
"Hah, ini bisa membuat hatiku menjadi lebih baik, cepat atau lambat penghalang itu pasti akan tersingkirkan oleh tuan Max" ucap Lea dengan senang sambil berbalik kearah dapur dan bersenandung.
Saat Zee ingin beranjak dari tempat duduknya, ia mendengar suara seseorang "Eughhh"
Mendengar suara itu, Zee kembali duduk dan menoleh kearah Quirin.
Quirin membuka matanya secara perlahan, ia mengerjakan matanya secara perlahan dan mendapati Zee sedang duduk disampingnya.
"Apa nyawamu sudah terkumpul sepenuhnya?" tanya Zee dengan wajah khasnya
Quirin terkejut mendengar Zee mengatakan hal yang tidak masuk akal "Apa kau tidak bisa merubah ekspresimu itu?, setiap kali melihat wajahmu aku seperti mau menerkamnya" ucap Quirin sambil menggerakkan tangan dan memijit pelipisnya
Quirin memejamkan matanya sambil memijit pelipisnya berulang kali "karena kau sudah sadar maka aku akan pergi sekarang" ucap Zee yang tidak memperdulikan ucapan Quirin
"Pergilah, aku juga tidak ingin melihatmu" ucap Quirin kesal
"Baiklah, jika ada singa yang masuk, kau tidak diizinkan melapor padaku" ucap Zee tersenyum tipis sambil beranjak dan berjalan menuju pintu.
Quirin membelalakkan matanya"Singa?, apa maksudnya?" gumam Quirin heran
Setelah Zee pergi, Quirin kembali mengingat kejadian saat dia bertarung dengan para pria itu dan akhirnya tertangkap, setelahnya Quirin tidak bisa mengingat apapun
"Apa yang terjadi padaku?, bagaimana aku berada disini?" gumam Quirin
"Aku sangat yakin jika aku tidak sadarkan diri, maka Quiran lah yang mulai menguasai tubuhku, tapi aku tidak tau apa yang telah dia lakukan" gumam Quirin sambil memegang kepalanya
Quirin masih didalam kebingungannya, sedangkan Zee sudah berada didalam ruang kerja bersama Max.
Keduanya saling berdiam tanpa ada yang memulai pembicaraan.
Max melihat Zee membuka dokumen "apa kau tidak ingin memberiku penjelasan?" tanya Max dengan memicingkan matanya
"Tidak" ucap Zee cuek sambil membuka lembaran dokumen itu
Max yang mendengar itu membelalakkan matanya "astaga, bagaimana aku bisa mempunyai teman seperti ini" gumam Max sambil mengacak-ngacak rambutnya
"Sudahlah aku tidak ingin berdebat denganku, aku tidak setuju kalau kau bersama wanita menjijikkan itu" ucap Max sambil melipat kedua tangannya dan melihat kesembarang arah
Zee yang membuka lembar dokumen kini menghentikan tangannya, ia mengangkat kepalanya dan menatap Max "jaga ucapanmu, jika tidak, jangan menyalahkanku karena bertindak kejam" ucap Zee dengan dingin disertai sorot mata yang tajam
Max sangat terkejut, ia mulai menoleh kearah Zee dan melihat pria didepannya sudah menatap dengan tajam
__ADS_1
"Kau membelanya?, apa yang sudah wanita itu lakukan padamu?" tanya Max dengan kesal
Ia sedikit takut dengan Zee namun ia memberanikan diri untuk bertanya.
"Kau tidak tau apa-apa mengenainya, jadi tutuplah mulutmu itu" ucap Zee sambil melihat kembali dokumen yang ada didepannya
"Aku sedang bertanya padamu, baiklah!, jika kau tidak menjawabnya maka aku akan langsung bertanya pada wanita itu" ucap Max sambil meninggalkan ruangan
"Selamat menenangkan singa yang sangat keras kepala" gumam Zee tersenyum tipis
Max meninggalkan ruangan Zee, ia mulai bejalan kembali keruangan Quirin, tadinya ia menunggu Zee untuk mendapatkan jawaban, tetapi ternyata Zee bahkan tidak mau menjawab pertanyaannya, jadi jalan satu-satunya adalah bertanya pada Quirin
Setelah berjalan cepat, tanpa mengetuk pintu Max langsung masuk kedalam ruangan dan berdiri di ambang pintu sambil melihat kearah tempat tidur.
