
Setelah mendekatkan dirinya, tiba-tiba tubuh itu terjatuh "jatuh dalam dekapanku adalah kebiasaan barunya" batin Zee sambil melihat Quiran yang sudah menutup matanya
Zee dengan cepat membopong tubuh Quirin "aku percayakan mereka padamu" ucap Zee pada Xeno, lalu berjalan pergi meninggalkan Xeno bersama para pria-pria itu.
Sedangkan Xeno merasa tidak percaya "jika sudah menyangkut Quiran, segala urusan selalu ditinggal padaku begitu saja" gerutu Xeno sambil mengambil ponselnya
Ia menghubungi seseorang "Vano datang kesini secepat mungkin dan jangan lupa membawa mobil yang besar" tulis Xeno lalu mengirimnya
Xeno menunggu sendirian, ia memikirkan kejadian yang baru saja terjadi "Tidak terpikirkan olehku jika dia semengerikan itu, setidaknya aku bisa tenang karena Quiran masih mau menuruti perkataan Zee" gumam Xeno sambil menggelengkan kepalanya
Keempat pria itu masih bergidik ngeri, mereka tidak ada yang mau memulai pembicaraan, rasa sakit di tubuh mereka seperti hilang karena telah tertutupi oleh rasa takut
Xeno mulai mengalihkan pandangannya pada keempat pria itu "Lihatlah, mereka masih ketakutan seperti itu karena perbuatannya" batin Xeno
Setelah Vano dan yang lainnya datang, mereka mendekati Xeno dan melihat beberapa mayat tergeletak tidak jauh dari tempat mereka berdiri
Mereka merasa tidak percaya jika mayat yang tergeletak disana adalah perbuatan Quirin "Bos Xeno, aku sangat yakin jika ini adalah perbuatan tuan muda" ucap Vano sambil melihat disekeliling mereka
Lalu mata Vano tertuju pada keempat pria yang sedang tertunduk sambil memegang bagian-bagian anggota tubuh yang sakit
"Bagaimana kau sangat yakin?" tanya Xeno merasa heran
"Jika nona yang melakukan itu maka di tubuh mereka terdapat lubang-lubang serta luka yang sangat menjijikkan" ucap Vano santai dengan mata terfokus pada keempat pria yang masih hidup
"Benar, aku tidak menyangka hanya dalam beberapa waktu, mereka bahkan sudah mengerti cara membunuh Quirin ataupun Quiran" batin Xeno
"Memang benar, mereka dibunuh oleh tuan muda, tapi keempat yang berada disana dikalahkan oleh Quiran" ucap Xeno dengan santai sambil menunjuk dengan lirikan mata
Vano mengalihkan pandangannya pada Xeno, ia tidak terkejut dengan jatuhnya keempat orang itu, tapi nama yang disebutkan oleh Xeno lah yang membuatnya terkejut "Quiran?, siapa dia?" tanya Vano heran, ia merasa tidak asing dengan nama itu
"Aku pernah mendengar nama itu, tapi dimana?" batin Vano bertanya-tanya
"Quiran?, kalau tidak salah ingat, bukan kah itu nama yang disebut oleh tuan muda saat kita berada di hutan untuk membereskan tubuh Bivia?" batin Arnius, ia hanya diam tanpa berniat untuk ikut berbicara, tapi saat Xeno menyebutkan nama Quiran membuat Arnius mulai berfikir
Xeno tersentak kaget, ia lupa jika anak buahnya belum mengetahui masalah sisi lain Quirin "Aku mengatakan nama Quirin, apa telingamu sudah rusak?" tanya Xeno dengan mengerutkan dahinya
"Aku yakin ada sesuatu yang boss sembunyikan, aku tidak mungkin salah" batin Vano merasa penasaran
__ADS_1
Vano mencoba mengalihkan percakapan mereka "Bos, untuk apa menyuruh kami membawa mobil?" tanya Vano heran
"Bantu angkat mereka dan bawa kerumah sakit, nona menyuruh kita merawat mereka" ucap Xeno sambil menunjuk kearah keempat pria itu
"Apa hanya karena perkataan nona, baru tuan muda tidak memberantas sampai habis?" tanya Vano dengan heran
Xeno menghela nafas "kau sudah mengenal tuan muda, dia pasti akan berubah setelah bertemu dengan pawangnya" ucap Xeno asal bicara tapi di dalam hati, ia merasa senang karena Zee sekarang melupakan masa lalunya dan dapat menemukan pendamping yang sangat cocok.
