
Setelah kembali kedalam kamarnya, Quirin menjatuhkan tubuh di kasur sambil merentangkan tangannya.
"Bagaimana sekarang?, dari mana aku harus memulai memecahkan teka teki ibu dan bergegas pergi dari negara ini?" gumam Quirin sambil melihat langit-langit kamarnya
Quirin memejamkan mata dan menarik nafas secara perlahan agar pikirannya bisa sedikit tenang "tenang Quirin, jalanilah secara perlahan, maka kau akan bisa menempuh semuanya" gumam Quirin sambil membuka mata dan menaikkan satu tangannya keatas serta mengepalkannya dengan sangat kuat.
Setelah dirinya cukup tenang, Quirin bangkit dari tempat tidur dan turun kebawah, ia pergi kedapur dan lagi-lagi ia melihat Lea berada disana.
"CK, apa tidak ada orang lain yang bisa aku lihat" gumam Quirin pelan
Keduanya saling bersitatap, namun Quirin langsung menoleh kearah lain dan kemudian duduk di meja makan.
Di meja itu sudah tersedia hidangan yang cukup banyak, mata Quirin yang melihat itu langsung berbinar, karena dirinya belum makan apapun sejak terbangun.
Saat tangan ingin meraih roti yang ada didepannya, tiba-tiba sebuah suara yang sangat keras ingin menghentikan Quirin "berani sekali kau makan di meja ini" teriak orang itu
Quirin menghela nafas kasar "haa ... aku bertanya-tanya, kau itu seorang maid atau nyonya di rumah ini?" tanya Quirin sambil menatap remeh, lalu menumpu dagunya dengan satu tangan serta tangan satunya lagi sedang memegang meraih garpu dan menunjuk kearah Lea.
Lea yang mendengar itu sangatlah marah "kau!, untuk apa kau tanyakan itu?, bukankah sudah jelas, apa matamu buta?" ucap Lea tersenyum sinis
"Aku tidak buta, tapi kenyataan serta perkataanmu itu sangatlah berbeda, biarkan aku memperjelasnya, kau hanya seorang maid tapi sikapmu menunjukkan kalau kau seperti seorang nyonya dirumah ini" ucap Quirin sambil menunjuk Lea dengan garpu yang di tangan kirinya
"Apa?!, aku tidak seperti itu!" bantah Lea merasa takut
"Benarkah?" tanya Quirin sambil duduk dengan tegak
"Tentu saja" ucap Lea sambil mengangguk dan melipat kedua tangannya
"Berputarlah dan tanyakan pada mereka" ucap Quirin sambil tersenyum lalu ia meletakkan tangan di atas meja dan menumpu kepalanya.
Lea berputar dan melihat semua teman-temannya sudah berada di belakangnya, ia sedikit berkeringat dingin dan sangat gugup
"Coba tanyakan pada mereka" ucap Quirin lagi memojokkan Lea
"Apakah aku seperti yang dia katakan?" tanya Lea dengan gugup
Semua teman-temannya mengangguk setuju "kau tidak bisa berdalih lagi" ucap Quirin tersenyum sinis
__ADS_1
"Dia semakin keterlaluan" bisik Esme
"Benar-benar tidak punya malu" bisik yang lainnya
Mendengar bisikan sang teman, Lea semakin kesal, ia bahkan tidak memperdulikan ucapan sang teman lalu berbalik menatap Quirin "biarkan saja mereka menganggapku seperti itu, karena itu hak mereka" ucap Lea sambil melipat kedua tangannya
"Wow, kau sangat bermimpi untuk bisa menjadi nyonya di sini" ucap Quirin melebarkan matanya seperti sangat takjub akan keberanian Lea, karena saat Lea berbalik tiba-tiba sang pemilik mansion sedang berjalan kearah mereka dan hanya Quirin yang melihat orang itu
"Bagaimana jika mimpi bisa menjadi kenyataan?" tanya Lea dengan penuh kesombongan
Teman-teman membelalakkan mata, mereka tidak menyangka bahwa Lea bisa memikirkan hal yang tidak mungkin terjadi
"Apa yang kau katakan?, bukankah seharusnya kau tidak boleh mengatakan itu" ucap Alica sedikit panik, ia takut jika tuan muda mendengarkan ucapan Lea
"Tidak, memangnya apa?" tanya Lea dengan angkuh
"Bukankah kau mendengarnya tuan muda?, sepertinya dia sangat bersemangat untuk menjadi nyonya di sini" ucap Quirin tersenyum manis kearah Zee
Quirin semakin tersenyum, ia berpikir tidak perlu repot-repot untuk menyingkirkan Lea, karena Zee sudah berada di antara mereka dan mendengar semua ucapan Lea
Lea terkejut mendengar Quirin menyebut tuan muda, saat berbalik Lea melihat di belakang teman-temannya, ternyata Zee sudah menatapnya dengan tajam
"Bukan seperti itu?, jangan langsung menyangkalnya, karena para saksi masih berada di depan tuan muda" ucap Quirin sengaja memojokkan Lea
"Sebelum menjadi maid disini, apa kau lupa isi perjanjian yang telah diajukan oleh Xeno?" tanya Zee dengan dingin
"Ti-tidak tuan muda" ucap Lea menunduk takut
Lea bergetar takut, ia sudah membayangkan hukuman apa yang akan didapat jika mereka melanggar kontrak yang sudah di janjikan.