Sedangkan Quirin sangat terkejut mendengar suara pintu terbuka "siapa kau?" tanya Quirin dengan sorot mata yang tajam
Max melihat tatapan itu dari kejauhan"sangat mirip dengan Zee" batin Max
Ia sangat terkejut melihat tatapan Quirin "justru itu adalah pertanyaanku, siapa kau?, apa motif mu mendekati Zee?" tanya Max berterus terang dengan tatapan tidak suka
"Jangan asal menuduhku, aku tidak mempunyai hubungan apapun dengannya, aku sudah menjelaskannya padamu, sebaiknya pergilah dari sini" ucap Quirin dengan tegas sambil memejamkan matanya sebentar, karena sedari tadi ia sibuk memikirkan kejadian-kejadian yang tidak pernah ia ingat
Bukannya pergi, Max malah melangkah masuk kedalam ruangan "para maid mengatakan jika kau menggoda Zee dengan tubuhmu" ucap Max sambil berdiri disamping tempat tidur Quirin dan melipat kedua tangannya
"Apa kau tidak mengerti ucapanku?, aku bahkan tidak menyukai tuan muda bagaikan es itu!" ucap Quirin dengan tegas sambil menatapnya dengan tajam
Max menatap Quirin dengan heran, ia bahkan baru pertama kali mendengar ada wanita yang menolak untuk bersama Zee,
"Kau yakin tidak menyukainya?" tanya Max dengan memastikan
"Jangan sampai aku mengatakan untuk yang kedua kalinya, aku bukanlah wanita yang suka bersabar" ucap Quirin dengan mengeluarkan aura dinginnya
"Bukan hanya tatapan saja, bahkan keduanya sama-sama bisa mengeluarkan aura dingin di sekitar mereka, mereka benar-benar cocok" batin Max masih menatap Quirin dengan tidak percaya
Setelah Max terperanjat kaget, ia langsung menggelengkan kepalanya "apa otakku sudah rusak?, tidak!, tidak!, wanita ini tidak cocok dengan Zee" batin Max kesal
"Aku peringatkan kau sekali lagi, jangan mendekati Zee!, ingat itu!" ucap Max tegas sambil melangkah keluar ruangan
"Ya, ya, pergilah, aku tidak mengenalmu tapi kau sudah menuduhku sembarangan, sungguh membuatku kesal" gumam Quirin menatap punggung Max
Max yang masih berada diambang pintu mendengar semua gumaman Quirin, ia hanya bisa berdecak kesal
__ADS_1
"Cih, teman-teman tuan muda es itu memang tidak ada yang waras" ucap Quirin kesal kembali memejamkan matanya untuk mencoba mengingat kejadian-kejadian itu
Quirin mengacak-ngacak rambutnya "ah aku menyerah, aku tidak bisa mengingatnya, lebih baik aku bertemu dengan Zee dan bertanya padanya" ucap Quirin sambil beranjak dari tempat tidur
Quirin keluar dari ruangannya, ia turun kebawah untuk mencari Zee, saat berada di bawah ia malah bertemu dengan Lea
Jarak mereka tidaklah dekat, keduanya saling memandang dan Lea melihat dengan tatapan tidak suka "cih, wanita penggoda" cibir Lea dengan kuat hingga membuat Quirin mendengar cibirannya
"Jika aku wanita penggoda lalu kau apa?, bukankah kau sama denganku?" tanya Quirin santai, ia tidak marah karena sekarang ini ia cukup lelah
Lea yang mendengar itu mengepal kedua tangannya "tutup mulutmu!, aku tidak sepertimu" ucap Lea dengan sangat kuat
"Oh ... benarkah?, lalu apa yang kau lakukan selama ini?, bukankah kau selalu mencari perhatian tuan muda?" tanya Quirin tersenyum tipis
Lea terlihat sangat binggung tapi ia tidak mungkin membenarkan ucapan Quirin "Tidak, aku disini benar-benar karena ingin bekerja" ucap Lea penuh keyakinan
"Benarkah seperti itu?" tanya Quirin sambil menempatkan jari telunjuk pada pipi nya
"Tentu saja benar" ucap Lea percaya diri
"Baiklah, aku akan memegang perkataanmu, jika kau mendekati Zee karena maksud lain, maka kau akan berurusan denganku, ingat itu" ucap Quirin sambil menatap tajam kearah Lea
"Kau tidak memiliki kekuasaan disini, kau hanya wanita tidak tau diri yang dibawa oleh tuan muda" ucap Lea dengan lantang
Quirin yang sudah bersabar kini mulai kehabisan kesabaran "aku sudah melepaskanmu, tapi kau masih membuka mulutmu itu, aku bukanlah wanita yang suka bersabar" ucap Quirin dengan kesal
Quirin melihat dibelakang Lea ada sebuah meja dan diatasnya terdapat sebuah pisau, ia berjalan perlahan mendekati Lea hingga membuat Lea mundur secara perlahan dan membentur dinding
"Menjauhlah dariku!" teriak Lea, ia sedikit takut melihat mata Quirin
Quirin tidak menghiraukan ucapan Lea, ia langsung mengambil pisau itu dan dengan cepat menggores leher Lea hingga membuatnya berteriak kesakitan
Arghhhhh
Air mata Lea kini mulai mengalir dengan deras "Apa yang kau lakukan?" teriak Lea sambil memegang lehernya yang mengeluarkan darah dengan deras
Quirin tersenyum smirk, ia tidak memperdulikan Lea yang sudah berderai air mata "aku peringatkan sekali lagi, jangan bermain-main denganku, jika selanjutnya kau masih menggangguku ... bukan hanya ini yang bisa kulakukan tapi ... " ucap Quirin menggantung sambil memutar-mutar pisau ditangannya
Lea yang mendengar itu langsung membelalakkan matanya dengan lebar "kau mengancamku?" tanya Lea sambil menggeretakkan giginya
"Aku bahkan belum menyelesaikan kalimatku, jadi dengarkan baik-baik" ucap Quirin dengan santai
__ADS_1
Quirin mulai mendekatkan wajahnya "bukan hanya mengancam, bahkan aku juga bisa membuatmu hilang dari peredaran dunia seperti membunuhmu dengan tanganku sendiri" ucap Quirin dengan pelan sambil tersenyum smirk
Bersambung ...