
Tiba-tiba saja Xura di kejutkan dengan suara tawa Quiran "Haha ... bukankah apa yang dia katakan itu benar?, kau bahkan sudah meninggalkannya selama setengah tahun. Kau sendiri juga memutuskan untuk menghilang dari pandangannya. Lalu sekarang kenapa kau marah?" ucap Quiran sambil tertawa lebar.
Xura yang mendengar olokan itu merasa sangat jengah "Diam kau!" teriak Xura dengan amarah yang menggebu-gebu.
Deanin yang ada di depannya bahkan terkejut mendengar teriakan Xura, tapi sedari tadi ia sudah tidak mengatakan apapun, lalu dengan siapa Xura berbicara?.
Deanin semakin tidak nyaman dengan kehadiran Xura, saat ini ia bahkan terlihat sangat takut pada Xura.
"Ups ... aku juga sudah memperingatkan mu, jadi terima saja yang sudah terjadi ini, lagi pula yang dia katakan itu benar" ejek Quiran.
Xura yang mendengar itu bahkan semakin marah, "Aku akui bahwa aku yang meninggalkannya, tapi aku juga butuh waktu untuk menenangkan diri, apa aku salah melakukan hal seperti itu?" batin Xura.
Quiran yang mendengar itu tampak sedikit malas untuk menjawab pertanyaan Xura "untuk menenangkan diri kau memang tidak salah, tapi kau justru malah menambah waktu karena ingin melihatnya berjuang untuk mencari mu, dan hal itu lah yang membuat kau menjadi salah" ucap Quiran lagi.
Xura terkejut mendengar perkataan Quiran, ia pun mulai mengintropeksi dirinya, dan setelah ia memikirkannya lagi, perkataan Deanin memanglah tidak salah, tapi mau bagaimanapun, Zee tataplah milik Xura.
Sekarang, hanya kata-kata itulah yang ada di dalam pikiran Xura, ia tidak suka melihat Zee di sentuh oleh wanita lain.
"Kau tidak mengetahui apapun, kau yang rendah ini ingin memanjat ke kasta yang lebih tinggi?, cobalah bung pikiran itu jauh-jauh, karena aku tidak akan membiarkan membiarkanmu menyentuh Zee untuk yang kedua kalinya" ucap Xura sambil menatap Deanin dengan tajam.
"A-pa maksudmu?" teriak Deanin yang tidak mengerti, rasa gugupnya semakin menjadi-jadi karena mendengar perkataan ambigu dari Xura.
Xura berlari dengan cepat dan mengambil laptop yang ada di atas meja kerja Deanin, ia pun langsung melemparnya tepat di wajah Deanin yang tengah berdiri.
Brakkk
Arrgghh
Deanin berteriak keras, ia tidak menyangka bahwa laptopnya akan melayang kearah wajahnya itu.
Deanin pun terjatuh dengan tangan yang sedang memegang wajahnya, ketika Deanin membuka tangannya itu, ia melihat darah yang sangat banyak.
"Kau!" teriak Deanin dengan keras sambil melihat kearah Xura.
__ADS_1
Sedangkan Xura benar-benar sangat marah, ia bahkan seolah tidak perduli dengan dahi Deanin yang sudah berdarah.
Xura melompati meja itu dan kini berdiri di depan Deanin "bukankah kau menyentuhnya dengan tangan ini?" ucap Xura sambil menggenggam tangan kanan Deanin dengan erat.
Arrgghh
"Lepaskan!" teriak Deanin yang merasa kesakitan.
Bahkan Deanin merasakan kepalanya tengah berdenyut akibat dari perbuatan Xura.
Xura langsung mengambil pisau lipat yang ada di sakunya dan langsung memotong tangan Deanin.
Arrgghh
Proses pemotongan itu bahkan sangat lama, sedangkan Deanin tengah menangis kesakitan karena Xura memotongnya secara perlahan.
"Sakit!, hentikan!" teriak Deanin yang mencoba meronta menggunakan tangan yang satunya.
Dor
Arrgghhh
"Aku hanya menggodanya, kenapa kau melakukan hal kejam ini padaku?" teriak Deanin yang benar-benar merasakan sakit di kedua tangan dan dahinya.
Xura yang mendengar itu menghentikan tangannya, lalu ia pun langsung mematahkan tangan Deanin dengan menjadikan pahanya sendiri sebagai sandaran tangan Deanin.
Krekkk
Arrgghhh
Tangan Deanin kini sudah terpisah dari tubuhnya, Deanin bahkan hanya bisa pasrah melihat tangannya yang sudah berada di tangan Xura.
"Jika penampilanmu seperti ini, kau terlihat jauh lebih cantik" ucap Xura sambil melempar tangan itu ke sembarang arah.
__ADS_1
Wajah Deanin tampak sangat pucat, tubuhnya bahkan gemetar hebat, "Wow, kau sangat hebat, jika orang lain, mereka pasti sudah tidak sanggup lagi, tapi kau berbeda, kau bisa bertahan sampai sejauh ini" ucap Xura sambil tersenyum smirk.
Xura yang sudah benar-benar kesal langsung menembak Deanin di bagian kepala, perut, kedua kaki, serta kedua mata Deanin. dan dengan sekejap Deanin telah menghembuskan nafas terakhirnya.
Dor
Dor
Dor
Dor
Dor
Tidak sampai di situ, Xura melihat kantor Deanin memakai kaca sehingga bisa melihat pemandangan luar.
Xura pun mengarahkan pistolnya ke kaca itu dan menembaknya.
Dor
Prankk
Kaca itu pun pecah dan membuat orang-orang yang ada di bawah merasa terkejut.
Lalu Xura menendang tangan Deanin keluar, ia juga menyeret tubuh Deanin dan melemparnya keluar Kaca.
Orang-orang yang ada di bawah berteriak keras ketika sebuah mayat jatuh dari atas dengan tangan yang sudah terpisah dari tubuhnya.
Berbagai macam reaksi di tampilkan oleh orang-orang itu, ada yang gemetar ketakutan, ada yang menangis, dan ada juga yang pingsan.
"Ini hukumannya jika kau menyentuh milikku" gumam Xura dengan wajah datar dan bergegas pergi dari atas sana.
Bersambung ...
__ADS_1