
Sontak saja membuat Xura terkejut, ia pun langsung melihat satu persatu mereka yang tengah menatapnya.
"Apa?, aku hanya ingin memberinya sedikit pelajaran karena sudah mengusikku, apa aku salah?" tanya Xura dengan wajah polos sambil memiringkan kepalanya.
Leva terkejut mendengar bahwa itu adalah perbuatan Xura, tapi ia cukup senang karena Xura bukan tipe orang yang diam saja jika dirinya di usik "Tidak apa-apa nak, lagipula dia pantas mendapatnya" ucap Leva sambil berjalan mendekati Xura.
Xura yang mendengar pujian itu merasa sangat senang, lalu ia mengeluarkan sebuah flashdisk dari dalam tas dan memberikannya pada Leva.
"Karena bibi telah baik padaku, maka aku akan memberikan hadiah ini pada bibi, untuk kedepannya aku tidak akan ikut campur lagi dengan urusan kalian" ucap Xura sambil tersenyum.
Leva merasa ada yang tidak beres dengan perkataan Xura, ia pun langsung bertanya tantang maksud dari perkataan Xura.
"Apa ini nak?, dan apa maksud perkataanmu?" tanya Leva dengan nada sedih.
"Bibi harus melihatnya sendiri, lagipula aku harus pergi sekarang" ucap Xura sambil berbalik dan meninggalkan semua orang tanpa sepatah katapun.
Semua orang terkejut mendengar perkataan Xura, mereka saling pandang-pandangan dan seketika saja Vano menyadari bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Xura, ia pun keluar dari ruangan itu dan berlari mengejar Xura.
Tapi Vano justru tidak menemukan jejak Xura "Padahal nona baru saja keluar, tapi kenapa aku tidak menemukannya?" gumam Vano yang terengah-engah.
Setelah itu, Vano kembali mengelilingi rumah sakit, tapi tetap saja ia tidak menemukan Xura, karena sudah lelah mencari jejaknya, akhirnya Vano mencoba menghubungi nomor Xura tapi ternyata nomor itu juga tidak tersambung.
"Ini benar-benar tidak beres" gumam Vano sambil berbalik badan dan berlari ke ruangan Gilma.
Baamm
Semua orang tengah terkejut karena hentakan pintu yang begitu kuat, semua orang menoleh kearah pintu pintu yang telah terbuka dengan sangat lebar.
"Aku tidak menemukan jejak nona Xura dimanapun, ponselnya juga tidak bisa di hubungi" ucap Vano dengan nafas terengah-engah.
"A-apa?!" teriak semua orang.
Semua orang yang ada di dalamnya terkejut mendengar perkataan Vano, bahkan tubuh Zee mulai gemetar hebat dan ia pun benar-benar tengah ketakutan.
Gilma yang mendengar itu merasa sangat senang, seketika saja rasa sakit di tubuhnya seakan telah menghilang "Haha ... akhirnya wanita menyebalkan itu pergi juga, sekarang kalian tidak perlu mencarinya, karena aku bisa menjadi pengganti wanita itu.
Kini semua orang menggeretakkan giginya, mereka menatap Gilma dengan sangat tajam "Apa kau tidak bisa menutup mulut mu itu?, atau kau ingin aku menjahitnya saja agar kau tidak bisa berbicara selamanya?" tanya Vano dengan kesal.
Ketika semua orang tengah terfokus pada Gilma, Leva justru lebih penasaran dengan pemberian Xura, dan ia pun mulai memasukkan flashdisk itu ke dalam tv.
Di dalam Flashdisk itu, Leva hanya melihat sebuah file, ia pun mulai mengernyitkan dahinya karena ia hanya melihat satu file saja.
Leva pun mulai membuka file itu, ia melihat Gilma masuk kedalam bagasi mobil dan merusak aliran listrik mobil Zee, disana Gilan mengetahui perbuatan Gilma dan menghentikannya, tapi Gilma tetap tidak ingin menghentikan aksinya itu.
Gilan pun terlihat menghela nafas dan ketika Zee ingin mengendarai mobil itu, Gilan langsung berpura-pura ingin mengendarai mobil tersebut.
Leva terlihat mulai menitikkan air matanya, ia tidak menyangka bahwa Gilan telah mengetahui rencana Gilma dan menukar dengan nyawanya sendiri.