"Bagaimana bisa tuan muda berada disana dan aku tidak menyadarinya?, apa yang harus kulakukan sekarang?" batin Lea
Zee mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi Felix "segera datang kedapur" ucap Zee dan langsung mematikan ponselnya
Tidak butuh waktu lama, Felix telah sampai "bawa dia keruang bawah tanah" perintah Zee
"Baik tuan muda" ucap Felix membungkukkan badannya, ia langsung berjalan dan mendekati Lea
__ADS_1
"Tidak!, jangan lakukan itu tuan muda!" teriak Lea sambil menangis
Felix langsung menyeret Lea keruang bawah tanah, sedangkan teman lainnya hanya bisa berdiam seperti patung
"Ini berlaku untuk kalian semua, jangan pikir karena aku tidak pernah memarahi kalian maka kalian bisa berbuat seenaknya, dan tidak boleh terulang lagi" ucap Zee dingin
"Baik tuan muda" ucap para maid menunduk takut
"Akhirnya selesai, aku sangat lapar" ucap Quirin sambil menghela nafas panjang
Zee berjalan kearah Quirin lalu duduk didepannya "makanlah dengan tenang" perintah Zee
"Tanpa kau suruh, aku juga akan memakannya, tapi karena maid itu aku menunda acara makanku" ucap Quirin sambil mengambil hidangan
Para masih masih berdiri di tempat, mereka tidak menyangka jika wanita yang duduk dihadapan tuan muda mereka sangat berani bersikap tidak sopan, bahkan yang membuat mereka terkejut adalah sikap Zee yang tidak marah padanya.
"Baiklah, aku berjanji tidak akan ada kejadian seperti itu lagi" ucap Zee dengan tersenyum tipis sambil melihat kearah Quirin
"Tepati janjimu, sekarang jangan menggangguku" ucap Quirin tanpa melihat kearah Zee, ia sangat fokus mengisi perutnya yang sudah kosong.
"Kalian pergilah, aku akan menemaninya" ucap Zee sambil melihat Quirin makan
"Baik tuan muda" ucap para maid secara bersamaan lalu membungkuk dan pergi
Setelah cukup jauh berjalan, para maid akhirnya mulai membicarakan tentang pasangan tuan muda mereka "sepertinya dia nyonya masa depan kita" ucap Alica sambil berjalan bersama
Esme langsung menoleh kearah Alica "tapi aku kurang setuju wanita bar-bar seperti itu menjadi pendamping tuan muda" ucap Esme menggelengkan kepalanya
"Hei, jangan hanya mengenal dari luarnya saja, jika kita sudah dekat dengannya, maka kita akan tau seluruh sifatnya" ucap Mily mengingatkan
"Benar, jika dibanding nenek sihir itu, aku lebih setuju nyonya kita adalah wanita yang bersama tuan muda sekarang, dia jelas lebih cantik dan dari wajahnya menampilkan kalau dia wanita yang lembut" ucap Daisy sambil memegang dagunya
"Lagian aku merasa tuan muda sangat cocok dengannya, apa kalian tidak melihat saat tuan muda tersenyum?, bahkan itu pertama kalinya bagiku" ucap Alica sambil menatap ketiga temannya
Ketiganya saling menatap dan mengangguk "Benar, aku juga melihat tuan muda tersenyum" ucap ketiganya secara bersamaan
Alica tersenyum mendengar ketiga temannya setuju dengan pendapatnya "tuan muda, kami mendoakanmu agar bisa secepatnya menyatu dengan nyonya lalu dengan cepat menyingkirkan nenek sihir itu" batin Alica
__ADS_1
Bersambung ...