Another Person Life

Another Person Life
Bertemu Darla


__ADS_3

Mereka telah sampai di depan resepsionis, tapi bukannya bertanya Vano malah langsung menuju ruangan sang dokter.


Quirin yang melihat tingkah Vano hanya bisa menggelengkan kepalanya "suka berbuat seenaknya" batin Quirin


Zee tidak ambil pusing dengan sikap Vano, ia langsung mengikuti Vano dari belakang, Quirin terkejut karena melihat Zee ikut melangkah "dia juga?, atasan dan bawahan benar-benar tidak waras" gumam Quirin sambil mengikuti Zee


Mereka bagaikan anak ayam yang mengikuti sang induk, karena melihat tatapan para suster yang aneh, Quirin mempercepat langkahnya agar bisa berjalan berdampingan dengan Zee.


Setelah sampai didepan ruangan sang dokter, Vano membuka pintu ruangan itu dengan sangat kasar hingga membuat sang dokter yang berada di dalam terkejut.


Dokter itupun menoleh kearah pintu "apa yang kau lakukan?, kau ingin membunuhku?" tanya dokter itu kesal, ia memperbaiki duduknya agar tidak menghilangkan kewibawaannya.


Vano tidak memperdulikan pertanyaan yang di ajukan oleh sang dokter, ia bersikap acuh bahkan bertanya dengan nada datar "bagaimana dengan pasien yang aku titipkan padamu?" tanya Vano tanpa sungkan


"Kenapa sikapnya seperti itu?, apalagi yang telah dia lewati sehingga membuatnya lebih dingin dari biasanya?" batin sang dokter


Ia merasa aneh dengan tatapan serta sikap Vano, selama mengenalnya, Vano tidak pernah membuat ekspresi yang saat ini dilihat oleh sang dokter.


Quirin dan Zee hanya menunggu di luar, tapi keduanya mendengarkan perkataan keduanya.


"Sudahlah, ini urusan dia, aku tidak ada hak untuk menikahkan itu" batin sang dokter


"Dia selalu memberontak hingga membuat kepalaku sakit, jadi aku memberikannya obat penenang, dan saat ini dia masih belum sadarkan diri" ucap dokter itu kesal, karena mengingat Clamy selalu memberontak dan membuatnya benar-benar kesal


"Lalu?, dimana wanita itu?" tanya Vano menatap sang dokter


"Aku membawanya keruang bawah tanah, apa itu tidak masalah?" tanya sang dokter sedikit takut, karena sekarang ekspresi Vano benar-benar menakutkan.


"Tidak masalah, aku kesini bersama dengan tuan muda dan nona muda, kau hanya perlu menunjukkan kamarnya saja" ucap Vano datar


Vano berbalik dan berjalan keluar, disana Zee dan Quirin saling melihat kearah Vano "tuan muda, dia tidak berada disini, tapi diruang bawah tanah" ucap Vano tanpa ekspresi


Dokter beranjak dari duduknya, ia melangkah keluar dan pandangannya mengarah pada sepasang manusia, keberadaan mereka sedikit mencolok karena mengenakan pakaian yang serasi serta paras yang begitu tampan dan cantik membuat sang dokter menganga tanpa berkedip.


"Wanita ini pacar tuan muda?" batin sang dokter menerka-nerka


Vano melihat temannya berdiam diri dengan mata yang ingin keluar dari tempatnya "jangan menatap nona seperti itu, tunjukkan saja jalannya" tegur Vano agar sang dokter tidak mengalami kesulitan, karena jika tuan muda marah maka tidak ada yang bisa menanggung akibatnya.


"A-aku tidak melihatnya seperti yang kau bayangkan, aku hanya tidak menyangka tuan muda bisa mendapatkan wanita secantik ini, bahkan pakaian mereka sangat serasi" ucap sang dokter gugup lalu matanya tanpa sengaja menatap kedua mata Zee

__ADS_1


Deg!


"Tatapan sangat menusuk" batin sang dokter


Zee menatap sang dokter dengan sangat tajam, hingga membuat sang dokter berdiri tak bergeming.


"Emm ... maafkan aku tuan muda, mari ikuti saya" ucap sang dokter dengan memberanikan diri berjalan didepan ketiganya


Quirin melihat ketiganya dengan binggung "apa yang sedang mereka lakukan?, kenapa saling menatap?" batin Quirin


Setelah sang dokter melangkah, Quirin juga ikut melangkah dan ikuti oleh Zee dan Vano.


Mereka berjalan dilorong yang sangat ramai dengan pasien dan para perawat, semakin dalam mereke menelusuri lorong itu maka semakin sepi pula para pasien.


Hingga mereka sampai diujung lorong yang tampak sangat gelap, area itu sangat dilarang untuk di masuki siapapun, agar tidak ada yang memasuki area itu, sang dokter memasang tanda peringat dilantai.