"Terimakasih, terimakasih sudah menyelamatkan anakku" gumam Leva dengan pelan.
Orang-orang tidak ada yang melihat kearah Leva, tapi ketika adegan di mana mobil itu meledak, Leva berteriak keras dan menutup telinganya.
__ADS_1
Kali ini orang-orang mulai menoleh kearahnya dan mereka langsung menatap layar dimana mereka melihat mobil yang tengah di kendarai Gilan telah meledak.
Kejadian selanjutnya, terlihat Zee tengah panik dan sedang memanggil pemadam kebakaran, polisi, dan ambulan secara bersamaan.
Mereka melihat si ujung sana Gilma tengah berdiri seperti patung serta mengeluarkan air mata, tapi tiba-tiba saja, Gilma menghapus air matanya dan seketika saja wajah Gilma berubah menjadi tersenyum senang.
Setelah Gilan di bawa ke rumah sakit menggunakan ambulance, Gilma tengah memanggil seseorang untuk menghapus dan mengedit seluruh cctv yang merekam dirinya, ia pun menyuap para polisi dengan imbalan yang begitu besar.
Ketika Zee sedang menyelidiki kasus Gilan, Gilma mencari kesempatan untuk masuk kedalam ruangannya.
Lalu Gilma melihat Gilan tengah tertidur dengan balutan putih di seluruh tubuhnya, lalu Gilma dengan cepat melepaskan oksigen yang terpasang di hidung Gilan.
Gilan pun mulai merasa sesak nafas dan membuka matanya dengan lebar, ia melihat Gilma tengah memegang alat pernafasannya dengan wajah tersenyum.
Melihat Gilan telah membuka matanya, Gilma memasang kembali alat pernafasan itu, lalu ia mengatakan sesuatu.
"Kakak harus membuat sebuah surat untuk Zee agar dia mau mengurus aku seumur hidupnya" ucap Gilma sambil tersenyum.
"Kakak tidak akan melakukan itu" tolak Gilan dengan pelan.
Mendengar penolakan itu, Gilma merasa sangat marah "Kakak ingin aku hidup menderita?!, lihat saja diri kakak!, kakak mungkin tidak bisa hidup lama, jadi bagaimana hidupku kedepannya!" teriak Gilma dengan marah.
Lalu Gilma menarik tangan Gilan dengan kasar agar kakaknya bisa duduk dan Gilma langsung memberikan bolpoin pada Gilan.
Gilan merasa sakit yang luar biasa di tubuhnya, ketika Gilma menariknya, tubuh Gilan gemetar hebat, Gilma menyadari hal itu, tapi ia bertingkah seolah tidak perduli.
Dengan menitikkan air mata, Gilan menulis dengan perlahan, ia pun berusaha menulis walau tangannya begitu terasa sakit.
Orang-orang yang ada di ruangan itu merasa tercengang, bahkan tubuh mereka semua terasa kaku, kebenaran yang baru saja terlihat itu seakan telah menghantam jantung semua orang.
Kenyataan itu benar-benar menyakiti semua orang yang ada di ruangan itu, karena mereka semua ikut melakukan investigasi dan terus membantu Zee selama bertahun-tahun.
Rekaman itu terus berputar, sampai dimana Gilan telah menulis surat itu, Gilma pun terlihat sedang tersenyum dan langsung mendorong tubuh Gilan kebelakang.
Arrgghhh
Sontak saja membuat Gilan terkejut dan membuat tubuhnya semakin terasa sakit. Gilma juga tidak lupa melepas kembali selang pernafasan itu sampai Gilan mengehmbusakan nafas terakhirnya.
Setelah Gilan tiada, Gilma kembali memasang selang pernafasan Gilan dan ia pun langsung keluar dari ruangan itu.
Setelah keluar, Gilma kembali membayar orang itu untuk menghapus rekaman saat dirinya berada di rumah sakit.
Melihat semua adegan itu dengan matanya sendiri, kini Leva terduduk lemas di atas sofa, ia bahkan seolah tidak bisa bernafas dengan normal.
"Bibi!" ucap Al sambil berlari menghampiri Leva.
Vano, Xeno, Arnius, Staren dan Gavin juga ikut menghampiri Leva, mereka semua terlihat begitu khawatir pada Leva.
