Another Person Life

Another Person Life
Kematian Wiliam


__ADS_3

"No-na, tolong maafkan aku" gumam Wiliam disela linangan air mata itu.


Wiliam tidak membenarkan atau menyanggah perkataan Quirin, hanya permohonan maaf yang keluar dari mulutnya.


"Kau memohon?, ... hei paman!, selama ini aku meminta belas kasihan pada kedua wanita menjijikkan itu, tapi apa mereka mendengarkan ku?" tanya Quirin lalu melanjutkan ucapan dengan menjawab pertanyaannya sendiri "tidak!, kalian justru semakin menambah hukumanku, jadi salahkan saja istri serta anak haram itu yang haus akan harta" ucap Quirin dengan amarah mengebu-ngebu.


Sekarang ia benar-benar marah, karena dengan gampangnya Wiliam memohon tanpa mengingat dosa-dosa yang telah di perbuat oleh anak dan istrinya.


Wiliam memikirkan perkataan Quirin hanya permohonan maaf yang bisa ia ucapkan "maaf .... maaf .... maaf" gumam Wiliam sambil menunduk menangis serta memegangi kakinya yang sudah mengeluarkan banyak darah. ia tidak memperdulikan martabatnya sebagi laki-laki karena sakit yang di rasakan sungguh di luar perkiraannya.


Ucapan itu terdengar tulus, tapi di balik perkataan maaf itu terdapat pikiran licik.


"Ssttt, aku harus mendapatkan belas kasihnya, jika itu terjadi maka aku bisa keluar dari sini" batin Wiliam sambil meringis kesakitan


Quirin mengeram marah, ia tau jika Wiliam tidak mengatakannya dengan tulus "aku tidak sebaik itu untuk memaafkanmu!" teriak Quirin sambil menggenggam erat garpu taman yang ada ditangannya.


Wiliam terkejut mendengar teriakan Quirin, artinya ia gagal mendapatkan belas kasihan Quirin.


"Dia tidak mempercayaiku, sial!, kakiku tidak bisa di gerakkan" batin Wiliam mengeram marah sambil meratapi nasibnya, luka itu terbuka lebar hingga darah di kakinya keluar dengan sangat deras layaknya air mengalir.


Tiba-tiba Quirin merasakan sesak di dada "sial!, aku tidak tahan lagi, aku bergantung padamu" gumam Quirin dengan mata menutup secara perlahan lalu tubuh Quirin terhuyung kebelakang beruntung tangannya menggenggam garpu taman sehingga bisa menjadi tumpuan untuk tubuh Quirin.


Disela air mata mengalir serta rasa sakit di kakinya, Wiliam tengah memperhatikan Quirin yang sedang terhuyung-huyung, ia merasa mendapatkan celah untuk kabur.


Wiliam berusaha berdiri namun tubuhnya langsung terjatuh, karena pendarahan yang di alami Wiliam sungguh memprihatinkan, hingga membuat wajah tua itu kian memucat.


Tapi justru Wiliam tidak memperhatikan kondisinya, ia lebih memilih memikirkan anak dan istrinya agar bisa memberitahukan informasi pada mereka tentang nona tertua yang telah berubah menjadi iblis.


Karena tidak bisa berdiri, ia mencoba menyeret tubuhnya agar bisa segera keluar dari gubuk itu.


Namun sayang, justru lagi-lagi Wiliam mendapat siksaan yang lebih mengerikan.


Arghhhhhhh


"Ah ... teriakanmu sungguh sangat merdu" ucap Quirin menyeringai


Wiliam kembali mengalirkan cairan bening di pipinya dengan sangat deras, lalu melihat kearah kaki yang terluka, ia tidak menyangka Quirin bisa melakukan hal sekeji itu padanya.


Wiliam merasa marah lalu melihat kearah Quirin, lalu ia terpaku melihat Quirin mengeluarkan aura membunuh yang sangat pekat dan ia juga bisa melihat senyuman menyeringai yang dikeluarkan Quirin, tapi senyum itu terlihat lebih menakutkan daripada wajah datar sebelumnya.


Wiliam langsung menunduk seolah sangat takut dengan tatapan dan senyuman Quirin, dalam ketakutannya ia juga dapat merasakan sakit yang jauh lebih menyakitkan karena Quirin melempar satu tumpukan tanah sehingga menimbun luka yang sangat lebar itu.


Tangan Wiliam seakan gemetar menyingkirkan butiran tanah diatas permukaan luka, Wiliam masih sempat berfikir, dirinya pasti mati di tempat ini, bagaimana tidak?, siksaan fisik yang diterimanya sungguh mengerikan, bahkan selama hidup ia tidak pernah melihat kebengisan seseorang seperti yang dilakukan Quirin, jika dirinya mati lalu siapa yang bisa melindungi anak dan istrinya di dalam keluarga Alister?.


Wiliam tidak bisa membayangkan jika anak dan istrinya mendapat siksaan yang sama seperti yang dialaminya. ia bahkan tidak sekalipun membayangkan mati ditangan nona yang telah mereka tindas.


