali?, kau melihat dimana?" tanya Quirin heran
"Setelah melakukan pemeriksaan, kami juga melihat tulisan di tubuh tuan Wiliam, disana terukir tulisan yang berbeda tapi memiliki makna yang sama" jelas polisi itu
Quirin mengerutkan dahinya "ah ... kau sangat mengerti aku, kau benar-benar bisa di andalkan Quiran" batin Quirin tersenyum tipis, lalu ia mengubah ekspresinya dengan cepat.
"Kenapa baru sekarang kalian memberitahu kami?"
"Maaf nona, kami juga baru mengetahuinya, saat kami ingin memberitahu kalian, ternyata nan lebih dulu menghubungi kami"
Quirin mengangguk "ini aneh ayah, kita tidak pernah membunuh orang, dari seluruh anggota keluarga, kita hanya kehilangan ibu, apa orang ini juga berhubungan dengan ibu?" gumam Quirin, ia ingin melihat reaksi apa yang akan dilihatnya di wajah Grizo.
__ADS_1
"I-itu tidak mungkin, kejadiannya sudah beberapa tahun yang lalu, serta ibumu meninggal karena mempunyai penyakit gagal jantung, jadi ayah yakin semua ini tidak ada kaitannya dengan ibumu" gumam Grizo di sela tangisnya.
Bersambung ...