Sedangkan Zee berdiri seperti patung, ia terus menatap layar itu dengan sangat dalam. Segala emosi kini telah menumpuk di hatinya.
Ia sendiri bahkan tidak menyangka bahwa dirinya yang sangat mendominasi dan juga di takuti ternyata telah di permainkan oleh wanita yang ada di hadapannya.
__ADS_1
Gilma bisa melihat wajah Zee telah memerah, ia bahkan tau bahwa saat ini Zee benar-benar sangat marah.
"Itu bukan aku!, tidak mungkin aku membunuh kakakku sendiri, wanita itu pasti telah berbuat sesuatu!" ucap Gilma dengan berusaha meyakinkan Zee.
Zee mulai menoleh kearah Gilma dengan tatapan datar, ia pun langsung mengambil sebuah botol alkohol yang begitu besar dan menuangkannya di lubang terbuka yang ada di tangan Gilma.
Aaarrghhh
Gilma melototkan matanya "Sakit kak!, hentikan!" teriak Gilma dengan sangat keras.
Sedangkan yang lainnya tidak memperdulikan teriakan Gilma, mereka justru lebih memilih fokus untuk membantu Leva.
"Saat kau membunuh Gilan, kau tersenyum senang, lalu saat ini kenapa kau berteriak keras?" tanya Zee dengan wajah datar.
Zee mulai mengambil jahitan daging, ia pun menjahit luka Gilma yang terbuka lalu menariknya dengan sangat kuat.
Aarrgghh
Gilma berteriak sambil menangis dengan sangat kuat, jika seorang dokter menjahit luka dengan hati-hati, maka Zee kebalikan dari seorang dokter, ia bahkan menarik menang itu dengan sangat kuat, bahkan terlihat jelas bahwa daging yang telah di jahit Zee ikut tertarik hingga mengeluarkan begitu banyak darah.
"Hentikan kak, aku mohon ... tolong maafkan aku" ucap Gilma sambil memohon dan menangis.
Siapapun yang melihat kondisi Gilma pasti akan merasa kasihan padanya, tapi jika orang-orang melihat masa lalu Gilma mereka justru akan berbalik menghinanya.
Kali ini Zee seperti monster yang tak terkendali, ia benar-benar sangat marah, padahal selama ini ia terus di rudung rasa bersalah yang amat sangat besar.
Tapi ternyata, semua itu telah di rencanakan oleh adik dari temannya sendiri, dan wanita itu justru melimpahkan masalah itu pada Zee hingga Zee merasa depresi dan terus memimpikan kejadian itu.
"Kau meminta maaf?, .... aku tidak akan pernah menerima permintaan maafmu" ucap Zee dengan sangat marah sambil terus menjahit tangan Gilma.
Aarrgghh
"Maaf!, maafkan aku!, maaf!" ucap Gilma terus menerus sambil menangis karena merasakan sakit yang luar biasa.
Zee yang sudah tidak bisa membendung amarahnya, kini mulai mengambil pisau dan langsung memotong jari Gilma satu persatu.
Arrgghh
Gilma terus menjerit tanpa di beri nafas sedikit pun, wajahnya juga terlihat tampak begitu pucat, tapi Zee tampak seolah tidak mendengarkan teriakan Gilma.
Srukkk
Zee langsung menyayat perut Gilma dengan sangat dalam, bahkan Gilma tengah melototkan matanya sambil melihat kearah Zee.
Gilma memerintahkan begitu banyak darah dan mengenai pakaian Zee, lalu Zee memutar pisau itu 180 derajat hingga membuat Gilma terus menerus memuntahkan banyak darah.
Gilma menatap wajah Zee yang tengah melotot kearahnya "A-ku minta maaf kakak" ucap Gilma yang pelan di sisa kesadarannya.
Lalu akhirnya Gilma menghembuskan nafas terakhirnya, sedangkan Zee mulai menitikkan air matanya.
"Seharusnya kau meminta maaf pada Gilan" ucap Zee sambil melepaskan tangannya dari tubuh Gilma dan langsung menghantam tubuh itu ke tempat tidur.
__ADS_1
Adegan itu persis seperti yang dilakukan Gilma pada Gilan, bedanya Gilma melakukan itu ketika Gilan masih hidup, sedangkan Zee melakukan nya setelah Gilma tiada.
Bersambung ...