"Tanah ini sudah masuk kedalam luka ku, aku tidak berani mengeluarkannya" batin Wiliam meringis kesakitan


Wiliam menengadah kan wajahnya lalu menatap kearah Quirin "ka-kau monster nona!" teriak Wiliam

__ADS_1


Quirin yang mendengar itu memiringkan kepalanya menatap Wiliam, ia bisa melihat ada kilatan amarah di dalam mata Wiliam "hahaha...." tawa Quirin dengan kuat sambil menutup wajahnya dengan salah satu tangan.


Wiliam terkejut dan berkeringat dingin mendengar tawa Quirin, ia seperti mendengar tawa malaikat maut.


Wiliam semakin kenal mendengar tawa menjengkelkan itu, ia menepis rasa ketakutannya "Kenapa nona tertawa?!, nyawaku bukan mainan!, lepaskan aku!" teriak Wiliam dengan kesal.


Quirin menghentikan tawanya, ia kembali berwajah datar dan beberapa detik kemudian Quirin kembali menyeringai.


Wiliam hanya terpaku melihat tatapan dan senyum Quirin yang berubah-ubah.


"Aku mengakui lalu aku adalah monster, tapi tadi kau mengatakan apa?, nyawamu bukan mainan?" tanya Quirin dengan seringai di bibirnya


Wiliam merasa terintimidasi tapi dia menepis semua itu lalu menjawab dengan lantang "ya!, nyawaku bukan mainanmu, untuk apa kau melakukan semua ini?!" teriak Wiliam dengan tidak tau malu


Quirin mendengarkan ocehan Wiliam dengan santai "lalu apa nyawa ibuku mainan yang bisa kau mainkan sesuka hatimu?" tanya Quirin yang masih menyeringai


Wiliam terkejut mendengar perkataan Quirin "A-apa maksudmu nona?, aku tidak ada hubungannya dengan nyonya" ucap Wiliam gugup


"Paman jangan terlalu gugup, wajahmu benar-benar lucu" ucap Quirin tersenyum sangat lebar


Wiliam sedang berperang dengan pikirannya sehingga melupakan rasa sakit di kakinya.


Quirin tersenyum lebar melihat Wiliam termenung "kau pantas mendapatkan ini, lagipula sebelum ajal menjemputmu, aku akan membuka sebuah rahasia, tapi berjanjilah jangan beritahu siapapun?" tanya Quirin "oke?!, sepakat!" Quirin bertanya dan menjawab sendiri, ia tidak menunggu jawaban dari Wiliam yang sedang termenung.


Melihat keheningan itu Quirin mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Wiliam "aku Quiran, sisi lain dari Quirin, karena kalian jugalah aku terbentuk dan sebagai rasa terimakasihku, aku akan membuat kalian membayar penderitaan yang selama ini dia alami" Quiran menjelaskan jati dirinya dengan tegas disertai senyum lebar yang menyeramkan.


"A-pa?!" Wiliam tersentak kaget, ia langsung menjauhkan wajahnya dari hadapan Quiran


Walau termenung Wiliam mampu mendengar perkataan Quirin "no-na jangan bercanda, semua yang nona katakan tidak benar, semua itu hanya dongeng" bantah Wiliam dengan wajah pucat. ia mengabaikan rasa sakitnya karena mendengar hal yang sangat mengerikan.


"Dongeng?, dunia ini menyebalkan" gumam Quiran sedikit memudarkan senyumnya


Tapi ia kembali tersenyum, Quiran berjongkok lalu menggenggam setumpuk tanah, ia berjalan mendekati Wiliam lalu menaburkannya kembali kekaki Wiliam.


Argghhhhh


Wiliam kembali meringis, ia merasakan aura membunuh disekitarnya "ini aura yang berbeda dengan orang yang menendang ku, pantas saja aku merasa takut sewaktu aura itu berubah" pikir Wiliam


"Apa karena terlalu sakit sehingga kau bisa berpikir normal?" tanya Quiran dengan seringai di bibirnya


"Ka-kau bukan no-na?" tanya Wiliam memastikan


"Apa telingamu bermasalah, aku sudah menjelaskannya, tapi karena kau sudah tau jadi waktumu sudah tidak banyak"


Quiran merubah tatapannya dengan tajam "kau..." perkataan itu terjeda "Ibuku memberimu pekerjaan yang layak, tapi ini balasan yang ibuku terima, kau membalasnya dengan sangat keji" lanjut Quiran sambil memutar-mutar garpu taman


Wiliam sangat ketakutan, ia menyeret tubuhnya mundur kebelakang secara perlahan "itu tidak benar nona Quiran" bantah Wiliam


"Kau menyebut namaku dengan benar, tapi Berani sekali kau membantahku!" ucap Quiran sambil menancapkan garpu taman itu di kaki yang lainnya

__ADS_1


Arghhhhh


Quiran mencabutnya dengan kasar, darah segar kembali keluar dengan sangat deras


"Kau membuat ibuku seolah-olah mati karena sakit, tapi nyatanya kau yang membunuh ibuku" ucap Quiran dan menancapkan garpu itu kembali lalu menariknya dengan kuat. pancaran aura membunuh semakin menguat sehingga membuat Wiliam sangat ketakutan.