Diujung lorong, terdapat sebuah pintu yang sedikit usang, sang dokter mencari kunci didalam sakunya, setelah menemukannya, ia membuka pintu dan terlihatlah ruangan yang berisikan perabotan rusak. namun ditengah-tengah itu terdapat permadani yang terbentang di lantai.


Sang dokter masuk kedalam dan memencet sebuah tombol, ketiganya hanya mengikuti dan berdiri diam di ambang pintu, lalu mereka melihat semua gerak gerik sang dokter.


Sang dokter menyingkirkan permadani itu dan terlihatlah sebuah lorong yang sangat gelap gulita.


"Aku menempatkan kedua wanita itu disini" ucap sang dokter tanpa menoleh


Mereka bertiga hanya mendengar ucapan sang dokter, lalu mereka mendekati ruangan itu, spontan Quirin langsung menutup hidungnya dengan satu tangan "rasanya aku ingin mengeluarkan isi perutku" batin Quirin


Zee melirik kearah Quirin "jika tidak tahan, kau boleh menunggu diatas"


Sang dokter dan Vano menoleh kebelakang lalu mendongakkan kepala mereka "maafkan aku nona, tapi ini bukanlah tempat yang harus nona datangi, jadi nona bisa menunggu kami" saran sang dokter


"Tidak perlu, aku masih bisa menahannya" ucap Quirin dengan menggelengkan kepalanya dengan pelan


"Baru pertama kali aku melihat wanita seperti dirinya" batin sang dokter


Karena ia selalu mengenal wanita manja, dan selalu mengeluh sangat berbeda dengan wanita yang ada dihadapannya ini.


"Keras kepala" ucap Zee sambil mengeluarkan sebuah kain kecil yang ia bawa kemana-mana "pakailah" ucap Zee sambil memberikannya pada Quirin


"Wah, wah lihatlah, bahkan tuan muda sangat lembut padanya" batin sang dokter sambil tersenyum

__ADS_1


"Aku peringatkan sekali lagi, jangan menatap nona dengan senyum menjijikkan itu, jika kau terkena hukuman dari tuan muda, maaf saja, aku tidak bisa menyelamatkanmu" ucap Vano sambil menatap sang dokter


Sang dokter tersentak kaget "sudah aku katakan, aku tidak berpikir seperti yang ada didalam kepalamu" ucap sang dokter dengan kesal


Quirin menerima pemberian itu, ia langsung menutup hidungnya dengan menggunakan kain itu "aromanya sangat menenangkan" batin Quirin


Setelah merasa sudah cukup terkendali, sang dokter melanjutkan langkahnya, hingga mereka berada dianak tangga terakhir.


Terlihatlah ruangan panjang yang sangat menyeramkan, bahkan mengeluarkan aroma busuk yang sangat menyengat.


"Mengerikan" batin Quirin sedikit merinding


Quirin melirik kearah Zee lalu bergantian melihat kearah Vano "mereka seperti orang yang sudah biasa menghadapi situasi seperti ini" batin Quirin


"Karena wanita itu masih tidak sadarkan diri, maka lebih dulu aku menunjukkan dia pada kalian" ucap sang dokter


Quirin tersentak kaget, ia berjalan sambil termenung sehingga tidak menyadari jika mereka telah sampai.


Mereka berdiri didepan jeruji besi, didalamnya terdapat satu orang yang tidak dikenalinya, namun sudah dipastikan jika itu adalah seorang wanita, karena memiliki rambut yang panjang "Siapa dia?" bisik Quirin pada Zee


"Darla" ucap Zee sambil menatap kedepan


"Apa?!, kau yakin itu dia?" tanya Quirin memastikan, karena seingatnya tubuh Darla sangatlah berisi tidak seperti wanita didepannya.


Wanita itu terlihat kurus dan juga mempunyai banyak luka diseluruh tubuhnya, bahkan ia juga memiliki luka yang sangat menjijikkan kakinya.


"Sangat yakin nona, karena saat ini hanya ada Darla dan Clamy yang menempatkan tempat ini" jelas Vano


"Menjijjkkan" ucap Quirin sedikit tidak tahan akan penampakan yang ada didepan matanya.


"Emm ... maafkan saya nona, karena ini adalah pekerjaan saya, jadi saya harus melakukan apapun padanya" ucap sang dokter tersenyum canggung


Quirin menoleh kearah sang dokter, ia masih tidak mengerti orang seperti apa dokter yang ada dihadapannya ini, tapi ia tetap diam dan tidak mengatakan apapun


Darla yang berada dibalik jeruji seperti mendengar suara kebisingingan, ia yang menutup mata sangat merasa terganggu dengan keributan yang ditimbulkan oleh Quirin dan yang lainnya.


Kini Darla membuka matanya secara perlahan, ia mengerjabkan matanya dan menatap lurus kedepan.


Matanya menangkap satu orang yang sangat ia benci "Kau!, semua ini karena kau wanita murahan!" teriak Darla, mata yang awalnya terlihat sayu dan seperti tidak ada tanda kehidupan itu kini membelalak dengan sempurna.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2