Another Person Life

Another Person Life
Menempatkan Hatimu Padanya


__ADS_3

Al yang mendengar itu pun menoleh kearah Zee, ia bisa melihat bahwa Zee terus memandangi Quirin tanpa berkedip.


"Sepertinya kau sudah menempatkan hatimu padanya" batin Al


Al kembali melihat kearah Quirin, ia pun menundukkan kepala "ternyata begitu, maafkan aku karena telah menanyakan hal ini nona" ucap Al meminta maaf. Ia tidak ingin menjadi tumbal Quirin lagi, menurutnya, pembalasan Quirin sangatlah merepotkan dan itu semua berhubungan dengan emosi.


Quirin menghela nafas pelan "tidak apa-apa Al, apakah kau sudah membawa obat ayah?, sisanya kau bisa percayakan padaku" ucap Quirin sambil menoleh ke arah Al.


"Sudah nona" jawab Al sambil membuka tas lalu mengambil beberapa obat dan menyerahkannya pada Quirin.


Quirin pun mengambil obat itu lalu membantu memasukkan obat kedalam mulut Grizo dan ia juga tidak lupa untuk memasukkan air dengan menggunakan sebuah sendok.


Setelah menunggu beberapa menit, Quirin bisa melihat dari raut wajah Grizo, terlihat disana Grizo tampak tidak merasakan kesakitan bahkan seperti tidak merasakan sakit lagi, yang artinya obat yang di bawa oleh Al telah bekerja untuk menetralkan denyut jantungnya.


"Sepertinya sudah lebih membaik, aku akan membuat sesuatu, jadi kalian berdua tolong jaga ayahku" ucap Quirin sambil meninggalkan kedua orang itu.


Setelah mendengar langkah kaki Quirin semakin menjauh, Al kembali melihat kearah Zee "kau yakin dengan pilihanmu?" tanya Al dengan serius.


Zee yang mendengar itu pun mengerti pertanyaan itu tertuju pada siapa "ya, jadi tutuplah mulutmu" ucap Zee sambil terus menatap Grizo.


"Kau yakin bisa mengendalikannya?," tanya Al lagi, ia sedikit ragu bahwa Zee bisa mengandalkan Quirin, karena setelah melihat Quirin memerintah Zee, Al justru tampak sangat ragu dengan perkataan Zee.


"Aku bisa mengatasinya, kau tidak perlu menghawatirkan apapun" ucap Zee sambil melirik kearah Al yang sedang menghela nafas.

__ADS_1


Al yang mendengar itu hanya bisa diam tanpa berkomentar apapun. Ia hanya bisa percaya dengan perkataan temannya itu.


Setelah menunggu beberapa saat, Quirin kembali dengan membawa secangkir teh hijau, Al yang melihat itu pun benar-benar terkejut "dia mengetahui bidang medis?" batin Al


Quirin duduk di atas tempat tidur Grizo, ia mulai lengan Grizo dengan pelan "Ayah, bangun lah" ucap Quirin sambil terus menggoyangkan lengan Grizo.


Grizo yang sudah bisa mendengar panggilan serta merasakan seseorang tengah menggoyangkan lengannya pun membuka mata secara perlahan "sudah tidak sakit lagi" batin Grizo


Grizo menoleh ke kanan dan yang pertama di lihatnya adalah Quirin. Mimik wajahnya pun berubah menjadi sedih serta terharu karena anak semata wayangnya kini telah memperhatikannya.


Quirin yang bisa membaca ekspresi wajah itu langsung memberikan perkataan yang begitu menohok untuk Grizo "ayah, tidak perlu berwajah seperti itu, aku di sini karena tidak suka melihat mu terbaring sakit, jika tidak, maka aku tidak akan berada disini" ucap Quirin dengan datar


Grizo yang mendengar perkataan itu tidak bisa mengeluarkan perkataan apapun, ia juga tidak akan sakit hati mendengar ucapan Quirin, grizo mengetahui bahwa inilah konsekuensi yang harus di terimanya.


Lalu mata Grizo kini beralih ke belakang Quirin, ia melihat dokter Al dan tuan muda Zee tengah menatapnya.


"Tidak perlu bereaksi seperti itu tuan, nona sudah mengetahui semuanya, karena itulah nona menyuruhku untuk datang dan segera memeriksa kondisi tuan" ucap Al sambil tersenyum.


Grizo melirik kearah Quirin, sedangkan orang yang dilirik hanya berwajah datar seperti tidak menghawatirkan apapun.


"Bagaimana kau mengetahuinya, nak?" tanya Grizo sedikit penasaran


"Ayah telah melupakan sesuatu, tapi sebelum itu minum lah teh ini agar bisa membuat tenaga ayah lebih cepat pulih" ucap Quirin sambil menyerahkan secangkir teh pada Grizo.

__ADS_1


"Hanya menambah tenaga?, di tidak mengetakan fungsi teh itu?," batin Al


"Setelah itu, ayah bisa turun kebawah, ada sebuah masalah yang harus di selesaikan" ucap Quirin sambil meletakkan gelas yang sudah di teguk habis oleh Grizo.


"Masalah?, apa terjadi sesuatu?" batin Grizo


"Masalah?, apa yang dia maksud adalah siara itu?, tayangan itu memang tersebar di seluruh kota, wajar saja dia akan mengatakannya pada tuan Alister, tapi apa dia tidak membiarkan tuan Alister beristirahat sejenak?" batin Al


"Nona, sepertinya bukan hal yang bagus untuk ... " perkataan Al terjeda ketika Quirin langsung mengeluarkan perkataan tajam.


"Apa aku meminta pendapatmu Al?, tidak!. Tugasmu hanya lah memberinya obat, bukan untuk meminta isi pikiranmu tentang apa yang harus aku lakukan" ucap Quirin dengan datar lalu meninggalkan ruangan itu.


Grizo yang melihat perdebatan itu sama sekali tidak mengerti dengan perkataan mereka, namun ia mencoba tidak berkomentar apapun lalu berusaha bangkit perlahan untuk berjalan dan mengikuti langkah Quirin.


"Zee, ini sungguh tidak bagus untuk ... " perkataan Al lagi-lagi terpotong, tapi kali ini dilakukan oleh Zee.


"Al, aku yakin dia bisa mengatasinya, jadi kau tidak perlu merasa khawatir " ucap Zee dengan santai.


Al menghela nafas, ia benar-benar sungguh tidak mengerti dengan sepasang manusia itu, isi pikiran mereka selalu sama dan selaras hingga tidak ada celah untuk memberi mereka nasihat.


Al langsung mengikuti langkah tuan Alister, ia pun membantu tuan Alister berjalan karena merasa kasihan.


Melihat perbuatan Quirin, Al yang berprofesi sebagai dokter tidak bisa melihat pasiennya terjatuh kembali, karena itulah dia ingin memberi Quirin sebuah nasihat, namun Quirin justru tidak mendengarkannya.

__ADS_1


"Sudahlah, aku hanya perlu melihat situasinya" batin Al


Bersambung ...


__ADS_2