Arghhhh


"Dia lebih menakutkan dari nona Quirin, aku tidak percaya nonaku sendirilah yang memiliki hal yang mustahil didunia ini" batin Wiliam


Wiliam menepis pikirannya tentang Quiran, yang terpenting ia harus memikirkan cara agar bisa lolos dari amukan Quiran walaupun kedua kakinya terasa sakit, ia berpikir untuk mencoba membantah tuduhan Quiran "bu-bukan a-ku ya-ng me-lakukannya no-na, it-u se-mua ul-ah an-ggota ke-lu-arga an-da sen-diri" ujar Wiliam membela diri dengan nafas tersengal-sengal


Faktanya Quirin telah melihat seluruh video yang ada di dalam rekaman itu, ia melihat Wiliam mengendap-endap masuk kedalam kamar Arcy lalu membekap mulutnya sekuat mungkin hingga membuatnya kehabisan nafas.


Quiran menunggu Wiliam menyelesaikan kata-katanya "kau tau?, di seluruh rumah ini terdapat Cctv yang masih aktif, jadi kau tidak perlu membantah semua ucapanku" ucap Quiran sambil tersenyum lebar


Wiliam kembali terkejut, sudah bertahun-tahun dia bekerja dirumah ini, tapi ia sendiri tidak pernah tau ada Cctv yang terpasang dirumah keluarga Alister.


Wiliam mengarahkan wajahnya keseluruh sudut gubuk "hei, hei sudah aku katakan di seluruh rumah, tidak terkecuali disini, tapi tenang saja, karena hanya aku yang mengetahui dimana saja letak Cctv itu berada, dan juga mereka tidak akan tau jika aku telah menyiksamu hingga mati" ucap Quiran sambil tersenyum lebar


"Ba-gaimana nona bisa mengetahuinya?"


"Tentu saja bukan hal yang sulit karena membongkar rahasia adalah pekerjaanku" ucap Quiran dengan senyum khasnya


Wiliam kembali terkejut, ia tidak menyangka Quirin bisa ilmu komputer, bagaimana tidak?, ia selalu mengawasi pergerakan Quirin sehingga bisa mengetahui aktifitas apa saja yang dilakukan oleh Quirin.


"Kau selalu saja terkejut sehingga membuatku muak, kau sudah terlalu banyak mengetahui rahasiaku, silahkan pergi dari dunianya" usir Quiran dengan tatapan tajam dan sambil mengangkat garpu taman itu.


"Ja-jangan nona, aku bisa memberitahumu tentang rencana yang akan dilakukan oleh nenek nona" ucap Wiliam sambil mencoba tawar menawar dengan Quiran


Quiran terlihat sedang berpikir, Wiliam yang merasa dirinya menang tersenyum licik "tidak butuh, sudah aku katakan membongkar rahasia adalah pekerjaanku, apa kau tuli?" tanya Quiran


Senyum Wiliam luntur seketika "ta-pi nona ... " belum sempat Wiliam menyelesaikan perkataannya Quiran malah melempar garpu taman hingga menancap tepat di kedua mata Wiliam.


Tubuh Wiliam terduduk dengan garpu taman yang masih menancap di kedua matanya.


Quiran melihat dengan santai "kau terlalu brisik sehingga tangan cantikku ini spontan melempar benda ini padamu, kau tidak menyalahkanku bukan?, tentu saja tidak meyalahkanku karena kau sudah meninggalkan dunia ini haha ... " gumam Quiran sambil tertawa lebar.


Tawa itu terdengar sangat menyeramkan tapi, jika mendengarnya dengan seksama tawa itu akan terdengar beda karena tersirat kesedihan yang mendalam seolah tubuh itu mengingat kematian sang ibu yang begitu tragis.


Quiran menyudahi tawanya, ia menyeringai lalu menepuk kedua tangannya seperti membersihkan debu dan keluar dari gubuk itu


"Kematianmu adalah peringatan pertama untuk anak haram itu, aku akan melihat seperti apa kelanjutan cerita ini" gumam Quiran sambil menyeringai


Jika orang lain melihat keadaan Wiliam, mereka akan memberikan simpati dan mencaci orang yang telah membunuhnya dengan keji, tapi berbeda dengan Quiran, ia justru sangat senang karena membunuh adalah kepuasan bagi dirinya sendiri.


"Ugh, lupakan saja, sekarang suasana hatiku sangat baik, tapi aku tidak habis pikir biasanya kau bisa mengendalikan amarahmu tapi sekarang berbeda, kau langsung terpancing karena orang tidak penting itu, padahal yang di bunuhnya bukan ibu kandungmu xura" ucap Quiran sambil merenggangkan tubuhnya hingga menimbulkan bunyi seperti tulang patah.


Quiran berlari cepat lalu memanjat dinding balkon kamar agar tidak di ketahui siapapun, ia masuk kedalam kamar mengambil ponsel yang terletak di atas tempat tidur Quirin. Setelah selesai mengetik Quiran menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur lalu memejamkan matanya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2