
Xura yang mendengar penolakan itu mulai menatap Max dengan tajam "Aku datang bukan untuk meminta pendapatmu, Max" ucap Xura dengan kesal.
Max yang masih duduk di kursi, kini berdiri dan berjalan kearah Xura "Aku adalah keluarganya, sedangkan kau bukan siapa-siapa, walau kau orang terkaya atau hacker yang di takuti dunia, tapi jika itu menyangkut Zee, maka jangan salahkan aku jika aku akan terus mengusir mu dari sisi Zee" ucap Max dengan tegas.
Xura tampak mengeram marah, lalu tiba-tiba saja pintu kamar Zee terbuka dan muncullah Al yang sedang tampak kelelahan.
Max, Alica dan Xura menoleh kearah Al, lalu Max memilih untuk menghampiri Al, dan disusul oleh Alica, sedangkan Xura hanya berdiri seperti patung di tempatnya.
"Bagaimana keadaannya?," tanya Max dengan penuh Khawatir.
"Dia mengkonsumsi alkohol secara berlebihan, mengakibatkan peradangan pada pankreas. Apa kalian tidak pernah memperhatikan Zee, Alica?" ucap Al yang mulai meninggikan nada bicaranya saat mengucapkan kalimat terakhir dan mengalihkan penglihatannya kearah Alica.
Alica terkejut mendengar nada bicara Al, ia pun mulai gemetar "Saya tidak tau tuan Al, tuan muda selalu membawa tas besar kedalam kamarnya, dan dia tidak mengizinkan kami membersihkan kamarnya, kami benar-benar tidak tau harus berbuat apa tuan Al. Ketika tuan Zee keluar dari kamar untuk sarapan, saya merasa curiga karena melihat wajah pucat tuan Zee, dan sat itu juga saya langsung menghubungi tuan Max," jelas Alica tampak menunduk dan ketakutan.
__ADS_1
Al yang mendengar itu merasa sangat marah, "Sial!, beruntung kalian datang tepat waktu, jika tidak, maka aku pastikan dia akan tewas," ucap Al dengan marah.
Lalu mata Al tertuju pada satu orang yang tengah berdiri sedikit jauh dari mereka "Kau!" teriak Al yang semakin meninggikan suaranya.
Tatapan Al jauh lebih ganas dari Max, ia bahkan sudah tidak perduli dengan Xura ataupun Quiran, "untuk apa kau datang?, apakah kau berdoa agar dia cepat tiada?" tanya Al dengan nada tinggi.
"Tidak, aku hanya ingin menjenguknya," jawab Xura dengan santai.
Al yang mendengar itu mengeryitkan dahinya, "Hei nona yang di takuti dunia, jika kau tidak menyukainya maka tinggalkan dia, bukankah kau bisa mendapatkan pria manapun?. saat itu kau menghilang secara tiba-tiba dan sekarang kau kembali dengan sendirinya. Apa kau pikir kami semua ini mainan mu?," teriak Al sengaja marah.
"Begitu juga dengan Vano, Staren, Gavin dan Arnius, mereka di perintahkan Zee untuk terus mencari mu. Sampai setengah tahun berlalu semua kerja keras mereka tak pernah membuahkan hasil." terang Al lagi sangat rinci tapi dengan nada yang sangat besar.
Melihat Xura tampak terdiam, Al bahkan sudah bisa menebaknya "Kau segera tiba disini tanpa ada yang memberitahu mu ... jangan-jangan selama ini kau terus memantau kami semua?, tapi kau justru tidak pernah keluar dari persembunyian mu?, apakah aku benar?" tanya Al dengan mata melotot sempurna.
__ADS_1
Al melihat Xura masih berdiri bak patung, Al pun terlihat sangat kesal dan berteriak keras "Arrgghhh ... Pantas saja mereka tidak menemukanmu, karena kau telah menghapus semua jejakmu itu" ucap Al lagi.
Alica dan Max yang mendengar itu mulai menatap Xura dengan tidak senang.
"Apa itu benar nona?, padahal awalnya aku mengira kau baik dan sangat cocok dengan tuan muda. Tapi ternyata aku salah" ucap Alica dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya.
Saat Alica berada di mansion, ia duduk di taman dan tiba-tiba saja Vano datang dan duduk di sebelahnya, lalu Vano menceritakan perjalan mereka, Alica bahkan mengeluarkan berbagai ekspresi.
Alica tampak tidak perduli dengan identitas Xura, bagi Alica, Xura sudah sangat cocok dengan Zee, tapi sekarang Alica sedikit merasa marah karena Xura adalah penyebab Zee terbaring di rumah sakit.
Max bahkan mulai tak menyukai Xura, "pergilah nona, sebelum kesabaranku habis" ucap Max dengan datar dan dingin.
Lalu Al juga ikut mengusir Xura "Pergilah nona, Aku bisa merawat Zee" ucap Al sambil mencoba meredakan emosinya dan memilih untuk pergi dari sana.
__ADS_1
Bersambung ...