
Quirin mendongakkan kepala keatas dan perlahan memejamkan matanya "aku sungguh lelah melakukan balas dendam ini, bahkan aku membuat mereka meregang nyawa dengan tidak wajar, tapi apa yang bisa aku lakukan?, sakit hati yang ku rasakan sangatlah dalam, hingga aku tidak mampu untuk berdiri sendiri dan pada akhirnya meminta bantuan dari Zee" gumam Quirin
"Aku juga sudah berjanji pada ibu Quirin dan akan membalaskan dendam pada orang-orang yang sudah menyakiti kami" gumam Quirin dengan pelan
Ketiga orang itu menatap dengan tatapan sedih, mereka melihat raut wajah Quirin yang terlihat lelah.
"Apa yang kau pikirkan?, sekarang bukanlah waktunya untuk berpikir, orang-orang yang harus kau musnahkan masih berkeliaran di luar sana, inilah hidup yang harus kau jalani" batin Zee sambil menatap Quirin dengan lekat
Seluruh tubuh Quirin di hiasi oleh noda merah, hal itu tidak membuatnya terlihat menyeramkan tapi, melainkan membuat dirinya terlihat sangat menawan.
"Dia tidak terlihat menjijikkan, justru sebaliknya, ia terlihat lebih menarik dari sebelumnya" batin sang dokter sambil tersenyum
Setelah merasa bebannya telah hilang, Quirin menundukkan kepalanya dan menghembuskan nafas dengan kasar, ia berbalik dan berjalan mendekati jeruji.
Quirin tidak memperdulikan tatapan ketiga manusia didepannya, ia dengan santai mengambil kunci yang ada di sakunya lalu membuka jeruji dengan cepat.
Quirin keluar dan berjalan didepan Zee "sudah selesai?" tanya Zee datar
Quirin menghentikan langkahnya, lalu ia menoleh kearah Zee yang berada tepat disampingnya "apa matamu buta? tidak perlu bertanya lagi" ucap Quirin dengan datar sambil melewati ketiganya.
Mendengar ejekan dari mulut Quirin, Vano dan sang dokter menahan tawa mereka, namun mereka berdua langsung terdiam saat mendapat tatapan tajam dari Zee.
Tanpa mengeluarkan suara apapun, ketiganya mengikuti langkah kaki Quirin, mereka melihat Quirin berdiri didepan jeruji milik Clamy.
"Aku akan melihat seperti apa permainan yang akan kau lakukan" batin Zee
"Pasti pertunjukan ini lebih menarik dari sebelumnya" batin sang dokter
"Nona, aku sangat berharap padamu, semoga permainan nona tidak mengecewakanku" batin Vano menatap punggung Quirin
Mereka bertiga sedikit penasaran karena melihat Quirin hanya berdiri dan menatap Clamy.
Ketiganya langsung mendekat dan mereka melihat Clamy terduduk disudut dinding sambil meringkuk ketakutan.
"Apa wanita ini yang sudah membuat temanku terbaring koma dirumah sakit?" tanya Quirin dengan wajah datar
__ADS_1
Clamy tersentak kaget ketika mendengar suara wanita yang tidak dikenalnya "teman?, apa dia teman wanita yang sudah aku tabrak?" batin Clamy bertanya-tanya
Clamy tetap meringkuk dengan melipat kedua kakinya dan menenggelamkan kepala disela kedua pahanya.
Ia tidak punya keberanian untuk mendongakkan wajahnya, rasa takut kini mulai menghantui dirinya, bahkan ia juga sudah mendengar teriakan-teriakan yang begitu keras.
"Aku sedang bertanya padamu!" ucap Quirin dengan nada yang mulai meninggi.
Clamy yang mendengar nada tinggi itu pun langsung terkejut, ia memberanikan diri untuk mendongakkan wajahnya, dan perlahan mulai menatap Quirin.
Mata yang bengkak disertai air mata dan terlihat jelas penampilan Clamy yang sangat berantakan, bahkan tubuh sedikit kurus serta wajah yang tidak terllau cantik, karena di wajah itu terdapat goresan-goresan kecil.
Baru beberapa saat mendongakkan wajah, kini Clamy membelalakkan matanya dengan lebar. ia melihat wanita berlumuran dengan noda merah, tubuhnya yang sudah sedikit normal kini kembali bergetar hebat.
Quirin sama sekali tidak merasa kasihan, justru ia menatap dengan datar "apa yang kau lihat?" tanya Quirin, kali ini Quirin menurunkan nada bicara, karena Clamy sudah berani untuk menatapnya.
Clamy tidak menjawab pertanyaan Quirin, ia tetap diam sambil membelalakkan matanya "jika saja ka tidak menatapku, maka sudah dipastikan saat ini juga aku akan akan membuatmu menyesal" ucap Quirin dengan datar
Clamy semakin takut setelah mendengar ucapan Quirin, ia kembali meringkuk dan menundukkan wajahnya.