"Aku merasa tuan dan nyonya besar akan menyukai nona, aku mendapatkan info jika mereka akan segera kembali, apa karena aku mengirim foto tuan muda saat tersenyum?, ah aku yakin itu yang membuat mereka kembali" batin Xeno tersenyum simpul
"Senyumnya seperti memiliki ide licik" gumam Vano
Xeno yang mendengar itu langsung menoleh kearah Vano, ia mulai menatap dengan tajam "Cepat kerjakan, eh ... kenapa aku hanya melihat kalian berdua?, kemana yang lainnya?" tanya Xeno
"Apa bos lupa?, Xia berada dirumah sakit jadi Gavin dan Staren berada disana untuk berjaga-jaga" ucap Vano sambil berjalan mendekati keempat pria itu
Sedangkan Arnius hanya mengangguk setuju dan mengikuti langkah Vano dari belakang
Vano mulai membuat ekspresi datar dan menyeramkan, ia melihat orang yang ada didepannya sedang kesakitan sambil memegangi dadanya "Kau tidak sakit di kaki, jadi jalanlah sendiri" ucap Vano dengan tatapan tajam
Sedangkan orang itu mendongakkan kepalanya, ia melihat wajah Vano yang mengerikan hingga membuatnya takut dan ia langsung mengangguk setuju dan mencoba berdiri sendiri tapi belum sempat berdiri tubuhnya langsung terjatuh
"Arnius tolong bantu aku" ucap Vano sambil membantu pria itu
Vano dan Arnius mengangkat dua orang secara bersama-sama, dan dua lainnya bisa berjalan sendiri.
Setelah membantu semuanya masuk kemobil, Vano kembali pada mayat-mayat itu dan langsung menaburkan cairan yang bisa melelehkan tubuh manusia, karena baginya perbuatan tuan muda tidak lah merepotkan, sangat berbeda dengan perbuatan Quirin "kali ini aku sangat berterimakasih pada tuan muda, karena tuan muda yang membunuh jadi untuk membersihkan ini tidaklah memerlukan waktu yang sangat banyak dan sekarang aku bisa segera kembali kerumah sakit untuk menjaga Xia" gumam Vano sambil tersenyum
Vano dan yang lainnya kembali kedalam mobil, sedangkan Xeno membawa mobil pribadi hingga tidak ikut bersama Vano
***
Setelah memikirkan keadaan Lura, ia berbalik dan melihat Lura sedang menaiki anak tangga dengan wajah tertunduk "Lura?" batin Calis
"Dia baru pulang?, ada apa dengannya?, kenapa dia berjalan seperti itu?" gumam Calis
"Lura?!" teriak Calis
__ADS_1
Sudah beberapa kali Calis memanggil nama lura, namun Lura seperti tidak mendengarkan suara sang ibu, ia tetap berjalan lurus tanpa melihat kedepan.
Melihat Lura tidak merespon panggilannya, Calis bergegas menghampiri Lura, ia merasa khawatir pada putrinya itu
"Lura?!" ucap Calis sambil menepuk pelan pundak Lura
Lura yang saat itu termenung sambil berjalan membuatnya tersentak kaget, ia menoleh kearah sang ibu "a-ada a-apa ibu?" tanya Lura dengan gugup
"Darimana saja kau?" tanya Calis
"A-ku me-nginap dirumah temanku bu" ucap Lura dengan gugup
Calis yang mendengar jawaban Lura membuatnya bertanya-tanya "ada apa denganmu?, apa terjadi masalah dengan teman-temanmu?" tanya Calis dengan heran, ia merasa anaknya menutupi sesuatu darinya
"Ti-tidak ada ibu, aku hanya kelelahan dan ingin beristirahat saja" ucap Lura meyakinkan sang ibu
"Kau yakin?" tanya Calis penuh selidik
Lura menggangguku dan mengembangkan senyumnya, ia bertindak seperti tidak terjadi apa-apa
Calis yang melihat senyum itu langsung percaya dengan ucapan Lura "Baiklah, kau baru saja pulang, pasti cukup lelah jadi istirahat saja dikamarmu" ucap Calis sambil mengelus pucuk kepala Lura
Setelah melihat Calis pergi, Lura kembali menundukkan kepalanya "bagaimana aku bisa mengatakan ini pada ibu?" gumam Lura sambil menitikkan air matanya
Bersambung ...
Para pembaca jangan lupa tinggalkan jejak 👇
✓ Favorite
✓ Like
✓ Vote
✓ Gift
✓ Comment
__ADS_1
✓ Rate
Author sangat berterimakasih 🙏