"Apa yang sudah dilakukannya pada wanita yang ada dibalik dinding ini?" batin Clamy dengan bertaya-tanya
Karena penempatan mereka hanya berbatas dinding, ketika Quirin sedang menyiksa Darla, sangat kebetulan Clamy telah tersadar dari tidur panjang.
Disaat itu juga nyawa Clamy langsung terkumpul sepenuhnya, ia yang baru terbangun sangat terkejut mendengar teriakan seorang wanita, demi tidak mendengar teriakan itu, Clamy menutup telinga dan menjauh dari dinding yang berdekatan dengan Darla.
Quirin bisa melihat dari gerak gerik yang di keluarkan Clamy, ia bisa menduga kalau Clamy telah mendengar teriakan Darla "kau tidak perlu sekaget itu, karena kau hanya mendengar teriakannya, bukan merasakan apa yang telah dia lalui" ucap Quirin dengan sangat,
"kenapa kau tidak berani menatapku?, kemana perginya keberanianmu itu?" tanya Quirin, ia bahkan lupa jika penampilannya yang sekarang bagaikan malaikat pencabut nyawa.
Clamy kembali mendongakkan kepala, tapi pandangannya tetap menunduk karena tidak berani menatap Quirin
"Apa aku harus bertanya mengapa kau menabrak temanku?" tanya Quirin dengan santai
Ketika Quirin menyebut temannya, Clamy langsung tersulut emosi, ketakutan yang dia rasakan langsung menghilang dalam sekejap mata "dia merebut Al dariku!" teriak Clamy
__ADS_1
"Merebut?, bukankah kau yang telah meninggalkan Al, dan ketika Al mendapat pacar baru, kau malah mengatakan wanita itu merebut Al darimu?, apa otakmu sungguh tidak waras?" tanya Quirin dengan kesal
Clamy terdiam mendengar ucapan Quirin, tapi dirinya tidak ingin di salahkan begitu saja "wanita sepertinya harus ku singkirkan!" teriak Clamy sambil menatap tajam kearah Quirin
Quirin mengerutkan dahinya "apa urat malu mu sudah putus?, aku tanya sekali lagi, bukan kah kau yang meninggalkan Al?" tanya Quirin dengan menekankan suaranya
Clamy tersentak kaget, mau tidak mau ia harus mengatakannya "y-ya, aku telah meninggalkannya, tetapi ketika aku mengejarnya kembali, dia langsung memperkenalkan pacar barunya itu, dan hal itu yang membuatku sangat marah!" ucap Clamy sambil mengeluarkan urat-urat tangannya.
"Kau marah karena dia mempunyai pacar baru?, atau, kau marah karena wanita itu bisa mendapatkan segalanya dari Al?" tanya Quirin dengan nada mengejek
"Dia sangat pintar mengubah ekspresinya dalam sekejap" batin sang dokter
Clamy yang mendengar itu benar-benar sangat terkejut, ia telah terpojok dengan kata-kata yang di lontarkan oleh Quirin.
Karena tidak mendapat jawaban dar Clamy, akhirnya Quirin bertanya kembali "Lalu apakah dulu Al tidak marah ketika kau meninggalkannya begitu saja?"
Clamy mengerutkan dahinya, ia tidak suka jika orang lain menanyai tentang masalah pribadinya "kau tidak perlu ikut campur!" ucap Clamy dengan berani
Quirin semakin kesal mendengar jawaban yang di berikan oleh Clamy "apa saat tinggal disini telingamu menjadi semakin rusak?, dia itu temanku apa aku tidak mempunyai hak untuk ikut campur?" tanya Quirin dengan melebarkan kedua matanya
"Ka-kau!" ucap Clamy gugup, ia sedikit takut melihat tatapan Quirin
Namun Clamy tetap memberanikan diri untuk menyangkal semua pertanyaan Quirin "kau hanyalah teman dan bukan keluarganya, jadi kau tidak perlu ikut campur dalam masalah kami!" ucap Clamy sambil menatap Quirin
"Haaa .... mulutmu sama tajamnya seperti wanita yang telah tewas itu" ucap Quirin sambil menatap datar Clamy
Clamy mendengar itu membelalakkan matanya, ia memang mendengar suara teriakan dan rintihan seorang wanita, tapi dirinya tidak tau jika wanita itu telah tewas.bahkan dirinya melihat wanita di hadapannya berlumuran noda merah.
"Ka-kau telah mem-menbunuhnya?" tanya Clamy dengan suara bergetar ketakutan
"Apa noda merah yng ada ditubuhnya berasal dari wanita itu" batin Clamy
"Tidak perlu terkejut, kita ini saling melengkapi, karena kau telah berniat membunuh, sedangkan aku melaksanakan niat mu itu, hanya saja aku melakukannya dengan orang yang yang berbeda, jadi, bukankah kita sangat cocok?" ucap Quirin sambil tersenyum manis
Bersambung ..
__ADS_1